
Richard sedang membenarkan letak jemari Aish yang sedang membentuk kunci C di atas senar-senar gitar. Gerakan Aish sungguh kaku, dia memang belum pernah memainkan gitar sebelumnya.
Mereka berganti posisi, dengan senang hati Richard duduk dengan posisi jongkok di hadapan Aish. Dengan tumpuan salah satu lututnya, dia mengajari Aish dengan telaten. Dan posisi Aish duduk di bangku taman sambil memangku gitar.
Aish sangat serius kali ini, sudah berjam-jam mereka berlatih, bahkan hanya untuk menghafal letak kunci C, kunci E, dan kunci A saja Aish masih kesulitan.
"Maafin gue ya Richard, pasti beban buat lo ya ngajarin orang bego kayak gue?" kata Aish yang diambang keputus asaan.
"Lo ngomong apaan sih. Awal belajar memang sulit, nanti kalau lo sudah hafal letak kuncinya pasti menyenangkan bisa main gitar" kata Richard kembali duduk di tempatnya semula.
"Eh bentar, hape gue getar" kata Aish yang merasakan getaran ponsel di saku roknya.
"Bentar gue angkat telpon dulu ya" kata Aish, Richard mengambil gitarnya dan menganggukkan kepalanya. Sementara Aish mengangkat telpon, Richard akan bermain dengan gitarnya.
..."*Assalamualaikum"...
..."Waalaikumsalam, gimana kabar latihan lo sama Richard?"...
..."Baik, rasanya gue pengen nyerah saja deh Fal, susah ternyata main gitar ya?"...
..."Hahahaha, segitu doang lo sudah putus asa. Semangat dong princess"...
..."Nggak tahu nih, gue rasanya susah banget buat konsentrasi"...
..."Richard nggak macem-macem kan sama lo?"...
..."Nggak lah, memangnya mau ngapain?"...
..."Ya kali"...
..."Sudah dulu ya Fal, sudah sore juga. Gue mau lanjut latihan bentar, habis itu mau pulang"...
......" Gue jemput ya?"......
..."Nggak usah, lo lanjutin urusan lo. Sampai ketemu besok. Dadah Falen, Assalamualaikum*"...
Rupanya Falen yang menelpon Aish, Richard yang sedikit mencuri dengar tahu bahwa rivalnya itu sangat perhatian pada Aishyah.
"Lo pernah pacaran nggak sih Aishyah?" tanya Richard yang tiba-tiba membahas masalah pribadi.
"Nggak, gue nggak minat" jawab Aish.
"Bunda lo yang larang ya?" tanya Richard.
"Iya, karena masa lalu" jawab Aish singkat.
"Sudah yuk lanjut latihan saja, sudah sore juga. Gue takut nggak ada angkot buat pulang kalau kesorean" kata Aish.
"Masih jam empat, lo tenang saja, nanti gue yang anter lo pulang" kata Richard.
__ADS_1
"Uwah, gue murid istimewa dong. Sampai dianterin pulang segala" kata Aish dengan tawa ringannya.
"Nih gitarnya, lo lanjutin buat hafalin tiga kunci yang tadi ya. Gue pergi sebentar" kata Richard.
"Mau kemana?" tanya Aish, dia sedikit trauma dengan tempat ini jika sendirian.
"Sebentar doang, gue mau ke toilet" kata Richard.
"Oke deh, tapi jangan kelamaan" kata Aish.
"Susah juga ternyata main gitar, apa gue bisa ya tampil kalau waktunya sesingkat ini? Huft, stress nih gue" gerutu Aish sambil berusaha memetik gitar.
"Bahkan bunyi senarnya terdengar sama bagi gue meskipun sudah menekan kunci yang berbeda" kata Aish lagi.
"Ya Allah, tolonglah hambamu ini" kata Aish lirih.
Tak begitu lama Richard telah datang lagi, dia membawa minuman kaleng dan juga camilan untuk mereka.
"Nih buat lo, daritadi main gitar terus sampai kering tenggorokan gue" kata Richard.
"Makasih ya Richard, gue benar-benar nyusahin lo ya? Maafin gue ya" kata Aish.
"Daritadi minta maaf terus, lama-lama dosa gue habis Aishyah" kata Richard tersenyum.
"Eh, gimana hubungan lo sama Emily? Baik-baik saja kan?" tanya Aish.
"Gue juga nggak tahu, sejak malam tahun baru itu dia jadi sulit dihubungi" kata Richard.
"Lo tuh bawel juga ya?" kata Richard, "Tapi gue suka" lanjutnya dalam hati.
"Masak sih gue bawel? Haduh, gue lanjut latihannya ya? Tapi kalau gue nggak pintar-pintar gimana dong Richard?" tanya Aish.
"Engmh, gini saja deh Aishyah, gue kasih satu lagu yang kunci gitarnya agak mudah, jadi lo tinggal hafalin. Gue jamin cukup deh buat lo bisa tampil minggu depan" saran Richard.
"Gitu ya? Gue percaya saja deh sama lo Richard. Yang penting ujian kesenian gue ada nilainya" kata Aish.
Richard membuka tasnya, mengambil buku dan alat tulis. Dia menggambar kunci gitar beserta letaknya agar lebih mudah dipahami oleh Aish. Tidak lupa menuliskan lagu yang akan Aish bawakan di ujian nanti.
Aishyah menunggu Richard menyiapkan pelajarannya. Gadis itu memperhatikan wajah Richard yang sedang serius. Tidak pernah terpikirkan olehnya akan sedekat ini dengan Richard. Mengingat awal pertemuan mereka yang tidak cukup baik.
"Nih, sudah selesai" kata Richard memberikan beberapa lembar kertas.
"Cinta luar biasa" Aish membaca hasil goresan yang telah Richard buatkan.
"Iya, dari gue buat lo" kata Richard ambigu, sebenarnya dia ingin mengutarakan isi hatinya.
"Maksudnya?" tanya Aish.
"Ya kan memang gue tulis buat lo. Jadi lo harus hafalin dan praktekin di depan kita semua Minggu depan" kata Richard.
__ADS_1
"Doain gue bisa ya Richard" kata Aish.
"Iya, sudah sore nih. Gue anterin lo pulang sekarang gimana?" tanya Richard.
"Eh, iya ya. Sudah hampir jam lima" kata Aish.
"Jadi, pulang sekarang?" tanya Richard.
"Gue solat dulu deh di mushola, kalau lo mau pulang duluan nggak apa-apa kok. Soalnya kalau solat dirumah bakalan nggak keburu" kata Aish.
"Nggak apa-apa gue tungguin" kata Richard.
"Nggak usah juga nggak apa-apa Richard, lo sudah mau ngajarin gue saja sudah makasih banget loh" kata Aish sambil merapikan tasnya, dan memakainya.
"Gue tungguin di ruang kesenian, kalau lo sudah kelar solatnya hubungi gue ya" kata Richard.
"Oke deh, sekali lagi makasih ya Richard" kata Aish meninggalkan Richard karena memang tujuan mereka berbeda.
Ternyata masih ada saja murid lain yang juga sedang menjalankan kewajibannya saat Aish masuk ke mushola. Dia jadi tenang untuk melakukan solat karena tidak sendirian.
Biasanya jika Hendra yang bersamanya, pasti akan menunggu di depan mushola sambil duduk santai dan memainkan ponselnya. Karena kali ini yang menunggunya adalah Richard, Aish jadi sungkan untuk meminta cowok itu menunggunya di depan mushola.
Sudah beruntung dia mau mengantarkan pulang, jadi Aish sadar diri untuk tidak ngelunjak. Dia sudah sangat beruntung bisa diterima dengan baik di lingkungan sekolah elit semacam SMA-nya ini.
Hampir setengah jam Richard berada di ruang kesenian. Aishyah masih juga belum menghubunginya.Dia jadi khawatir jika Aish pulang duluan menaiki angkot.
Kekhawatiran membuatnya berada di depan mushola saat ini, Richard menelisik ke dalam ruang solat wanita. Rupanya Aishyah sedang berdoa. Gadis itu terhanyut dalam doanya, hingga buliran bening menjatuhi pipinya yang ranum.
Aish pikir sudah tidak ada lagi orang disekitarnya, jadi dia berdoa sedikit lebih lama karena akhir-akhir ini dia merasa hatinya was-was akan sesuatu yang tidak pasti. Entahlah, hatinya merasa tidak tenang.
Richard terharu melihat Aish yang menitikkan air mata, gadis yang biasanya ceria itu sedang mengadu pada Tuhannya.
Tangan Aish bergerak mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, menandakan doanya akan segera diakhiri. Richard segera menuju ke teras mushola dan menunggu Aishyah disana sambil memainkan ponselnya.
"Kok sudah disini? Baru mau gue hubungi" kata Aish tersenyum, dia duduk di sebelah Richard untuk memakai sepatunya.
Richard membalas senyuman Aish, "Wajah tersenyum ini yang tadi sedang menangis" batin Richard.
"Gue takut lo tinggalin" kata Richard
Aish tertawa, "Mana ada yang kayak gitu, ada juga lo yang bisa-bisa ninggalin gue yang kelamaan. Secara kan gue yang nebeng sama lo" kata Aish.
"Sudah yuk, kita pulang" kata Aish.
Richard menurut dan berjalan di sisi Aishyah, menuju ke kampung Kembang di jalan Kamboja.
.
.
__ADS_1
.