Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
hukuman Richard


__ADS_3

"Pa... Lapar pa.... Aku anak papa apa bukan sih? Sudah semalam ini nggak dikasih makan juga, lapar pa" teriak Richard dari dalam ruang kerja papanya.


Setelah om Burhan pergi beberapa saat yang lalu, meninggalkan sebuah buku tebal yang berisi informasi alur intern perusahaan. Dan Richard diharapkan untuk mampu menghafalkannya.


"Ini juga, ngapain sih baca buku kayak gini. Buku sejarah saja gue males bacanya, apalagi buku ini. Aduh, otak gue mendidih rasanya" gerutu Richard yang sejak tadi siang mendapat pelajaran memusingkan dari Burhan, orang kepercayaan papanya.


Richard menaruh kepalanya diatas buku tebal yang Burhan berikan tadi, masih tak berniat membacanya sedikitpun.


"Papa nggak kasihan sama Richard? Dia kelaparan pa, belajarnya sudahan ya? Nggak tega mama" kata mama Richard saat mendapati suaminya baru tiba dirumahnya.


"Papa bawa apaan sih?" tanya mama Richard.


"Buat Richard, pasti nanti dia semangat lagi" kata Papanya.


Mama Richard sebenarnya tidak sakit, itu semua hanya akal-akalan dari papanya saja untuk memberikan sedikit kejutan untuk anaknya.


"Bik, tolong siapkan ini untuk makan malam Richard ya. Buang dulu kemasannya, jangan kasih tahu dia kalau itu makanan dari luar" kata papa Hutama pada art nya.


"Baik tuan" jawab art itu.


"Satu lagi, bik. Sisain buat kita ya" kata Papa Hutama yang ikut penasaran dengan rasa masakan Aish.


"Iya, tuan" kata art itu, dia segera pergi untuk memberikan makan malam pada tuan mudanya.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Masuk aja, bebas kok kalau mau masuk, yang nggak boleh itu keluar dari sini" jawab Richard yang sudah putus asa, dia kelaparan.


"Ini makan malamnya, den" kata art nya memberi senampan makanan untuk Richard.


Merasakan bau wangi makanan kesukaannya, Richard jadi bersemangat untuk makan, bukan untuk belajar.


"Uwah, kayak masakannya Aishyah" gumam Richard saat melihat masakan di depannya.


"Bibik masak sendiri?" tanya Richard.


"Ehm, itu. Perintah tuan, den" jawab art itu kebingungan, karena tuannya melarang untuk memberitahu kalau masakan itu dari luar.


Richard mengibaskan tangannya, menyuruh art itu pergi.


Setelah membungkukkan badannya, art itu keluar ruangan.


"Tapi rasanya beneran kayak masakannya Aishyah, kok. Dia kesini kali, ya?" kata Richard sambil terus makan dengan lahap.


Dia sangat lapar.


Tak butuh banyak waktu untuk Richard menghabiskan makanannya, bahkan dia mengunyah sekedarnya agar makannya cepat habis dan bisa langsung keluar.


Richard pikir ada Aish dirumahnya, dia jadi bersemangat.


Selesai dengan urusan perutnya, Richard segera keluar, dengan sedikit berlari dia menuju ke dapur.


"Mungkin dia masih masak" itulah yang ada di pikiran Richard.


Bahkan dia melewati kedua orang tuanya yang sedang makan, Richard langsung menuju dapur.


"Ngapain den?" tanya art nya heran, tidak biasanya Richard ke dapur.


Richard celingukan mencari Aish, tapi tak ada.


Dengan malas, diapun menghampiri orang tuanya. Dan duduk di dekat mamanya.


"Kenapa kamu?" tanya papanya jahil, dia tahu apa yang sedang anaknya pikirkan.


"Papa nyuruh Aish kesini?" tanya Richard.


"Enggak, buat apa papa melakukan itu?" kata papanya.


"Terus, yang tadi masak sayur sama ayam itu Aishyah kan, pa?" tanya Richard lagi.


"Bukan, bibik yang bikin. Masakan gampang kayak gitu semua orang juga bisa membuatnya. Nggak cuma pacar kamu itu aja" kata papanya masih mempertahankan wajah datarnya.


Mama Richard hanya senyum-senyum kecil, papanya ada-ada saja.


"Nggak pa, rasanya tuh beda. Lagian ada puding mangganya juga. Cuma Aish yang tahu kalau aku suka puding mangga. Mama aja nggak tahu" kata Richard cuek, melahap puding mangga yang ada diatas meja.


Mamanya menghela napas, memang benar apa yang Richard katakan. Dia tak tahu apa yang anaknya sukai atau tidak disukai. Mama Richard merasa sedikit kecewa pada dirinya sendiri.


Papa Richard melirik ekspresi istrinya, ada gurat kesedihan disana. Diapun sama, hubungan keluarganya sangat jauh. Bahkan kedua anaknya yang lain memilih untuk tak berhubungan dengan mereka.

__ADS_1


"Ini buatan bibik, Richard. Kamu tidur sana, sudah malam. Besok pagi jangan sampai terlambat ke sekolah kamu ya" usir papanya.


"cg"


Richard hanya bisa mendecak sebal, Diapun pergi ke kamarnya sendiri. Akan menghubungi pacarnya, Richard sudah rindu pada suara cempreng Aishyah.


Masih sibuk? ✓


Sebuah pesan terkirim sukses ke nomor Aish, tapi belum ada tanda-tanda jika sudah terbaca.


"Pasti dia lagi kerja, kasihan lo, Khumaira. Kalau gue sudah bisa miliki lo seutuhnya, gue janji bakalan kasih kebahagiaan yang banyak buat lo, Ra" katanya Richard lirih, sambil mengamati wajah cantik Aishyah yang ada diponselnya.


Richard sudah tak sabar menunggu hari esok, dia akan menjemput Aish untuk pergi ke sekolah bersama.


Delapan bulan lagi, sedikit lagi waktu untuk mereka menjadi anak SMA. Setelah itu, saat menjadi mahasiswa, Richard sudah terfikirkan untuk tak lagi melajang.


Biarlah apa yang ada di fikiran orang lain, dia hanya ingin menjaga dan membahagiakan Aishyah yang sebatang kara.


Hingga Richard tertidur, pesannya belum juga dibaca oleh Aish.


★★★★★


"Richard, pagi banget datangnya?" tanya Aish sedikit terkejut saat membuka pintu.


"Gue kangen sama lo, Ra. Baru selesai mandi?" tanya Richard yang melihat rambut Aish masih terlilit handuk, tapi dia sudah memakai seragamnya.


"Iya, ayo masuk" kata Aish yang membuka lebar pintu ruang tamunya.


"Sebentar ya, gue ke kamar dulu" kata Aish berlalu, dan Richard hanya mengangguk.


"Kok nggak bilang kalau mau kesini?" tanya Aish setelah selesai dengan seragamnya.


"Gue sudah bilang kalau gue kangen sama lo" jawaban yang sama terujar dari mulut Richard setelah mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


"Cg, masih pagi sudah menggombal" kata Aish mencebik.


"Oh, iya. Mama lo sudah baikan?" tanya Aish.


"Mama gue nggak sakit, lo dapat berita hoax darimana?" tanya Richard.


"Loh, semalam papa lo datang ke cafe. Terus bilang kalau mama lo minta dibuatin ayam goreng sama kangkung. Katanya mama lo yang minta, soalnya beliau lagi sakit" kata Aish.


"Gue bikinin sarapan ya" kata Aish ingin beranjak.


"Nggak usah, cari drive true aja. Ayo buruan, kita berangkat bareng" kata Richard.


"Ayo deh" kata Aish. Masih sepagi ini untuk pergi sekolah, mereka berdua memang sering sarapan bersama.


"Richard, lo sudah kasih tahu Yopi nggak sih? Gue beneran takut dia kebablasan lagi, kemarin pas pulang sekolah gue ngelihat dia bongeng cewek lho" kata Aish saat mereka berdua sudah di dalam mobil.


"Biarin sih, Ra. Sudah gede juga, lagian bukan urusan kita. Oh iya, siapa yang sering hubungi lo? Dari dulu juga lo belum ngasih tahu gue sampai sekarang" kata Richard yang fokus pada jalan yang masih lengang, masih setengah enam.


"Emily" jawab Aish singkat, membuat Richard menoleh padanya.


"Kok bisa?" tanya Richard heran.


"Dia yang hubungi gue duluan, sampai sekarang dia masih sering telpon gue. Dan dia mau balik sama Yopi, mau kasih hadiah gitu di hari ulang tahunnya" kata Aish.


"Jadi gue mohon sama lo sebagai sahabat Yopi yang paling dekat, lo nasehatin Yopi ya, tapi jangan kasih tahu kalau Emily mau ngasih dia surprise ya, Richard" kata Aish memulai kecerewetan di pagi hari.


Suara yang sudah tiga hari ini Richard rindukan.


"Biarin deh, gue nggak mau terlalu ikut campur sama urusan mereka. Males gue" kata Richard yang sebenarnya hanya berupa pancingan agar Aish mau lebih banyak bersuara.


Sungguh Richard merindukan suara Aish. Tapi dalam hatinya, Richard sebenarnya memang akan memberikan tugas yang lebih banyak pada Yopi agar temannya itu tak punya banyak waktu untuk bermain dengan wanita lagi.


Richard tak bisa merangkai kata untuk menjadi penasehat teman-temannya, lebih baik langsung saja dengan perbuatan yang sekiranya bisa menghambat intensitas waktu bermain bagi Yopi.


Dan memberikan banyak tugas adalah hal yang terbaik menurut Richard. Dua hal yang bisa didapatkannya dengan itu, yang pertama Yopi akan lebih banyak waktu bekerja sehingga dia bisa mendapat banyak uang.


Dan yang kedua, Yopi tidak punya waktu untuk bermain wanita lagi.


Ya, pemikiran pria dan wanita memang beda.


Richard hanya menoleh singkat sambil tersenyum mendengar ceramah rohani dari Aishyah, rasa bahagianya melebihi saat mendengar pujian dari orang lain.


Sesederhana itu cara mereka mengungkapkan perasaannya.


★★★★★

__ADS_1


"Yang bener saja li, Ri. Bagi lah tugasnya sama si Boncel. Masak semuanya harus gue yang ngerjain sih?" Yopi menggerutu saat Richard benar-benar memberikan banyak tugas untuknya.


"Reno sudah gue kasih tugas juga, dia itu tugasnya ngontrol produksi alat musik di Bandung. Dan elo, yang waktunya lebih banyak tugasnya juga lebih banyak dong" kata Richard dengan cuek, tak menghiraukan rengekan Yopi.


"Ya tapi kan---" gerutuan Yopi dipotong oleh ucapan Richard.


"Gue tiap tiga hari dalam satu minggu harus belajar perusahaan bokap, sisanya juga ngurus studio sama cafe, bareng kalian. Apa lo aja yang mau nyoba ikut pelajaran perusahaan?" tawar Richard.


"Ogah gue mah, itu derita lo. Tanggung jawab lo juga sebagai anak dari keluarga Hutama" kata Yopi.


"Ya makanya, urusan gue disini biar lo yang handle. Pecah kepala gue kalau semua gue yang urus" kata Richard.


Yopi menghela napas, "Nasib malang gue jadi orang miskin" gumam Yopi.


"Nggak usah sok paling menderita. Lo lihat deh cewek gue, dia kerjanya lebih berat daripada lo. Tapi gue nggak pernah denger dia ngeluh" kata Richard.


"Di depan elo, dibelakang lo siapa tahu" gumam Yopi.


"Dasar bucin akut" ejek Reno.


Tapi mereka berdua pasrah saja, hanya bisa menuruti kemauan Richard.


"Lo tenang aja, Yop. Kerja lo lebih banyak, duit lo juga lebih banyak. Gue nggak suka makan hasil keringat orang lain" kata Richard yang membuat semangat Yopi meningkat.


Richard juga tahu impian Yopi untuk bisa secepatnya bisa membeli mobil. Jadi, anggap saja ini adalah salah satu cara ahar impian Yopi segera terwujud.


"Oke, demi duit banyak, gue rela kerja keras" kata Yopi.


"Yopiiiii.... Sudah mau tutup, lo dicariin daritadi malah ngumpet disini" kata Aish mengingatkan Yopi untuk melakukan rutinitas sebelum tutup cafe.


Richard melihat kedatangan Aish yang tak seperti biasanya, tak begitu semangat dan sedikit pucat.


"Lo sakit?" tanya Richard sedikit khawatir.


"Enggak kok, cuma agak lemes doang. Biasa lah" kata Aish yang memang sedang kedatangan tamu bulanannya.


Entah kenapa, tamu bulanannya sekarang sangat deras dan membuatnya jadi berkunang-kunang.


"Gue kebawah dulu ya, nanti gue mau langsung pulang. Kalau lo masih mau ngobrol sama Yopi dan Reno, gue mau balik sama Ilham boleh ya Richard?" kata Aish meminta persetujuan Richard. Aish merasa sangat lemah hari ini.


"Gue anterin saja, biar gue sekalian turun sama lo" kata Richard beranjak dari tempat duduknya.


Aish menuruni tangga bersama Richard dibelakangnya, terlihat di bawah Yopi sedang melakukan brifing singkat pada rekan-rekannya.


"Oke terimakasih atas kerja kerasnya hari ini, silahkan pulang dan istirahat. Sampai ketemu besok dengan semangat baru" kata Yopi setelah doa bersama.


Semuanya membubarkan diri dan bersiap pulang, begitupun Aish dan Richard yang mengekor padanya.


"Nggak jadi bahas buat urusan studio?" tanya Reno yang melihat Richard sudah siap dengan jaketnya.


"Besok saja ya, gue mau nganterin Aish pulang" kata Richard.


"Yaudah, gue pulang juga" kata Reno yang juga bersiap pulang.


Berbeda dengan cafe Destinasi, di studio musik itu jam Operasionalnya lebih pendek. Jadi Reno punya lebih banyak waktu luang daripada Yopi.


Dan dengan tugas tambahan dari Richard, maka waktu Yopi sepulang sekolah memang hanya untuk urusan pekerjaan saja.


"Lo kenapa sih, tumben banget irit ngomong?" tanya Richard.


"Lemes gue, perut gue kram kayaknya. Sakit" kata Aish yang ingin segera rebahan di kamarnya.


"Ke dokter ya, lo pucat banget" kata Richard.


"Nggak perlu, sudah biasa. Cuma perlu istirahat, gue capek" kata Aish.


"Makan dulu ya?" kata Richard lagi.


"Enggak, cuma pengen tidur. Gue maunya tidur, Richard. Perut gue kram" kata Aish.


Richard memang tak mengerti masalah perempuan seperti ini. Yang dia tahu, Aish sedang sakit.


Tapi Aish tak bisa dipaksa, jadi Richard menuruti saja kemauannya yang hanya ingin segera tidur.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2