
"Karena kamu adiknya Alif, itu berarti kamu adik ipar saya. Lagi juga karena Richard adik saya, cepat atau lambat kamu akan jadi adik ipar saya karena menjadi istrinya Richard, kan?" jawab Willy, membuat pipi Aish bersemu merah karena mendengar penuturan Willy.
Sedikit salah tingkah, Aish merapikan hijabnya untuk mengurangi rasa malu.
"Benar itu" kata Richard.
"Kalian berpikiran terlalu jauh" kata Aish.
"Jadi, kapan kamu mau daftar sekolah?" tanya Willy.
"Secepatnya sih, mas. Kalau bisa Senin depan sudah mulai masuk ke sekolah baru" jawab Aish.
"Kamu nggak usah pikirkan masalah biaya, biar saya yang tanggung semuanya" kata Willy.
"Nggak, mas. Aku masih ada uang kok buat bayar sekolah. Aku cuma butuh wali buat gantiin posisi orang tuaku, kalau masalah biayanya, Alhamdulillah ayah sama bunda sudah mempersiapkan semua" kata Aish.
"Lalu, bagaimana dengan biaya sehari-hari kamu?" tanya Willy lagi.
"Nanti aku bisa cari kerja sambilan mas. Nggak usah khawatir" kata Aish.
"Baiklah, terserah kamu saja" kata Willy yang mulai memahami jika Aish cukup keras kepala.
Suster menghampiri dengan membawa Livy yang sudah tertidur.
"Yah, kok tidur sih. Padahal masih pengen diajakin main" kata Aish.
"Maaf ya Aishyah, lain kali pasti saya akan bawa dia lagi. Saya pamit ya, kalian hati-hati" kata Willy.
Dengan berat hati, Aish harus membiarkan Livy pergi.
"Sudah nggak usah dilihatin terus, mau kemana lagi habis ini?" tanya Richard.
"Pulang deh" kata Aish.
"Oke, ayo" ajak Richard untuk segera pergi.
★★★★★
Kembali ke rumah sakit, Reno masih setia menemani Yopi disana.
"Sudah balik lo? Jadi besok kita harus ke sekolah nih, Ri" kata Reno.
"Memangnya lo mau ngapain sih?" tanya Richard.
"Besok kita harus melakukan sesuatu. Lo tenang saja, biar gue yang kerja. Lo tinggal terima beres doang" kata Reno yang membuat Richard semakin penasaran.
"Terus Yopi gimana? Dia sendirian kalau kita berdua ke sekolah" kata Richard.
"Gue kan sudah bilang sama lo, suruh pacar lo jagain dia sebentar kan bisa. Lagian semua ini juga buat kepentingan dia juga" ketus Reno.
"Cg, iya boncel. Sebentar gue mau telpon dia dulu" kata Richard.
"Iya, ada apa?"
tanya Aish setelah menerima panggilan video dari Richard.
"Lo lagi ngapain?"
tanya Richard yang mendapati Aish masih berkeliaran diluar, padahal sudah sangat malam.
"Nggak ngapa-ngapain kok"
"*Terus kenapa nggak masuk rumah? Ini sudah malam, Ra.Lo harusnya sudah didalam kamar"
"Ehm.... itu*"
Aish mengalihkan ke kamera belakang, memperlihatkan bahwa dia sedang menunggu seorang penjual nasi goreng yang sedang berkutat dengan penggorengannya.
__ADS_1
"Lo beli nasi goreng? Bukannya tadi sudah makan ya?"
tanya Richard heran.
"Gue nggak biasa kalau nggak makan nasi, hehe. Jadi ya beli nasi goreng deh. Lagi males buat masak sendiri"
kata Aish dengan cengir tak berdosanya.
"Kenapa nggak bilang kalau masih lapar? Kalau gue tahu kan bisa gue beliin buat lo".
"Sudah nggak apa-apa. Lo kenapa nih telpon gue?"
"*Oh, iya. Besok gue mau masuk sekolah, ada perlu sama Reno. Lo bisa nggak nemenin Yopi dulu dirumah sakit?"
"Oh, gitu. Bisa sih, lagian gue juga nggak ngapa-ngapain besok. Nggak ada kegiatan*"
"*Baguslah, besok pagi sebelum berangkat sekolah gue jemput lo dulu ya"
"Iya*"
Richard masih melakukan panggilan video hingga Aish selesai makan malam kloter keduanya.
Bahkan saat Aish harus ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidurpun Richard tidak berniat untuk memutuskan panggilannya.
Baru ketika Aish sudah mengeluh jika dia sudah mengantuk, Richard mengakhiri panggilannya.
★★★★★
Pagi-pagi sekali, Aish sudah sampai dirumah sakit. Dia akan menemani Yopi selama kedua temannya pergi ke sekolah.
Tiba disekolah tepat waktu, Reno malah mengajak Richard menyelinap ke dalam ruangan operator sekolah.
Pagi-pagi begini ruangan itu pasti masih sepi.
Tempat yang menjadi pusat informasi bisa disebarluaskan melalui layar monitor maupun speaker yang sudah tersedia di setiap kelas.
Dengan mengendap-endap, mereka berdua berhasil masuk tanpa diketahui orang lain.
"Ssttt, lo diam saja. Lo tinggal awasin keadaan, jangan sampai ada yang masuk kesini" kata Reno, Richard hanya menatap sebal, tapi juga menuruti keinginan Reno.
Cukup lama Reno berkutat dengan ponsel dan peralatan yang ada didalam ruang operator itu. Sampai bel masuk sudah berbunyi, Reno belum juga ingin keluar dari sana.
"Lo nggak masuk kelas? Bukannya kita mau sekolah?" tanya Richard.
"Iya, nanti saja setelah gue berhasil" kata Reno.
Layar di ruang operator menampilkan sebuah video yang Richard yakini bersumber dari ponsel Reno.
Merasa penasaran, Richard mendekat untuk ikut melihat video apa yang sedang diputar oleh temannya itu.
"Bukannya kalau layar disini menampilkan video, maka disemua kelas juga ada video ini ya Ren?" tanya Richard dengan mata yang masih fokus pada tampilan layar.
"Iya dong, memang itu tujuan gue datang ke sekolah hari ini. Bikin tamat riwayatnya si kepsek brengsek itu" kata Reno.
Sejenak Richard melihat Reno, tapi fokusnya teralih dengan suara yang sudah terdengar dari layar monitor didepannya.
Di setiap kelas di sekolah, pagi ini mereka heboh karena tiba-tiba ada yang memutar video di layar yang ada di ruang kelas mereka masing-masing.
Begitupun di kelas Falen, semua murid terlihat antusias untuk mengikuti alur dari video yang akan diputar.
Awalnya, video itu menampilkan slide dari foto-foto milik dua siswi dari kelas dan angkatan yang berbeda.
Setelah beberapa lama, tertulis judul dengan huruf besar " Drama Queen" dari video itu.
"Bukannya itu foto-fotonya Sekar, ya?" gumam Falen yang masih fokus dengan kelanjutannya.
Sedangkan Sekar sudah sangat ketakutan, apalagi setelah mendapat kabar jika Aishyah dikeluarkan dari sekolah kemarin, semakin membuatnya tidak bisa tenang.
__ADS_1
Teman sekelasnya menatap Sekar bingung, tapi mereka mulai fokus dengan inti dari video itu yang memperlihatkan Sekar sedang terlibat percekcokan dengan seorang siswi lainnya.
"Kita sudah kelewatan deh kayaknya, gue takut Aishyah kena hukuman gara-gara foto yang kita tempel di mading" kata Sekar dalam video itu.
"Sudah deh kakak kelas yang penakut. Lo nggak usah ngerasa bersalah gitu, kemarin kita sudah sepakat kan tentang ini. Jadi tugas lo sekarang cuma diam dan tutup mulut" kata Viona, siswi lain dalam video itu.
Dikelasnya, Viona sendiri juga sudah ketar-ketir sendiri. Seingatnya, dia sudah bermain dengan aman. Tapi kenapa ada yang bisa mempunyai video ini?
"Kalau Falen tahu, bukannya malah tertarik sama gue, yang ada dia bakalan benci sama gue, Viona. Dan itu semua gara-gara lo yang sudah menghasut gue buat ikutin semua rencana lo" kata Sekar sedikit membentak.
"Kok lo nyalahin gue sih, kan lo sendiri yang punya sekumpulan foto Aishyah sama para lelaki itu. Oh.... gue tahu, lo iri ya sama Aishyah" kata Viona memancing emosi Sekar.
Sekar gelagapan, benar kata Viona, dia yang punya foto-foto Aishyah di galeri hapenya. Bahkan dia juga yang membidiknya.
"Gue... gue nggak iri. Lo jangan sok tahu" bentak Sekar yang membuat senyum mengejek tampil di wajah Viona.
"Gue cuma memuluskan tujuan lo buat bikin Aishyah jatuh. Dari awal, lo sudah punya tujuan yang nggak baik dengan foto itu, kan?" tanya Viona, sementara Sekar hanya terdiam mendengar penuturan adik kelasnya ini.
"Tapi ini semua rencana lo buat nempelin foto itu di mading. Bukan rencana gue" kata Sekar tidak terima untuk disalahkan.
"Sudahlah kak Sekar yang baik, kita berdua yang melakukan itu. Jadi gue harap, lo diam dan tutup mulut. Seolah tidak tahu apa-apa, maka kita berdua aman. Dan satu lagi, segera hapus semua foto yang lo punya. Hilangkan bukti, itu penting" kata Viona.
"Tapi kalau kita ketahuan gimana, Vi? Pasti kita berdua yang dikeluarkan dari sekolah" kata Sekar ketakutan.
"Nggak akan, lo belum tahu saja kalau gue itu sebenarnya adalah anak dari kepala Sekolah kita ini. Jadi, gue bisa jamin kalau kita pasti aman" kata Viona memberitahukan tentang dirinya.
Kepala sekolah sedang berada di ruang guru saat ini. Tentunya layar di dalam ruangan itu juga sedang memutar video yang sama.
Dan sialnya, masih ada beberapa guru yang belum memasuki ruang kelas mereka, dan ada juga guru yang menunggu jadwal mengajarnya sambil melakukan kegiatan di ruangan itu.
Rasanya seperti tercekat, dasi yang kepala sekolah pakai pagi ini terlalu kencang.
Pandangan tak mengerti terlihat dari mata para guru. Sementara kepala sekolah sudah berkeringat dingin.
"Oh, jadi lo anaknya pak Winata?" tanya Sekar tidak percaya.
"Yups, menurut lo, darimana gue bisa dapat kunci ruang OSIS? Tentu gue yang minta langsung dari bokap gue. Dia pegang semua duplikat kunci semua ruangan di sekolah ini" kata Viona.
Sekar tersenyum, sedikit lega mendengar penuturan Viona.
"Oke, good job. Jadi, mulai sekarang gue kan nggak khawatir lagi. Kita bakalan aman, tapi lo sudah pastikan kalau obrolan kita nggak ada yang tahu kan, Vi?" tanya Sekar.
"Aman dong, gue selalu bekerja dengan aman. Jadi mulai sekarang, kalau bisa kita jangan ketemuan dulu ya. Biar nggak ada yang curiga" kata Viona.
"Iya, gue setuju sama lo" kata Sekar.
"Gue sudah nggak sabar ingin segera dekat sama kak Richard. Hengmg... gue nggak mood ngapa-ngapain kalau sudah ingat sama kak Richard yang dingin itu. Pasti suatu saat dia bakalan mencair sama gue, kalau si Aishyah sialan itu sudah hengkang dari sekolah ini tentunya" kata Viona berkhayal. Membuat Sekar sedikit jijik.
"Lo kepedean banget sih. Kalau Richard suka sama lo, kalau enggak suka gimana?" tanya Sekar yang langsung mendapat pelototan tajam dari Viona.
"Kalau gue nggak bisa sama kak Richard, gue pastikan kalau lo juga nggak akan bisa sama kak Brian. Kita kan tim" kata Viona yang membuat Sekar kadi tidak nyaman.
"Enak saja lo---" belum sempat Sekar melanjutkan perkataannya, video sidah terhenti.
Selanjutnya, ada narasi yang disampaikan oleh si pemutar video. Hanya sebuah suara.
"Jangan hanya diam, adili yang bersalah. Meskipun itu sang pemimpin"
Suara yang terdengar sebelum video itu berakhir telah berhasil membuat semua murid bertekad sama. "Mengadili kepala sekolah".
Richard masih sedikit syok dengan video yang Reno putar. Belum selesai dengan keheranannya, Reno sudah menarik dengan paksa tangan Richard untuk segera keluar dari ruang operator.
Seperti saat mereka datang tadi, kini mereka harus keluar dengan mengendap-endap. Ada untungnya juga menjadi murid berandalan seperti mereka.
Ada jalan tikus yang hanya mereka yang tahu.
.
__ADS_1
.
.