
"Kenapa diam saja daritadi? Kamu ndak apa-apa kan, Yop?" Nindi merasa aneh karena sejak tadi setelah sarapan, Yopi terlihat jadi pendiam.
"Nggak apa-apa, Nin" Yopi tersenyum untuk menutupi perasaannya, sedikit mengacak ujung rambut di kepala Nindi. Membuat Nindi merasa jadi diperhatikan.
Perasaan Nindi mengatakan jika Yopi sedang tidak baik-baik saja. Tapi dia tak punya keberanian lebih untuk menanyakan itu padanya.
Diatas motor pun Yopi masih diam saja.
Entah apa yang Yopi rasakan saat ini. Setelah melihat foto bayi yang Aish gunakan sebagai status di sosmednya, Yopi merasa ada getaran aneh yang membuatnya merasa ingin selalu melihat bayi lucu itu.
Mata Yopi terasa panas, bukan karena terpaan angin saat mengendarai motor. Tapi seperti ada ledakan-ledakan aneh dari dalam hatinya yang menyalur ke matanya, rasanya akan meluap seperti banjir bandang yang tak kuat dialirkan oleh badan sungai.
Yopi menghentikan laju sepeda motor di pinggir jalan yang sepi. Dibawah rindangnya ranting-ranting pohon yang menaungi dari terpaan sinar matahari.
Nindi turun dari motor, sedikit melangkah ke depan untuk bisa melihat keadaan Yopi yang sedang menunduk, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kamu kenapa, Yop?" pelan saja Nindi bertanya, takut membuat Yopi merasa kesal.
Belum ada sahutan darinya, Nindi menunggu dengan sabar sambil menepuk pelan punggung Yopi. Berusaha memberi sedikit kekuatan padanya.
Yopi memaksakan senyumnya saat memandang wajah teduh Nindi yang menyambutnya juga dengan senyuman sehangat matahari pagi ini.
"Gue nggak ngerti, Nin. Setelah melihat foto yang Aish pajang di statusnya, gue ngerasa rindu" kata Yopi yang mulai mau membuka sedikit keluh kesahnya.
"Rindu yang gue sendiri nggak tahu maksudnya gimana. Tapi gue ngerasa setelah melihat foto itu, hati gue rasanya hangat. Gue sendiri bingung banget" kata Yopi.
Nindi masih mendengarkan dengan sabar, dia bersedia menjadi rekan curhat untuk Yopi.
"Memangnya apa alasan yang membuat kamu jadi merasa seperti itu? Sebelumnya kan kamu baik-baik aja toh?" tanya Nindi heran.
"Ada sesuatu yang lo belum tahu, tentang masa lalu gue" kata Yopi, dia masih bimbang untuk bercerita tentang hubungannya dengan Emily pada Nindi.
"Kita cari tempat yang nyaman buat ngobrol, yuk. Aku tahu lho tempat yang bagus buat nenangin diri" Nindi menawarkan kesempatan untuk Yopi.
"Ehm, boleh deh. Jauh nggak?" tanya Yopi.
"Ndak kok, ayo naik. Apa aku yang bonceng nih?" tanya Nindi.
"Emangnya lo bisa naik motor?" tanya Yopi meremehkan.
"Loh, ngejek kamu ya. Aku tuh bisa naik motor, cuma memang ndak ada yang mau dipakai. Soalnya motor satu-satunya dirumahku kan dipakai sama ayah kerja" kata Nindi.
"Boleh deh, coba lo yang bawa motornya. Sekali-sekali pengen juga gue jadi penumpang" kata Yopi yang sudah bersiap duduk di jok penumpang.
"Boleh" kata Nindi, dia naik ke atas motor. Mengaitkan tali helm dengan sempurna sebelum beranjak pergi.
"Pegangan ya, nanti kami jatuh lho" kata Nindi yang sudah menjalankan motor Aish dengan pelan.
"Siap" jawab Yopi singkat.
Ternyata memang Nindi bisa juga mengendarai motor. Dia melajukan motor ke tempat yang direncanakannya.
Tak butuh waktu lama, sekitar sepuluh menit berkendara ternyata Nindi sudah menghentikan laju sepeda motor. Diapun bersiap untuk turun.
"Ngapain ke sini, Nin?" tanya Yopi tidak mengerti, Nindi membawanya ke pinggir sungai di bawah jembatan.
"Ayo aku tunjukin tempat ngadem yang nyaman" Nindi menggandeng tangan Yopi saat berjalan lebih mendekat ke arah sungai.
Sambil mengedarkan pandangan, Yopi menurut saja pada Nindi yang entah akan membawanya kemana.
"Nah, sini duduk disini" ajak Nindi.
Dia menyuruh Yopi duduk diatas sebuah batu besar yang ada di tepian sungai. Batu yang dilindungi oleh dedaunan dari panasnya sinar matahari oleh tingginya pohon yang hidup ditepi sungai.
Sedikit ragu, tapi Yopi ikut saja saat melihat Nindi sudah lebih dulu duduk di atas batu itu.
"Nyaman juga" gumam Yopi, apalagi ada juga angin sepoi-sepoi yang seolah meniup tubuh Yopi yang gerah di siang ini.
"Lo sering kesini?" tanya Yopi, dia melihat Nindi sedang melemparkan batu-batu kecil ke tengah sungai.
"Sering, biasanya aku tuh kalau lagi suntuk ya kesini ini. Ngadem" kata Nindi.
__ADS_1
"Nyari wangsit lo kesini? Aneh banget" ejek Yopi.
"Enak aja suasananya disini, aku bisa seharian ngadem disini. Biasanya sih sambil bawa alat pancing, hehe" Nindi terkikik menceritakan kebiasaannya saat libur sekolah.
"Mancing? Sendirian?" tanya Yopi tak percaya, apakah aman disini sendirian? Apalagi Nindi kan cewek.
"Kadang sendirian, kadang sama adikku" kata Nindi.
"Oh iya, tadi kamu kenapa sampai sedih gitu? Aku tuh ndak tega lihat kamu sedih begitu, ndak biasanya" Nindi teringat tujuannya kesini untuk mengintrogasi Yopi.
"Iya, jadi ada masa lalu gue yang elo belum tahu" kata Yopi.
"Gue sebenarnya nggak yakin kalau lo masih mau temenan sama gue setelah lo tahu kisah gue" kata Yopi.
"Aku tuh bukan tipe orang yang suka pilih-pilih teman sih ,Yop. Masalah kamu itu kan urusan kamu sendiri, aku ndak berhak buat ikut campur. Tapi kalau kamu mau curhat sama aku, ya bakalan aku dengar. Terlepas itu baik ataupun buruk, ndak bakalan berpengaruh buat pertemanan kita" kata Nindi meyakini bahwa dia tulus berteman dengan Yopi.
"Kalau aku bisa ngasih kamu saran, ya aku kasih saran sebisaku. Mau kamu dengerin aku atau ndak ya itu juga hak kamu. Aku ndak bakalan maksa. Tapi yang jelas, aku ndak bakalan ninggalin kamu" panjang lebar Nindi menjelaskan, tapi maksudnya sesingkat itu.
"Iya, gue percaya sama lo. Jadi, dulu waktu gue masih SMP. Lo pasti tahu sahabat gue Richard sama Reno, tapi ada satu lagi waktu itu, Brian. Kalau sekarang yang lo kenal dia itu namanya Falen, sahabatnya Aish" Yopi mengawali ceritanya.
"Oh iya, Falen sahabat kalian. Kok sekarang ndak pernah kelihatan sama-sama gitu?" tanya Nindi penasaran.
Yopi pun mulai menceritakan awal perkenalannya dengan Emily, hal-hal yang membuat mereka saling jatuh cinta. Dan akhir dari kisah cintanya yang telah membuahkan hasil berupa seorang bayi yang mungkin sekarang sudah dilahirkan oleh Emily.
Itupun jika Emily benar-benar ingin terus mempertahankan kehamilannya, seperti yang dia katakan dulu.
Nindi terus menyimak cerita Yopi dengan baik. Kadang ikut tersenyum saat Yopi tersenyum, kadang dia meneteskan air matanya juga saat mendengar tulusnya persahabatan mereka bertiga.
Apalagi di part kebimbangan Richard untuk memilih diantara Aish yang saat itu sedang melakukan sidang, atau menunggui Yopi yang sedang terbaring lemah di rumah sakit.
Nindi jadi terharu, dibalik dinginnya sikap Richard ternyata ada jiwa setia kawan yang sangat tinggi.
Hingga saat Richard menyuruh Yopi untuk menjadi penjaga Aish di sekolah barunya, Nindi jadi tahu betapa besar rasa cinta Richard pada Aish.
"Beruntung banget ya Aish bisa mendapatkan hati Richard" kata Nindi.
"Iya, itu juga alasan kenapa gue nggak pernah nolak keinginan dan perintah Richard maupun Aish ke gue. Mereka sudah lebih dari saudara buat gue" kata Yopi.
"Jadi, kamu pikir kalau foto bayi dalam ponsel Aish itu fotonya anak kamu gitu?" tanya Nindi.
Ada sedikit kelegaan di hatinya setelah beban dalam hatinya keluar lewat tuturan kata dan di dengarkan dengan baik oleh teman bicaranya.
"Oh, gitu. Terus kenapa kamu jadi sedih banget gitu sih, Yop?" tanya Nindi.
"Gue jadi kepikiran Emily, dia melewati semuanya sendirian. Sedangkan gue disini nggak ngelakuin apapun buat dia. Gue juga pingin lihat seperti apa wajah anak gue" kata Yopi menyesalkan semuanya.
"Kamu coba cari tau aja informasi tentang Emily dari akun sosmednya, gimana?" saran Nindi.
"Sudah, tapi semua akun sosmednya sudah nggak aktif semua. Dan gue masih belum punya keberanian lebih buat tanya sama keluarganya".
"Eh, elo sendiri gimana? Gimana kabarnya sama kakak kelas lo yang waktu itu lo ceritain sama gue?" Yopi juga penasaran pada kehidupan pribadi Nindi kali ini.
"Ehm... kak Fahri juga jarang banget kasih kabar sama aku, Yop. Kalau bukan aku yang ngechatt dia duluan, itupun balasnya juga lama. Bahkan kadang juga ndak dibalas" sesal Nindi yang tak juga bisa move on dari Fahri.
"Coba lo cari cowok lain deh, Nin. Menurut gue sebagai cowok nih, kalau sudah sulit ngasih kabar kayak gitu itu biasanya kita tuh sudah males, kayak nggak suka gitu deh. Ngerasa terganggu, makanya nggak kasih kabar" kata Yopi memberi saran.
"Ada suatu hal yang bikin aku tih ndak mungkin bisa lepas dari dia, Yop" kata Nindi.
"Apa?" tanya Yopi.
"Ada, satu hal yang nggak mungkin aku bagi sama orang lain. Dan dia yang sudah dapatkan itu" terdengar sesal dari nada bicara Nindi.
Kali ini Yopi sudah tak berniat untuk menanyakan lebih lanjut pada Nindi, karena percuma. Gadis itu tidak mungkin untuk melanjutkan ceritanya.
Ponsel Yopi berbunyi, ada pesan masuk kesana.
Mimik wajahnya berubah setelah membaca pesannya.
"Kenapa Yop?" tanya Nindi.
"Si bos ngajak gue ke Bandung sekarang, ngambil pesanan gitar disana" jawab Yopi.
__ADS_1
"Ehm, yaudah kita balik aja" kata Nindi.
"Nanti kapan-kapan kita ketemu lagi ya, dan satu lagi, jangan bilang siapa-siapa kalau kita sering jalan berdua, Nin" kata Yopi.
★★★★★
"Masih belum mau bilang, foto bayi itu anaknya siapa?" daritadi Richard masih saja bertanya tentang foto Silvia, bayi Emily yang Aish rahasiakan.
"Nggak mau, kan gue sudah bilang kalau itu rahasia. Nanti deh, kalau sudah waktunya gue kasih tau. Sekarang, sabar dulu ya" jawab Aish, sengaja menampilkan senyum aneh agar Richard semakin penasaran.
Aish sudah bersiap dengan seragamnya, meski ini hari Minggu, dia tetap masuk kerja karena memang sudah terjadwal.
Hari libur mereka bukan di week end, karena week end adalah waktunya cafe diserbu pengunjung.
"Lagian lo kenapa kepo banget sih, Richard. Bayi kan banyak, kalau gue pajang foto bayi itu bukan karena ada apa-apa. Ya cuma karena gue lagi pengen aja. Apalagi bayinya lucu banget, gimbul kayak Silvia itu" kata Aish yang sedang merapikan hijabnya sambil bercermin.
"Kayaknya sih, itu kode buat lo, Ri. Soalnya Aishyah itu pengen lo bikinin bayi gemes kayak gitu" Reno menyambar pembicaraan temannya, jiwa mengejeknya sudah meronta.
"Oh, benar juga lo, Ren. Lo sudah pingin banget punya bayi ya, Ra. Ayo kita segerakan" kata Richard sambil berdiri, menggandeng tangan Aish. Membuat Aish kebingungan.
"Apaan sih, lo narik gue mau kemana, Richard?" tanya Aish.
"Ke KUA dong, memangnya kemana lagi?" kata Richard dengan tawanya.
Aish menepis tangan Richard, "Mana ada KUA yang buka di hari Minggu, ngaco mulu" katanya.
Reno tertawa melihat kelakuan dua sahabatnya itu.
"Besok deh, lo jangan banyak alasan lagi" kata Richard yang kembali duduk di tempatnya.
"Besok gue ingetin lagi" kata Reno.
"Bercanda terus. Kalian kan mau pergi, kenapa nggak berangkat juga sih?" tanya Aish yang sudah siap bekerja.
"Nungguin Yopi, kemana sih tuh anak. Lama banget" kata Reno menggerutu.
"I'm coming" teriak Yopi yang baru muncul dari arah tangga.
"Gue ke bawah duluan ya, kalian hati-hati kalau berangkat" kata Aish yang sudah bersiap turun.
"Ra, lo lupa sesuatu ya?" tanya Richard sedikit berteriak, membuat langkah Aish terhenti.
"Apa?" tanya Aish sambil menoleh.
Richard mencium udara, dengan wajah diimut-imutkan. Membuat Aish sedikit jengkel karena telah berhasil dikerjai olehnya di depan teman-temannya.
Reno dan Yopi sudah terpingkal, sementara Aish berbalik badan dan menggerutu tak jelas sambil menuruni anak tangga.
"Sumpah jijik banget gue lihat muka lo yang kayak gitu, Ri" kata Reno yang masih menyisakan sedikit tawa.
"Gue juga, aneh banget ngelihatnya" kata Yopi.
Sementara Richard sudah kembali ke mode semula. Diam.
" Gue juga heran, kenapa gue bisa sayang banget sama tuh cewek" kata Richard dengan tampang sok cuek.
"Lo sudah kena karma sih kalau menurut gue" Reno berseloroh.
"Seharusnya yang kena karma itu Yopi, dia kan pacaran garis keras" kata Richard, mengamati Yopi dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
Merasa risih dengan tatapan Richard, diapun menjawab "Gue sudah kena karmanya, bego. Masih kurang lo lihat keadaan gue sekarang? Miskin, harus kerja keras, jadi body guard nya cewek lo, hidup numpang di rumah orang".
"Coba lo sebutin lagi karma yang harus gue jalani. Pasti gue lakuin dengan ikhlas" kata Yopi dengan tampang memelas.
"Iya, nasib lo benar-benar mengenaskan Yop. Gue turut prihatin" kata Reno menepuk pelan pundak Yopi, seolah memberinya kekuatan.
"Lo jadi saksi nya ya, gua nggak bakalan pernah menginjakkan kaki di rumah orang tua gue. Dan gue pastiin, kalau gue sudah sukses nanti, mereka yang bakal nyari gue. Tapi pasti gue nggak mau sama mereka yang sudah ngebuang gue kayak sampah" dengan penuh percaya diri, Yopi berkata.
"Tapi mereka nggak bakal nyariin lo juga sih, Yop. Hidup mereka sudah ditanggung negara, jadi harta dari lo juga nggak akan ada gunanya" kata Reno.
"Iya, benar apa yang lo bilang, Ren. Sudah, yuk berangkat" Richard beranjak dari tempat duduknya, diikuti Yopi dan Reno disampingnya.
__ADS_1
Bersama mereka merintis usaha, sesuai hobi dan keberuntungan bersama.
Semoga nanti kalian bertiga juga sukses bersama ya...