
Para punggawa mengantar kembali princess ke rumahnya selepas isyak. Mereka menyempatkan diri untuk solat berjamaah di masjid yang mereka jumpai.
"Hati-hati di jalan, sampai ketemu lagi" kata Aish setelah berhasil keluar dari mobil Seno.
"Sampai ketemu besok, princess" kata Hendra.
"Dah, princess. Assalamualaikum" kata Seno yang menyembulkan kepalanya dan melambaikan tangannya.
"Waalaikumsalam" jawab Aish yang ikut melambaikan tangannya dengan senyum yang masih bertahan sampai teman-temannya tak terlihat lagi.
"Duh, senang banget bisa ngumpul sama mereka" gumam Aish yang memasuki teras rumahnya.
Ada kotak paket diatas meja di teras rumahnya. Saat Aish melihat kotak itu, dan membaca nama pengirimnya, ternyata dari butik yang tadi dikunjunginya bersama Richard.
Segera Aish masuk ke dalam rumahnya, membawa serta kotak dan masih bersenandung kecil.
Setelah memastikan pintu rumahnya terkunci sempurna, Aish melanjutkan langkahnya ke dalam kamar.
Menggantungkan tas kecilnya di belakang pintu, dan duduk diatas ranjang dengan memangku kotak yang berisi baju kebayanya.
"Kalau gue tahu bajunya dibeliin mamanya Richard, pasti gue pilih yang biru. Cg, gue kok jadi matre gini sih, hehehe" kata Aish pada dirinya sendiri.
Tapi matanya kembali berbinar saat melihat isi didalamnya. Ternyata memang baju kebaya biru yang menjadi isinya, bahkan sudah lengkap dengan sepatu high heels, dan hijabnya juga.
"Uwaahh, bajunya jadi yang biru" kata Aish dengan senangnya.
Aish berdiri di depan cermin, menempelkan baju itu dibadannya. Dan mencoba juga sepatunya.
"Pas banget, harus bilang makasih nih" dengan semangat Aish menelepon Richard yang masih berada di cafe.
"Assalamualaikum, eh .. Maksud gue, malam Richard" sangking semangatnya, Aish sampai keliru saat panggilannya diangkat oleh Richard.
"Waalaikumsalam, baru pulang?" tanya Richard yang ternyata tidak keberatan menjawab salam yang Aish ucapkan.
"Ehm, iya. Baru sampai rumah. Lo masih di cafe ya?" tanya Aish.
"Iya. Ada apa telepon?" tanya Richard.
"Makasih ya bajunya, lengkap lagi sama sepatu dan hijabnya. Apalagi dikasih yang warna biru. Gue senang banget" kata Aish.
"Sama-sama, mama yang beliin buat lo. Bilang makasihnya sama mama aja" kata Richard yang bersikap cuek saja.
"Iya deh, nanti kalau ada kesempatan pasti gue bilang makasih. Yasudah deh, gue mau tidur ya. Ngantuk banget" kata Aish yang memang hanya ingin menyampaikan terimakasih saja.
"Oke, good night Ra" kata Richard.
Aish langsung saja menutup panggilannya.
Memang sebiasa itulah hubungan mereka. Kadang Richard yang terlalu sering menanyakan kabar Aish. Sedangkan Aish yang memang tak begitu sering memegang ponselnya jarang sekali menghubungi Richard terlebih dahulu.
Saat bundanya masih ada, banyak sekali tugas rumah yang harus Aish kerjakan. Dan kebiasaan itu terus Aish lakukan sampai saat ini. Membuatnya tidak begitu fokus dengan ponselnya.
"Tumben banget kan gue bisa tidur di jam segini" gumam Aish yang masih merapikan baju kedalam kotaknya lagi.
Masih jam sembilan saat Aish sudah terbaring nyaman dengan selimut yang menutupi hingga ke lehernya.
★★★★★
Dua hari berlalu, hari dimana prosesi wisuda akan diselenggarakan. Dan Aish tentunya sudah bangun sejak subuh tadi.
Tok... Tok... Tok...
"Tumben ada tamu sepagi ini, Yopi kali ya" kata Aish yang kebetulan baru selesai mandi.
"Kenapa nggak langsung masuk sih Yop?" teriak Aish yang tengah berjalan ke ruang tamu.
"Loh, bukan ya" Aish menggumam kebingungan karena yang datang ternyata bukanlah Yopi.
"Maaf, mbaknya cari siapa?" tanya Aish yabg melihat seorang wanita yang membawa sebuah koper datang bertamu sepagi ini.
"Saya disuruh datang kesini oleh nyonya Hutama, beliau bilang saya harus merias nona Aishyah yang hari ini akan wisuda. Ehm, apa nona ini yang bernama Aishyah?" tanya orang itu.
"Iya, saya sendiri Aishyah. Tapi, saya cuma wisuda kok mbak. Nggak perlu sampai diriaskan sama orang" kata Aish canggung, bagaimana dia bisa diperlakukan sebaik ini oleh orang tua Richard.
"Tapi saya sudah dibayar untuk merias nona. Bisa kan kalau saya melakukan tugas saya sekarang?" tanya orang itu.
"Ehm, iya deh. Mari silahkan masuk, mbak" akhirnya Aish bersedia menerima tamunya.
"Untung saja saya sudah mandi, mbak. Hehe. Mbaknya duduk dulu sebentar ya, saya buatkan minuman hangat dulu biar mbaknya tambah semangat" kata Aish yang langsung berlalu ke dapur.
Diapun menghubungi Richard lagi.
"Hallo, Richard. Lo nyuruh perias datang ke rumah gue, ya?" tanya Aish.
"Iya, Ra. Biar lo kelihatan beda aja. Kan ini hari special buat lo" kata Richard.
"Oh, yasudah kalau gitu. Makasih ya Richard, gue lanjut dulu deh kalau gitu" kata Aish sambil menyiapkan minuman untuk tamunya.
__ADS_1
"Oke" kata Richard langsung menutup teleponnya.
Aish segera menyelesaikan kegiatannya, menaruh segelas coklat hangat ke atas nampan dan membawanya ke ruang tamu.
"Ini mbak, maaf cuma bisa menyediakan ini saja" kata Aish.
"Makasih ya, nona. Mari saya langsung rias saja agar nanti tidak terlambat" kata perias itu .
"Iya, saya ganti baju dulu ya mbak" kata Aish yang berlalu ke kamarnya.
"Boleh juga sih ide Richard, gue kan nggak punya make up, hehe" kata Aish lirih.
"Jangan menor-menor ya mbak, bulu matanya jangan terlalu tebal. Saya nggak bisa melek kalau ketebelan, nggak biasa juga sebenarnya" kecerewetan Aish mulai terdengar dengan segala pesanannya.
"Iya, non. Percayakan saja sama saya. Kami sudah menjadi langganan di keluarga Hutama, jadi nona nggak usah khawatir" kata perias itu.
Aish menurut, membiarkan perias itu bekerja sesuai prosedurnya.
Cukup lama memang waktu untuk memakai segala macam benda yang harus diaplikasikan ke wajahnya.
"Sudah non, tinggal pakai sepatunya saja" kata perias itu lega, tak sulit memang untuk merias wajah gadis yang dasarnya sudah cantik seperti Aishyah.
"Uwah, saya jadi cantik ya mbak" kata Aish yang takjub dengan penampilannya sendiri di depan cermin.
Perias itu merasa bangga karena hasil kerjanya dipuji. "Pada dasarnya, nona sudah cantik. Dengan sedikit saja polesan make up di wajah nona, membuat tampilan nona sangat berbeda dengan sebelumnya" kata perias itu memberi pendapat.
Aish hanya manggut-manggut saja mendengarnya.
"Ra, lo dimana?" teriak Richard dari ruang tamu.
Tentu saja Aish terkejut, rencananya kan pagi ini dia akan berangkat dengan Yopi dan engkong. Tapi kenapa ada Richard?
"Eh, iya. Masuk, Richard" kata Aish, dia harus berjalan dengan pelan dan teratur karena sedang memakai kebaya dan jarit.
Saat menapaki ruang tamu, Richard dibuat kagum dengan penampilan pacarnya yang sangat berbeda.
Dia sampai sedikit melongo karena Aish yang terlihat sangat anggun dan cantik.
"Uwah, lo cantik banget Ra" komentar Richard semakin membuat Aish serasa sulit berjalan. Serasa bertambah besar saja kepalanya.
"Lo juga kenapa dandan ganteng gitu sih?" kata Aish dengan senyum menggoda, membuat Richard juga senyum-senyum sendiri.
Pagi ini Richard memakai setelan jas berwarna hitam. Dia terlihat semakin dewasa saja dengan pakaian seperti itu.
"Makasih ya, kalau nggak ada yang bantuin make up, mungkin gue cuma pakai bedak sama lip gloss doang" kata Aish. Memang dia tak punya stok make up lengkap.
"Terus gue cuma dirumah doang setelah wajah gue digambar dengan begitu sempurna sama mbaknya?" gerutu Aish.
"Habisnya gue takut lo jadi bahan fantasi cowok-cowok di sekolah lo" kata Richard.
"Ish, jangan aneh-aneh deh Richard. Jadi ini rencananya lo mau nganterin gue gitu?" tanya Aish yang sudah tidak berminat melanjutkan perdebatannya.
"Iya dong sayang. Jangan ngarep lo dianterin sama Yopi ya" Richard terlalu posesif melihat penampilan Aish yang berbeda.
"Jangan mulai lagi deh. Sudah yuk berangkat, bentar lagi acaranya di mulai" kata Aish.
Dia hanya membawa sebuah tas slempang kecil yang diisi dompet dan hapenya saja.
"Saya permisi juga ya, non. Semoga acaranya sukses" Aish sampai melupakan keberadaan perias yang masih belum pergi dari rumahnya.
"Oh iya mbak, makasih banyak ya" kata Aish.
Diluar, Aish berpapasan dengan Yopi yang juga mau berangkat. Bersama engkong dan enyak, Yopi terlihat bahagia menyambut hari kelulusannya.
"Uwah, lo cantik banget Sya" kata Yopi saat melihat Aish akan memasuki mobil Richard.
"Jangan kelamaan ngelihatinnya, Yop. Gue colok juga mata lo" kata Richard.
"Ngeri banget pak. Sudah yuk, barengan berangkatnya" kata Yopi, dia memberhentikan mobilnya di belakang mobil Richard.
Tanpa menjawab perkataan Yopi, Richard memasuki mobilnya sendiri dan mulai menjalankannya.
Sampai di halaman sekolahnya, ternyata Aish sudah disambut oleh dua mobil lain yang terparkir rapi.
Saat Aish turun, orang-orang yang ada di dalam mobil itu juga terlihat turun dari dalamnya.
Tampak para punggawa juga datang dengan setelan jas seperti yang Richard pakai.
"Uwah, lo cantik banget princess" kata Seno yang selalu bisa dengan mudahnya mengatakan isi hatinya.
Sedangkan Hendra masih terdiam mengamati penampilan princessnya.
"Siapa yang ngerubah penampilan lo jadi cantik gini, princess?" tanya Falen.
Aish hanya tersipu malu, dia tak menyangka jika teman-temannya sudi untuk meluangkan waktu menghadiri acara wisudanya.
Aish kira di hari istimewanya ini dia akan menjadi murid yang paling menyedihkan karena harus datang seorang diri.
__ADS_1
Ternyata dia salah, teman-temannya terlalu sempurna karena tak membiarkan princess mereka merasa sendirian.
"Makasih ya kalian mau nemenin gue hari ini. Gue senang banget" kata Aish dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan nangis, Ra. Nanti bulu mata lo lepas" bisik Richard yang membuat Aish mengurungkan niat air matanya yang sudah akan meluncur.
"Iya, gue juga takutnya gitu. Hehe" kata Aish sambil menengadahkan kepalanya, tak membiarkan air matanya mengalir.
Dan masih ada satu lagi kejutan untuk Aish di pagi ini, melihat seseorang turun dari mobil lainnya membuat hati Aish semakin bahagia.
"Selamat ya, Aishyah. Tante senang melihat kamu secantik ini" kata mama Richard yang ikut menemaninya.
"Tante, makasih sudah mau menemani Aish" kata Aish yang langsung menyalami orang tua Richard.
"Ayo masuk, sepertinya teman-teman kamu yang lain sudah hadir semua" kata mama Richard menggiring rombongan Aish memasuki aula di SMAN 72.
Aish berjalan dengan tuntunan dari tangan mama Richard di sebelah kanan, sedangkan Richard di sebelah kirinya.
Berdiri dibelakangnya Seno, Hendra dan Falen yang langsung mendapat teriakan histeris dari semua yang sudah hadir di dalam aula.
Sekolah mereka kedatangan artis setenar Senopati, dia sedang mengantar salah satu teman mereka, Aishyah.
Senyum Aish tak pernah lepas dari bibirnya, kebahagiaan di hatinya terlihat begitu jelas tergambar karena perhatian dari orang-orang di sekitarnya yang begitu menyayanginya.
Dia kira mama Richard adalah orang yang sangat kaku dan dingin. Ternyata dibalik sifatnya yang begitu, terdapat pribadi yang hangat dan perhatian. Sama seperti Richard.
Sampai di aula, Richard mengantarkan Aish untuk duduk di tempatnya.
"Makasih, Richard" kata Aish dengan senyum yang menggemaskan. Richard hanya mengangguk dan membalas senyuman Aishyah.
Setelahnya, dia menuju ke belakang untuk berkumpul bersama mamanya, orang tua Yopi dan teman-teman Aish.
Seketika bisik-bisik lebah terdengar di telinga, orang-orang sedang membicarakan Senopati.
"Aku ndak nyangka kamu diantar rombongan begitu, Aish. Cowok-cowoknya ganteng-ganteng lagi" kata Nindi yang duduk di sebelah Aishyah.
"Gue juga nggak nyangka banget, Nin. Gue kira bakalan sendirian, ternyata malah rombongan gue paling rame" kata Aish.
"Kamu juga cantik banget, Aish. Manglingi kata orang Jawa" kata Nindi.
"Lo juga cantik banget, Nin. Nggak kerasa ya kita sudah lulus aja. Kayak baru kemarin rasanya jadi anak SMA".
"Oh iya, rencananya lo mau kuliah dimana?" tanya Aish.
"Ndak tahu aku, Aish. Kamu jadi ambil beasiswa di Bunga Bangsa?" tanya Nindi.
"Jadi dong, lumayan kan Nin bisa ngirit pengeluaran. Lagian Seno sama Hendra bilang mau nemenin gue kuliah disana" kata Aish sambil meminum air mineral.
"Uwah, Senopati mau kuliah di Bunga Bangsa juga?" tanya Nindi.
"Bilangnya sih gitu, gue ngumpul lagi sama mereka. Ninggalin si Falen doang, dia mau kuliah di Amerika" kata Aish.
"Orang kaya gitu ya, Aish. Mainnya ke luar negri, lah kita? Paling jauh paling mudik, hehehe" kata Nindi, dia tak putus-putusnya mengamati tingkah Aish daritadi.
"Kamu lapar ya, Aish? Snack kamu sudah habis aja" kata Nindi.
"Iya Nin, gue sampai lupa sarapan gara-gara tadi masih pagi banget sudah didatangi tukang rias" keluh Aish.
"Masih lapar? Nih makan punyaku. Heran sama kamu tuh ya, makannya banyak tapi nggak gendut. Kalau aku nih, minum air saja bisa nambah lemak" gerutu Nindi menyodorkan kotak snacknya.
"Boleh deh, satu aja. Ngomong-ngomong, kenapa acaranya nggak segera dimulai sih. Gue nggak enak sama mamanya Richard kalau kelamaan" sudah hampir jam sembilan tapi belum dimulai juga acaranya.
"Ya ndak apa-apa, Aish. Kalau orangnya sudah disini tuh berarti dia sudah ndak ada jadwal kemana-mana. Paling sebentar lagi juga sudah dimulai" kata Nindi.
"Hai, Sya. You look so amazing. Selamat ya, lo dapat nilai terbaik ya?" rupanya Mike baru saja datang, dia langsung menyapa Aish.
"Hi Mike, terimakasih. Lo baru datang ya?" Aish menerima uluran tangan Mike yang memberinya selamat.
Melihat itu, Yopi langsung pasang badan karena mendapat perintah dari Richard untuk mengamankan situasi.
"Mike, lebih baik lo langsung ngumpul sama teman sekelas lo, deh. Bos gue sudah ngelirik lo dari tadi" kata Yopi memperingatkan Mike.
Aish, Nindi, Mike dan Yopi kompak melihat ke arah Richard yang memang sedang melihat tajam padanya.
Tapi pandangan Nindi lebih fokus pada Seno yang melambaikan tangan pada Aish.
"Duh, gemes banget sama Senopati. Aku culik boleh ya, Aish?" kata Nindi, Yopi melirik sebal mendengar ucapan Nindi. Sedangkan Aish hanya menggeleng pelan.
"Oke, gue kesana dulu ya Sya. Sampai ketemu lagi" kata Mike yang berlalu ke tempatnya sendiri.
Dan acarapun sudah dimulai, keriuhan yang tadi terdengar mendadak sepi saat MC memulai acara.
.
.
.
__ADS_1