
"Gue sama Richard semalam ke rumahnya Emily, katanya kalian habis dimarahi sama bokap lo ya, Yop?" tanya Reno dengan mulut masih mengunyah makan siangnya.
"Gue haus, Ren. Boleh tolongin gue minum?" tanya Yopi sebelum memulai ceritanya.
"Oh, tentu. Apa yang tidak buat lo" kata Reno mengambilkan air mineral dalam botol yang telah diberi sedotan.
"Tenang bro, pelan-pelan saja dong" kata Reno yang melihat Yopi minum seperti orang baru selesai lari maraton.
"Makasih, bro" kata Yopi yang telah melepas sedotan dari dalam mulutnya.
"Iya, pulang sekolah Jum'at kemarin gue jemput Emily, terus pas gue antar ke rumahnya ternyata bokapnya lagi dirumah. Akhirnya, kita sepakat untuk terus terang dengan masalah kami".
"Gue jadi ngerasa bersalah banget, soalnya bokapnya Emily tuh ternyata baik banget meskipun tampilannya tegas. Bahkan beliau nyalahin diri sendiri karena menganggap nggak becus mendidik anaknya".
"Cukup lama gue ngobrol sama mereka, sebelum kita memutuskan untuk ke rumah gue. Kita mau ngibrolin masalah ini sama orang tua gue. Huft, disinilah awal dari kemarahan ayah gue" Yopi menatap langit-langit ruangan saat mengingat kejadian waktu itu.
"Awalnya semua baik-baik saja, sebelum ayah tahu masalah kami. Tapi setelah gue ceritain kalau Emily hamil, ayah marah banget. Bahkan ayah mukul gue didepan keluarga Emily".
"Ayah Emily sempat nahan kelakuan ayah, gue jadi terharu banget. Nggak nyangka kalau bokapnya Emily masih mau bantuin gue meskipun gue sudah bersalah".
"Terus?" tanya Reno. Richard hanya diam mendengarkan sambil meneruskan acara makan siangnya.
"Emily dan keluarganya diusir sama ayah, secara tidak hormat. Gue malu banget sama mereka. Nggak punya muka gue. Tapi jujur, gue masih sayang sama Emily. Apalagi sampai dia menghadapi ini semua sendiri, gue jadi semakin merasa bersalah".
"Setelah keluarga Emily pulang, ayah emosi banget. Ayah mukulin gue sudah seperti samsak tinju. Gue dipukuli terus-terusan, bahkan sempat mukul kepala gue pakai stik golfnya dia. Itu sakit banget kalau lo belum tahu rasanya" kata Yopi.
"Terus gimana caranya lo bisa sampai di depan rumah gue, Yop?" tanya Richard.
"Gue waktu itu masih sadar, mungkin juga masih takdir gue kalau nyawa gue masih betah didalam tubuh gue. Gue lari, ayah masih ngejar gue. Waktu ada tukang ojek lewat, gue langsung saja naik. Yang gue ingat cuma rumah lo doang, Ri. Kan yang paling dekat. Terus waktu gue mau ketuk pintu gerbangnya, gue sudah nggak kuat lagi, akhirnya gue pingsan kayaknya" kata Yopi mengakhiri ceritanya.
"Terus gimana sama ayah lo? Waktu gue ke rumah lo, beliau marah banget tahu" tanya Reno.
"Iya, gue diusir dari rumah. Gue sudah dicoret dari daftar nama keluarga gue. Malang banget nasib gue" kata Yopi dengan satu bibirnya tertarik, tersenyum sinis meratapi nasibnya.
"Lo nggak usah pikirin yang lain dulu, yang penting lo harus segera sembuh ya" kata Richard.
"Iya, betul itu. Lo harus segera sembuh, soalnya gue takut tabungan gue nggak cukup buat bayarin ruangannya kalau lama-lama" kata Reno, dengan cepat Richard menjitak kepala Reno lagi.
"Aduuh, lo sialan banget sih. Suka banget jitak kepala orang" kata Reno kesal.
"Mulut lo dijaga kalau ngomong. Lihat situasinya, boncel bego" kata Richard.
"Gue nggak tahu harus bayar hutang gue sama kalian pakai apa. Gue kan sekarang miskin, nggak punya apa-apa" kata Yopi menertawakan nasibnya.
"Lo tenang saja, warisan gue masih banyak. Yang genting lo harus cepet sembuh aja sih" kata Richard.
"Bentar ya" kata Richard berdiri. Dia sudah selesai makan. Sekarang dia akan menghubungi Aish.
"Mulai deh bucinnya" sindir Reno. Richard hanya melirik tidak suka.
__ADS_1
Richard menghidupkan ponselnya, meski baterainya masih terisi seperempat bagian saja.
Setelah layarnya menyala, dia mendial nomor ponsel Aish. Panggilan tersambung, Richard menunggu Aish mengangkat panggilannya.
Tapi sampai berkali-kali ditelpon, Aish tak kunjung mengangkatnya. Membuat perasaan Richard semakin tak karuan.
"Marah nih pasti" gumam Richard.
"Samperin saja deh ke rumahnya, bro. Nih kunci mobil lo" kata Reno sambil melemparkan kunci mobil Richard.
"Iya, gue tinggal dulu ya. Lo jagain Yopi bener-bener lho. Jangan ditinggalin" kata Richard sebelum keluar.
"Iya, bawel" ketus Reno.
Richard menuju ke rumah Aish dengan terburu-buru, bahkan berkali-kali dia dimaki oleh pengguna jalan lainnya karena ugal-ugalan.
Tiba di rumah Aish, Richard mengetuk pintu. Berkali-kali melakukan itu, tapi tak ada seorangpun yang membukanya.
"Mungkin dia sedang keluar" kata Richard.
"Gue tungguin disini deh" Richard duduk di kursi teras, dia mau menunggu sampai Aish datang.
Mencoba untuk menghubungi Aish, nyatanya tetap tidak diangkat meskipun terdengar nada sambungnya.
Sementara disana, Aish sedang mencoba beberapa baju yang telah Seno pilih sebelumnya.
"Ini bagus deh, Seno" kata Aish yang memang menyukai warna biru.
Gamis panjang dengan banyak aksen brukat dan juga beberapa payet di bagian pundak dan lengannya.
"Bagus sih, bagus banget malah. Cocok buat lo, pas banget. Tapi itu seperti baju yang mau dipakai kondangan, princess. Kita mau nonton, bukannya hadir ke pesta pernikahan" kata Seno.
"Iya juga sih. Bentar gue coba yang lain ya" kata Aish masuk lagi ke kamar pas
Seno menunggu di kursi tunggu yang telah disediakan. Sembari memainkan ponsel, dia setia menunggu sang princess.
"Kalau ini bagaimana?" tanya Aish yang kini keluar dengan setelan celana kulot berbahan kain kaos berwarna maron, dengan atasan longgar berbahan kaos juga.
"Kayak piyama sih kalau menurut gue. Lo pilihnya nggak bener nih. Bentar gue saja yang pilihin buat lo, ya" kata Seno yang kemudian menuju ke konter baju wanita.
Seno mengamati rak dan gantungan baju yang tertata rapi.
"Gue mau pakai warna abu-abu, jadi princess gue juga harus pakai warna yang sama. Karena gue pakai kemeja, jadi lebih baik dia juga pakai kemeja" gumam Seno.
"Nih, lo coba. Nanti tinggal pilih ukurannya saja" kata Seno memberikan celana jeans biru muda, dengan kaos pendek warna putih, dan kemeja abu-abu motif kotak-kotak.
"Oke" kata Aish kembali memasuki kamar pas.
Setelah selesai ganti baju, dia keluar untuk menemui sahabatnya.
__ADS_1
"Gimana?" kata Aish.
"Nah, itu kan oke" kata Seno yang suka melihat tampilan Aish kali ini.
"Besok, kancing kemejanya nggak usah dikaitkan ya. Gue juga maunya gitu, biar kelihatan kompak" kata Seno dengan senyum cerianya.
"Fix yang ini ya?" tanya Aish.
"Iya, bungkus yang itu saja" kata Seno.
Aish kembali memasuki kamar pas untuk mengganti bajunya. Lalu memberikan baju pilihannya pada penjaga toko agar dibungkus. Seno memberikan sejumlah uang pada penjaga toko tanpa sepengetahuan Aish. Karena Seno tahu jika Aish tidak akan mau dibayarkan.
"Makan dulu ya, princess. Perut gue laper banget nih" kata Seno yang memang kelaparan.
"Iya, ayo. Makasih ya sudah dibayarin. Padahal gue masih sanggup loh buat bayar sendiri" kata Aish setelah mendapat baju belanjaan yang diberikan oleh penjaga toko tadi.
"Bukannya gitu, princess. Kan gue yang ajak lo, terus gue juga yang minta lo buat beli baju baru. Masak gue yang nyuruh tapi lo yang beli sendiri. Nggak enak lah gue" kata Seno mengikuti langkah Aish ke restoran cepat saji.
Aish belum menyadari jika tasnya masih berada di pundak Seno, begitupun Seno.
Saat makanpun demikian, karena memang tas slempang itu sangat ringan, membuat Seno tak sadar dengan keberadaannya.
Mereka berdua masih asyik jalan-jalan untuk menghilangkan penat di hati.
★★★★★
" Hallo, Ri. Lo bisa balik kesini sekarang? Yopi muntah-muntah terus daritadi nih. Pusing gue"
Kata Reno dari panggilan telepon saat Richard sedang menunggu kedatangan Aish.
"Lo atasi dulu bentar bisa nggak sih? Gue lagi sibuk nih"
kata Richard.
"Gue takut ada apa-apa, lo balik dulu deh. Nanti kesana lagi"
kata Reno yang keukeh menyuruh Richard kembali.
"Huft, iya. Gue otw"
Richard akhirnya menuruti keinginan Reno.
Kembali dia harua bersabar, semoga Aish mau mengerti dengan kondisinya.
.
.
.
__ADS_1