
Berkali-kali Richard mengganti bajunya, yang satu dia nilai terlalu sering dipakai, yang satunya sudah tidak musim lagi, sedangkan yang lain tidak cocok warnanya.
Bertumpuk pakaian yang tidak jadi dipakai memenuhi ranjangnya. Sekarang dia bingung sendiri, mana yang bagus untuk dia pakai bertemu dengan Aishyah sore ini?
Akhirnya pilihannya jatuh pada kaos warna hitam dipadukan dengan kemeja hitam yang tidak dikancingkan, dan celana jeans biru tua dengan gesper yang sedikit terlihat.
Kalau biasanya cewek yang suka berdandan lama, ini malah sebaliknya. Richard masih sibuk menilik penampilannya lagi dan lagi. Takut ada yang tidak pantas.
Sementara Aish yang memang apa adanya, pilihan bajunya jatuh pada setelan gamis hitam kombinasi abu-abu. Dengan pashmina hitam yang terlilit rapi menutup kepalanya.
Dengan sapuan make up tipis, hanya sebatas pelembab dan bedak tabur, ditambah lip glos agar bibirnya tidak kering. Wajah cantiknya terlihat makin sempurna.
Sekarang tinggal menunggu salah satu temannya menjemput. Tujuannya kali ini adalah kantor pengadilan, untuk melihat sidang terakhir Tomy, dan mengetahui apaan Willy terbukti bersalah atau tidak.
Richard sudah puas dengan penampilannya, sekarang dia akan pergi ke persidangan terakhir Tomy, berharap dia mau buka mulut agar Willy bisa terbebas dari tuntutan dan hubungannya dengan Aishyah bisa kembali seperti semula.
"Bik, beresin kamar ya" bukannya berpamitan, Richard malah menyuruh artnya membereskan kamarnya yang sudah seperti kapal pecah saja.
Langkah lebarnya seolah terlihat terburu-buru, Richard segera melajukan mobilnya keluar dari garasi. Menuju ke gerbang utama rumahnya, dan melaju ke tempat tujuannya.
Saat pintu gerbangnya terbuka lebar, sepertinya ada sedikit halangan, karena ada seseorang yang tidur ataukah pingsan di depan pintu gerbang. Orang itu tidur telungkup disana, seperti orang gila.
Berkali-kali Richard mengklakson orang itu agar mau pergi, tapi tak juga didengarnya. Membuat emosinya semakin tak bisa dikendalikan saja.
"Pak, lihat ada siapa itu disana. Cepat usir kalau orang gila" teriak Richard pada satpam rumahnya.
"Iya, den. Sebentar saya cek dulu" kata satpam itu berlari terburu-buru untuk melakukan perintah tuan kecilnya yang emosian.
Satpam itu membalik tubuh orang yang tidur telungkup di depan gerbang. Mengamati wajahnya seperti familiar. Tapi satpam itu tidak bisa mengenalinya, luka di wajahnya meninggalkan bekas darah yang sudah mengering dan juga wajahnya sangat babak belur.
"Orang ini terluka, den. Darahnya banyak" teriak satpam itu yang semakin membuat Richard mendecak penuh amarah.
"Sialan, gue lagi buru-buru malah ada saja masalah" gerutu Richard yang kemudian turun untuk ikut melihat siapa disana.
Meski dengan menggerutu, Richard tetap melihatnya. Memastikan bahwa orang itu bisa segera pergi.
"Loh, Yopi. Kenapa lo bisa kayak gini sih?" tanya Richard yang mengetahui bahwa orang itu adalah sahabat baiknya.
Kini dia lupa dengan tujuannya, melihat Yopi yang terbujur tak berdaya membuatnya cemas saja.
"Yop, lo denger gue nggak? Yop, bangun" kata Richard dengan sedikit menggoyang lengan Yopi. Tapi tak ada respon sama sekali, mata Yopi masih terpejam sempurna.
Richard mengamati laju pernafasan Yopi, dadanya masih terlihat naik turun. Dia sedikit merasa lega melihatnya.
"Pak, bantu angkat ke mobil ya. Terus ikut gue ke rumah sakit" kata Richard sedikit panik, dia cemas dengan kondisi Yopi yang seperti ini.
"Siap, den" kata satpam itu yang dengan cekatan membantu Richard mengangkat tubuh Yopi yang bersimbah darah.
Richard sudah lupa dengan tujuannya, melihat Yopi yang seperti ini. Beruntung ada dua satpam yang bertugas menjaga rumahnya. Jadi, bukan masalah besar jika salah satu dari mereka mengikutinya.
Di sis lain, Aish dan teman-temannya sudah sampai di tempat sidang. Mereka mencari tempat yang nyaman untuk mengikuti jalannya persidangan setelah bertegur sapa dengan Fian.
Dari tempat duduknya, Aish bisa melihat Willy sudah hadir ditemani seorang wanita cantik di sebelahnya. Aish yakin jika itu adalah istrinya.
Ekor matanya masih menelisik ruangan itu, mencari sosok lelaki jangkung yang beberapa hari yang lalu menjanjikan untuk bertemu disini. Bahkan karena dialah Aish sedikit bersemangat untuk hadir hari ini.
Dua hal yang mengganjal di hatinya saat ini akan hasil persidangan nanti. Pertama adalah Willy dinyatakan bersalah dan hubungan dengan Richard kandas, atau yang kedua adalah Willy bebas dari tuduhan dan hubungannya dengan Richard kembali terjalin.
Sesungguhnya Aish berharap besar jika opsi keduanya akan terwujud.
Tapi hingga hakim membuka jalannya sidang, Richard belum menampakkan batang hidungnya, membuat Aish sedikit khawatir.
Sedangkan di sisi lain, Richard sudah sampai ke rumah sakit. Saat mobilnya sudah berada di depan UGD, Richard menyuruh satpamnya untuk turun dan mencari pertolongan.
Tak menunggu lama, beberapa suster datang dengan membawa brankar yang didorong dengan sedikit tergesa-gesa.
Richard turun dari mobilnya, membuka pintu belakang dimana Yopi masih pingsan didalamnya.
__ADS_1
Dengan cekatan, Richard dibantu dua orang suster dan satpamnya mengangkat Richard ke atas brankar. Setelahnya, dia didorong memasuki UGD. Tentunya Richard dilarang masuk demi kenyamanan pemeriksaan.
"Parkirin mobil gue, pak" kata Richard menyuruh satpamnya.
Pria itu hanya mengangguk patuh dan segera mencarikan parkiran untuk mobil Richard.
Kepalanya dipenuhi tanda tanya, kenapa Yopi bisa seperti ini?
Dia segera menghubungi Emily, berharap dia tahu penyebabnya.
Tuut... Tuut ...
Cukup lama menunggu, akhirnya panggilannya bisa terhubung.
"Richard? masih berani kamu menghubungi anak saya?"
Ucapan pertama yang dia dengar berasal dari suara pria dewasa, sepertinya itu ayahnya Emily.
"Bisa saya bicara dengan Emily?"
tanya Richard.
"Jangan ganggu dia lagi, kalian memang anak-anak tidak tahu diuntung. Awas saja kamu kalau masih berani menghubungi anak saya"
Bentak orang tua itu, seketika menutup panggilan telpon darinya.
"Pasti mereka sudah memberitahu orang tuanya, dan sekarang orang tua mereka marah" Richard berkata dalam hati sambil mengamati ponselnya.
"Ini den kunci mobilnya" kata satpamnya membuyarkan lamunan.
"Bapak tahu kalau teman gue ada didepan rumah?" tanya Richard yang sudah duduk di kursi tunggu, diikuti satpamnya juga.
"Nggak tahu den, saya baru tahu saat bukain gerbang buat aden tadi" kata satpam itu.
Richard hanya mengangguk, dia sedikit berpikir untuk bertanya pada siapa. Dan hanya satu nama yang dia ingat, Reno.
"Ada apaan?"
tanya Reno setelah mengangkat telponnya.
"Lo dimana?"
tanya Richard.
"*Dirumah. Kenapa?"
"Yopi masuk rumah sakit, tadi gue nemuin dia pingsan didepan rumah gue"
"Serius lo? Yasudah, gue langsung kesana sekarang"
"Oke, gue tunggu*"
kata Richard mengakhiri panggilannya.
Tak butuh waktu lama untuk menunggu Reno, dia datang setengah jam setelah Richard mengabari tadi.
"Gimana keadaan Yopi, bro?" tanya Reno setelah menemui Richard.
"Masih didalam, lo tahu ada apa sama Yopi?" tanya Richard.
"Nggak tahu gue. Dari pulang sekolah tadi gue nggak ketemu sama dia sama sekali" kata Reno.
"Ngomong-ngomong, lo cepet banget nyampeknya?" tanya Richard.
"Gue naik ojol, kelamaan kalau bawa mobil. Lo sendiri sama siapa?" tanya Reno.
Richard sedikit lupa dengan kebenaran satpamnya. "Bapak pulang ya, nih ongkos buat naik ojek" kata Richard memberikan sejumlah uang untuk satpamnya agar kembali ke rumah.
__ADS_1
"Iya den. Kalau gitu saya permisi" kata satpam itu kemudian berlalu pergi.
Reno dan Richard duduk di kursi tunggu dengan perasaan khawatir.
"Tadi keadaannya gimana, Ri?" tanya Reno.
"Parah, Ren. Mukanya babak belur banget. Gue nggak sempat cek bagian tubuhnya yang lain. Pikiran gue cuma gimana caranya bisa segera sampai ke rumah sakit" kata Richard.
"Kira-kira dia kenapa ya? Lo sudah hubungi Emily apa belum?" tanya Reno.
"Sudah, bokapnya yang angkat. Kayaknya juga marah banget" jawab Richard.
"Apa mungkin Yopi sudah bicara sama orang tuanya ya? Lo tahu sendiri gimana kerasnya bokap Yopi" kata Reno.
"Mungkin juga, tapi masak iya sih dia tega menghajar Yopi sampai kayak gitu" kata Richard.
"Lo juga tega kali, Ri. Kalian pernah berantem di jalan waktu itu. Yopi juga sampai gue bawa ke rumah sakit, bahkan dia nggak berani pulang juga waktu itu" kata Reno mengingatkan Richard tentang kejadian yang membuatnya bisa seharian berada di rumah Aish.
Sial, Richard teringat persidangan kakaknya. Sudah sangat terlambat untuknya bisa menghadiri acara itu.
Saat dia akan menghubungi Aish, seorang suster datang mencari keluarga Yopi.
"Maaf, keluarga pasien atas nama Yopi" kata suster itu, seketika Richard dan Reno berdiri. Kembali Richard memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Iya, sus" jawab mereka kompak.
"Silahkan mengurus administrasi dulu" kata suster itu.
"Iya. Bagaimana kondisi teman kita, sus?" tanya Reno.
"Pasien masih belum sadarkan diri. Sepertinya ada masalah di kepalanya, dokter masih melakukan observasi lebih lanjut. Oleh karena itu, biaya administrasi perlu segera dilakukan" kata suster itu lagi.
"Lakukan yang terbaik untuk teman kami, sus. Saya akan segera melunasi biayanya" kata Richard.
Suster itu mengangguk dan ijin undur diri. Sementara Richard menyuruh Reno untuk tetap menunggu di sana, sementara dia akan mengurus administrasi.
Di sisi lain, Aish masih gelisah menunggu kedatangan Richard. Berkali-kali dia memandangi layar ponselnya, berharap ada kabar disana.
Masih berusaha berfikir positif, kini perhatiannya tertuju pada jalannya persidangan. Katena Tomy sudah diperintahkan untuk memasuki ruang sidang.
Dengan kepala tertunduk, Tomy berjalan gontai dengan pakaian hitam putih kali ini. Seperti karyawan training, tapi dia berkopyah.
Sempat berhenti sejenak di deretan kursi Willy, Tomy terlihat menoleh dan bertatapan dengan Helda dalam waktu sangat singkat. Karena polisi segera menyuruh untuk duduk di tempatnya.
Sepanjang jalannya sidang, Tomy masih bersikeras untuk tidak membuka mulut tentang dalang dari semua perbuatannya.
Aish jadi geregetan juga melihat Tomy yang seperti itu. Bahkan Willy pun terlihat sama, dia sangat kesal dengan perbuatan Tomy.
Melihat Tomy yang masih bungkam, hakim memutuskan jika persidangan masih harus ditangguhkan. Akan dibahas di kemudian hari setelah pihak terkait berhasil membuat Tomy buka mulut.
Semua orang di dalam ruang sidang terlihat menahan emosi juga. Apalagi Aish dan teman-temannya.
Hampir dua jam jalannya persidangan masih tidak berhasil membujuk Tomy untuk mengaku.
Hingga saat hakim mengangkat palu untuk menunda persidangan lagi, Tomy menyela.
"Tunggu pak hakim" kata Tomy yang membuat Hakim itu menunda putusannya.
"Iya, saudara Tomy. Bagaimana?" tanya Hakim.
.
.
.
.
__ADS_1
.