
Witing tresno jalaran soko kulino
Pepatah Jawa lama, yang berarti 'Cinta datang karena terbiasa.
Mungkin ini yang sedang Aish rasakan. Intensitas pertemuannya dengan Richard setelah mereka resmi berpacaran telah menumbuhkan pohon cinta yang cukup besar di hatinya.
Dia tahu ini salah. Memang suatu kesalahan akan lebih mudah untuk dilakukan, dan Aish telah masuk terlalu dalam pada kesalahan itu. Mungkin ini yang dinamakan cinta monyet.
Sejak minggu pagi, dimana Richard pergi tanpa berpamitan padanya, hingga kini sudah dua hari berlalu. Richard tak memberi kabar. Membuat Aish merasa sepi, meskipun setiap hari Falen, Hendra dan Seno bergantian mengunjunginya.
Sekarang sudah hari ketiga Richard tak memberi kabar, Aish mulai pasrah. Mungkin memang rasa cinta yang Richard katakan padanya hanyalah semu. Nyatanya memang mereka berbeda, kasta mereka terlalu jauh.
Aish akan berusaha bersikap wajar, menerima kepergian Richard, seperti dia yang harus merelakan bundanya.
Sore itu, lalu lintas lancar tanpa hambatan saat Aish berangkat bekerja. Dengan motor matic birunya, dia melintasi jalan raya dengan santai. Dia sengaja berangkat lebih awal, ingin menikmati suasana jalan raya.
Aish menghentikan motornya di depan sebuah cafe yang akhir-akhir ini banyak dikunjungi kaum muda-mudi. Katanya cafe itu memiliki spot foto yang instagramable, dengan menu kekinian.
Entah ada angin apa, tidak biasanya Aish mengunjungi tempat seperti ini. Tapi langkah kakinya seolah menuntunnya untuk masuk kedalam.
Tunggu! Bukankah itu mobil Richard? Terparkir rapi sejajar dengan mobil yang lain. Sebenarnya bukan Richard yang menjadi tujuannya kemari, semua murni hanya keingintahuannya saja.
Dengan langkah bimbang, Aish memasuki kawasan cafe. Memang didalamnya terasa suasana berbeda. Nyaman, seperti itu kata yang pas untuk mendeskripsikannya. Sepertinya bertema klasik, tapi juga terlihat modern.
Aish celingukan melihat-lihat ke dalam, langkah kakinya mengajak semakin masuk ke dalam. Ada ruangan berbeda disana, sepertinya lebih bersifat privasi. Karena ada sekat di setiap satu set meja dan kursi, meskipun masih bisa melihat setiap orang yang duduk didalamnya.
"Sedang mencari seseorang kak?" tanya seorang waitress yang melihat Aish seperti orang bingung.
"Oh, ehm... Iya, saya sedang mencari teman. Sebentar saya telpon dulu, tadi saya coba cari tapi sepertinya masih belum datang" kata Aish mencari alasan.
"Baik kak, kalau begitu saya permisi ya" kata waitress itu pamit, membuat Aish merasa lega.
Aish balik badan, dia akan pergi saja dari tempat ini. Sebentar lagi juga waktunya dia bekerja.
Hei tunggu, ada Richard disana. Dia duduk di pojok sebelah kiri. Dia tidak menyadari keberadaan Aish karena membelakanginya. Dan dia sedang memeluk Emily? Bukankah Richard bilang kalau Emily sudah berpacaran dengan Yopi? Lantas kenapa mereka berpelukan?
Aish masih mematung ditempatnya karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Emily menyadari keberadaan Aish yang melihat ke arah mereka berdua, sepertinya dia sedang memberitahu Richard jika Aish ada disana.
__ADS_1
Terlihat gerakan cepat dari Richard, sepertinya cowok itu kaget dengan perkataan Emily. Dia segera berdiri dan menatap Aish yang mematung.
Sebenarnya Aish tidak bersedih dengan keadaan itu, mungkin lebih tepatnya dia kecewa. Nyatanya Richard tidak bisa dia percaya.
Aish mempercepat langkahnya, berjalan keluar dari cafe itu, kemudian bersembunyi diantara mobil yang terparkir saat dia tahu bahwa Richard mengejarnya. Aish tidak mau beradu mulut dengan Richard kali ini, dia masih harus bekerja.
Bukan hal yang sulit bagi Aish yang bertubuh mungil untuk menyembunyikan dirinya. Dengan mudah, dia bisa sampai ke tempat motornya terparkir. Secepatnya dia memakai helm dan menyalakan motor. Richard terlambat, dia melihat Aish yang sudah pergi dengan motor birunya. Seketika membuatnya menendang dengan keras pada salah satu mobil yang terparkir hingga membunyikan alarmnya.
"Kenapa bos?" tanya petugas parkir disana.
"Nggak apa-apa" jawab Richard frustasi, dia segera menuju mobilnya dan berusaha mengejar Aish. Tapi sialnya, Richard tidak menemukan keberadaannya. Dia bahkan lupa tidak menanyakan tempat kerjanya.
Richard menepikan mobilnya, dia memukul setir mobilnya dengan keras dan berteriak. "Aahh... Sial".
Sementara Aish sendiri sudah sampai di pos satpam. Sebisa mungkin dia mengendalikan perasaannya, dia menyapa security lain dengan senyuman manis seperti biasa.
Berkali-kali Richard berusaha menelpon Aish hari ini, tapi tentu saja panggilannya selalu ditolak. Bahkan nomornya sudah dia blokir sekarang.
Baru kali ini dia bekerja dengan suasana hati yang tidak baik-baik saja. Membuat waktu terasa sangat lambat berlalu.
"Nggak" jawabnya singkat.
"Maafin gue ya, gue benar-benar nggak tahu kalau lo minta Aish kesini juga" kata Emily.
"Gue nggak minta dia datang. Sialan, bahkan sekarang nomer gue diblokir sama dia" kata Richard yang masih berusaha menghubungi Aish.
"Lo yang sabar ya, gue benar-benar minta maaf ya Richard" kata Emily.
"Sepertinya gue harus samperin ke rumahnya sekarang juga" kata Richard.
"Jangan, maksud gue jangan sekarang. Dia pasti masih marah. Mendingan besok saja lo temui dia kalau sudah agak reda emosinya" kata Emily memberi saran, dan itu disetujui oleh Richard.
Keesokan harinya, masih pagi sekali Richard sudah berada di depan rumah Aish. Tapi berkali-kali dia mengetuk pintu, gadis itu tidak mau membukanya.
Sebenarnya Richard tahu bahwa Aish berada didalam rumahnya, karena sandal dan sepatunya masih tersimpan rapi di rak sepatu di teras rumahnya, dan ada sandal jepit yang tergeletak sembarangan.
"Pasti dia masih marah, dia nggak mau ketemu sama gue" kata Richard lirih, dia merutuki kebodohannya sendiri.
__ADS_1
Memang benar Aish berada didalam rumahnya, dia masih belum berniat menemui Richard. Dia takut jika nantinya akan percaya lagi dengan omongan cowok itu. Pengalaman semacam ini baru dia dapatkan, dan tentunya dia masih belum tahu cara mengatasinya. Jadi, lebih baik membiarkan Richard pergi jika sudah lelah menunggu.
"Rasakan lo Richard tukang bohong. Silahkan lo tunggu gue sampai jamuran, nggak bakalan gue bukain pintu buat lo. Sekarang mendingan gue makan, berurusan sama lo bikin gue cepet ngerasa lapar" kata Aish bersungut-sungut.
Seharian ini Aish merasa benar-benar terkurung didalam rumahnya sendiri. Richard masih betah menunggunya keluar. Tapi untungnya, selepas dhuhur dia mendapat telpon, dan dia pergi setelahnya. Aish jadi merasa bebas, karena sebentar lagi dia akan berangkat kerja.
Tapi, tanpa sepengetahuan Aish, Richard sengaja membuntuti dari belakang saat Aish berangkat kerja. Karena Aish selalu berpikiran positif, dia tidak pernah berpikiran bahwa Richard akan melakukan itu.
★★★★★
Reno mendekati Richard yang uring-uringan sejak dua hari yang lalu. Dia akan berusaha menenangkan badboy yang kini tunduk pada gadis polos semacam Aishyah.
"Lo masih belum berani nemuin dia?" tanya Reno sambil memberikan softdrink dingin pada Richard.
"Belum" jawab Richard singkat dan meminum softdrink pemberian Reno.
"Lo takut apa gimana sih? Tinggal samperin, jelasin, udah clear. Apalagi yang lo tunggu?" tanya Reno.
"Dia itu beda Ren, gue takut ngomong kasar ke dia" kata Richard.
"Lo sudah tahu tempat kerjanya?" tanya Reno, Richard mengangguk.
"Tunggu apalagi? Samperin aja ke tempat kerjanya" kata Reno.
"Tiap hari gue samperin dia Ren, tapi gue nggak berani ngomong sama dia" kata Richard.
"Kenapa lo jadi cemen banget sih? Heran gue sama lo yang sekarang" kata Reno.
"Oh, malam Minggu depan aja lo samperin dia. Sekalian lo bawain makanan kesukaannya, terus obrolin deh masalahnya berdua. Gue jamin, pasti kalian bakal kembali akur" kata Reno memberi ide.
"Boleh juga ide lo. Nanti deh gue samperin dia" kata Richard setuju.
.
.
.
__ADS_1