
"Hoam.... engmh...." Nindi mengerjapkan matanya, entah sudah berapa lama dia tertidur.
Yopi yang duduk di depan kursi meja riasnya terlihat sudah rapi, dia memandangi Nindi yang baru saja terbangun.
"Sudah bangun?" Yopi menyapa teman yang semalaman telah mengarungi malam bersama, terlihat dia tersenyum.
"He em... Jam berapa ini?" tanya Nindi, masih belum bisa membuka matanya. Kemarin dia terlalu banyak menangis, hingga membuat matanya masih terlihat sembab siang ini.
"Jam satu siang" kata Yopi.
Nindi terkejut, sudah sesiang ini rupanya. Pantas saja perutnya sudah terasa lapar.
"Hah? Sudah siang banget. Kamu kok ndak bangunin aku daritadi sih, Yop?" tanya Nindi, sambil memegangi selimutnya agar tidak menampakkan apapun dari dalam sana.
"Gue sendiri juga baru bangun, Nin. Baru saja kelar mandi, terus balik lagi kesini" kata Yopi yang masih memperhatikan tingkah laku Nindi.
"Masak sih? Aku mandi juga deh, kamu keluar sana. Aku kan mau pakai baju, Yop" kata Nindi, bingung harus bersikap bagaimana.
"Tinggal pakai doang apa susahnya sih? Kenapa masih ngusir segala?" tanya Yopi yang tak mau beranjak dari tempatnya.
"Aku kan malu, Yop. Ish, kamu ini" kata Nindi melempar bantal ke arah Yopi, tapi mudah saja Yopi menangkapnya.
"Kenapa harus malu? Gue sudah tahu semuanya kok" goda Yopi.
Nindi melirik tajam pada Yopi, sungguh memalukan. Seharusnya dia bisa mengontrol diri. Kenapa jadinya serasa murahan sekali.
"Mbuh lah, aku mau mandi saja" kata Nindi yang sudah mode ngambek, menyesalpun tak ada gunanya.
Dia berdiri dengan selimut yang digulungkan di tubuhnya hingga sebatas dada. Dan beranjak dari ranjangnya, menuju kamar mandi.
"Jangan marah dong, Nin" Yopi masih sempat menggoda wanita cantik yang berjalan agak tertatih itu.
Sepeninggal Nindi, Yopi jadi berfikir. Dia itu sebenarnya gadis yang polos. Jadi, bagaimana bisa Fahri sampai mengambil keperawanannya?
Dipaksakah?
Atau, suka sama suka?
Atau, Fahri menjanjikan suatu hal pada Nindi?
Yopi akan menanyakan hal itu nanti.
Sengaja Yopi tak mengaktifkan ponselnya, dia tahu kalau sedang dicari oleh keluarga barunya.
"Biar nanti saja gue langsung ke cafe, pasti si Aishyah lagi nyariin gue deh" gumam Yopi.
Hatinya menghangat mengingat segala kebaikan dari teman-temannya, dari orang tua barunya, dari semua orang yang masih mau menerimanya saat keluarga kandungnya membuang Yopi seperti sampah.
Dan Yopi tidak mau mereka kecewa jika tahu kalau dia sudah berbuat nakal lagi.
Yopi mendesah, sebegitu susahnya mengendalikan hawa nafsunya. "Pasti karena gue keturunannya bokap gue yang jahat itu" selorohnya menyalahkan ayahnya.
Dia beranjak, akan menunggu Nindi di ruang tamunya saja.
"Uwaah... cantik banget" kata Yopi saat Nindi datang menemuinya, rambut basahnya masih tergerai indah. Sudah tak ada lagi tetesan air dari ujung-ujung rambut Nindi.
"Apaan sih. Kok lapar, ya. Makan yuk, Yop" kata Nindi yang mengajak Yopi makan.
"Ayo, lo mau makan apa?" tanya Yopi, dia sudah berpenghasilan lumayan dari cafe Richard. Jadi kalau hanya untuk mentraktir makan Nindi, Yopi sudah sanggup melakukannya.
"Aku masakin yah" kata Nindi.
"Emangnya lo bisa masak?" tanya Yopi bersemangat.
"Nggak bisa, sih. Hehehe" kata Nindi diakhiri tawa riangnya.
Yopi senang melihat Nindi yang sudah bisa tertawa seperti itu.
Tapi mendengar penuturannya barusan malah meruntuhkan ekspektasi Yopi yang terlalu tinggi terhadap wanita ini.
"Yeee... gue kira bisa masak, segala pakai nawarin mau dimasakin apa" kata Yopi, sengaja menampilkan wajah kecewa yang dibuat-buat.
"Ndak bisa aku masak, takut kecipratan minyak. Panas banget itu rasanya, kapok aku" kata Nindi.
"Oke, gue terima alasan lo. Yaudah, lo mau makan apa?" tanya Yopi lagi.
"Nasi padang saja ya, porsinya banyak, hehe... Laper berat aku tuh" kata Nindi sambil memegangi perutnya.
Jelas saja kalian kelaparan, terlalu asyik berkegiatan bersama sejak semalam dan ketiduran hingga melewati waktu sarapan. Bahkan baru sempat mencari makan di jam yang sudah lewat.
__ADS_1
"Ayo, berangkat" kata Yopi yang sudah berdiri, dia masih memakai pakaiannya yang kemarin.
Sedangkan di sekolah, Aish masih saja gelisah karena tak bisa menghubungi Yopi. Sampai pulang sekolah, nomor ponselnya masih tidak bisa dihubungi.
"Ke cafe bareng gue yuk, Aish?" ajak Ilham yang melihat Aish masih di halte. Tidak biasanya.
"Lo nggak pulang dulu? Nanti dicariin sama adek lo lagi" kata Aish.
"Lo sendiri tumben banget sih? Yopi kemana?" tanya Ilham.
"Nggak tahu gue, Ham. Dari tadi pagi nomernya nggak aktif, bahkan hari ini dia nggak masuk sekolah" kata Aish yang menyiratkan kekhawatiran pada Yopi.
"Lo sudah coba tanyain sama Richard atau Reno?" tanya Ilham.
"Richard hari ini kan nggak bisa diganggu, Ham. Ada urusan sama papanya, kalau Reno sendiri sudah gue hubungi. Tapi dia bilang juga nggak tahu keberadaan Yopi" kata Aish berdiri di samping Ilham yang duduk diatas motornya.
"Terus gimana? Lo mau bareng gue apa gimana ini?" tanya Ilham yang jadi ikutan bingung melihat Aish yang gelisah.
"Gue saja yang anterin lo, Sya" tiba-tiba Mike muncul dari belakang Aish.
Rupanya cowok itu daritadi ada disana.
Aish melihat lagi tampilan motor Mike yang tadi pagi ditumpanginya. Dan Aish tidak berminat untuk naik itu lagi.
Bukannya sombong atau apa, tapi naik motor yang sudah dimodifikasi seperti itu sangat tidak nyaman.
Bayangkan saja, knalpot brong yang dipakai mengeluarkan bunyi yang sangat memekakkan telinga.
Belum lagi joknya yang lebih tinggi di bagian belakang, rasanya pantat Aish tinggi sebelah saat berada diatasnya. Pinggangnya sedikit sakit setelah turun dari motor itu.
Dan lagi, tidak ada footstep atau pijakan kaki yang terpasang di bagian bawah motor itu. Membuat kaki penumpangnya menggantung tak nyaman, sakit.
Aish menggelengkan kepalanya setelah mengamati motor Mike, tersadar dari lamunannya yang menilai kondisi motor racing milik Mike.
"Gimana, mau nggak Sya?" tanya Mike lagi, biasanya cewek-cewek kan suka kalau diajak naik motor yang di modif. Karena merasa keren.
"Sorry banget nih, Mike. Gue naik angkot saja nggak apa-apa" tolak Aish secara halus, semoga Mike tidak sakit hati.
"Oke deh, gue ngerti kok kenapa lo nggak mau bareng gue. Pasti lo takut sama Richard ya?" tanya Mike, dia sudah salah paham.
"Enggak, bukannya gitu. Cuma memang maaf nih ya Mike, gue nggak nyaman naik motor lo. Terlalu keren buat cewek sebiasa gue" kata Aish yang sudah melambaikan tangannya saat melihat angkot jurusan ke cafenya.
"Gue duluan ya Ilham, Mike. Makasih sudah nemenin" kata Aish yang sudah memasuki angkot dengan penumpang yang cukup berdesakan.
Kebetulan dia sedang duduk di bangku paling belakang, di dekat jendela.
Kondisi jalan lumayan macet tapi masih bisa berjalan. Pandangan Aish menangkap sosok yang dari tadi pagi sedang dicarinya.
Iya, Aish melihat Yopi sedang berkendara menggunakan motornya. Membonceng seorang gadis yang tak nampak jelas dalam pandangan Aish. Gadis itu memakai jaket, masker dan helm yang kacanya hitam.
Aish menajamkan pandangannya, "Benar kok, itu Yopi" gumam Aish.
Untung saja ponselnya berada dalam genggaman, jadi mudah saja baginya untuk memotret Yopi yang tak menyadari keberadaan Aish.
Nanti saat Yopi sengaja mengelak lagi saat ditanya, coba saja. Aish ingin mendengar alasan apa yang akan Yopi katakan padanya.
"Awas ya lo, Yopi. Ngilang dari kemarin rupanya lagi main sama cewek, ya" Aish sedikit geram.
Bukannya mau ikut campur urusan pribadi Yopi, tapi ada Emily di seberang lautan sana. Yang sedang menunggu waktu untuk mengabari Yopi tentang keberadaan Silvia.
Bahkan Emily sudah menyiapkan hadiah sebagai awal kembalinya pada Yopi. Dan Aish sendiri yang menyumbang ide untuknya.
"Nggak bisa dibiarkan ini, Richard sudah terlalu membiarkan Yopi bermain terlalu jauh. Awas juga nanti si Richard, semoga nanti dia ke cafe" Aish merasa seperti seorang ibu yang mendapati anaknya sedang berbuat nakal.
Masih mengamati Yopi dan temannya, rupanya pandangan Yopi tak sengaja terpaut dengan Aish yang berada di dalam Angkot.
Aish membelalakkan matanya, wajah judesnya ditampilkan semaksimal mungkin. Dan menyiratkan gaya untuk memotong leher Yopi saat dia melihatnya.
"Awas lo, Yop" gerakan bibir Aish dibuat sejelas mungkin agar Yopi melihatnya.
Aish mengangkat ponselnya, menyiratkan agar Yopi segera menghidupkan ponsel itu.
Yopi tentu sangat terkejut, dia lupa jika ini adalah jam pulang sekolah. Dan Yopi telah melewati jalur yang salah.
"Sial banget sih, kenapa ketemu ibu negara disini sih, pasti ngadu nih nanti sama presiden. Sial .... Sial... banget gue" kata Yopi lirih, Nindi tak merasakan kegelisahan Yopi.
"Nin, mendingan lo ngadep ke kanan saja ya. Soalnya ada ibu negara di dalam angkot itu" kata Yopi.
"Hah? Ibu negara siapa sih, Yop?" tanya Nindi tak mengerti.
__ADS_1
"Nanti gue ceritain. Sekarang pokoknya jangan ngadep kiri" perintah Yopi.
Nindi jadi ikut khawatir, memangnya siapa sih ibu negara?
★★★★★
Aish masih bersungut-sungut saat memasuki kawasan cafe. Rasa geramnya tak bisa disembunyikan. Apalagi jam macet membuat angkot yang ditumpanginya tak bisa ngebut seperti biasanya.
Emosinya menumpuk, seperti gunung api yang siap meledak.
"Tuh kan, enak banget sih dek Aish ini. Mana ada yang berani marahi dia meskipun jelas-jelas telat" cukup sudah, telinga Aish jadi gatal mendengar sindiran Santi yang terdengar setiap waktu.
Santi sengaja mengeraskan ucapannya saat berbincang dengan waiters yang lain.
"Iya, enak banget. Lo mau jadi gue? Oke, nanti gue sampein ke Richard segala keluh kesah elo selama ini" kata Aish yang melewati Santu begitu saja, menuju ke atas untuk ganti baju.
"Aduh, kenapa sih hari ini? Ada aja kejadian. Pokoknya awas lo nanti, Yop" gerutu Aish yang menaiki tangga.
"Kenapa sih lo, Sya?" tanya Reno yang berpapasan dengan Aish di tangga.
Reno sudah siap menuju ke studio, gedung yang bersebelahan dengan cafe ini. Tanggung jawab studio itu ada di tangan Reno, sedangkan cafe di tangan Yopi.
Tentunya dibawah pengawasan Richard dan Willy yang masih menjadi orang yang membantu jalannya usaha ini.
"Lo kasih tahu ya sama teman lo yang namanya Yopi itu, jangan suka main perempuan. Dia itu masih kecil lho Ren, mau jadi apa masa depannya kalau sudah seperti ini dimasa mudanya?" akhirnya Aish menemukan tempat yang cocok untuk meluapkan amarahnya.
Dan sialnya, itu adalah Reno.
"Bentar deh, lo kenapa sih baru datang tiba-tiba marah gitu? Mana gue lagi yang kena semprot, sial banget nasib gue" kata Reno sambil mengelus dada.
"Bodo amat, pokoknya lo harus ngingetin Yopi biar sadar tuh anak. Sebel banget gue sama dia" kata Aish masih berapi-api.
"Gue nggak ngerti sih maksud elo, gue bukan Richard yang ngerti kode-kode buatan lo, Sya. Jelasin yang benar dong" kata Reno.
"Yopi nggak masuk sekolah, Ren. Dan lo tahu apa yang gue lihat? Dia lagi boncengan sama cewek, barusan gue lihat dia di jalan waktu gue mau kesini" Aish masih mengambil nafas sebelum melanjutkan ucapannya.
"Mana dia pakai motor gue lagi. Gimana kalau motor gue dibawa dia untuk ngelakuin hal yang nggak benar? Gue juga dimintai pertanggungjawaban nanti di akhirat" kata Aish.
"Iya, iya... Bu ustazah, nanti gue marahi deh Yopi nya, ya. Elo jangan marah-marah lagi, sabar" kata Reno.
"Astaghfirullah, iya juga ya. Kenapa gue kadi marah-marah begini sih" gumam Aish.
"Gue ke atas dulu deh, mau ganti baju seragam. Yang lainnya sudah pada kerja tapi gue malah lagi pidato disini" kata Aish yang menggerutu sambil meninggalkan Reno.
Reno terbengong melihat kelakuan Aish, "Lucu banget emang tuh anak. Makanya Richard jadi kesemsem sama dia" kata Reno sambil menggelengkan kepalanya.
Diapun meneruskan perjalannya menuruni tangga dan segera menuju ke gedung sebelah.
Dan di sana, Yopi sudah tak bisa lagi tenang. Dia bingung mencari alasan apa yang tepat untuk dijadikan jawaban saat nanti diintrogasi oleh Aish dan jajaran pengamanan yang lainnya.
"Kamu kenapa soh, Yop? Jadi ndak tenang gitu?" tanya Nindi yang melihat Yopi hanya mengaduk makanannya.
"Tadi gue ngelihat Aish di angkot" kata Yopi singkat.
Nindi terkejut, jadi ikut kepikiran.
"Dia sadar ndak ya kalau aku yang lagi sama kamu, Yop?" tanya Nindi.
"Kayaknya sih enggak, Nin. Sekarang yang jadi masalahnya, alasan apa nanti yang akan gue jadikan jawaban buat dia kalau gue diintrogasi?" tanya Yopi mencari bahan pertimbangan dari Nindi.
"Apa ya? Haduh, jadi ikutan bingung aku" keluh Nindi yang hilang juga nafsu makannya.
"Biar jadi urusan nanti deh. Sekarang lo cepetan habisin makanannya, terus gue mau langsung pulang abis ini ya" kata Yopi.
"Langsung ke cafe?" tanya Nindi.
"Enggak Nin, gue ke rumah dulu mau ganti baju. Pasti enyak dirumah juga lagi khawatir sama gue. Takutnya malah enyak nanya ke bang Rian. Bisa tambah runyam nanti" kata Yopi yang sudah seperti maling yang tertangkap basah.
"Yaudah kalau gitu, nanti kamu kasih tahu aku ya akhirnya bagaimana. Tapi jangan bilang Aish kalau kamu sama aku, Yop. Aku ndak mau dia jadi ndak suka sama aku. Soalnya dia sering ngingetin aku supaya ndak dekat-dekat sama kamu" kata Nindi.
"Masak sih dia bilang gitu? Terus dia juga ceritain tentang Emily nggak sama lo?" tanya Yopi penasaran.
"Ndak pernah sih Yop. Dia cuma bilang kalau Yopi itu sudah sold out, gitu katanya" kata Nindi menirukan alasan yang Aish buat.
.
.
.
__ADS_1
.
.