
Aish masih berjuang, kurang sedikit lagi. Tapi rasa mual dan peningnya semakin menjadi. Badannya mulai dingin, gadis itu menutup matanya. Berusaha meredakan rasa mual yang sangat mengganggu. Dia membalurkan minyak kayu putih di tangannya, dan menghirup aromanya yang segar. Abang dokternya masih terlihat menemaninya, entah kenapa pria itu sangat anteng menemani, mungkin sedang tidak ada kerjaan.
Desiran angin dari pendingin ruangan terdengar nyaring di malam yang mencekam bagi Aish. Dia sudah melihat begitu banyak darah malam ini. Wajar juga jika ketahanan tubuhnya mulai melemah.
Proses donor masih berlangsung, waktu terasa lambat sekali bergulir jika mengalami hal yang menakutkan semacam ini. Aish sudah merasa diambang batas kemampuannya.
Suara bising alat di ruangan itu semakin membuatnya merinding. Persis seperti saat dia hilang ke negri aneh waktu itu. Aish merasa kali ini ada suara teriakan yang memanggil namanya.
"Aish... Aishyah... is...." terdengar suara laki-laki yang familiar di telinga Aisyah.
Aish membuka matanya, tapi dia tidak sedang berada di ruangan donor darah. Jarum yang menancap dilengannya juga tidak ada, selang dan peralatan medis lainnyapun lenyap entah kemana.
"Aish... Aishyah... Sayang...." suara itu terdengar lirih kali ini.
Sepertinya dekat, tapi juga terdengar jauh. Seperti suara yang terbawa semilirnya angin.
"Dimana ini?" batin Aish bertanya.
Sejauh mata memandang, hanya terlihat putih. Seperti saat pagi hari digunung, saat jarak pandang terhalang kabut tebal. Seperti itu juga yang Aish alami saat ini. Pandangan matanya hanya sebatas kabut.
Gadis itu mengamati diri sendiri, bahkan pakaiannya juga sudah ganti. Kini dia memakai gamis yang sangat indah, berwarna putih dengan aksesori batu Swarovski yang cantik. Bertebaran dengan pola teratur di bajunya.
Hijabnya menjuntai panjang di bagian belakang, phasmina broken white dengan mahkota kecil di bagian kepalanya.
"Seperti gaun pengantin, aneh-aneh saja. Kenapa juga gue harus pakai baju kayak gini?" tanya Aish pada diri sendiri.
"Aishyah.... Sayang, kemarilah nak" suara itu terdengar lagi, lebih tegas daripada tadi.
"Siapa itu, dimana?" teriak Aishyah.
"Kemarilah nak, ikuti kata hatimu. Temui aku disini" kata suara itu lagi.
Aish bingung, menoleh ke kanan dan ke kiri. "Harus mencari kemana?" lirihnya.
"Kemarilah nak... " suara itu terdengar lagi
"Itu suara ayah ya?" teriak Aishyah, dia yakin jika itu adalah suara ayahnya.
"Ayaaahh... Ayah dimana?" teriak Aishyah.
"Iya nak, ini ayah. Kemarilah, ayah menunggumu" katanya.
__ADS_1
"Ayaaahhhh" teriak Aishyah mulai panik, dia berlari ke sembarang arah. Pandangan matanya masih saja terhalang tebalnya kabut, membuatnya kesulitan menentukan arah.
Sebuah sinar terang terlihat di sisi kanannnya, pancarannya sangat kecil, tapi Aish yakin disana ada sumbernya. Entah lampu ataupun matahari, Aish harus bisa menuju kesana.
"Ayah masih disana kan? Tunggu Aish ya ayah, Aish pasti menemukan ayah" teriak Aishyah semakin panik, karena masih belum bisa keluar dari tebalnya kabut.
"Percayalah pada kata hatimu nak, ikuti arahannya. Kau pasti bisa menemukan ayah, akan ayah tunggu disini" kata suara ayahnya.
Aish masih berlari, menuju sumber cahaya yang sudah terlihat semakin besar. Dia terjatuh, rupanya dia memakai sepatu high heels. Sepatu yang sangat cantik, seperti milik Cinderella. Sepatu kaca dengan taburan batu Swarovski berwarna biru yang sangat indah.
Dia melepas keindahan alas kakinya, menentengnya di tangan. Dan melanjutkan lari ke arah pancaran sinar terang itu.
Peluhnya sudah membanjir, napasnya sudah tersengal, dan kabut sudah lebih tipis di tempatnya berdiri saat ini. Gadis itu istirahat sejenak, mengatur napas dan mengamati daerah disekitarnya.
Senyum terukir dibibirnya, sudah tampak sebuah bangunan di depannya. Meskipun letaknya terlihat agak jauh, tapi setidaknya ada penghuni lain yang diyakini ada di dalam bangunan itu. Dan artinya, Aish tidak sendirian di tempat yang indah ini.
"Gue harus semangat, pasti sebentar lagi gue bisa keluar dari kabut ini. Dan gue bisa bertemu dengan ayah" kata Aish menyemangati diri sendiri.
Setelah mengumpulkan kekuatan kembali, dia berlari lagi. Pegal di kaki, peluh yang terus menetes, dan napas yang mulai sulit, akhirnya terbalas dengan leganya hati karena kabut sudah bisa dilalui.
"Alhamdulillah, kabutnya sudah nggak ada" kata Aish tersenyum ditengah napasnya yang pendek-pendek.
Dia mengamati sekitarnya, sebuah bangunan mirip rumah jaman kolonial Belanda terbangun kokoh. Sangat indah dengan hiasan jembatan yang melintang diatas sebuah sungai kecil di depannya.
Banyak bunga tertanam rapi diteras rumah yang juga diisi kursi kayu dan meja kecil. Catnya yang putih semakin membuat rumah itu tampak mencolok dengan keadaan sekitarnya.
"Indah sekali" gumam Aish.
Bahkan sinar matahari yang sangat terik tidak terasa panas sama sekali, suasananya sangat sejuk dengan semilir angin sepoi-sepoi. Menerbangkan ujung hijab Aish yang menjuntai.
Dari tempatnya berdiri saat ini, dia bisa mengamati seluruh bagian bangunan rumah itu. Sedangkan dibelakangnya hanyalah pepohonan tinggi dengan semak belukar yang sepertinya tidak pernah dilewati orang. Lantas bagaimana dia bisa berlari hingga sampai disini?
Saat asyik dengan pikirannya, terlihat pintu rumah itu bergerak. Rupanya seseorang akan keluar dari sana. Aish mengamati hal itu dengan gugup.
Tapi senyum di bibirnya mengembang sempurna saat seseorang terlihat keluar dari sana. Seorang pria dengan setelan baju putih, keluar dari rumah itu sambil melihat ke arah Aishyah yang berdiri terpaku ditempatnya.
"Kemarilah nak" kata pria itu dengan senyuman, dan kedua tangan yang direntangkan. Berharap mendapat pelukan dari Aish yang masih melongo.
"Kemarilah Aishyah, sayang... Kau tidak ingin memeluk ayahmu?" kata pria itu.
"Ayaaahhh....." teriak Aishyah seperti bocah kecil yang menyambut ayahnya saat pulang kerja.
__ADS_1
Air matanya sudah menganak sungai, tapi senyumnya tersungging indah diwajahnya yang lusuh tapi hatinya sangat bahagia.
Aishyah berlari melewati jembatan didepan rumah itu, masih menenteng sepatunya. Dia berlari menghampiri pelukan sang ayah yang sangat dirindukan.
"Aish kangen banget sama ayah" kata Aish saat berhasil merengkuh tubuh gagah didepannya ke dalam pelukan, dengan air mata yang mengalir tambah deras.
"Ayah bahkan tidak pernah meninggalkanmu, kenapa kamu merasa rindu" kata ayahnya yang masih memeluk sayang sang putri.
"Sudah... cup... cup.. ya anak ayah yang paling cantik" goda sang ayah. Aish tersipu sambil melepas pelukan ayahnya.
"Ayo kita duduk disitu" ayah menggandeng tangan Aish dan mendudukkannya di kursi teras.
"Ini rumah siapa yah? Bagus banget" tanya Aish.
"Rumah kita dong sayang, tapi masih belum waktunya kamu tinggal disini. Nanti kalau sudah waktunya, kita pasti berkumpul bersama dirumah ini" kata Ayah.
"Maksudnya yah? Ayah nggak mau tinggal sama Aish ya? Ayah tega sekali" rengek gadis itu manja.
"Tentu ayah akan sangat bahagia saat bisa tinggal bersama, tapi masih belum waktunya nak. Masih sangat jauh dengan saat seperti itu" kata ayahnya.
"Tapi Aish kangen banget sama ayah. Selama ayah pergi, bunda banting tulang demi bisa mencukupi kebutuhan Aish. Aish tidak tega yah, Aish mau ikut ayah saja" kata Aish dengan isakan tangis yang semakin keras.
"Ayah juga sangat ingin tinggal bersama, tapi kamu masih belum bisa tinggal disini. Masih butuh waktu yang sangat lama untuk kita bisa bersama. Tapi percayalah nak, rasa sayang itu akan terasa nyata di hatimu. Kasih sayang ayah dan bunda akan selalu bersamamu" kata ayah mengusap sayang kepala Aish yang sedang menangis tersedu.
"Sudah nak, jangan menangis lagi. Kau masih suka minum susu? Akan ayah suguhkan susu termanis untukmu nak. Tunggulah sebentar disini, ayah ambilkan di dalam" kata ayah sambil berlalu, masuk ke dalam rumahnya. Meninggalkan Aish yang hanya mengangguk patuh saat ayahnya bertanya.
Aish melihat ke sekelilingnya setelah kepergian sang ayah. Bunga disini sangat indah terawat, hidup didalam pot-pot yang terukir hiasan yang beragam motif, meskipun semuanya berwarna sama, yaitu putih.
Ada sebuah pot besar berbentuk gelas piala pendek berada di ujung teras yang luas ini, disebelah kirinya duduk.
Pot itu terisi penuh oleh air dan ada ikan-ikan kecil beraneka warna didalamnya. Dengan bunga teratai yang hidup subur diatasnya. Sungguh semua keindahan disini sangat persis dengan rumah impian Aishyah. Membuatnya sangat betah berlama-lama disini.
Beberapa saat menunggu, terdengar suara dentingan gelas yang dibawa diatas nampan. "Sepertinya ayah sudah kembali" batin Aishyah melihat ke arah pintu.
Dan benar saja, ayahnya datang tanpa membawa apapun ditangannya. Tapi setelah melewati pintu, pria itu berhenti dan mempersilahkan seseorang untuk berjalan terlebih dahulu.
Awalnya Aish terus tersenyum melihat kedatangan ayahnya. Tapi betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang datang dari belakang tubuh sang ayah.
Seorang wanita membawa nampan berisi beberapa gelas susu dan makanan diatasnya. Wanita itu terus saja berjalan sambil tersenyum pada Aishyah. Menghampiri Aish yang masih terbengong dengan kedatangan wanita yang berdiri disamping ayahnya, didepannya yang sedang duduk.
.
__ADS_1
.
.