
Pertandingan basket tak kalah seru, Mike yang songong ternyata akan berubah menjadi kapten tim yang sangat disegani di lapangan.
Terbukti dengan keahliannya, membuat tim dari SMAN 72 bisa masuk ke lima besar. Bersaing ketat dengan tim Mahardika yang diketuai oleh Richard.
"Tim dari sekolah Aish boleh juga" komentar Hendra yang melihat penampilan dari tim 72.
"Nggak ada yang boleh ngalahin tim kita" komentar Richard yang memandang penuh selidik pada permainan Mike dkk.
"Sepertinya besok kita akan bertemu dengan tim mereka di final" kata Hendra lagi.
"Dan gue pastikan kalau tim kita yang akan keluar sebagai pemenangnya" kata Richard yang masih serius dengan penampilan tim 72.
Aish dan Nindi iseng mengunjungi area lapangan basket. Ingin tahu keadaan pertandingan yang sedang dilakoni oleh Mike, perwakilan dari sekolahnya. Kebetulan jam istirahat masih panjang.
Berjalan sedikit 'melipir', akhirnya Aish dan Nindi mendapatkan tempat di dekat lapangan. Berdiri diseberang Richard dan Hendra yang sedang mengamati jalannya pertandingan.
Mike mendribel bola, melewati beberapa pemain dari tim lawan dengan mudah. Gerakan lincahnya mengoper bola pada temannya. Dengan gesit, Mike berlari mendekati ring.
Temannya mengoper bola, berhasil! Mike mendapatkan operan bola itu. Sedikit berusaha, dan fokus pada ring basket.
Mike menshooting bola dengan sangat baik, lemparannya pas mengenai ring, masuk dengan sangat epik.
"Yeee.... Semangat Mike" teriak Nindi yang berada di pinggir lapangan.
"You can do it, Mike" teriak Aish ikut-ikutan Nindi.
Mike menoleh ke sumber suara, ternyata ada Aish dan Nindi. Dia tidak menyangka jika Aish akan menyemangatinya, padahal sebelumnya dia sangat menjengkelkan.
Senyuman berkharisma diberikan Mike kepada dua gadis cantik di pinggir lapangan. Mike melakukan dua kali kiss bye diudara pada Aish dan Nindi, senyumannya sangat menawan.
Nindi hanya bersorak senang, membalas kiss bye dari Mike. Memberi semangat pada teman seperjuangannya.
Sementara Aish berbeda, dia seolah muntah diudara mendapat perlakuan dari temannya yang menjengkelkan itu.
Bagaimana dengan Richard? Tentu hatinya sudah panas saat ini. Berani-beraninya Mike melakukan itu pada Aish.
Hendra menahan tawanya melihat Richard yang menahan marah. "Santai bro, Princess memang terlalu cantik untuk dilewatkan begitu saja" komentar Hendra yang makin menyulut emosi dihati Richard.
"Awas lo tim 72, gue kill sampai mampus kalau besok berhadapan sama gue" gumam Richard yang sudah melangkah meninggalkan Hendra. Tentu langkahnya menuju tempat Aish berdiri.
Hendra tersenyum mengikuti arah Richard melangkah. Dia akan melindungi princessnya.
Richard menarik pergelangan tangan Aish hingga gadis itu seperti berputar.
Nindi ikut-ikutan berputar seperti gerakan Aish, rambut hitamnya yang tergerai terlihat sangat indah di mata Hendra.
"Apa-apaan sih?" tanya Aish melepaskan cengkeraman tangan Richard.
__ADS_1
"Lo yang apa-apaan, ngapain teriak-teriak kayak gitu?" tanya Richard sebal.
"Cg, mulai lagi. Ok, gue diem" kata Aish melakukan gerakan menutup resleting di mulutnya.
Nindi tertawa melihatnya, hingga tak sadar memukuli pundak Hendra yang berdiri disampingnya.
"Eh, maaf ya. Aku ndak sengaja" kata Nindi yang kini gantian terpesona pada Hendra.
"Ok" kata Hendra singkat.
"Yuk balik ke aula, Aish. Takutnya kita dicariin sama teman-teman" kata Nindi yang menarik pergelangan tangan Aish menjauhi Richard dan Hendra.
Aish hanya melambaikan tangannya pada Richard yang masih bertampang masam, juga pada Hendra yang ikut melambaikan tangannya.
Sementara Mike masih fokus dengan pertandingannya, hanya sedikit melirik pada Aish dan Nindi yang sudah meninggalkan lapangan.
★★★★★
"Darimana?" tanya Ilham menutup bukunya saat melihat ada Aish dan Nindi mendekat.
"Lihat pertandingan basket, sebentar" jawab Nindi.
"Terus gimana hasilnya?" tanya Ilham antusias.
"Mike keren, bisa masuk lima besar" komentar Aish.
"Sebentar lagi cerdas cermat ya?" tanya Aish.
"Iya, tim kita tampil diurutan ke tujuh nanti. Masih lama" kata Ilham.
"Boleh nggak sih lihat jalannya kompetisi di dalam nanti?" tanya Aish.
"Ndak boleh, Aish. Kan sudah dikasih tahu sama panitianya tadi, kamu ndak nyimak ya?" tanya Nindi.
"Iya, hehe. Kan ada tiga ruangan ini, kita masuk di ruangan yang mana nanti, Ham?" tanya Aish.
"Yang tengah, nanti urutan ke tujuh dari sepuluh" jawab Ilham, Aish hanya manggut-manggut saja.
Bel berbunyi, semua peserta sudah bersiap di depan tiga ruangan yang berjejer yang akan dimasuki oleh dua tim di tiap ruangan yang berbeda.
Semua menunggu sambil membaca buku, belajar di menit-menit akhir memang terasa sangat mendebarkan.
Cukup lama menunggu, tiba giliran tim Ilham yang harus memasuki ruangan.
"Bismillah, kita pasti bisa" kata Ilham si ketua memberi semangat.
Dengan penuh percaya diri, ketiganya masuk ke dalam ruangan. Ada dua meja yang diperuntukkan untuk du kelompok. Ditengah ruangan ada meja uang sudah tersedia untuk para juri.
__ADS_1
"Biasalah, suasana kompetisi dimanapun memang selalu menegangkan" batin Aish.
"Silahkan tim 72 dan tim B untuk menempati kursi yang sudah tersedia" kata pembawa acara.
Ilham menggiring kedua temannya, mereka duduk dengan gelisah. Perasaan tenang saat akan berkompetisi adalah sesuatu yang impossible.
Tiga puluh menit berlalu, skor yang didapat oleh kedua tim terpaut sangat tipis. Tim Ilham masih unggul.
Tim 72 bisa sedikit bernafas lega, mereka masih bisa lolos untuk sesi selanjutnya. Mereka keluar ruangan dengan senyum kelegaan.
"Masih ada putaran selanjutnya ya, bu?" tanya Nindi pada guru pembimbingnya.
"Ada, setelah ini putaran besar. Lima belas peserta yang lolos di putaran pertama akan diuji secara bersamaan untuk menentukan tiga pemenang yang akan di uji lagi besok. Jadi, kalian masih harus bersiap-siap" kata bu Mirna.
"Oh, begitu" Nindi manggut-manggut mendengar penjelasan gurunya.
Lagi-lagi Seno mendekat, "Gimana princess, tim lo bisa lolos?" tanya Seno yang kini sudah tidak memakai topi, hanya masker yang masih melekat diwajahnya.
"Alhamdulillah lolos, Seno. Tim lo gimana?" tanya Aish.
"Sama, setelah ini tim kita bakalan ketemu ya" kata Seno.
"Iya, kemana Falen?" tanya Aish.
"Nggak tahu, ada urusan OSIS sebentar katanya. Mereka tuh sering ninggalin gue, princess. Falen alasannya urusan OSIS, kalau si Mahendra katanya ada urusan PMR, padahal si Hendra lagi asyik sama Queen. Lo masih ingat Queen kan?" kata Seno mengadukan tingkah kedua temannya.
"Oh, kasihan. Lo main sama siapa dong?" tanya Aish menanggapi keluhan Seno.
"Gue sendirian dong, kadang gue hafalin skrip buat syuting film baru. Eh iya, nanti kalau film gue rilis lagi, lo masih mau kan temani gue kayak waktu itu?" tanya Seno.
"Boleh banget lah" kata Aish.
Nindi mencuri dengar percakapan Seno dan Aish, "Uwah, kamu syuting film baru ya Senopati? Aku tuh ngefans banget loh sama kamu" kata Nindi.
"Iya, lo sudah nonton film gue yang kemarin apa belum?" tanya Seno.
"Sudah dong, bagus banget filmnya" komentar Nindi.
Mereka terlibat percakapan seri hingga waktu ishoma. Dan kompetisi masih terus berlanjut.
.
.
.
.
__ADS_1
.