Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Pria misterius


__ADS_3

"Hahahahaa"


Tawa Siras pecah melihat Aish yang ngambeg, bibirnya yang manyun terlihat sangat menggemaskan dimata Siras.


Dokter muda itu sangat terhibur, tawanya menggema di kursi tunggu saat malam akan berganti subuh. Orang-orang yang berada di sekitar mereka melihat sang dokter dengan tatapan heran.


"Bang dokter nih apa-apa sih. Malu dilihat banyak orang. Diem bang" kata Aish berusaha menenangkan dokter galaknya.


"Oh, maaf. Kamu lucu sekali" ucapnya dengan menggosok tepian sudut matanya yang berair karena tertawa.


"Saya nggak ngelawak, nggak ada yang lucu" sewot Aish.


Hendra datang dengan tergesa-gesa, setelah bertanya ke rekannya di ruang UGD tadi, cowok itu segera berlari mencari Aish yang diketahuinya takut darah. Khawatir jika princessnya kenapa-kenapa.


"Lo nggak apa-apa?" tanya Hendra dengan napas ngos-ngosan setelah ada dihadapan Aish.


"Gue sudah baikan Hen, tadi hampir pingsan" jawab Aish.


"Gue minta maaf ya, tadi gue lagi bantuin suster jahit luka" kata Hendra.


"Iya, nggak apa-apa Hendra. Semua sudah ok kok, tapi gue jadi laper" kata Aish lemas.


"Ehm!!" dokter Siras berdehem dihadapan bocah-bocah kecil itu.


"Eh iya, ada abang dokter tadi yang bantuin gue Hen" kata Aish.


"Thanks dok" kata Hendra singkat, bahkan tanpa menoleh padanya. Hendra masih sangat mencemaskan princessnya.


Dokter Siras mendecak, dia sungguh tidak suka melihat Hendra yang sangat perhatian pada Aish, belum tahu saja dokter itu jika masih ada dua lagi cowok yang sangat memperhatikan sosok Aishyah.


Tapi dia hanya diam, memperhatikan dua bocah yang sedang berinteraksi di depannya itu. Memang Aish pantas mendapatkan perhatian seperti itu, gadis itu selalu bersemangat dan ceria. Bersamanya terasa aura disekitar menjadi ikut positif.


"Pulang nanti kita sarapan dulu ya, biar nanti bunda nggak khawatir kalau ngelihat lo lemas" kata Hendra, dan Aish hanya mengangguk senang.


******


Sesuai rencana, Minggu pagi kawanan punggawa Aish benar-benar mendatangi rumah princessnya. Hendra yang belum pulang sejak semalam malah memilih tetap tinggal bersama kawanannya di rumah sederhana Aish.


Gadis itu meminta agar Hendra merahasiakan peristiwa di rs tadi dari bundanya. Aish takut jika bundanya tahu jika dia sempat muntah dan hampir pingsan, maka bundanya akan nekat ke sekolah dan mencabut restunya untuk tetap ikut kegiatan jaga.

__ADS_1


Seno dan Falen bahkan sudah ada di ruang tamunya sebelum Aish dan Hendra datang. Mereka terlihat sedang ngobrol bersama bunda.


"Assalamualaikum, uwah... kalian sudah disini aja?" tanya Aish saat baru tiba dan mencium tangan bundanya.


"Waalaikumsalam.. sesuai rencana" kata Seno.


Diantara mereka berempat, Seno adalah yang termanja. Cowok anak mommy itu paling suka ngambek dan Aish yang selalu menenangkannya jika Falen sedang mode jahil. Ketiga cowok itu sangat menghormati dan menyayangi Aish, satu-satunya cewek diantara mereka.


"Lo tidur dulu aja Hendra, dari semalam belum tidur kan?" kata Aish, dan Hendra hanya mengangguk dan mencari tempat ternyaman di ruang tamu untuk mengistirahatkan diri.


Mereka sedang duduk lesehan dengan menggelar karpet, Seno selalu membawa banyak camilan untuk teman ngobrol. Tak lupa sopir setianya juga selalu ngintil kemanapun dia pergi, menunggu dengan setia di dalam mobilnya.


"Bunda kok kelihatannya kurusan ya princess?" tanya Falen saat bunda pergi ke tukang sayur.


"Masak sih Fal? Kalau gue perhatiin sih biasa aja, apa gue yang kurang peka ya?" tanya Aish.


"Benar juga sih princess, gue rasa bunda memang agak kurusan daripada terakhir kita kesini" kata Seno dengan mulut masih mengunyah.


"Nanti biar gue perhatiin bunda lagi deh. Oiya, rencana mau kemana nih hari ini?" tanya Aish.


"Nanti siangan kita ke mall yuk, gue lagi pingin beli sepatu" kata Seno, cowok ini selalu fashionable.


"Boleh deh, gue juga mau beli buku sama alat tulis" kata Aish.


"Hendra pasti setuju" kata Seno melihat Hendra yang masih terlelap.


Mereka berempat masih menyempatkan makan siang bersama, karena dari awal mereka rindu masakan bunda Aish yang selalu melekat di lidah ketiganya.


Tapi mereka gagal membujuk bunda untuk ikut ke mall bersama, bunda bilang sudah bukan anak muda lagi. Dan beliau juga harus menyelesaikan jahitannya.


Para orang tua mereka ternyata juga mempunyai hubungan yang baik semenjak keempat anaknya hilang selama beberapa hari waktu itu. Apalagi bunda dan mamanya Hendra, mereka bahkan juga sering bertemu. Dan mama Hendra juga sering meminta jasa bunda Aish untuk membuat baju.


Keempat ibu dari empat sekawan itu bahkan punya grup WA juga, untuk memantau perkembangan dan pergaulan anak-anaknya. Para orang tua percaya jika bergaul dengan Aishyah akan berdampak positif bagi anaknya.


Terbukti Seno yang sekarang jauh lebih mandiri dan percaya diri meskipun berkacamata. Hendra juga lebih sering pulang ke rumahnya, begitupun Falen yang sekarang selalu mengerjakan sendiri tugas sekolahnya.


Keempat sekawan itu sering melakukan panggilan video untuk belajar bersama. Dan para orang tua sangat senang dengan dampak positif anaknya.


Dan disinilah mereka berada, di sebuah mall ternama di kota mereka, pertama mereka akan membantu Seno memilih sepatu. Lalu ke toko perlengkapan sekolah untuk membantu Aish mencari buku dan peralatan sekolah. Dan selanjutnya nonton bioskop.

__ADS_1


Untuk ukuran cowok, Seno tergolong suka kalap saat belanja. "Rencana lo mau sepatu yang gimana Sen?" tanya Aish.


"Yang bagus" jawab Seno masih memilih beberapa sepatu yang menurutnya menarik.


"Inget, jangan banyak-banyak belinya" kata Aish.


"Bagus semua princess, gue bingung. Lo pilihin aja ya" kata Seno.


"Lo pengen warna apa, kayaknya sepatu hitam punya lo sudah banyak. Warna lain aja yang lo belum punya, jangan beli banyak-banyak. Inget" kata Aish.


Seno berhenti di hadapan Aish, mengacak ujung hijabnya. "Lo cerewet banget, mommy gue pasti nyuruk gue pilih semua deh" kata Seno.


"Jangan berlebihan, nggak baik" kata Aish mengingatkan.


"Oke my princess" jawab Seno menjatuhkan pilihan pada dua pasang sepatu dan bersiap membayar.


"Lo nggak pingin beli juga? gue traktir deh" kata Seno.


Aish menggeleng "yang kemarin lo beliin masih belum pernah gue pakai".


Setelah selesai dengan transaksinya, mereka keluar dari toko sepatu. Falen juga membeli sepatu rupanya.


Melewati beberapa toko yang berjejer, Aish sadar ada yang mengikuti mereka sedari tadi awal masuk mall. Seorang pria dengan jaket kulit coklat tua dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.


"Orang itu ngikutin kita dari tadi" kata Aish berbisik pada Falen yang berjalan sambil merangkulnya.


Falen mengikuti arah pandang Aish, dia berencana memutar dan meng'gap' si pria berambut gondrong itu dari arah yang berlawanan. Kedua temannya yang berjalan mendahului tidak menyadari perbuatan Aish dan Falen di belakangnya yang berjalan menjauh.


Pria misterius itu mengikuti arah Seno dan Hendra, dia tidak mengincar Aish ataupun Falen, karena tidak menyadari kedua bocah yang berjalan menjauh. Pria itu lebih memilih mengikuti arah perginya Hendra dan Seno.


Falen dan Aish sudah berada di belakang si pria setelah berjalan memutari pilar besar, pria itu tetap mengamati Seno dan Hendra yang berjalan di depannya.


Siapa pria itu? Mungkinkah lawan bisnis orang tua Seno atau Hendra? Dan sekarang sedang berniat buruk pada salah satu dari mereka?


Aish dan Falen masih menguntit di belakang si pria yang terlihat serius dengan buruannya. Mereka menunggu waktu yang tepat untuk menegur si pria gondrong.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2