
Falen sedang bersama pacarnya sore ini, mereka lagi asyik nongkrong di cafe kekinian. Sambil foto-foto, terus di upload di akun sosmednya.
Notif dari sebuah postingan yang telah men'tag' namanya di sebuah foto yang di upload oleh Aishyah, ternyata sebuah foto dirinya bersama sang bunda dan juga Hendra.
Senyum terus terukir di bibir Falen saat membaca captionnya. "Dari perut naik ke hati" batin Falen mengulang bagian itu. Diapun membalas postingan itu
@Aishyah : Mana ada dari perut naik ke hati, ada juga dari mata turun ke hati.. (dengan emot tertawa)
Merasa diabaikan, Dewi pun bersuara. "Lagi chatting sama siapa sih? sampai lupa aku disini".
"Eh iya, nggak lagi chatting kok. Ini lagi comment di postingannya si Aish. Dia abis masak spaghetti sama Hendra dan bunda, masak captionnya dari perut naik ke hati. Mana ada coba?" kata Falen dengan pandangan masih pada layar ponselnya.
Dewi mengerucutkan bibirnya, sebal pada tingkah pacarnya yang tidak peka bahwa dia sedang cemburu.
Falen teringat tujuannya bertemu Dewi di cafe ini, saat dia melihat ke arah pacarnya, terlihat Dewi sedang menatap Falen intens dengan pandangan jengkel.
"Kenapa?" tanya Falen.
"Lanjutin saja saling comment di postingan princess kamu itu. Nggak usah perduli sama aku" kata Dewi ngambek.
Falen menaruh hapenya di atas meja, lantas bertanya pada Dewi ,"Di sekolah ada cctv kan ya?".
Mendengar pertanyaan itu, pikiran Dewi menjadi tidak tenang. Tapi dia berusaha mengontrol dirinya agar terlihat baik-baik saja.
"Ada dong, kan sekolah elit" jawabnya.
"Kamu tahu itu kan. Aku harap sih kamu selalu berpikir ulang dulu sebelum melakukan sesuatu" kata Falen.
"Maksudnya?" tanya Dewi.
"Tadi aku main-main ke pos satpam, terus izin minta dilihatin rekaman cctv pas hari dimana Aish ada yang ngebully" kata Falen menjeda kalimatnya, melihat ekspresi sang kekasih. Tentu hal itu membuat nyali Dewi menciut, "mungkinkah Falen tahu?" batin Dewi gusar.
"Kamu tahu apa yang aku lihat disana?" tanya Falen.
Dewi gelagapan, tidak mungkin lagi bisa mengelak. Dia hanya diam tak menjawab pertanyaan Falen.
"Kamu mau cerita yang sebenarnya ke aku sekarang atau aku yang beberkan semuanya sama bu Kris besok?" tanya Falen.
Tanpa diduga, Dewi menangis menatap Falen yang terlihat marah. Baru kali ini cowok bule yang ceria itu merubah modenya menjadi marah dan menyeramkan. Mental Dewi sempat down.
"Please jangan bilang sama bu Kris ya sayang, aku ngelakuin itu karena aku sayang sama kamu. Aku nggak mau ada cewek lain yang ada di hati dan pikiran kamu selain aku" kata Dewi sambil menangis tersedu-sedu.
"Terus dengan kamu ngelakuin itu ke Aish, bisa bikin aku tambah cinta atau sayang gitu sama kamu?" bentak Falen.
"Aku cuma mau peringatkan dia supaya ngejauhin kamu, tapi dia malah nyolot. Teman-temanku yang masukin kepalanya ke air, bukan aku. Aku nggak ngelakuin apa-apa sama princess sialan kamu itu" kata Dewi mengadu.
"Cg! kamu harus minta maaf sama Aish. Karena perbuatan kamu, dia sampai sakit" kata Falen.
__ADS_1
"Minta maaf? nggak akan. Aku ngelakuin itu supaya tetap jadi prioritas kamu tahu nggak sih?" tanya Dewi masih berair mata.
"Kamu itu ketua OSIS loh, perbuatan kamu ini malah mencoreng nama baik OSIS di sekolah elit ini. Kamu nggak mikir sejauh itu ya?" tanya Falen.
"Aku cuma pengen dia jauh dari kamu sayang, aku nggak ada niat buat nyakitin dia sebelumnya" kata Dewi membela diri.
"Hah, aku benar-benar kecewa sama kamu. Aish itu sahabat aku, letak kamu sama dia di hati aku tuh beda. Kalaupun harus milih, aku juga nggak bisa nentuin pilihannya" kata Falen.
"Jadi kamu tetap nggak mau jauh dari Aish?" tanya Dewi.
"Of course not lah, She is my bestie" kata Falen.
"Tapi aku nggak suka kamu dekat sama dia. Kamu harus milih aku atau tetap berteman sama dia" kata Dewi.
"Tentu aku pilih Aish, dia bahkan rela menyembunyikan kejahatan kamu sama dia demi ngelihat aku hepi. Sedangkan kamu malah mau ngejauhin aku sama orang yang sudah nutupin kesalahan kamu?" tanya Falen sambil menggelengkan kepalanya.
"Oke, kalau kamu tetap pilih dia, mulai sekarang kita putus" kata Dewi masih berlinang air mata.
"Fine, kalau itu yang lo mau. Hubungan kita berakhir sampai disini" kata Falen sambil berdiri, lalu pergi meninggalkan Dewi, tapi dia tetap membayar tagihan untuk makanan mereka.
Dewi mematung, dia tidak percaya bahwa Falen dengan mudahnya menerima keputusannya. Ada sesal di hati Dewi telah memutuskan cowok bule itu. Dia semakin menangis, berharap Falen kembali untuk memintanya tetap menjadi kekasih.
**************
Seperti pagi-pagi biasanya, Falen selalu merangkul pundak Aish sambil berjalan menuju kelasnya. Tapi rupanya pagi ini sedikit berbeda, terlihat Dewi datang ke hadapan Aish dan Falen.
Falen yang memang ada didekatnyapun tak luput dari guyuran air Dewi. Mulut Aish menganga sangking kagetnya.
"Lo gila ya" umpat Falen pada mantan pacarnya.
Kejadian itu menjadi tontonan asyik bagi murid lainnya di pagi ini. Aish sangat malu menjadi tontonan gratis seperti itu.
"Gara-gara pricess sialan kamu ini kan yang ngaduin ke kamu sampek lo mutusin aku" teriak Dewi.
"Gue bukan tukang ngadu ya, gue nggak pernah ngomong macem-macem ke Falen tentang kelakuan busuk lo ke gue asal lo tahu" Aishpun berteriak marah.
"Selama ini gue diem bukan berarti gue takut sama lo, gue cuma ngehargai Falen sebagai teman terbaik gue. Ternyata kelakuan ketua OSIS kita kayak gini nih? miris banget gue" kata Aish.
Dewi mati kutu, demi ambisinya tetap menjadi pacar Falen, dia lupa bahwa dia adalah sang ketua OSIS yang harusnya berwibawa.
"Ada apa ini?" teriak bu Kris setelah mendapat laporan dari murid lain.
"Bisa bu Kris tanyakan pada ketua OSIS kita ini bu" jawab Falen.
"Kalian bertiga ikut ibu ke ruang BP, yang lainnya bubar. Masuk kelas masing-masing, sebentar lagi bel" kata bu Kris meninggalkan koridor sekolah menuju ruang BP, tentunya diikuti oleh ketiga murid bermasalah itu.
Sampai di rumah ruang BP, bu Kris sudah mempersiapkan diri untuk mengintrogasi muridnya yang nakal.
__ADS_1
"Siapa yang mau menjelaskan?" tanya bu Kris
Tapi semuanya diam,tak ada yang mau membuka suara.
"Baiklah jika tidak ada yang mau menjawab, Dewi, kamu kan ketua OSIS, kenapa kamu berlaku seperti ini pada adik kelasmu?" tanya bu Kris.
"Emh... saya.. itu bu .." kata Dewi terbata tak mampu menjawab pertanyaan gurunya, tidak mungkin berkata bahwa dia cemburu kan? Bisa membahayakan.
"Jika semua tidak mau menjelaskan maka semua kan ibu hukum. Kalian lari keliling lapangan lima kali" kata bu Kris
"It's unfear, we just victims. Kenapa saya sama Aishyah juga dihukum Bu?" kata Falen.
"Saya tidak mau tahu, kalian semua saya anggap salah. Jadi lakukan sekarang hukumannya" kata bu Kris.
"Ini semua gara-gara lo" ketus Falen pada Dewi.
Falen menggandeng tangan Aish untuk melakukan hukumannya. Untung saja masih belum begitu siang, jadi matahari tidak terlalu terik.
Falen berlari disamping Aish, merasa kasihan karena Aish baru saja sembuh, malah harus kena hukuman, padahal dia tidak salah.
"Maafin gue ya Ai, gara-gara gue lo kadi kena masalah mulu" kata Falen.
"Nggak apa-apa, gue sudah maafin lo" kata Aish.
"Lo capek ya? masih kerasa pusing nggak? Gue takut lo sakit lagi Ai" kata Falen.
"Nggak apa-apa Fal, sudah kita lari aja dulu. Biar cepet kelar" kata Aish.
Dibelakang mereka, Dewi terus menghembuskan napasnya dengan kasar untuk mengurangi rasa sesak di hatinya melihat Falen yang sangat perhatian pada Aish, dan membiarkannya begitu saja. Seolah tak ada.
Falen dan Aish telah menyelesaikan hukumannya dengan cepat. Karena Aish yang terbiasa latihan silat, dan Falen yang memang atlit taekwondo. Sementara Dewi masih kurang satu putaran lagi.
Seseorang datang membawakan mereka minuman saat keduanya duduk selonjoran di tepi lapangan. "Buat kalian" kata Sekar.
"Eh, iya makasih ya Sekar" kata Aish sambil mengamati hijabnya yang sudah kering, menyisakan warna merah.
"Lo kok disini?" tanya Falen.
"Kebetulan tadi lewat, ngelihat kalian dihukum ya? kasihan gue" kata Sekar.
"Ayo masuk kelas deh" kata Aish mengajak kedua temannya masuk, kelas Sekar dan Aish berdekatan. Mereka membiarkan Dewi berlari sendirian.
.
.
.
__ADS_1