
"Hari ini kita latihannya cuma sebentar, Aish. Tadi bu Mirna bilang mau ada meeting antar guru pembimbing di SMA Mahardika" kata Nindi yang berjalan berdampingan dengan Aish menuju ke perpustakaan, tempat biasanya mereka latihan untuk menghadapi kompetisi yang akan diadakan minggu depan.
"Bagus dong, gue semalam kurang tidur, Nin. Ngantuk banget, capek" kata Aish yang menggandeng tangan Nindi.
Yopi terus saja menempel pada Aish, bahkan saat inipun dia tak membiarkan Aish merasa bebas.
Awalnya dia risih juga dikintili sahabat dari pacarnya itu, tapi setelah lelah mengusir, akhirnya Aish membiarkan saja ulah Yopi yang katanya disuruh Richard untuk menjaganya.
"Assalamualaikum" sapa Aish saat memasuki perpustakaan. Sudah ada empat murid lainnya yang terpilih dari kelas lain untuk mewakili SMA 72 di kompetisi ini.
"Waalaikumsalam" jawab mereka kompak.
"Bu Mirna ndak datang ya?" tanya Nindi.
"Beliau ada meeting di luar sekolah, sepertinya sudah berangkat" jawab Ilham.
Aish melihat ke sekelilingnya, sepertinya sudah aman. Yopi nggak mungkin ikut masuk ke dalam ruangan ini kan?
Di dalam ruangan sudah ada Ilham, Niki, Jeri dan Widya.
"Ini lembar tugas buat kalian, titipan Bu Mirna. Secepatnya kita kerjakan, terus bisa pulang" kata Ilham yang mendapat mandat dari bu Mirna untuk menjadi ketua diantara teman-temannya.
"Terimakasih" kata Aish dan Nindi yang telah menerima lembar tugas itu.
Mengamati sekilas, rupanya seratus soal yang ada merupakan kumpulan soal dari mata pelajaran yang diujikan dalam kompetisi ini. Ada kimia, biologi, fisika, bahasa, dan yang utama adalah matematika.
Aish dan kelima temannya terlihat serius mengerjakan tugas itu. Tidak ada yang bersuara dari mereka. Hanya desisan dari mulut yang sibuk membaca soal demi soal.
Dua jam berlalu, satu per satu dari mereka sudah berhasil menyelesaikan tugasnya.
Kini mereka sedang sibuk berdiskusi untuk mencocokkan jawaban mereka, dan mencari jawaban yang tepat saat ada jawaban yang berbeda.
Alih-alih ingin segera pulang, mereka malah pulang lewat karena terlalu asyik berdiskusi.
"Sudah setengah lima sore loh" kata Niki.
"Eh, iya. Keasyikan diskusi malah lupa waktu. Sudahan yuk, besok lagi" kata Widya.
"Iya, ayo" kata yang lainnya. Mereka merapikan peralatan yang ada dan segera keluar ruangan setelah berdoa bersama.
"Gue mau ke mushola dulu, Nin. Lo mau ikut apa pulang duluan?" tanya Aish.
"Sebenere aku lagi halangan sih, Aish. Tapi daripada kamu sendirian, aku temani ndak apa-apa deh" kata Nindi.
"Lo pulang saja, biar gue yang temani Aishyah" kata Yopi yang tiba-tiba sudah ada dibelakang Aish dan Nindi.
"Ya Allah tuhan, aku kaget loh, Yopi. Kamu tuh tiba-tiba nongol" kata Nindi.
"Dah, sana lo pulang saja" usir Yopi.
"Iya, iya. Aku pulang, kamu hati-hati ya Aishyah. Awas ada makhluk ndak jelas semacam Yopi" kata Nindi dengan lirikan tajam pada Yopi.
"Enak saja lo ngatain gue nggak jelas, muka ganteng gini lo nggak bisa lihat ya?" kata Yopi sedikit ngegas.
"Sudah, nggak usah berantem. Yaudah, lo balik duluan saja, Nin. Gue aman kok" kata Aish.
"Iya, aku duluan ya. Assalamualaikum, Aishyah" kata Nindi melambaikan tangannya, dan masih sempat meledek Yopi saat setengah berlari.
"Awas lo ya, cewek iklan shampo" kata Yopi.
"Kok iklan shampo sih?" tanya Aish.
"Ya emang gitu kan, rambutnya nggak pernah diikat. Kayak mau iklanin shampo saja" kata Yopi.
Aish hanya menggelengkan kepalanya, lalu berjalan ke arah mushola untuk menunaikan solat Ashar sebelum waktunya habis.
Ternyata Ilham dan beberapa temannya juga masih melaksanakan kewajibannya saat Aish memasuki mushola.
Sementara Yopi lagi-lagi harus menunggu Aishyah untuk pulang bersama.
Lima belas menit berlalu, akhirnya Yopi telah berhasil mengasah kesabarannya setelah melihat Aish keluar dari mushola.
"Sudah mau pulang nih?" tanya Yopi.
__ADS_1
"Iya, lo daritadi lo nungguin gue itu karena lo mau nebeng sama gue ya?" tanya Aish.
"Gue disuruh Richard buat memastikan keamanan lo selama berangkat sampai pulang sekolah" kata Yopi.
"Keamanan dari apa? Gue bisa jaga diri gue sendiri kok" kata Aish yang sudah selesai memakai sepatunya.
"Mana gue tahu, dia tuh sekarang sudah kayak bos gue. Soalnya dari dia kan gue bisa lanjut sekolah dan biayain hidup" kata Yopi yang mengiringi langkah Aish menuju parkiran.
"Gue rasa, lo nggak usah terlalu dengerin ucapannya Richard. Lo kan juga punya kehidupan sendiri yang perlu diperhatiin" kata Aish.
"Hutang budi gue sama dia sudah terlalu banyak, Aishyah. Nggak mungkin bisa dibayar meski dengan apapun. Jadi, dengan menjadi sahabat yang setia buat dia, gue harap bisa sedikit mengurangi beban di hati gue" kata Yopi.
Aish berhenti, memandangi Yopi yang tingginya hampir sama dengan Richard. Mendengar penuturan Yopi, Aish tersadar jika hidupnya lebih beruntung. Meski audah tidak punya orang tua, tapi yang dia tahu bahwa orang tuanya sangat menyayanginya meski hidup dalam kesederhanaan.
Sedangkan Yopi, terlahir sebagai anak orang kaya raya. Tapi nasibnya tidak lebih baik daripada Aish. Orang tuanya sudah mengusirnya, bahkan sudah mencoret namanya dari daftar keluarga.
"Ngapain lo natap gue kayak gitu? Please, Sya. Jangan lakukan ini kalau ada Richard, bisa-bisa gue dipenggal sama pacar lo itu" kata Yopi yang membuat Aish tersadar dari lamunannya.
Diapun melanjutkan langkahnya menuju parkiran tanpa berniat ngobrol lagi dengan Yopi.
"Sini kuncinya, biar gue boncengin lo. Biar princess nggak kecapekan" kata Yopi.
Aish memutar bola matanya, tapi memberikan juga kunci motornya pada Yopi. Daripada berbuntut panjang.
Yopi membonceng Aish dan menggunakan helm bergambar doraemon, senada dengan stiker motornya yang juga bergambar Doraemon. Memang Aish hanya punya satu helm itu saja. Dia sendiri tidak memakai helm jadinya.
Belum lama berkendara, ekor mata Aish menangkap bayangan seseorang yang sedang mendorong motornya di senja ini.
"Eh, berhenti dulu deh Yop" kata Aish sambil menepuk pundak Yopi.
"Kenapa sih?" tanya Yopi setelah menepikan motor di tempat aman.
Tanpa bicara, Aish berjalan menghampiri seseorang dibelakangnya.
"Motor lo kenapa, Ilham?" tanya Aish yang melihat Ilham mendorong motornya.
"Motor gue tiba-tiba mogok ni, Sya. Businys mati deh kayaknya" kata Ilham.
"Lumayan sih, mana sudah sore begini. Mana ada bengkel yang masih buka?" kata Ilham putus asa.
"Gue bantuin dorong deh" kata Aish yang langsung mendapat lirikan dari Yopi yang berdiri disebelahnya.
"Biar knalpot motor lo didorong pakai kakinya Yopi. Gue pernah lihat orang ngelakuin itu, biar lo nggak kemalaman juga. Sekalian cari bengkel" kata Aish.
"Mau kan Yop bantuin Ilham?" tanya Aish.
"Kalau lo nggak mau nggak apa-apa sih, biar gue sendiri yang bantuin Ilham" kata Aish.
"Boleh dong, apa sih yang enggak buat tuan putri junjungan gue?" kata Yopi pasrah, daripada mendapat amukan dari Richard.
Yopi mendorong motor itu sekalian membonceng Aish. Tapi sayang, sampai mereka sampai dirumah Ilham tetap saja tidak ada bengkel yang masih buka.
" Sampai rumah gue nih, maaf ya jadi ngrepotin kalian" kata Ilham sopan.
"Nggak apa-apa, Ilham. Itu kan gunanya teman" jawab Aish diiringi senyuman.
"Uwah, emang princess ini cantik banget kalau lagi senyum. Pantesan si Richard jelmaan es batu kutub Utara mencair lihat senyuman Aish dari negri tropis ini" batin Yopi.
Adzan Maghrib berkumandang, Aish masih diluar rumah Ilham.
"Adzan nih, ayo masuk dulu. Pamali surup gini ada diluar rumah" ajak Ilham.
Aish mengangguk meski tak begitu mengerti apa itu pamali. Yopi mengiringi meski dengan wajah masam.
"Ayo silahkan duduk" kata Ilham.
"Iya, makasih ya, Ilham" kata Aish.
"Kakak..."teriak seorang anak kecil menyambut kedatangan Ilham. Dia terlihat sangat senang sekali melihat kakaknya.
"Fira, kamu abis dari mana?" tanya Ilham.
"Buang sampah, kak. Ehm, sudah ada krayonnya kak? Lusa kan Fira ujian menggambar" tanya Fira yang tertunduk, tidak berani menatap kakaknya.
__ADS_1
Ilham menghembuskan napasnya kasar, "Kue yang kakak bawa tadi nggak terjual semuanya, dek. Jadi kakak belum bisa beliin kamu crayon. Maafin kakak ya" kata Ilham.
Anak kecil itu bersedih, "Nggak apa-apa deh kak, Fira pakai crayon yang lama. Nanti kalau perlu warna yang Fira nggak punya, kan bisa pinjam punya temannya Fira" kata anak kecil itu yang sudah kembali tersenyum.
Aish tersentuh melihat ketulusan anak sekecil itu, tidak marah saat permintaannya tak bisa dipenuhi.
"Hai, nama kamu siapa?" tanya Aish yang daritadi hanya diam.
Fira menoleh, dia tidak sadar kalau sedang ada tamu. "Nama aku Fira, kak. Maaf daritadi aku nggak tahu kalau ada temannya kak Ilham" kata Fira mendekat, dana mencium punggung tangan Aish dan Yopi.
"Iya, tidak apa-apa. Fira kelas berapa?" tanya Aish.
"Kelas empat kak" jawab Fira.
"Oh iya, kalau kalian mau solat bisa gue antar ke belakang buat ambil wudhu" kata Ilham.
"Oya, boleh" kata Aish berdiri, bersiap menuju tempat wudhu.
"Yopi nggak solat?" tanya Ilham.
"Dia non muslim, Ham" jawab Aish.
"Oh, iya. Maafin gue ya" kata Ilham.
"Nyantai, bro" kata Yopi.
Saat melewati dapur, ada seorang wanita paruh baya yang duduk diatas kursi roda. Sedang sibuk dengan adonan kue.
"Bu, teman Ilham mau numpang solat" kata Ilham menghampiri ibunya, dan menyalimi. Aish mendekat dan ikut menyalimi ibu Ilham.
"Iya, tidak apa-apa. Tapi kondisinya ya seperti ini, nduk" kata ibu Ilham.
"Nggak apa-apa kok bu" jawab Aish.
"Ayo, Sya" ajak Ilham.
Aish menuju kamar mandi yang airnya didapat dengan cara menimba dulu. Dalam hati Aish selalu bersyukur pada keadaannya dirumah yang tidak perlu susah payah untuk mendapatkan air.
Setelah solat, mereka kembali ke ruang tamu. Sidah tersedia dua cangkir teh untuknya dan Yopi. Bahkan milik Yopi sudah tinggal separuhnya.
"Lo jual kue, Ilham?" tanya Aish.
"Iya, buat nambah-nambah duit jajannya si Fira" kata Ilham tersenyum.
"Kue apa sih?" tanya Aish.
"Ibu gue bisanya bikin bolu sama donat. Biasanya gue bawa itu buat dijual di sekolah" kata Ilham. Aish manggut-manggut mendengarnya.
"Sudah mau malam nih, kita balik dulu ya, Ham" kata Aish berpamitan.
"Iya, makasih sudah bantuin gue tadi" kata Ilham.
"Terus gimana dong kalau motor lo masih mogok juga?" tanya Aish.
"Nggak apa-apa, Sya. Mungkin businya yang sudah soak. Masih punya cadangan kok gue, nanti gue ganti sendiri" kata Ilham.
"Oh, yaudah. Kita balik ya, salam buat ibu dan Fira" kata Aish.
"Iya, makasih sekali lagi. Sorry juga ibu gue nggak bisa nemenin kalian" kata Ilham.
Aish sudah berada diatas motornya bersama Yopi. Bersama menuju jalan pulang.
"Baru kali ini gue lihat kemiskinan secara langsung. Dan ternyata, itu ada ya" kata Yopi.
.
.
.
.
.
__ADS_1