Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
sekolah baru


__ADS_3

Hari Senin sudah tiba, suara gaduh dari sebuah ruang kelas terdengar hingga keluar. Tiba-tiba hening saat seorang guru datang bersama seorang murid baru.


Pandangan mata dari murid di ruangan itu menuju pada satu titik yang sama. 'Ada murid baru', begitulah kira-kira isi dalam benak mereka.


"Selamat pagi anak-anak" kata bu guru.


"Pagi bu" jawab mereka kompak.


"Ada seorang murid baru yang akan belajar bersama kalian di kelas ini mulai sekarang. Ibu harap kalian bisa menerima dan berteman baik dengannya nanti".


"Silahkan perkenalkan diri kamu" kata Bu guru.


"Selamat pagi teman-teman, perkenalkan nama saya Aishyah Khumaira" kata Aish memperkenalkan diri.


"Nama panggilannya siapa?"


"Rumah kamu dimana?"


"Statusnya apa?"


"Sudah punya pacar apa belum?"


Pertanyaan yang sering dilontarkan saat ada murid baru sudah Aish dengar saat ini. Dia jadi tahu rasanya.


"Diam semuanya. Silahkan kalau kamu mau menjawab salah satu pertanyaan dari teman kamu" kata Bu Guru.


Aish mengangguk sopan sebelum menjawabnya.


"Nama panggilan saya Aish, rumah saya di kampung Kembang" kata Aish.


"Oh, pantesan cantik kayak bunga. Tinggalnya di kampung Kembang, sih" celetuk temannya.


"Sudah jangan berisik, Aishyah kamu boleh duduk di sebelahnya Nindi ya. Ada bangku kosong disana. Nindi, angkat tangan kamu" kata Bu Guru.


Aish melihat seorang siswi berambut panjang yang dibiarkan terurai mengangkat tangannya, dia duduk di bangku ketiga dari belakang. Di dekat jendela.


"Terimakasih bu" kata Aish berjalan ke arah Nindi.


"Perkenalkan, nama aku Nindi" kata siswi dengan logat Jawa tulen, dia mengulurkan tangannya.


"Aish" kata Aish menerima uluran tangan Nindi.


"Sepertinya Nindi anak yang baik, semoga saja gue bisa berteman sama dia" batin Aishyah.


★★★★★


Hari ini dilalui dengan cukup baik. Aish rasa, dia bisa beradaptasi dengan mudah dilingkungan barunya ini.


Di kelas 11 IPA-A, kelas baru Aish, diisi oleh lebih dari empat puluh murid. Sangat banyak dibandingkan saat dia bersekolah di SMA Mahardika dulu, yang hanya diisi tidak boleh lebih dari Tiga puluh murid saja.


Tapi Aish bersyukur karena bisa diterima dengan baik oleh teman sekelasnya.


"Kamu pulang naik apa? Angkot?" tanya Nindi.


"Gue dijemput,soalnya tadi pagi gue dianterin sama kakak gue" kata Aish yang memang tadi pagi diantar oleh Willy untuk menemui kepala sekolah sebelum masuk kelasnya.


"Dijemput siapa? Pacar kamu ya?" tanya Nindi dengan logat Jawa yang kental, yang menekankan pelafalan huruf J .


Aish hanya tersenyum saja, memang siang ini Richard berjanji akan menjemputnya. Meski Aish harus sedikit bersabar untuk menunggu karena jarak sekolah mereka yang lumayan jauh, dan jam pulang sekolah mereka sama.

__ADS_1


"Ayo aku temani kamu menungggu, soale aku lagi ndak ada kegiatan dirumah. Sekalian nungguin angkot bareng kamu, ya?" kata Nindi.


"Boleh, yuk ke gerbang" kata Aish yang sudah selesai merapikan peralatan sekolahnya.


Nindi dan Aish sudah berada di halte di depan sekolah, mereka berdua harus berdiri karena tidak ada kursi kosong tersedia. Semua penuh dengan penunggu angkot.


Mereka berdua baru bisa duduk dengan tenang karena sudah banyak murid yang pergi dengan angkot masing-masing.


"Alhamdulillah, akhirnya dapat tempat duduk" kata Nindi yang sibuk mengipasi wajahnya dengan buku.


"Haus nggak sih lo, Nin?" tanya Aish.


"Iya, panas banget. Sumuk" kata Nindi.


"Apaan tuh sumuk?" tanya Aish mendengar kosakata baru yang belum dimengerti.


"Panas, Sumuk kui panas gitu loh, Aishyah" jawab Nindi.


"Oh, bentar lo tunggu disini ya. Kayaknya ada yang jual es disana" kata Aish beranjak pergi.


Beberapa saat kemudian, dia sudah kembali dengan dua plastik berisi es dengan sedotan didalamnya.


"Nih, buat lo" kata Aish menyerahkan sekantong plastik es berwarna merah pada Nindi.


"Makasih ya, kamu baik banget" kata Nindi sambil menikmati es dingin miliknya.


Beberapa teman sekelas Aish mendekat saat melihat Aish duduk di halte dengan Nindi.


"Hai, belum balik lo?" tanya Anto, teman yang duduk dibelakang Aish saat di kelas. Dia datang bersama dua temannya, yang satu tinggi putih dengan seragam olahraga, Aish tidak mengenalnya. Dan yang satu lagi Riki, teman sebangku Anto.


"Lagi nunggu dijemput, lo sendiri belum pulang?" tanya Aish.


"Terus kenapa bisa disini?" tanya Aish.


"Mau beli peluit di toko seberang itu, pak Rudi peluitnya hilang" kata Anto.


Aish mengangguk, mereka terlibat obrolan yang cukup menyenangkan menurut Aish. Hingga dia tidak sadar jika Richard sudah ada di depan halte, dia menunggu di dalam mobilnya.


Merasa tidak juga mendapat perhatian, Richard membunyikan klaksonnya berkali-kali. Hingga membuat semua yang ada disana menoleh padanya.


"Hah? Sudah datang dia. Kenapa cemberut gitu sih?" gumam Aish yang sudah berdiri.


Teman-temannya ikut berdiri, mereka kira Aish juga merasa terganggu dengan kedatangan siswa dari sekolah lain itu.


"Eh, mau ngapain?" tanya Aish yang melihat temannya ikut bertampang masam, dan ikut berjalan bersamanya.


"Ganggu banget tuh anak, biar sekalian kita kasih pelajaran" kata Anto.


"Jangan dong, dia yang jemput gue. Makasih ya sudah nemenin gue" kata Aish tersenyum, berpamitan pada temannya.


"Nindi, ayo gue anterin sekalian. Rumah lo kan searah sama gue" kata Aish menggandeng tangan Nindi untuk ikut bersamanya.


"Eh, iya. Dah dah teman-teman" kata Nindi sambil melambaikan tangannya pada Anto dkk.


"Uwah, mobilnya bagus banget toh, Aish" gumam Nindi yang berjalan disamping Aish.


Sebelum masuk, Aish melongokkan kepalanya untuk berbicara pada Richard.


"Karena Nindi sudah nemenin gue daritadi, jadi lo harus ngijinin buat dia ikut mobil lo" kata Aish yang lebih pada sebuah perintah.

__ADS_1


Richard hanya mengangguk dan membuka kunci pintu belakang.


"Ayo masuk, Nin" kata Aish membukakan pintu untuk Nindi.


Keduanya sudah masuk kedalam mobil Richard. Nindi masih terpesona melihat interior mobil Richard yang tidak seperti angkot yang selalu ditumpanginya setiap pulang sekolah.


"Uwah, keren banget mobilnya" gumam Nindi yang masih terdengar dari jok depan.


"Kampungan banget" gerutu Richard yang tidak biasa membantu orang lain.


"Hus" kata Aish dengan jari telunjuk dibibirnya.


"Rumah kamu masuk gang atau dipinggir jalan raya, Nin?" tanya Aish.


"Dipinggir jalan kok, nanti turunin depan rumah saja" kata Nindi yang kini melihat pada Richard, dia terpesona pada wajah rupawan yang daritadi tak diperhatikannya.


"Oh, oke" kata Aish.


"Besok gue samperin ke rumah lo mau nggak, Nin? Besok gue bawa motor sendiri loh" tanya Aish.


Merasa tak mendapat respon dari Nindi, diapun menoleh, dan mendapati Nindi yang asyik mengamati wajah Richard dari kaca spion.


"Nindi, malah bengong. Ditanyain juga" kata Aish yang sudah tidak heran melihat cewek lain yang suka diam-diam memperhatikan wajah pacarnya.


"Eh, apa? Maaf, aku ngelamun toh" kata Nindi malu.


"Besok mau bareng gue?" tanya Aish.


"Nggak usah, lo langsung berangkat saja" kata Richard yang malah melarang Aish.


"Iya, nggak usah, Aish. Aku kalau berangkat diantar sama ayah yang sekalian kerja" kata Nindi.


"Oh, gitu. Oke deh" kata Aish.


"Abis dari rumah lo, langsung ke cafe ya. Gue mau kenalin lo sama kepala chef disana" kata Richard.


"Iya, boleh" kata Aish.


Nindi diam saja, dia malu karena ketahuan melihat cowok ganteng didepannya.


"Lo bawa apaan sih?" tanya Richard.


"Oh, ini. Tadi beli es di depan sekolah, haus banget sih" kata Aish.


"Jangan beli yang kayak gitu, memangnya lo nggak bawa minum? Biasanya kan selalu ada di dalam tas lo" kata Richard tanpa melihat ke arah Aish.


"Habis, jadi ya beli es deh" kata Aish.


"Beli air mineral saja daripada es kayak gitu, nanti lo sakit" kata Richard.


"Iya, lain kali gue nggak beli es yang kayak gini lagi deh" kata Aish menghindari perdebatan dengan Richard. Malu karena ada Nindi juga.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2