
"Lawan kita kali ini tangguh ya" kata Aish, dia sedang dalam perjalanan menuju SMA Mahardika pagi ini. Bersama teman-temannya yang juga lolos di babak penyisihan kemarin.
"Iya, ndak nyangka loh aku kalau kita bisa lolos di babak penyisihan kemarin" kata Nindi.
"Iya nih, kita ngelawan tim Mahardika langsung. Dan juga tim dari SMA Nasional. Mereka kan langganan juara kompetisi sebelum-sebelumnya" kata Ilham.
"Semoga kita bisa menang ya, setidaknya dapat runner up lah. Kalau jadi juara kayaknya berat bosku" kata Nindi.
"Betul apa yang lo bilang, Nin. Runner up juga nggak apa-apa, yang penting dapat trophy" kata Ilham.
"Mike gimana kemarin? Lolos juga?" tanya Aish.
"Lolos, tim basket kita paling unggul malah. Skornya tertinggi" kata Ilham.
"Uwah, keren dong. Coba kalau di dunia nyata, dia sedewasa saat jadi kapten tim, pasti aman sekolah kita" kata Aish.
"Memangnya gue kenapa? Keren ya kalau jadi kapten tim?" tanya Mike yang sudah berdiri di samping kursi yang Aish duduki.
"Cg, ada orangnya lagi" gumam Aish yang tak menyadari keberadaan Mike daritadi.
"Nggak, lo nggak keren sama sekali. Gue cuma omong kosong doang sih tadi" kata Aish yang kini pura-pura sibuk dengan bukunya.
"Ngeles doang bisanya, kayak angkot lo" ejek Mike yang berlalu pergi. Dia sedang tidak mood untuk cari gara-gara sepertinya.
Aish dan kedua temannya bernafas lega melihat Mike yang tidak memperpanjang urusannya.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di Mahardika. Bus yang Aish tumpangi memasuki area parkir yang luas, Aish juga baru tahu kalau di sekolah ini juga ada basemen untuk additional parking area. Dia sangat cupu saat bersekolah disini, tempat tongkrongannya cuma taman dekat perpustakaan.
Selebihnya ya lapangan, uks, dan ruang kelasnya sendiri.
Turun dari bus, para murid sudah dipisahkan. Mereka menuju tempat kompetisi masing-masing.
Ilham, Aish dan Nindi langsung menuju aula, sementara Mike dkk langsung ke lapangan, dan peserta lain juga langsung menuju ke ruangan masing-masing.
Sampai di aula, tempat ini sudah dirombak sedemikian rupa. Ada tiga meja yang disusun di depan ruangan, lengkap dengan tiga kursi di masing-masing mejanya.
Kursi penonton ditata menghadap ke arah tim yang akan berlomba siang ini.
Tim A berasal dari SMA Mahardika, tim B dari SMAN 72, dan tim C dari SMA Nasional. Mereka merupakan tim terbaik yang didapat dari babak penyisihan kemarin.
Kebanyakan penontonnya adalah murid dari Mahardika sendiri.
"Selamat datang di SMA Mahardika, semangat untuk para pejuang yang akan bertanding di cerdas cermat hari ini" kata MC mengawali acara.
"Silahkan para siswa dan siswi terpilih untuk maju ke depan dan menduduki kursi yang sudah disediakan. Begitu juga kami persilahkan untuk para juri menempati posisinya masing-masing" perintah MC yang langsung dipatuhi oleh semuanya.
Seno, Falen dan Franda, tim dari Mahardika sudah bersiap di posisinya, Aish, Nindi dan Ilhampun sama.
Seno sempat bersalaman dengan Aish sebelum duduk di kursinya.
Para peserta diberi alat tulis dan beberapa lembar kertas untuk berhitung.
"Baiklah, di kesempatan kali ini ada tiga kesempatan untuk berebut poin. Yang pertama, kami akan memberikan pertanyaan pada masing-masing tim secara bergiliran, dan setiap tim mendapatkan kesempatan untuk mencuri nilai".
"Sebagai contoh apabila tim A tidak bisa menjawab pertanyaan yang kami berikan, maka tim lain yang bisa menjawabnya setelah tim A melempar pertanyaan tersebut".
"Yang kedua, kami akan memberikan pada tiap tim selembar kertas yang berisi 20 pertanyaan yang harus diselesaikan dalam waktu tiga puluh menit. Tugas berkelompok yang ringan menurut saya pribadi" kata MC menerangkan aturan mainnya.
"Dan yang ketiga, ini yang terakhir ya. Pertanyaan rebutan, jadi dewan juri akan memberi pertanyaan dan kalian boleh berebut untuk menjawabnya. Jangan lupa pencet bel dulu dan dewan juri akan menentukan siapa yang berhak menjawab pertanyaannya".
"Sampai disini apa ada pertanyaan?" tanya Mc.
Hening, sepertinya penjelasan yang diberikan sudah dimengerti oleh semuanya.
__ADS_1
"Baiklah, jika sudah mengerti. Bisa kita mulai acara hari ini. Silahkan dewan juri untukmu membuka amplop soal untuk ujian yang pertama"
Juri membuka amplop, para peserta mulai deg-degan. Menunggu juri membuka amplop itu rasanya seperti melihat video yang di slow motion. Padahal perut rasanya sudah kram.
"Pertanyaan pertama untuk tim A, mudah sekali ini. Sumpah yang dilakukan oleh patih gajah mada disebut?" tanya Juri.
"Sumpah Palapa" jawab Falen lancar.
"Pertanyaan untuk tim B, pemilu pertama di Indonesia terjadi pada masa pemerintahan apa?" tanya Juri.
"Kabinet Ali I" jawab Aish tak kalah lancar.
"Pertanyaan untuk tim C, undang-undang yang tidak tertulis disebut apa?" tanya juri.
"Konvensi?" jawab tim C sedikit ragu.
"Benar" kata Juri.
Sejauh ini semua tim masih lancar dalam menjawab, mereka masih sama-sama unggul. Skor ketiga tim masih sama.
Memang mereka murid terpilih yang pantas mewakili sekolahnya masing-masing.
"Uwah, skor kalian imbang. Kami bangga padamu nak" kata MC.
Putaran jam sudah menunjukkan lebih dari satu setengah jam di perlombaan babak pertama ini. Setelah rehat selama sepuluh menit tanpa meninggalkan tempat masing-masing, kompetisi dilanjutkan pada putaran kedua.
"Di sesi kali ini, kalian akan mendapat lembar soal yang harus dikerjakan dengan tim masing-masing".
"Ingat, sesi ini akan menunjukkan seberapa solid tim kalian. Jadi, musyawarahkan dengan baik saat akan menjawab soal yang ada. Karena banyak soal jebakan disini" kata MC.
Para juri sudah memberikan lembar soal pada tiap tim. Ternyata mereka mendapat soal yang berbeda antar satu tim dengan tim lainnya.
"Silahkan kalian jawab soal-soal yang ada dalam waktu riga puluh menit dari sekarang" kata MC menghidupkan stop watch untuk membatasi waktu pengerjaan soal.
Waktu tiga puluh menit untuk menjawab terasa sangat singkat kali ini.
"Oke, waktunya sudah habis. Silahkan letakkan semua peralatan tulis diatas meja. Dan silahkan panitia untuk mengambil jawaban dari tiap tim".
"Dan sekarang, tugas para juri untuk menilai jawaban yang sudah terkumpul".
"Sambil menunggu, silahkan semua peserta diizinkan jika ingin makan, ataupun minum" kata MC.
Seno menghampiri meja Aish, menanyakan perihal ujian barusan.
"Gimana? Lancar kalian jawabnya?" tanya Seno.
"Alhamdulillah lancar, ya ampun... Aku tuh seneng sekali bisa ngobrol sama kamu Senopati" kata Nindi.
"Lo selalu santai ya, princess" kata Seno.
"Iya dong. Memangnya mau gimana lagi, Seno?" tanya Aish tersenyum.
"Seno, silahkan kembali ke tempat kamu sendiri karena perlombaan akan segera dilanjutkan" kata MC. Seno mengangguk dan berjalan kembali ke tempat semula.
"Mari kita dengarkan hasil penilaian para juri" kata MC memberikan mikrofon pada salah satu juri.
"Baik, Selamat untuk kalian semua. Jawaban kalian juga berhasil membuat kami berdebat untuk menentukan siapa yang mendapatkan nilai tertinggi di sesi kedua ini" kata juri.
"Tim A, dari SMA Mahardika mendapatkan nilai 140 poin, jadi total nilai untuk mereka adalah 290 poin dari dua sesi pertama".
"Tim B, dari SMAN 72 mendapatkan nilai 160 poin, jadi total nilai untuk mereka adalah 310 poin dari dua sesi ini".
"Dan tim C, dari SMA Nasional mendapatkan total nilai 280 poin. Selamat untuk tim B, kalian memperoleh nilai akumulatif tertinggi untuk sementara ini" kata juri.
__ADS_1
Ilham sampai berdiri sangking senangnya, tepuk tangannya sangat lantang terdengar. Semua yang melihat jadi ikut tertawa dengan tingkah konyol Ilham.
"Gue senang banget" kata Ilham setelah duduk lagi.
"Sekarang adalah sesi siapa cepat dia dapat. Silahkan juri untuk mengambil alih acara" kata MC.
Sesi kali ini sangat menegangkan, karena dari ketiga tim sama-sama menginginkan nilai tertinggi.
Butuh waktu lebih dari satu jam untuk sesi ketiga ini. Dan semua peserta bisa bernafas lega setelah acara di sesi ketiga ini diakhiri.
"Sekarang mari kita dengarkan nilai yamg sudah kalian kumpulan. Silahkan juri untuk mengumumkan" kata MC.
Akhirnya Tim B dari SMAN 72 adalah tim yang keluar sebagai pemenangnya. Ucapan selamat datang dari semua yang hadir karena ini adalah kali pertama bagi SMAN 72 bisa keluar sebagai pemenang dalam kompetisi tahunan yang selalu rutin diadakan.
"Selamat ya, Ilham, Aishyah dan Nindi. Kalian luar biasa" kata bu Mirna dengan senyum kelegaan.
"Kita juga sangat senang, bu. Akhirnya jerih payah kami terbalas dengan manis" kata Ilham mewakili temannya.
"Sekarang kita lihat Mike yang sedang bertanding, yuk. Siapa tahu dia sedang butuh dukungan" kata Nindi.
"Ayo" kata Ilham dan Aish. Sementara Bu Mirna sedang mengurus masalah data untuk pemberian hadian esok hari.
★★★★★
Ternyata di lapangan, Tim 72 juga sedang bertanding dengan tim Mahardika. Kapten Mike dan kapten Richard sama-sama sedang berusaha memberikan yang terbaik untuk tim masing-masing.
"Go Richard, Go Richard, Go...!!!!" teriak cheerleader memberi semangat.
"72 bisa, 72 bisa, 72 bisa!!!" teriak cheerleader dari tim 72 tak mau kalah.
Suasana ricuh terdengar dari tiap penjuru lapangan. Tentu lebih banyak yang memberikan semangat untuk tim Mahardika karena memang mereka sedang bertanding di kandangnya.
Sungguh sebuah kebetulan yang hakiki, kedua tim mendapatkan skor yang sama setelah melewati empat babak, yaitu 62 : 62.
Perpanjangan waktu tak bisa dielakkan untuk menentukan siapa pemenangnya.
Hingga babak ke dua di perpanjangan waktu dilakukan, kedua tim masih kekeuh mempertahankan kesamaan nilai.
Di babak kedua pada perpanjangan waktu kali ini, stamina kedua tim sudah sama-sama terkuras. Mereka kelelahan, kapten tim sama-sama terus memberi semangat pada anggotanya yang sudah sedikit loyo.
Di lapangan indoor ini, Nindi mengajak Aish mendekat pada pemain yang ada di pinggir lapangan.
"Semangat Mike, kamu pasti bisa" kata Nindi menyemangati Mike sang kapten.
Mike melihat ke arah Aish, berharap gadis itu juga mau menyemangatinya. Tapi Aish melengos pergi, malah mengunjungi pemain dari Mahardika.
Disana ada Hendra dan Richard yang bermain dalam satu tim.
"Princess, Lo kok disini?" tanta Hendra.
"Nggak apa-apa sih, lagi pengen kesini" kata Aish.
Richard menghampirinya, berdiri di hadapan Aish yang memperhatikan dengan intens padanya.
"Semangat, Richard" kata Aish dengan menyilangkan jari jempol dan telunjuknya, lalu menunjukkannya di hadapan Richard.
Simbol hati yang sering dipakai anak zaman sekarang.
Tentu semangat Richard bertambah 180°, senyumnya terukir. Kini dia siap menambah poin untuk timnya.
.
.
__ADS_1
.
.