
Richard memajukan wajahnya, sedikit menoleh dan menunjuk pipinya sendiri. "Seperti memberikan sentuhan di pipi gue dari bibir lo misalnya" kata Richard menunggu reaksi Aish yang sedikit berpikir tentang kata-kata darinya.
Sedikit berfikir, akhirnya Aish memencet hidung Richard dengan keras dan lama. "Rasain nih, hahahaha" tawa Aish menggema melihat Richard tak berdaya.
Takut kehabisan nafas, Richard sedikit mencengkram bahu Aish. Tak menyangka jika akan membuat Aish kesakitan.
"Auwh... Aduh... Sakit Richard" kata Aish yang berusaha melepas tangan Richard dari bahu kirinya.
"Oh, sorry. Kekencengan ya?" tanya Richard panik.
"Nggak kok, memang lagi sakit bahunya" jawab Aish masih meringis.
"Kenapa?" tanya Richard curiga.
"Nggak apa-apa sih, ehm... cuma habis kejedot pintu doang kok" jawab Aish terbata.
"Yakin?" tanya Richard dengan alis yang dinaikkan sebelah.
"Iya, makanya sakit kalau dipegang" kata Aish.
"Kok bisa sih? Lo kebanyakan tingkah sih" kata Richard.
"Iya, memang" kata Aish yang memilih senderan di kursi.
"Jadi, benar nggak ada adegan lanjutan nih?" tanya Richard yang masih sedikit ngotot.
"Kalau mau dicium, halalin gue dulu dong" kata Aish bercanda.
"Oh, tentu saja. Sesiapnya lo, gue jabanin. Mau ke penghulu sekarang juga gue ayok. Lo nya siap nggak?" kata Richard.
"Gue bercanda, Richard" kata Aish menutup mukanya dengan telapak tangan.
Richard hanya tersenyum, "Tapi gue serius mau nikahin lo secepatnya, Ra" kata Richard.
"Entahlah, kita kan beda" kata Aish lirih.
"Yopi kenapa pulang duluan sih? Dia bilang nggak sama lo alasannya?" tanya Aish.
"Nggak tahu gue, cuma bilang lagi ada urusan" kata Richard yang sudah menjalankan mobilnya.
Keduanya sama-sama bimbang, saling mencintai dalam perbedaan. Entah bagaimana baiknya nanti.
★★★★★
Senin pagi, hari yang sangat dinantikan telah datang.
Dengan menggunakan bus sekolah masing-masing, peserta kompetisi dari setiap sekolah di seluruh penjuru kota datang ke SMA Mahardika.
Mereka dikumpulkan dalam satu aula untuk diberikan arahan terlebih dahulu.
"Lo tahu nggak sih, Senopati kan sekolah disini. Kira-kira, dia ikut lomba apa ya?" kata seorang siswi dari sekolah lain yang terdengar di telinga Aish.
"Aish, seingatku nih ya. Kamu bilang kan kalau kamu sama Senopati pernah satu sekolah, berarti kamu pernah sekolah disini ya?" tanya Nindi menebak.
__ADS_1
Aish mengangguk, "Iya, tapi karena ada suatu alasan yang bikin gue keluar dari sini" jawab Aish setengah berbisik.
"Nanti kalau kamu ketemu sama Senopati, kenalin aku secara langsung ya. Janji lho" kata Nindi yang juga berbisik.
"Kalau nanti kita keluar sebagai juara, gue janji buat mempertemukan lo sama dia" kata Aish penuh percaya diri.
"Asiikk, motivasi terbesar dalam hidupku ini" kata Nindi dengan senyum ceria.
Acara pembukaan sudah selesai. Kini semua siswa digiring ke tempat yang sudah tersedia.
"Princess, I think it will be a difficult competition for me. Because you are my enemy right now" kata Falen menggoda Aish yang sempat bertemu di depan ruang ujian pertama.
Aish menoleh, tersenyum menanggapi gurauan Falen. Sementara temannya yang lain malah ikut berhenti di belakang Aish, sedikit terkejut karena Aish mengenal siswa bule dari Mahardika.
"Falen, gue dengar dari Richard kalau lo juga ikut kompetisi ya" kata Aish.
Belum sempat Falen menjawab, seorang siswa dari Mahardika tiba-tiba memeluk Aish seperti anak kecil yang baru saja bertemu ibunya.
"Gue kangen banget sama lo, my princess. Kenapa nggak ada waktu sama sekali buat kita bertemu setelah lo keluar dari sini?" tanya siswa tinggi yang bertopi dan bermasker itu.
Merengek seperti anak kecil, Aish hanya menepuk punggungnya. Falen juga begitu, menepuk punggung Seno, dia memakai masker untuk melindungi diri dari para fansnya.
Dia sudah seterkenal itu sekarang.
Aish membiarkan saja tingkah Seno yang seperti itu, memang dia sangat lengket pada Aish.
"Belum juga satu bulan kita nggak ketemu, Seno. Rencananya setelah kompetisi ini, gue mau ajak lo sama yang lainnya buat main dong" kata Aish yang masih dalam pelukan Seno.
Nindi memastikan dengan yakin, melihat penampilan siswa yang tiba-tiba memeluk Aish, saat mendengar nama Seno disebut.
Seno mengerlingkan matanya pada Nindi. Membuat Nindi lemas seketika. Beruntung ada Ilham yang sigap menopang berat badan Nindi.
"Lo kenapa sih?" tanya Ilham.
"Speechless aku tuh" kata Nindi.
Aish menoleh pada temannya, melihat Nindi seperti itu membuatnya sedikit khawatir juga.
"Kenapa, Nin?" tanya Aish yang sudah melepas pelukan Seno.
"Dia itu, dia itu" kata Nindi menunjuk ke arah wajah Seno.
"Ssttt" Seno meletakkan telunjuknya di bibirnya yang bermasker, berharap Nindi paham dan diam.
Nindi hanya manggut-manggut seperti terhipnotis.
Falen hanya tertawa melihatnya, memang tingkah seseorang jadi aneh saat melihat idolanya. Dan Falen sering mengalami itu saat sedang bersama Seno akhir-akhir ini.
"Dimohon untuk para peserta kompetisi cabang pengetahuan, untuk segera memasuki ruang ujian pertama yang telah disediakan" terdengar panggilan informasi dari pengeras suara.
"Ayo masuk, tinggal kita doang yang belum masuk" kata Ilham memandangi sekitarnya yang sudah sepi.
Seno ikut masuk, ternyata dia juga ikut dalam kompetisi ini. Memang sih, saat Aish juga sekolah disini, Seno memang siswa yang pintar.
__ADS_1
Ruangan itu penuh dengan para murid yang berasal dari berbagai sekolah berbeda. Mereka berkelompok sesuai warna seragam yang mereka kenakan.
Aish dan kawan-kawannya menuju meja yang telah disediakan untuk mereka. Tempat yang cukup jauh dari kumpulan siswa elit dari Mahardika.
Kesenjangan sangat terasa dari aura di dalam ruangan ini.
Beberapa orang panitia datang membawa tumpukan kertas. "Ujian pertama akan dimulai, ujian ini seperti ulangan harian pada umunya. Akan dicari satu pemenang saja. Diharapkan untuk semua agar jujur dalam mengerjakannya" kata seorang diantaranya.
Lembar kerja beserta peralatannya telah disediakan. Semua peserta tinggal menjawabnya saja.
"Waktu untuk mengerjakan adalah seratus dua puluh menit. Bisa dimulai dari sekarang" kata panitia.
Aish membuka lembar soal, membaca dengan sekilas terlebih dahulu. Ada duaratus soal pilihan ganda, dari berbagai mata pelajaran. Semua terlihat serius saat mengerjakan.
Sementara di bidang olahraga, sudah dilakukan pertandingan penyisihan yang dilakukan di dua lapangan yang berbeda. Tapi masih dalam satu wilayah Mahardika.
Dari pertandingan basket hari ini, akan diketahui siapa para peserta yang lolos untuk melanjutkan di pertandingan final esok hari.
Pertandingan basket kali ini akan langsung dilakukan dua penilaian, selain pertandingan basket ini sendiri ada juga penilaian untuk tim cheerleader.
Tim pemandu sorak akan meneriakkan yel-yel mereka sebelum tim dari sekolahnya beraksi.
★★★★★
Teeettt.....
Bel berbunyi, menandakan waktu dua jam untuk mengerjakan telah habis.
"Silahkan letakkan peralatan tulis kalian diatas meja" kata panitia memberikan instruksi.
Beberapa panitia yang lain mulai berpencar untuk mengambil lembar jawaban dan juga soal dari atas meja para peserta.
"Kalian bisa istirahat selama tiga puluh menit. Selanjutnya, silahkan berkumpul di aula untuk perlombaan berkelompok" kata panitia.
"Princess, ayo ke taman dekat perpustakaan. Gue kangen masa-masa kebersamaan kita" kata Seno yang tiba-tiba sudah berada di belakang meja Aish.
"Kita kan sekarang rival, Senopati. Mana boleh main bareng" kata Aish menggoda Seno yang langsung cemberut. Sungguh berbeda dengan Seno dalam filmnya.
"Ya ampun, dia lucu banget" kata Nindi lirih, memperhatikan Seno dengan seksama.
"Seno, ayo buruan" teriak salah seorang temannya. Aish mengangguk dan tersenyum pada teman lamanya itu.
"Dah sana, nanti kita ketemu lagi ya" kata Aish.
Tim Aish juga melakukan brifing singkat sebelum perlombaan selanjutnya.
Sama seperti cabang olahraga, di cerdas cermat kali ini juga akan mencari tim yang akan bertanding di hari final esok hari.
Hari ini adalah pertandingan penyisihan, besok baru finisnya. Dan lusa, akan diadakan pengumuman pemenang dan penyerahan hadiahnya.
.
.
__ADS_1
.
.