Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
keputusan


__ADS_3

Helda masih berstatus saksi di persidangan Tomy kali ini. Tinggal menunggu waktunya sendiri untuk menjalani persidangan yang entah kapan akan dilaksanakan.


Dengan wajah yang masih penuh emosi, Helda duduk di depan Hakim dan para aparat hukum.


"Motif apa yang mendasari sehingga anda dengan sengaja menyuruh saudara Tomy untuk membunuh korban?" tanya hakim.


"Saya sangat membenci wanita itu pak hakim, dia telah merebut suami saya" kata Helda.


"Dulu memang saya yang menyuruh mas Willy untuk menikahinya, karena kami ingin punya keturunan dari darah daging kami sendiri"


"Awalnya semua berjalan sesuai rencana, tapi lama kelamaan wanita itu merebut segalanya dari saya pak hakim. Bahkan suami saya mengikuti keyakinannya. Suami saya telah membagi cintanya. Saya cemburu pak hakim, wanita itu telah mengubah mas Willy" kata Helda bercerita sambil menangisi perbuatannya.


"Tomy berhasil menghasut saya untuk menyingkirkan wanita itu, pak. Mulutnya sungguh tidak bisa dipercaya" kata Helda memarahi Tomy yang terduduk lemas di kursinya.


Kondisi Helda tak memungkinkan untuk terus bersaksi, bahkan dia sempat pingsan hingga harus dilarikan ke rumah sakit.


Kini tiba waktunya untuk Hakim membacakan keputusan. Tomy sudah tampil, tampak raut wajah pasrah terpampang nyata.


Apapun keputusannya, dia akan terima. Entahlah, semoga bisa mengurangi rasa bersalah dalam hatinya.


"Berdasarkan pasal 289 KUHP tentang perbuatan asusila, dan diberatkan dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan yang direncanakan. Dan berdasarkan bukti-bukti dan juga keterangan dari para saksi, maka kami memutuskan bahwa saudara Tomy Siswanto dijatuhi hukuman penjara selama dua puluh tahun" duk.. duk.. duk..


Keputusan sudah diambil, hakim dan jajarannya telah meninggalkan ruangan.


Menyisakan Tomy yang tertunduk lesu ditempatnya, penyesalan memang datangnya belakangan. Sekarang dia hanya bisa meratapi nasib. Toh, nasi sudah menjadi bubur.


Aish lega dengan putusan hakim, setidaknya satu dari beberapa orang yang terlibat dalam pembunuhan kakaknya sudah dipidana.


Untuk Helda, biarlah menjadi urusan Willy saja. Aish sudah lelah untuk mengikuti jalannya persidangan.


Biar nanti dia akan meminta Willy untuk terus mengupdate tentang kasus ini.


★★★★★


"Kita cari baju ya?" tanya Seno setelah keluar dari ruang sidang.


Sesuai rencana, mereka akan pergi bersama setelah mengikuti jalannya persidangan. Sebenarnya Aish merasa ada yang kurang, karena dari kemarin belum ada kabar dari Richard.


Gadis itu sudah pasrah, biarlah kalau memang Richard audah tidak mau melanjutkan hubungan ini.


Memang nyatanya dari awal sudah banyak sekali halangan untuk mereka bisa bersama. Dan jika memang harus berakhir seperti ini, setidaknya rasa itu belum terlalu jauh untuk bisa sedikit demi sedikit terhapus dari hatinya.


Aish tersenyum menanggapi pertanyaan Seno. Masih ada sahabatnya yang selalu ada untuknya. Kasih sayang dari mereka bahkan sudah lebih dari cukup untuk mengobati kekosongan dalam hatinya.


Ya, Semoga!


★★★★★


"Sialan si boncel, sampai jam segini masih belum sampai juga" kata Richard menggerutu karena Reno belum juga datang sejak dari tadi pagi berpamitan untuk sekedar mengambil baju dan charger.


Padahal jam dinding sudah menunjukkan hampir pukul dua siang.


Richard gelisah, pikirannya tertuju pada satu nama, yaitu Aishyah.


Entah apa yang gadis itu pikirkan tentangnya. Richard bimbang, dia dilema.


Yopi masih membutuhkannya, sementara disana hubungannya juga perlu diperjuangkan.

__ADS_1


"Untuk meninggalkan Yopi tentu tidak mungkin disaat seperti ini, dia masih belum sadar juga. Aish juga perlu diperhatikan, tapi untuk sekedar memberi kabar gue nggak bisa karena hape gue dalam kondisi mati" kata Richard lirih. Dia mondar-mandir kebingungan.


"Sedangkan Reno, si boncel yang menyebalkan itu tidak bisa diandalkan" gumamnya.


"Awas lo bonceel sialann" Richard memekik tertahan, tidak mungkin dia berteriak di rumah sakit.


Lelah, Richard duduk di sisi Yopi. Melihat keadaan temannya yang sampai kini belum juga tersadar.


"Lo kenapa nggak bangun-bangun sih Yop?" tanya Richard sambil memegang pergelangan tangan Yopi. Bahkan dia sedikit mengguncangnya seperti sedang membangunkan orang yang sedang tidur.


"Lo kenapa sampai kayak gini? Nanti kalau lo sudah sadar, kasih tahu ya sama gue penyebabnya apa. Yang penting sekarang gue harap lo bisa segera bangun" kata Richard seolah Yopi mendengarnya.


"Lo nggak kasihan sama gue? Lo mau gue jomblo ya?" tanya Richard lagi. Tentu Yopi hanya diam.


Sadar tidak ada tanggapan, Richard menjatuhkan kepalanya disisi ranjang. Disamping Yopi yang sedang tidur.


Tak begitu lama, terasa ada gerakan dari ujung jari Yopi yang lengannya sedang Richard pegang.


Richard terkejut, dia segera bangun dan melihat kondisi Yopi. Ternyata benar, lamat-lamat mata Yopi mengerjap pelan.


Perlahan netra itu terbuka untuk menelisik keadaan sekitarnya. Cukup lama baginya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya.


"Ri, lo disini?" kalimat pertama yang Yopi keluarkan membuat senyum terukir di wajah Richard.


"Iya, gue disini. Lo sudah bangun? Sudah sadar?" tanya Richard.


Yopi mengangguk pelan dan memberi sedikit senyum yang dipaksakan. "Iya, gue bangun" ucapnya lirih.


"Sebentar gue panggil dokter, ya. Lo diem dulu, jangan tidur lagi" kata Richard, lalu keluar dari ruangan untuk mencari dokter ataupun suster di sekitarnya.


"Suster, teman saya sudah sadar" kata Richard.


"Oh, iya. Sebentar ya saya panggilkan dokter dulu" kata suster itu.


Richard mengangguk, dia kembali ke dalam ruangan. Ternyata mata Yopi tertutup lagi saat Richard masuk.


"Yop, Yopi. Jangan merem lagi dong, bangun" kata Richard mengguncang lengan Yopi ringan


"Iya, gue nggak tidur lagi" kata Yopi membuka matanya.


"Apa yang lo rasain?" tanya Richard.


"Sakit semua badan gue. Sialan bokap gue memang" kata Yopi yang teringat perlakuan ayahnya.


"Memangnya kenapa sama bokap lo?" tanya Richard.


Yopi sudah membuka mulutnya, dia juga ingin segera bercerita pada Richard. Tapi dokter keburu datang, jadi dia akan menangguhkan ceritanya.


"Selamat sore" kata dokter saat memasuki ruangan.


" Sore, dokter" jawab Richard.


"Bagaimana keadaan kamu Yopi?" tanya dokter. Dengan sigap, suster langsung saja melakukan tugasnya. Mengukur suhu, tekanan darah dan juga denyut nadi Yopi.


"Rasanya semua bagian tubuh saya sakit, dokter" kata Yopi.


Dokter itu tersenyum, membuat garis halus di wajahnya semakin terlihat.

__ADS_1


"Itu wajar, karena waktu saya memeriksa tubuh kamu, banyak sekali luka bekas pukulan dimana-mana. Sebenarnya apa yang sudah terjadi?" tanya dokter itu sambil meneruskan kegiatannya yang sedang memeriksa Yopi.


"Ehm, saya dipukuli preman, dokter. Habis dipalak" jawab Yopi terbata. Karena tidak mungkin baginya untuk mengatakan yang sebenarnya.


Biar bagaimanapun tidak mungkin dia menambah daftar perilaku buruknya dengan mengatakan perlakuan ayahnya.


"Sudah lapor polisi? Keadaan kamu sampai gawat begini lho" kata dokter.


"Saya sudah nggak ingat dengan wajah mereka dok. Yang penting nyawa saya masih betah tinggal di dalam tubuh ini, biar saja dengan orang yang sudah menghajar saya" kata Yopi.


Dokter itu tersenyum, "Kalau semua orang seperti kamu, penjara bakalan sepi" kata dokter itu terkekeh pelan.


"Bagaimana hasilnya suster?" tanya dokter itu.


"Semuanya baik, dok. Tekanan darah, suhu dan denyut nadinya normal" jawab suster itu.


"Bagus kalau begitu" kata dokter itu.


"Jadi, kalai semuanya segera membaik, apa teman saya boleh segera dibawa pulang dokter?" tanya Richard.


"Perlu waktu setidaknya tiga hari untuk pemulihannya. Dia habis operasi lho" kata dokter.


"Baiklah dokter, terimakasih" kata Richard.


"Iya, sama-sama. Jangan lupa obatnya diminum teratur, kalau tidak rasa sakitnya akan kembali terasa" kata Dokter mengingatkan.


"Siap dok" kata Richard.


Reno datang tak lama setelah dokter pergi dari ruangan Yopi. Segera saja Richard menjitak kepala sahabatnya itu.


"Sialan lo, Ri. Gue baru datang malah main pukul kepala orang. Aset berharga gue ini, sialan" kata Reno setelah menaruh barang bawaannya secara sembarangan.


"Lo kemana aja sih, mana charger gue?" tanya Richard.


"Gue disuruh nyokap nungguin masakannya matang. Tadi nyokap nyuruh gue bawain lo makanan" kata Reno.


"Lo tau gue butuh banget chargernya, bonceel" kata Richard yang sedang menyambungkan charger pada ponselnya.


"Iya, gue tau. Sini makan dulu, lo rese kalau lagi laper" kata Reno.


Richard mendelik mendengar penuturan Reno, tapi dia mendekat juga karena memang sudah lewat dari jam makan siang.


"Nanti nyokap bilang mau jenguk lo, Yop" kata Reno.


"Eh, lo sudah sadar ya? Nggak ngeh gue dari tadi. Uwah, selamat datang kembali, bro" kata Reno memberi tinju ringan di lengan Yopi.


"Makasih ya, gue nggak tahu kalau nggak ada kalian" kata Yopi.


"Lo tenang saja, yang penting sekarang lo harus cepat sembuh ya" kata Reno.


Yopi tersenyum, beruntungnya dia mendapat teman sebaik Richard yang kadang menyebalkan tapi sebenarnya perhatian. Dan juga Reno yang mulutnya sangat pedas, tapi sebenarnya pengertian.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2