Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
lagi-lagi masalah


__ADS_3

"Baru kali ini gue lihat kemiskinan secara langsung. Dan ternyata, itu ada ya" kata Yopi.


Aish menepuk punggung Yopi, "Hai orang miskin, lo nggak sadar juga kalau sudah jadi bagian dari kami?" kata Aish.


"Mulut lo, princess. Lama-lama ketularan Reno. Pedes banget. Sakit hari gue" keluh Yopi.


"Ya memang lo kan sudah miskin sekarang, jadi ya biasakan diri dong" kata Aish.


"Iya, gue sekarang miskin" jawab Yopi sedikit kesal, tapi sadar diri kalau memang sudah jadi orang miskin. Yang kaya raya kan ayahnya.


"Lo laper nggak sih, Yop? Kok gue laper banget ya" keluh Aish.


"Laper lah, dari siang kan belum makan, princess. Sampai malam begini loh, obat gue juga belum tersentuh sejak pagi tadi" kata Yopi.


"Perempatan depan belok kanan ya, bang" kata Aish.


"Lo kira gue tukang ojek. Tapi mau kemana kok belok kanan?" tanya Yopi yang memenuhi permintaan Aish.


"Sudah deh, lo ngikut aja" kata Aish.


Ternyata Aish mengajak Yopi mengunjungi kedai mie ayam langganannya bersama para punggawanya.


Sedikit ragu, akhirnya Yopi mau juga memakan seporsi mie ayam yang sudah menjadi favorit Aish.


"Eergh, uwah... Enak juga ya ternyata" kata Yopi yang sendawa setelah menghabiskan mienya.


"Nggak sopan banget sih. Enak kan? Gue bilang juga apa" kata Aish yang juga sudah menghabiskan mie ayamnya.


"Uwah, pak bos nelponin gue daritadi nih, Yop. Mana hapenya gue silent, kan gue jadi nggak denger. Getarannya juga nggak terasa sih" kata Aish yang mengecek ponselnya, banyak panggilan tak terjawab dari Richard, dan juga Falen.


"Kenapa belum pulang?"


tanya Richard setelah panggilannya diangkat oleh Aish.


"Ini lagi dijalan, mau pulang. Kenapa marah-marah sih. Tadi teman gue tuh motornya mogok, makanya gue sama Yopi bantuin dia dulu"


kata Aish tak kalah ngotot.


"Kan lo bisa kabari gue, Ra. Nggak tenang gue kalau nggak ada kabar dari lo"


kata Richard yang sudah melunak.


"Nggak usah lebay deh. Lo kan sudah nyuruh Yopi buat ngintilin gue kemanapun. Masih mau apa lagi?"


tanya Aish yang juga melotot pada Yopi.


"Kena juga kan gue, bodo lah. Gue mau minum obat dulu" kata Yopi berusaha menghindar dari perseteruan dua kubu beda suhu ini.


"*Ya gue khawatir, Ra. Lo ngertiin gue dikit dong".


"Huft, iya. Gue minta maaf sudah marah-marah sama lo, ya. Yaudah, gue balik dulu ke rumah. Keburu malam juga ini".


"Iya, lo hati-hati ya. Bilangin si Yopi jangan ngebut-ngebut kalau boncengin lo, terus satu lagi. Lo kalau pegangan jangan sampai meluk si brengsek itu dari belakang ya. Pegangan ke besi belakang motor lo saja*"


kata Richard yang setengah cemburu pada sahabatnya sendiri.


"Iya, bawel. Yasudah, gue jalan dulu"


kata Aish yang sudah mematikan panggilannya.


"Kalian berdua itu sering banget cek cok ya. Tapi bentar lagi baikan. Aneh" gerutu Yopi.


"Daripada lo, diam-diam punya anak. hehehe" balas Aish telak.


"Jadi kepikiran Emily kan gue. Besok gue cari tahu deh dimana dia sekarang" kata Yopi.


"Sudah lah, yuk balik" kata Aish.


★★★★★


Bel istirahat berbunyi, pelajaran olahraga sudah selesai. Aish dan teman sekelasnya bubar, sebagian besar langsung menuju ke kantin untuk mencari makan.


"Ilham" teriak Aish saat melihat Ilham keluar kelasnya dengan membawa kotak kue.


"Hai, Sya" kata Ilham.


"Nih, buat Fira" kata Aish menyerahkan sekotak crayon yang belum sempat digunakannya sejak baru membeli.


"Apa itu?" tanya Ilham.


"Crayon, belum sempat gue pakai sejak beli dulu. Jadi, gue kasih ke Fira saja deh" kata Aish yang meletakkan crayon itu diatas kotak kue Ilham.


"Makasih ya, Sya. Fira pasti senang banget" kata Ilham dengan senyum mengembang.


"Sama-sama. Ini kue jualan lo, ya?" tanya Aish.


"Iya, mau gue antar ke kantin. Soalnya cuma laku sedikit tadi di kelas" kata Ilham.


Aish mengambil kotak kuenya, lalu duduk di pinggir lapangan. Masih banyak murid yang masih betah disana. Bahkan ada juga murid yang sengaja sudah berada di lapangan, padahal jam pelajaran olahraga setelah istirahat nanti.

__ADS_1


"Kue, siapa mau beli kue" teriak Aish.


Ilham sedikit malu karena teriakan Aish yang membuat banyak temannya menoleh ke arahnya.


"Ngapain, Sya? Malu nih gue" kata Ilham.


"Jualan dong, ngapain harua malu?" tanya Aish.


Melihat banyak temannya yang berdatangan, Aish jadi senang.


"Berapaan?" tanya mereka.


"Dua ribu doang. Ayo buruan dibeli sebelum kehabisan" kata Aish.


Yopi sedikit terkejut dengan kelakuan Aish, tapi diapun membantu Aish berjualan kuenya di Ilham. Bagaimanapun tugasnya di sekolah ini selain belajar kan juga harus menjaga Aish.


Kue itu laku keras, karena yang jualan juga cantik dan ganteng. Yopi tampangnya nggak perlu diragukan lagi.


Sisa kue di kotak itu tidak lebih dari lima buah. Kini senyum Ilham terukir indah, karena dagangannya hampir habis.


Sebuah lemparan bola mendarat di kotak yang Ilham pegang. Sisa kue yang ada terjatuh dan kotor.


Aish terkejut, dia masih trauma kalau berurusan dengan bola.


Ternyata bola basket itu berasal dari seseorang yang dengan sengaja mengarah pada kotak dagangan Ilham.


Seorang siswa berdiri angkuh ditengah lapangan basket. Dia berkacak pinggang, tidak ada yang berani menegur kesalahannya.


"Sorry nih, lemparan bola lo kena ke dagangan teman gue. Terus jatuh, jadi nggak bisa dijual" kata Aish yang mendekat padanya, dan berusaha berbicara dengan sopan.


"Bukan urusan gue, lagian kenapa jualan di lapangan? Bikin kotor saja" kata siswa itu dengan angkuh.


"Ini kan jam istirahat, lagian juga nggak ada larangan buat jualan disini. Toh kita nggak bikin sampah" kata Aish membela diri.


"Gue nggak perduli, kalau lo mau gue ganti rugi. Nih buat lo" kata siswa itu, melempar selembar uang berwarna biru yang kemudian dia injak.


"Ambil sendiri" katanya meledek.


Semua yang ada di lapangan hanya bisa terdiam, melihat kelanjutan drama yang sedang terjadi.


"Sombong banget sih, lo. Kalau cuma duit segitu, gue juga masih sanggup kali. Cemen banget lo jadi cowok" kata Aish berbalik badan, ingin meninggalkan lapangan.


Tapi tangannya dicekal, siswa itu terlihat marah. Pegangan tangannya terlalu kencang hingga membuat Aish mengaduh kesakitan.


"Sakit tau, lepasin nggak" bentak Aish.


"Lo nantangin gue?" tanya siswa itu yang langsung menonjok wajah Yopi.


Tentu Yopi langsung tersungkur, bahaya baginya mendapat perlakuan seperti itu padahal luka bekas operasinya belum sembuh betul.


"Yopi, Lo nggak apa-apa kan?" tanya Aish yang memangku kepala Yopi.


"Nggak apa-apa, cuma agak pusing dikit" kata Yopi yang sudah bisa duduk, dia memegangi kepalanya yang terasa berputar-putar.


" Lo tuh keterlaluan banget sih? Lo tahu nggak kalau Yopi habis operasi, bisa gawat kalau dia kena benturan seperti itu" kata Aish.


"Gue nggak tahu, dan nggak mau tahu. Kenapa? lo mau marah?" kata siswa itu semakin membuat Aish geram.


Tapi Aish masih berusaha sabar, dengan tangan mengepal, Aish mengajak Yopi pergi dari sana. Ilham membantu Yopi berjalan.


"Nyokap lo ***** ya? Kok lo mainnya sama cowok-cowok doang" teriak siswa itu menertawakan Aish yang tidak berani melawannya


"Mendengar ibunya diejek, tentu membuat anak dari bangsa apapun akan naik pitam. Begitupun Aish yang langsung berlari ke arah siswa itu dan langsung menonjok bibirnya. Beruntung Aish masih mengenakan seragam olahraga.


Siswa itu jatuh tersungkur, sedikit berdarah karena ujung bibirnya yang robek.


Siswa itu menatap geram pada Aish, dia mengelap ujung bibirnya dengan jempol.


"Jangan sebut nama orang tua gue dengan mulut busuk lo itu" kata Aish. Tangannya sedikit ngilu karena menonjok terlalu keras.


Siswa itu berdiri, tanpa aba-aba langsung menendang ke arah dada Aish. Masih beruntung Aish sigap dengan menggeser tubuhnya, hingga tendangan dari siswa itu hanya mengenai sedikit bahunya.


Tapi itu juga terasa sakit, namanya juga ditendang.


"Gue nggak perduli dengan gender, mau cowok ataupun cewek, bakalan gue hajar" kata siswa itu.


"Oke, gue terima tantangan lo" kata Aish yang sudah memasang kuda-kuda.


Akhirnya merekapun berkelahi. Tidak etis memang kalau cowok lawan cewek. Tapi kemampuan Aish juga tidak boleh diragukan.


Beberapa kali tendangan dan pukulannya mengenai siswa itu. Sebenarnya kemampuan bela diri siswa itu tidak terlalu bagus, hanya saja omongannya yang setinggi langit membuatnya ditakuti oleh yang lainnya.


Apalagi dia punya teman yang sangat solid padanya.


Perkelahian Aish dan siswa itu harus segera diakhiri karena seorang guru yang datang.


Kini, tangan guru itu sedang menjewer telinga Aish dan siswa yang berkelahi dengannya. Mereka berdua digiring ke ruang BP.


Aish mengaduh kesakitan setelah sang guru melepaskan jeweran di telinganya.

__ADS_1


"Aahhh, sakit banget bu" keluh Aish yang sudah duduk di ruang BP, ditemani Yopi dan Ilham.


Siswa itu juga kesakitan, dia ditemani beberapa orang.


"Ya Ampun Mike, sudah berapa kali kamu masuk ke ruang BP minggu ini?" tanya guru itu malas.


Ternyata nama siswa itu adalah Mike, dan dia sering masuk ruang BP.


"Kamu juga, sebagai wanita seharusnya kamu itu bersikap lembut. Bukannya berantem seperti ini" kata Bu guru.


"Dia duluan bu, dia jatuhin dagangannya Ilham, terus nggak mau bayar. Setelah itu dia malah ngatain ibu saya loh, bu" kata Aish membela diri.


"Lo budeg ya, gue kan sudah mau ngasih duit buat bayar kue yang tadi gue jatuhin. Lo nya saja yang sok nggak mau terima" kata Mike yang juga tidak mau disalahkan.


"Makanya kalau mau ngasih apa-apa itu yang sopan. Lo pernah belajar sopan santun nggak sih?" kata Aish.


"Lo memang minat dikasih lagi, ya" kata Mike berdiri, sontak membuat Aish ikut berdiri.


"Apa? Masih berani lo sama gue? Kalau nggak ada yang lerai, lo pasti sudah habis ditangan gue" kata Aish merendahkan Mike.


"Sialan lo" kata Mike yang memang merasa kewalahan menghadapi cewek bar-bar dihadapannya ini. Meskipun dia tak lebih tinggi darinya, tapi kemampuan bela dirinya lumayan bagus.


"Sudaahh diaaammmm...." teriak bu guru.


"Kalian berdua ini ya, keterlaluan sekali. Ayo duduk" perintah Bu guru.


"Kalian ini kan sama-sama ditugaskan menjadi wakil dari sekolah kita di kompetisi nanti. Kenapa jadi berantem sih? Seharusnya kalian menjadi contoh yang baik untuk teman kalian yang lain. Bukannya malah berantem, memalukan" kata hu guru.


"Tapi dia duluan bu yang bikin gara-gara" kata Aish.


"Nggak bu Kris, dia duluan" kata Mike.


"Hah? Bu Kris?" tanya Aish melongo.


"Iya, saya bu Kris" kata bu Kris, guru BP di sekolah ini.


"Loh, nama yang sama kayak guru BP dulu ya Yop" kata Aish berbisik pada Yopi yang daritadi duduk diam di sebelah Aish.


"Yop, lo nggak apa-apa kan?" tanya Aish yang melihat Yopi hanya terdiam.


"Nggak apa-apa kok, Sya. Aman" jawab Yopi lemah.


"Tapi lo pucat, Yop. Kita ke dokter ya?" tanya Aish khawatir.


"Lemah banget sih jadi cowok" ledek Mike.


"Dia itu baru saja operasi di kepalanya, wajar dong kalau dia kesakitan kalau lo pukul dia kayak tadi" kata Aish geram.


Mike sedikit terkejut, dia jadi takut terjadi apa-apa juga kan sama Yopi.


"Gue nggak apa-apa kok, Sya. Lo nggak usah khawatir. Nanti pasti sembuh kalau sudah minum obat" kata Yopi.


"Benar kamu nggak apa-apa, Yopi?" tanya bu Kris yang khawatir juga.


Cukup lama beradu argumen di ruang BP, akhirnya Aish puas dengan keputusan bijak yang diambil oleh bu Kris.


Keputusannya adalah, Mike harus membantu Ilham menjual dagangannya sampai habis selama satu minggu penuh. Dimulai dari Senin depan, setelah kompetisi selesai.


Sedangkan hukuman untuk Aish adalah mengajari Mike pelajaran Matematika selama satu minggu full, dimulai hari Senin juga.


Jika Mike masih belum bisa menguasai pelajaran itu selama masa hukuman Aish, maka hukuman Mike untuk berjualan kue milik Ilham harus terus dilakukan.


Yang paling diuntungkan di sini adalah Ilham. Tapi Aish merasa senang karena bisa membantu Ilham untuk menjual kue-kuenya.


"Maafin gue ya, Sya. Gara-gara lo nolongin gue jadi kena musibah" kata Ilham.


"Nggak apa-apa, Ham. Gue senang kok bisa bantu lo" kata Aish tersenyum.


"Bahu lo pasti sakit ya, Sya?" tanya Yopi yang melihat Aish memegangi bahu kirinya sejak tadi.


"Lumayan lah, tadi kena tendang sama Mike jelek itu" kata Aish.


Terbesit dalam hati Yopi jika dia hanyalah cowok lemah yang selalu dilindungi. Sekarang dia bertekad dalam hatinya untuk belajar menguasai bela diri. Agar bisa melindungi orang-orang yang tulus selalu berusaha menjaganya selama ini.


Terutama untuk Richard yang menolongnya tanpa pamrih, untuk Aish yang sudah rela dilukai seperti ini. Untuk dirinya sendiri, dan juga untuk Emily. Suatu saat akan dia buktikan jika dia juga patut untuk dipertimbangkan.


"Gue harus bisa jadi lebih baik, gue harus bisa melindungi orang-orang disekitar gue, bukan gue yang harus dilindungi" semangat dalam hati Yopi sangat membara kali ini.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2