
"Gue turun di depan rumah sakit saja Fal, biar lo bisa langsung jalan" kata Aish setelah dekat dengan tujuannya, mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
"Siap princess yang mulia" kata Falen.
Mobil Falen menepi, tepat didepan rumah sakit dia berhenti. Membiarkan princessnya melakukan tugas mulia.
"Lo hati-hati ya princess, jangan capek-capek, inget kalau lo baru sembuh" kata Falen.
"Siap boskuh, lo juga jangan ngebut-ngebut. Inget, sim lo masih nembak" kata Aish.
"Sialan lo, sudah cepat masuk sana" kata Falen.
"Iya, iya, tadi aja maksa buat nganter, sekarang maksa buat turun" gumam Aish.
"Gue denger bawel" kata Falen.
"Hehe, makasih ya. Lo hati-hati ya. Assalamualaikum" kata Aish.
"Iya, waalaikumsalam" jawab Falen. Cowok itupun segera melanjutkan perjalanannya.
Seperti biasanya, Aish selalu riang saat berjalan memasuki halaman rumah sakit yang sangat luas. Cukup jauh untuk sampai ke UGD.
Sedang asyik berjalan sambil bersenandung kecil, tiba-tiba langkahnya harus berhenti karena ulah seorang wanita dihadapannya. Wanita itu tiba-tiba menghentikan laju mobilnya tepat di hadapan Aish, sontak gadis itu terkejut.
"Hati-hati dong" kata Aish sambil menengok ke dalam mobil.
"Kenapa nggak sekalian mati saja sih lo ini" kata wanita didalam mobil.
"Astaghfirullah, mulut lo minta dicabein ya tante?" kata Aish.
Iya, wanita itu adalah Sofia, mantan pacar dokter Siras. Yang masih mengharapkan statusnya sebagai pacar dari dokter tampan itu tidak berakhir.
"Heh bocah, lo ngapain sih disini? lo sengaja ngintilin pacar gue ya?" kata Sofia sambil keluar dari mobilnya, menghampiri Aishyah yang sendirian.
Tanpa aba-aba, Sofia menampar wajah Aishyah dengan sangat tiba-tiba. Tentu hal itu menyulut amarahnya.
"Lo tuh sudah gila ya tante. Ngapain sih lo main pukul seenaknya. Salah gue apa coba?" tanya Aishyah memegangi pipinya yang terasa panas.
"Pokoknya gue nggak suka sama lo, dasar bocah sialan" kata Sofia.
Aishyah marah mendengar perkataan Sofia, dengan gerakan cepat, Aish mengunci kedua tangan Sofia ke belakang tubuhnya dan memegangnya dengan erat menggunakan satu tangan.
Kemudian tangan lainnya dia gunakan untuk menjambak rambut panjang Sofia yang terurai. Sofia tentu merasa kesakitan akibat ulah Aishyah.
"Dengar ya tante, gue nggak pernah ada urusan sama lo. Jadi jangan pernah salah mencari sasaran tembak" ancam Aishyah.
Lalu dengan gerakan cepat, Aishyah mendorong satu bahu Sofia dengan tetap menggenggam salah satu tangannya. Satu kakinya menjegal kaki Sofia yang memakai high heels, dan melepas genggaman tangannya, membuat Sofia tak seimbang dan terjatuh.
__ADS_1
"Aduuuhhh.... lutut gue sakit. Sialan memang lo tuh ya bocah sialan" teriak Sofia mengundang banyak orang datang.
"Wah rasain tuh mbak, makanya jangan semena-mena sama anak kecil" kata seorang penonton.
"Adik ini keren banget" kata yang lain.
"Kelihatannya lugu, ternyata suhu" komentar lainnya.
"kasihan juga sih mbak yang jatuh, ayo aku bantuin mbak" kata yang satunya.
Ada juga yang mengabadikan momen itu dengan cara divideo. Sungguh jaman sekarang, semua serba video dan foto.
"Rasain lo" kata Aish berbalik badan, dan pergi meninggalkan Sofia.
"Dasar mak lampir" gumam Aish dengan tangan memegangi pipinya yang masih terasa kebas.
Sofia masih tidak terima, dengan sekuat tenaga dia bangkit dan berlari ke arah Aishyah yang menggerutu. Tangan kanannya berusaha menyentuh wajah Aishyah, dan ternyata wanita itu mencakar pipi Aishyah.
"Auwh"" kata Aish yang pipinya dicakar.
"Lo tuh ya" kata Aish sambil memegang tangan Sofia yang masih menggantung di udara setelah mencakar pipi Aish.
Aish segera menarik tangan itu dan menghempaskan dengan kuat ke hadapannya. Sofia jatuh tersungkur dengan wajah mencium jalan berpaving.
Tidak hanya merasa sakit di wajah dan lututnya, rupanya kaki Sofia juga keseleo akibat terjatuh tadi.
Orang-orang yang menonton semakin heboh, mereka berteriak-teriak mengidolakan Aishyah.
"Ada apa ini?" tanya dokter itu.
"Huft, abang dokter tanya saja sama pacar abang ini. Dasar mak lampir aneh, baru saja gue nyampek sudah dihadiahi tamparan nggak jelas" kata Aish marah, rupanya dokter Siras yang datang.
"Kamu tuh kenapa sih Sof? saya sudah suruh kamu pergi dari sini, kenapa masih berbuat ulah?" tanya Siras.
Sofia hanya menangis, entah menangis sungguhan atau pura-pura. Hal itu semakin membuat Aish geram.
"Dasar nggak ingat umur, sudah tua kelakuan masih kayak anak kecil" kata Aish sambil berlalu meninggalkan Siras dan pacar sialannya itu.
"Memalukan, jangan pernah muncul dihadapan saya lagi" kata Siras pergi meninggalkan Sofia, mengikuti langkah Aishyah yang memasuki area UGD.
"Sayang, tunggu. Jangan tinggalin aku, kaki aku sakit banget ini" teriak Sofia yang tak didengarkan Siras, pria itu tetap melangkah pergi.
Sampai di dalam ruang loker, Aish menaruh tasnya dengan hati yang super kesal dan sebal. Seumur hidupnya, baru kali ini dia diserang wanita yang sedang patah hati.
"Dasar mak lampir, main cakar muka orang. Mana pedih banget lagi, aduuhh...." gumam Aish melihat kondisi wajahnya yang terkena cakaran dan tamparan.
"Sialan memang tuh orang" kini gadis itu memasuki ruang UGD, sekalian mencari obat untuk lukanya.
__ADS_1
"Maafin kejadian hari ini ya Aishyah" kata dokter Siras yang melihat Aish.
"Bodo ah, gara-gara abang dokter nih muka aku jadi sasaran kemarahan pacarnya abang. Sakit tau" kata Aish.
"Sini biar saya obati" kata Siras berusaha mengambil hati Aishyah.
"Nggak, minta tolong suster Ana saja. Abang dokter jangan dekat-dekat dengan saya" kata Aish masih marah.
"Mbak Ana, bantuin Aish dong mbak. Perih banget muka aku" kata Aish manja pada suster Ana yang meminta dipanggil mbak Ana saja pada petugas PMR.
"Kok bisa gini sih Aishyah? kamu habis ngapain?" tanya suster Ana sambil merawat luka Aishyah.
"Biar saya saja sus yang mengobati Aishyah" kata dokter Siras berusaha mengambil peralatan di tangan suster Ana.
"Nggak, jangan dikasih mbak. Abang dokter ngapain sih, kan sudah saya bilang nggak mau dama abang. Sudah abang dokter pergi saja sama" usir Aish. Suster Ana heran juga, berani sekali Aishyah berkata seperti itu pada dokter Siras.
"Sudahlah Aishyah, kan saya sudah minta maaf sama kamu, biarkan saya yang merawatnya suster" kata Siras, membuat suster Ana bingung sendiri harus berpihak pada siapa. Dan pada akhirnya, dia menyerahkan pada dokter Siras, bagaimanapun dia adalah atasannya.
"Mbak Ana, kok dikasih ke bang dokter sih. Awas ya mbak Ana" kata Aish berusaha menakuti suster Ana, malah membuatnya tergelak dengan tingkah lucu Aishyah.
"Aduuhh ... pelan-pelan dong bang dokter, abang juga sebenarnya mau nyelakain saya juga ya?" tanya Aish saat Siras mengobati lukanya.
"Luka kamu nggak seberapa loh Aishyah, ini yang membuat semakin terasa sakit itu adalah hari kamu yang sedang marah" kata dokter Siras dengan telaten mengobati wajah Aishyah.
Sofia ternyata ikut masuk ke dalam UGD, wanita itu mengeluh jika kakinya sangat sakit karena terkilir saat dijatuhkan tadi.
"Tuh bang, pacarnya datang. Sudah sana pergi, rawat tuh kekasih hati Abang" kata Aishyah.
"Saya nggak mau Aishyah, biar saya disini saja" kata Siras.
"Dokter, tolong pasien yang baru saja datang perlu pertolongan segera" kata security yang tadi mengantarkan Sofia masuk ke dalam UGD.
"Suruh dokter lainnya pak" perintah Siras.
"Masih menangani pasien lain dok" jawab security itu.
Siras segera menyelesaikan keperluannya dengan wajah Aishyah.
"Saya tinggal dulu ya Aishyah" kata Siras.
"Pergi tinggal pergi aja abang dokter, daritadi juga sudah disuruh pergi kan" kata Aish masih marah, bibirnya cemberut sedemikian rupa.
"Nanti saya periksa kamu lagi" kata Siras.
"Nggak perlu" jawab Aish.
.
__ADS_1
.
.