
Richard duduk berdampingan dengan Aish, cowok itu memangku gitarnya. Dia sedang mencoba gitar itu, menguji kekencangan tiap bait senarnya. Dan memutar tunernya agar tercipta bunyi nada yang indah.
Aish sedikit terpesona melihat Richard yang terlihat serius dengan kegiatannya. Terlihat sangat cool dimata wanita.
"Lo lagi ngapain sih?" tanya Aish yang tidak sabaran karena sepertinya Richard asyik sendiri dengan gitarnya.
"Gitarnya lagi di steam, senarnya banyak yang kendor" kata Richard.
"oh gitu" kata Aish lirih.
"Dengerin deh, perbedaan bunyinya. Kalau bunyinya kayak gini berarti senarnya kendor" kata Richard yang memetik beberapa senar, lalu dia memutar salah satu tuner gitarnya dan memetiknya lagi.
"Nah, kalau bunyinya kayak gini berarti senarnya sudah kenceng. Bunyinya kan jadi bagus" kata Richard lagi.
Cowok itu menoleh pada Aish yang memperhatikan tangannya yang berada di atas gitar.
"Lo dengerin gue nggak?"tanya Richard.
"Dengerin kok" kata Aish masih melihat pergerakan tangan Richard.
"Lo ngerti maksud gue?" tanya Richard lagi.
"Enggak" kata Aish menggelengkan kepalanya.
Richard sangat gemas melihat ekspresi Aish yang seperti itu. Rasanya dia jadi ingin menerkamnya saat ini juga. Dia hanya tersenyum melihat Aish yang sepertinya benar-benar buta nada.
"Kita belajar pelan-pelan ya. Lo dengerin nadanya, lo perhatiin perbedaannya, lo resapi alunan musiknya. Dengerin pakai hati" kata Richard.
Aish tak menyangka jika cowok berandalan ini ternyata berhati musisi. Pembawaannya sangat berbeda jika sudah berhadapan dengan musik. Aish sangat terpukau dengan Richard yang seperti ini.
Merasa tidak ada sahutan dari Aish, Richard menoleh. Dia mendapati Aish yang melongo menatapnya dari samping.
Richard tersenyum jahil, cowok itu menangkupkan kedua tangannya pada wajah Aish dengan gitar yang masih ada dipangkuannya.
Seperti gerakan yang akan mencium, Richard mendekatkan wajahnya pada wajah Aish. Membuat rona merah pada wajah Aish dan diapun jadi salah tingkah.
Tiba-tiba Richard meniup wajahnya, sontak Aish memejamkan mata.
"Jangan kelamaan kalau lihatin, nanti lama-lama lo naksir sama gue" kata Richard.
Aish melepaskan tangan Richard dari wajahnya, dan bersikap sewajar mungkin meskipun hatinya sedikit gugup.
"Apaan sih lo? Gue tuh lagi berusaha ngertiin bahasanya seniman" kata Aish sambil membenarkan hijabnya.
"Oke, kita mulai pelajarannya. Kita mulai dari kunci C, letak jari-jari lo harus kayak gini" kata Richard memulai pelajarannya.
Aish berusaha semaksimal mungkin untuk bisa segera mengerti. Meskipun sejujurnya, dia tidak bisa mendengar perbedaan nada sumbang pada gitar yang senarnya kendor atau kencang. Dia benar-benar gadis yang buta nada.
__ADS_1
Seperti seorang penguntit, ada seseorang yang diam-diam mengabadikan momen saat Richard mengerjai Aish barusan. Suasana taman menambah kesan romantis pada hasil tangkapan gambar yang telah orang itu dapatkan.
Entah apa maksud dari orang ini, akhir-akhir ini sepertinya dia sedang ingin mengumpulkan foto Aish yang berdekatan dengan beberapa pria.
Sebaik apapun kita menjaga diri untuk tetap berada di jalan yang benar, pasti ada saja seseorang yang tidak suka pada apa yang kita lakukan.
Sebagian dari orang yang sirik itu akan melakukan apa saja untuk menjatuhkan kita demi kepuasan pribadinya. Sebagian yang lain hanya diam memperhatikan, dan akan menguak semuanya disaat yang mereka anggap tepat.
Jadi, sebaik apapun kita berusaha menjadi baik, pasti ada orang jahat yang tidak suka. Maka dari itu, tetaplah berbuat baik.
★★★★★
Falen dan Hendra telah sampai di rumah sakit, mereka berdua sudah berangkat dari tadi sepulang sekolah. Mereka berdua memakai jaket untuk menutup seragam putih abu-abunya.
Tujuannya adalah ke ruang autopsi, menemui dokter Retno yang sedang bertugas sore itu.
"Permisi sus, apa dokter Retno ada?" tanya Falen.
"Mas Brian disini? Ada keperluan apa dengan dokter Retno?" tanya suster itu.
Falen sudah beberapa kali datang ke rumah sakit dan diperkenankan sebagai Brian oleh papinya. Putra semata wayang dari sang papi yang nantinya akan meneruskan usaha keluarganya, rumah sakit ini adalah salah satunya.
"Ada sedikit urusan. Apa beliau sedang sibuk?" tanya Falen lagi.
"Sepertinya sedang sibuk mas. Apa perlu saya panggilkan?" tanya suster itu.
"Biarin saja dulu, mungkin dokter Retno sedang mengautopsi jenazah itu. Kita kembali ke sini besok saja bagaimana?" saran Hendra.
"Benar juga, autopsi kan butuh waktu yang tidak sedikit ya. Atau kita hubungi bang Fian saja?" tanya Falen, Hendra mengangguk.
"Yasudah sus, terimakasih ya" kata Falen mengizinkan suster itu pergi.
"Iya mas Brian, sama-sama" kata suster itu kembali melakukan aktivitasnya.
Hendra sedikit menjauh dari Falen, cowok itu sedang menelpon seseorang saat ini. Sementara Falen menunggunya sambil memainkan ponsel juga.
"Hei, kenapa kalian ada disini?" tanya dokter Siras, kebetulan dia sedang ada keperluan di sekitar sini.
"Ada sedikit keperluan" kata Falen singkat, berharap sang kakak tidak terlalu ikut campur
"Keperluan apa? Ini ruang autopsi" kata Siras.
"Bukan apa-apa. Hanya tugas sekolah" jawab Falen sedikit berbohong.
"Fal, kita boleh ke kantor polisi untuk ketemu sama bang Fian" kata Hendra tanpa melihat ke arah Falen yang sedang diintrogasi oleh dokter Siras.
Dokter itu mengernyit mendengar kata kantor polisi, dia sedikit bingung. Dia juga khawatir jika adiknya telah berbuat macam-macam.
__ADS_1
"Mau apa kalian ke kantor polisi?" tanya Siras pelan tapi tegas.
Hendra mendongak melihat kedepan, dia baru menyadari jika ada dokter Siras disana. Semoga dia tidak curiga.
"Engmh, ada tugas sekolah dokter" kata Hendra berbohong juga.
Untung saja kebohongan mereka sama, setidaknya itu tidak membuat Siras lebih curiga. Untuk saat ini, kemistri Hendra dan Falen cukup bagus.
"Kita permisi dulu ya dokter. Semoga hari anda menyenangkan" kata Hendra menarik tangan Falen. Mereka berdua pergi tanpa menunggu persetujuan dari Siras.
"Untung lo juga bilang kalau kita lagi ada tugas sekolah. Kalau tidak, dia bisa curiga" kata Falen yang sedang berjalan melalui lorong rumah sakit bersama Hendra.
"Iya, untuk saat ini kita masih beruntung" kata Hendra.
"Kita jadi ke kantor polisi?" tanya Falen.
"Iya, gue nggak sabar ingin semua ini cepat terungkap, gue berharap bukan kakaknya Aishyah yang sedang di autopsi saat ini" kata Hendra.
"Gue juga berharap yang sama Hen. Semoga saja itu bukan kakaknya Aishyah ya" kata Falen.
"Kalau seandainya kemungkinan terburuk itu terjadi, kira-kira kenapa ya dia bisa jadi korban pembunuhan?" tanya Falen berandai-andai.
"Gue juga nggak tahu Fal. Yang kita tahu memang kakaknya Aish kan lagi ada masalah sama keluarganya, iya kan?" tanya Hendra.
"Semoga semuanya cepat selesai. Semoga jika nanti memang terjadi kemungkinan terburuk, Aish bisa tegar dengan semuanya. Gue nggak tega kalau dia sedih" kata Falen.
"Gue juga, dia sudah terlalu menderita harus hidup tanpa ayah dan dimusuhi kakaknya" kata Hendra lagi.
"Ngomong-ngomong, gimana ya sama sesi latihannya sama Richard? Seandainya kita nggak sibuk sama jenazah ini, gue pastikan kalau dia nggak boleh latihan musik ke Richard" kata Hendra.
"Hei, benar apa yang lo bilang. Sebentar gue telpon dia dulu" kata Falen.
Persahabatan yang tulus, mereka saling menjaga meskipun tidak dalam keadaan yang sama.
Orang lain yang sudah seperti saudara, lebih merasa untuk bisa saling melindungi daripada keluarga sendiri yang menganggap saudaranya yang lain sebagai musuh.
.
.
.
.
Richard sedikit frustasi saat mengajari Aishyah main gitar..
__ADS_1