
Bibir tipis Aishyah masih saja cemberut, gumaman sebal terus saja keluar. Semua kegiatan dilakukan dengan hentakan keras. Seperti menaruh bolpoin, membuka lembaran kertas, membersihkan peralatan, semua dia lakukan dengan masih menggumam sebal.
"Hai Aishyah, lo sudah baikan?" tanya Sekar, rupanya dia menggantikan Hendra, tentunya juga atas inisiatifnya sendiri agar bisa lebih dekat dengan Aishyah dulu, sang pawang para punggawanya.
"Sekar? tumben kita barengan?" tanya Aish.
"Iya, tadi gue dikabari buat gantiin Hendra" kata Sekar.
"Oh" jawab Aishyah singkat, dia masih marah, takut menyakiti hati Sekar jika harus bicara lebih banyak.
"Gue dengar lo tadi habis ribut sama pacarnya dokter Siras ya?" tanya Sekar.
"Lo kan tahu banyak hal, kalau sudah tahu ya nggak usah tanya lagi" jawab Aish sedikit jengkel, benar juga kata Hendra kalau Sekar sumber informasi.
"Ya bukannya gitu Aish, gue cuma pengen tahu kondisi lo. Lo sudah nggak apa-apa kan?" tanya Sekar.
"Nggak" jawab Aish.
"Nih cewek belagu banget sih, untung gue punya misi, kalau enggak sudah gue tarik tuh mulut" batin Sekar.
"Aishyah, bagaimana kondisi kamu?" tanya dokter Siras yang baru datang.
"Abang dokter nggak usah tanya-tanya, nggak usah sok peduli" jawab Aish.
"Abang? masak panggil dokter kayak gitu sih, Aish ini memang keterlaluan" batin Sekar sedikit tidak suka, setahunya dokter Siras kan galak, masak perhatian banget sama Aishyah?
"Saya nggak enak sama kamu Aishyah, gara-gara saya kamu jadi kayak gini" kata Siras.
"Abang pergi saja deh, Aish masih marah sama abang, Aish nggak mau dekat-dekat sama abang. Itu juga sudah tahu kalau gara-gara abang kan saya jadi begini, dasar pacarnya abang dokter benar-benar seperti mak lampir" jawab Aish masih sok sibuk dengan kertas tugasnya.
"Yasudah kalau begitu, saya nggak akan kasih kamu tugas harian, saya juga nggak akan kasih tanda tangan apalagi cap jempol" ancam Siras.
"Huft, sukanya main ancam pakai kekuasaan. Dasar atasan yang tidak berhati. Biar nanti saya cari tugas sama dokter Wi saja" kata Aish.
"Siapa dokter Wi?" tanya Siras menautkan kedua alis lebatnya, seingatnya tidak ada dokter Wi
"Dokter Wibowo, beliau lebih senior daripada abang, weekk" jawab Aish masih mode ngambek, dan sempat-sempatnya menjulurkan lidah untuk mengejek Siras.
Siras dan Sekar tergelak melihat kelakuan Aishyah, anak ini memang benar-benar menggemaskan. "Pantas saja para punggawanya betah sama Aishyah, masih marah saja masih menggemaskan begini" batin Sekar.
"Kamu benar-benar beda, kamu selalu apa adanya Aishyah" batin Siras.
"Dokter Wibowo itu jaganya pagi sampai siang, dilanjutkan saya dari siang sampai malam. Tugas kamu akan ilegal jika ditandangani sama dokter Wi" kata Siras menirukan panggilan Aish.
"Biarin saja, lagian bang dokter mau ngapain sih? Sudah sana urusin urusannya abang saja deh" kata Aish.
__ADS_1
"Saya cuma mau lihat kondisi kamu Aishyah, saya takut luka kamu infeksi" kata Siras, dia mendekati Aish dan duduk disampingnya. Semua kejadian itu tak luput dari pandangan Sekar, tapi dia tetap bergeming. Masih mau melihat adegan selanjutnya.
"Memang pacarnya abang tuh nggak ada akhlak, beraninya sama anak kecil" kata Aish masih bersungut-sungut, hidung kecilnya sampai kembang kempis.
Siras mengulum senyumnya melihat Aish yang ngambek, dia tidak berani tersenyum, apalagi tertawa. Dia masih belum berhasil menjinakkan si singa betina.
"Dia itu bukan pacar saya, sudah putus" kata Siras.
"Bodo amat" jawab Aish.
"Saya mau kamu tahu saja kok. Lagian sejak dulu tuh sebenarnya saya nggak suka sama dia" kata Siras.
"Nggak usah curhat" kata Aish.
"Dia yang ngejar-ngejar saya. Sampai saat dia nembak saya didepan umum, kan kasihan kalau ditolak. Nanti dia kena mental terus gila, gimana dong?" kata Siras.
"Memang sudah gila kok" kata Aish.
"Huft, kamu nih. Lagian kenapa saya jadi curhat sih" kata Siras.
"Mana gue tahu" kata Aish.
"Sudah dong, jangan marah-marah lagi. Masak daritadi baru masuk sampai sekarang sudah mau pulang masih betah aja marahnya sama saya" kata Siras.
"Pacar abang sih, asal abang dokter tahu ya, seumur hidup saya, baru kali ini ada yang mempermalukan saya seperti itu. Sebel banget tahu nggak" kata Aish menghadap ke arah Siras.
"Beneran bang? Si mak lampir nggak bisa jalan?" tanya Aish mulai melunak.
"Iya, bahkan tempurung lututnya sampai retak" kata Siras.
"Masak sih bang? Uwah, itu sih diluar kendali saya bang. Sumpah saya nggak ada niatan buat dia sampai begitu. Saya kan lagi marah bang, wajar dong kalau sampai tidak terkendali" kata Aish berusaha meyakinkan Siras.
"Hahahahaha.... Saya cuma bercanda Aishyah, kamu ngegemesin banget sih" kata Siras mencubit kedua pipi Aish.
"Aduh .. duh... duh .. sakit bang. Abang nih, masih dendam sama saya ya" kata Aish cemberut lagi.
"Eh iya, maaf, maaf, saya sengaja. Habisnya kamu sih" kata Siras.
"Loh, Sekar... Masih disini toh. Lo nggak nyiapin laporan harian? Bentar lagi waktunya pulang loh" kata Aish yang baru menyadari keberadaan Sekar.
"Oh iya, sampai lupa. Yasudah gue siap-siap dulu ya, permisi dokter Siras" kata Sekar, dokter itu hanya mengangguk.
"Teman kamu itu aneh banget" kata Siras.
"Sudah deh, abang dokter juga aneh. Bang dokter, mumpung masih disini, sekalian minta tanda tangan dong. Bentar lagi kan mau pulang nih" kata Aish.
__ADS_1
"Kalau ada maunya aja, jadi baik. Daritadi cemberut aja" kata Siras.
"Ya nggak apa-apa sih kalau nggak mau tandatangan, saya ngambek lagi" kata Aish.
"Ih, kamu nih ngambekan" kata Siras mengambil kertas tugas Aish dan menandatanganinya.
"Makasih bang dokter" kata Aish dengan senyuman, dia sudah tidak ngambek rupanya.
********
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, waktunya Aish untuk pulang. Gadis itu telah siap memakai jaket dan tas punggungnya. Sekarang tinggal berdoa bersama dan pulang.
Setelah selesai dengan semua kegiatannya, masih ada satu misi yang harus dia lakukan. Yaitu menemui Richard dan menanyakan perihal administrasi rumah sakit. Aish benar-benar penasaran pada siapa orang yang sudah membayarkannya, dan tentunya akan berterimakasih.
Gadis itu berjalan dilorong-lorong rumah sakit, malam hari seperti ini cukup membuat bulu kuduk merinding jika sendirian. Dia juga sempat menaiki lift untuk sampai di ruangan Richard.
"Untung gue nggak bareng Hendra, bisa diabsen semua penghuni disini sama dia kalau kita jalan bareng" gumam Aish.
Dia berjalan sedikit tergesa agar bisa sampai ke ruang rawat Richard. Dan saat sampai disana, dari luar tampak dua orang berbadan tegap yang menunggui ruangan itu dari luar, sepertinya body guard.
"Sudah dirawat diruang VVIP masih juga dijagain, orang kaya memang aneh-aneh" gumam Aish sambil mendekati mereka.
"Permisi pak, benar ini ruangannya Richard ya?" tanya Aish.
"Iya, benar. Ada perlu apa kamu? Lagian jam besuk sudah habis, bagaimana kamu visa sampai kesini?" tanya salah satu body guard.
"Saya temannya Richard, kebetulan saya baru selesai tugas jaga di UGD. Sebenarnya ada keperluan juga sama Richard pak. Boleh saya masuk?" tanya Aish.
"Ada keperluan apa kamu sama tuan muda? Kalau hanya mengirim coklat atau bunga, tuan muda tidak akan mau, lihat saja tong sampah itu. Semua bunga dan coklat dari perempuan sudah tuan muda buang kesana" katanya lagi
Aish melihat tong sampah yang dimaksud, dan benar saja, banyak juga bunga dan coklat teronggok mengenaskan disana. "Sungguh sayang, dimakan kan enak, kenapa harus dibuang?" Aish membatin, kepalanya sampai ikutan menggeleng-geleng.
"Nasib kamu juga pasti sama seperti bunga itu, jadi mendingan kamu sekarang pergi, karena tuan muda sedang istirahat" kata bodyguard itu mengusir Aish.
Aish ragu untuk tetap memaksa masuk atau tidak. Tapi rasa penasarannya sudah tak tertahan lagi.
Haruskah dia memaksa masuk dan membuat keributan, atau menunggu gari esok saja? Dan menunggu juga adalah hal yang paling Aish benci.
.
.
.
.
__ADS_1
.