
"Ngapain bengong disini sih?" Yopi merasa heran karena Richard hanya membatu di depan pintu dapur.
Tapi segera pergi tanpa kata saat Yopi menegurnya. Hanya lirikan singkat yang Yopi dapat.
"Aneh, pasti berantem lagi" gumam Yopi berlalu, membuka pintu dapur dan mendapati Ilham dan Aish dibaliknya.
"Lah ini kutub selatannya disini, lo lagi ngapain sih, Sya? Barusan si kutub utara di depan pintu, lah elo dibalik pintu" kata Yopi.
"Eh, kalian lagi sedih-sedihan ya? Tumben nggak ajak-ajak?".
Perkataan Yopi membuat senyum Aish kembali terbit. Ada-ada saja dia.
"Kenapa nasib kita gini amat ya?" seloroh Aish yang tersenyum tapi air matanya juga meleleh.
"Hengmg.... Pasti gara-gara Richard ya? Lo berantem lagi? Huft, kalian ini ya. Nggak bosen apa berantem-berantem terus?" kata Yopi yang tak tahu penyebab awalnya.
Tadi dia sedang teleponan sama Nindi saat Richard sedang asyik duet dengan Indira.
"Nggak berantem kok, Yop. Cuma lagi instrospeksi diri aja. Biar nggak terlalu ngarep sama masa depan yang sangat abu-abu" kata Aish yang mendapat tepukan kekuatan di pundaknya dari Ilham.
"Jiah, bahasa lo berat banget. Yaudah, demi masa depan cerah milik kita bersama, sekarang kita lanjut kerja saja ya. Kasihan tuh para pengunjung yang mau nambah, nyariin kalian yang lagi main petak umpet" perintah Yopi sebagai atasan.
"Oh iya, kita lagi kerja, Ham. Maafin kita ya kak Yopi, jangan dipecat ya kita berdua lagi khilaf doang barusan" kata Aish melucu.
Sedikit tergelak, Yopi pun sama. Sedang galau, tapi pengalaman mengajarkannya untuk bisa menahan diri.
"Yuk, semangat yuk" kata Ilham.
★★★★★
"Duh, akhirnya bisa rebahan dengan nyaman" kata Nindi yang naru bisa menidurkan tubuhnya setelah seharian duduk di mobil travel.
"Mbak Nindi kesanaan dong, sempit tau" adiknya berkomentar karena Nindi yang menghabiskan lebih dari separuh tempat tidur.
"Eh, iya. Bocah tidur sama aku ya" kata Nindi, dia berguling mendekat ke tembok.
"Hengmh ... kasih tau mas Fahri sekarang apa besok saja ya?" gumam Nindi, dia sudah tidak sabar untuk bertemu pujaan hatinya.
Karena memang tujuan utamanya ikut ke Solo adalah untuk menemui Fahri, sedangkan urusan pernikahan saudaranya adalah sebuah kebetulan baginya.
"Besok saja deh, pagi aku beli oleh-oleh dulu buat dia sekalian beliin Yopi juga. Terus aku bawa deh ke rumahnya mas Fahri. Pasti dia senang banget ketemu sama aku" masih bergumam tak jelas. Nindi sudah tak sabar menanti hari esok.
Karena memang kelelahan dan kekenyangan setelah makan malam, Nindipun tertidur tanpa sempat mengganti pakaian, apalagi bersih-bersih badan.
"Mbak, mbak Nindi ih, jorok banget langsung tidur" kata adik Nindi berkomentar, tapi membiarkan saja kakaknya melanjutkan tidurnya.
Nindi benar-benar tidur hingga hampir siang, jam sembilan dia baru saja tersadar karena adiknya yang terus saja ribut mencari bajunya.
"Haduh, kamu tuh ribut banget sih dik. Gangguin orang lagi tidur deh" Nindi bergumam setengah sadar.
"Mbak Nindi ini ya, sudah siang juga kenapa nggak bangun-bangun sih?" kata Agung, adiknya.
"Memangnya jam berapa sih dik?" tanya Nindi, masih rebahan santai diatas ranjang.
"Jam sembilan mbak, buruan bangun" kata Agung.
"Hah! Ya Allah, kenapa kamu ndak bangunin mbak sih, dik?" kata Nindi yang langsung terjaga, niatnya untuk pergi dari pagi malah gagal karena tidurnya yang sangat pulas.
"Sudah daritadi aku bangunin mbak, tapi kamu nya saja yang nggak bangun-bangun" kata Agung.
"Haduh... Gagal sudah rencanaku" kata Nindi yang bergegas menuju kamar mandi.
Mandi singkat tak berlama-lama, dia sudah tidak sabar lagi untuk menemui Fahri.
"Cepet banget mandinya, mbak Nindi nggak mandi ya?" tanya Agung, karena tak sampai setengah jam Nindi sudah bisa menyusulnya di meja makan. Nindi harus sarapan dulu untuk mengisi tenaga.
Menjalani hari yang sangat menyenangkan akan membutuhkan energi yang banyak. Sarapan dulu, baru mencari kebahagiaanmu ya, Nindi.
"Budhe, ibu kemana?" tanya Nindi pada budhenya.
Nindi dan keluarganya menginap di rumah budhenya. Rumah punden warisan neneknya yang sudah dimiliki oleh sang budhe.
"Ibumu sudah mbiodo di rumahnya pak lekmu, nduk. Kamu itu ya, anak perawan kok bangunnya siang banget" kata budhe Nindi sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Hehehe, Njih budhe, kecapek an aku. Maafin ya, budhe ku yang paling cantik" kata Nindi manja, bergelayut di pundak budhenya yang sedang melipat baju.
"Lah budhe kok belum ke rumah pak lek?" tanya Nindi.
"Iya, nyelesaikan cucian dulu sebentar. Habis ini baru kesana" kata Budhenya.
"Oh, gitu. Ehm... Budhe, aku boleh minjam motor nggak?" tanya Nindi dengan puppy eyesnya, semoga sang budhe mengizinkan.
"Mau kemana?" tanya budhenya.
"Ke toko oleh-oleh budhe, beliin teman-temannya Nindi. Kalau belinya besok-besok takut nggak keburu atau malah kelupaan. Kalau beli sekarang kan besok bisa nyantai budhe. Ya, boleh ya budhe" rayu Nindi pada budhenya.
"Iya, boleh. Tapi kamu anterin budhe dulu ya, terus nanti jangan malam-malam pulangnya. Nanti kami jemput budhe, ya" kata budhenya.
"Yeay, asik.... Terimakasih budheku yang paling cantik" kata Nindi memeluk budhenya singkat.
"Aku ambil hape sama tas dulu ya, budhe" kata Nindi senang.
"Iya" jawab budhenya singkat.
"Ayo budhe, berangkat sekarang" ajak Nindi setelah beberapa saat meninggalkan budhenya.
"Iya, ayo" kata budhenya, berdiri mengambil jaket dan segera keluar rumah.
Sebenarnya jarak dari rumah budhe ke rumah pak leknya Nindi itu tidak jauh. Tapi karena budhenya sudah agak berumur, jadi budhenya malas untuk jalan kaki karena nyeri lutut.
Senyum Nindi terus mengembang saat dia mengendarai motor. Tujuan awalnya adalah ke toko oleh-oleh. Dia akan membelikan Yopi abon khas Kota Solo dan cinderamata kaos Solo. Dan untuk Fahri, dia akan membelikan kue saja.
Cukup lama dia berada di toko kaos, bingung memilih warna yang pas untuk Yopi.
"Putih apa hitam ya?" gumam Nindi dengan kaos yang ada di kedua tangannya, bingung memilih warna.
"Biasanya dia sering pakai baju warna hitam, sih. Tapi aku belinya warna lain deh, biar nggak sama dengan baju-bajunya yang sudah ada" akhirnya Nindi membelikan Yopi baju warna kuning, semoga saja Yopi suka.
Setelah membayar koas di tangannya, Nindi segera beranjak ke toko lainnya. Dia akan mencarikan makanan khas Solo untuk Yopi.
Pandangan Nindi jatuh pada abon sapi yang sebenarnya kesukaannya, dia akan membelikan itu saja untuk Yopi. Selain enak, makanan itu juga awet untuk disimpan cukup lama.
"Beliin Aish juga deh" kata Nindi yang mengambil satu bungkus abon lagi.
Selesai dengan urusan Yopi, sekarang Nindi akan membelikan kue untuk Fahri. Kembali dia merasa bingung, akan membelikan apa untuk Fahri.
Seingatnya dulu, Fahri itu sering bilang kalau dia kangen dengan serabi. Maka dari itu, Nindi akan membelikannya serabi saja.
Nindi membeli dua bungkus serabi, untuk Fahri dan untuk orang tuanya, karena hubungan keluarga mereka cukup dekat.
Gadis itu merasa sangat deg-degan karena sudah lama tak berjumpa dengan Fahri. Sesampainya di halaman rumah Fahri, Nindi tak lekas turun karena masih terlalu gugup.
Tangannya bahkan sudah terasa sangat dingin.
"Pasti bisa, semangat Nindi. Sedikit lagi ketemu sama kak Fahri" kata Nindi lirih, menyemangati diri sendiri.
Setelah keberaniannya terkumpul, Nindi turun dari motor. Membiarkan oleh-oleh untuk Yopi tergantung di motor, sementara dia hanya membawa dua bungkus serabi untuk Fahri.
Tok .. Tok .. Tok ..
"Assalamualaikum, kulonuwum" teriak Nindi dari pintu teras rumah Fahri.
"Waalaikumsalam, monggo pinarak (Silahkan masuk" kata ibu Fahri yang membukakan pintu untuknya.
"Sinten Nggeh? (Siapa ya)?" tanya ibu Fahri yang lupa pada Nindi, karena mereka hanya bertemu satu kali dalam setahun. Tentu saja ibu Fahri pangling pada penampilan Nindi yang sudah lebih dewasa.
"Kulo Nindi, Bu. Putunipun mbah Karti. Ingkang wonten Jakarta (Saya Nindi, bu. Cucunya mbah Karti yang ada di Jakarta)" kata Nindi setelah mencium tangan ibu Fahri.
"Duwalah, Nindi tah iki. Wis gede, yo. Ayo mlebu, lungguh disik (Oh, Nindi rupanya. Sudah besar, ya. Ayo masuk, duduk dulu" kata ibu Fahri.
"Injih bu. Mas Fahri nopo wonten ten griyo? (Iya, bu. Mas Fahri apa ada dirumah?" tanya Nindi setelah duduk bersama ibu Fahri.
"Fahri nggak ndek kene, nduk. Ngontrak celak kampus e. (Fahri tidak disini, nduk. Ngontrak di dekat kampusnya)" kata ibu Fahri, Nindi sedikit kecewa mendengarnya.
"Oh, alamate ten pundi, buk. Kersane ten mriku mawon kulo (Alamatnya dimana, bu? Biar saya kesana saja)" kata Nindi, berharap ibu Fahri mau memberitahunya.
Beruntung sekali, ibunya Fahri memberikan alamat anaknya. Beliau menuliskan di secarik kertas.
__ADS_1
"Oh, njih bu. Niki wonten serabi, niku wau kulo ketingal ten mergi, kulo numbasaken panjenengan ( oh, iya bu. Ini ada serabi, tadi saya kelihatan di jalan, saya membelikan buat ibu)" kata Nindi menyerahkan sekantong serabi yang tadi dibelinya.
"Loh, repot ae. Suwun lho ya nduk. (Loh, kok repot segala. Terimakasih ya nduk)" kata ibu Fahri.
"Nggak telpon tah iku mau? (Tidak di telpon kah tadi?" tanya ibu Fahri, setelah mengambil sekantong serabi dari tangan Nindi, dan menaruhnya diatas meja.
"Mboten bu. Nggihpun, kulo ampiri mawon ten kontrakan (Tidak, bu. Yasudah, saya mampir ke kontrakannya saja)" kata Nindi seraya berpamitan pada ibunya Fahri.
"Permisi, bu. Assalamualaikum" pamit Nindi, dan beranjak pergi setelah mencium punggung tangan ibu Fahri.
"Waalaikumsalam" jawab Ibu Fahri.
Sepertinya Nindi tahu alamat kontrakan Fahri ini. Memang cukup dekat dengan tempat kuliahnya. Seingatnya, tidak begitu jauh. Semoga saja dia tidak kesasar.
"Semoga kak Fahri ada di kontrakannya. Aduh, aku sudah ndak sabar buat ketemu sama dia. Pasti dia terkejut dengan kedatanganku" gumam Nindi sepanjang perjalanan, rasanya perjalanan menuju kontrakan Fahri sangat lama baginya.
Sesuai alamat, rumah mungil dengan cat dominan krem ini adalah tempatnya. Nomor 27, persis seperti alamat yang ibu Fahri tuliskan.
"Daripada salah alamat, lebih baik aku tanya sama orang itu saja" kata Nindi, turun dari motornya dan menghampiri seseorang yang kebetulan berada di depan sebuah rumah yang tak jauh dari kontrakan Fahri.
"Permisi bu, mau tanya. Apa benar rumah itu yang ditempati kak Fahri?" tanya Nindi pada seorang wanita yang terlihat sedang menyapu halaman rumahnya.
"Oh, Fahri yang anak kuliahan itu ya?" tanya ibu itu.
"Iya bu" jawab Nindi tersenyum.
"Iya, benar. Itu kontrakannya Fahri" kata ibu itu.
"Oh, yasudah. Terimakasih ya bu, maaf saya mengganggu" kata Nindi.
"Iya, sama-sama" jawab wanita itu kembali melakukan aktivitasnya yang tadi tertunda.
Nindi berjalan ke arah rumah Fahri, melihat ke sekelilingnya. Pintu rumah itu tidak terkunci, Nindi melihat pintu itu sedikit terbuka. Dan ada dua pasang sepatu di teras.
"Aku masuk deh, mau kasih kejutan sama dia. Pasti dia senang" gumam Nindi, melepas sepatunya dan menaruh di tempat yang sama di deretan sepatu yang berada di teras rumah Fahri.
Diapun berjalan mengendap-endap ke dalam rumah itu. Tapi suasananya sangat sepi, seperti tak ada orang di dalamnya.
Nindi meletakkan sekantong serabi diatas meja diruang tamu. Diapun menajamkan pendengarannya.
"Kedengaran ada suara sih dari dalam" masih bergumam, Nindi meneruskan langkahnya mendekat ke sebuah pintu.
Sepertinya pintu kamar, dan pintu itu tertutup dari dalam. Tapi Nindi yakin ada suara dari dalam ruangan dibalik pintu yang tertutup itu.
"Buka apa enggak ya?" gumam Nindi.
"Sopan apa enggak sih kalau tiba-tiba aku buka pintu ini? Tapi sepertinya memang ada orang di dalamnya" masih bergumam sendiri, Nindi menempelkan telinganya ke daun pintu.
Dan memang suara yang terdengar jauh lebih jelas kali ini.
Hari Nindi rasanya hancur, Nindi tahu itu suara apa. Meski Nindi adalah gadis yang polos, tapi Nindi tidak bodoh hingga tak tahu jenis suara apa yang tengah dia dengarkan.
Tak bisa ditahan lagi, Nindi menangis dalam diam. Menangis sambil menutup mulutnya rapat-rapat. Takut-takut jika sepasang kekasih yang sedang berada di dalam ruangan itu akan terganggu.
Tapi Nindi tak bisa menahannya lagi, niat awalnya adalah menemui Fahri. Jadi, apapun kondisinya, Nindi harus bisa bertemu dengannya kali ini. Karena dia sudah jauh datang dari Jakarta ke Solo demi bisa menemuinya.
Setelah mengumpulkan segenap keberanian di dalam hatinya, dengan satu tarikan penuh tenaga Nindi membuka paksa pintu itu.
Dan benar saja, kedua sejoli di dalam ruangan itu seketika menghentikan kegiatan mereka meskipun masih berada dalam posisinya.
Seorang lelaki dan perempuan yang tanpa busana. Sang perempuan berada di atas tubuh naked lelakinya.
Ya, mereka berdua sama-sama naked. Tanpa sehelai benangpun yang melekat di tubuh keduanya.
"Kak Fahri" kata Nindi lirih dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.
Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Berharap tak mengeluarkan suara tangisan yang lebih keras.
Fahri sangat terkejut, dia tak menyangka jika akan ada tamu tak terduga. Laki-laki itu segera menyuruh perempuannya untuk turun dari tubuhnya, dan segera dia menutupi tubuh polosnya dengan selimut yang ditemukan setelah beberapa lama harus mencari dulu keberadaan selimut yang tadi entah terbuang kemana.
.
.
__ADS_1
.
.