
"Gue nggak setuju, kak. Cari model lainnya kan bisa, kenapa harus Indira sih?" Richard masih ngotot untuk tidak memakai jasa Indira sebagai model untuk iklan untukBu Ani SBY SBY musik dan salah satu gitarnya.
"Dia ini model yang lagi naik daun lho, Richard. Apalagi kita dapat harga eksklusif, jadi bisa menekan budget kamu" saran Willy.
"Tapi gue nggak setuju kalau modelnya cewek itu. Apalagi dia minta gue sendiri yang jadi lawan main di iklannya, kan? Ogah banget gue" keukeh Richard.
"Coba bandingin deh, Richard. Kalau kamu mau tampil sama Indira sebagai model dari iklan kamu sendiri, kita bisa memotong pengeluaran hingga 25%".
"Sedangkan kalau kita pakai model lain, akan butuh waktu dan biaya lebih. Lagian kita masih harus mencari talent, belum lagi kita masih harus mencocokkan kemistri dari model-modelnya".
"Pentingin dulu bisnis kamu yang sedang dirintis ini. Untuk urusan pribadi, bisa kamu selesaikan di luar jam kerja. Yang penting usaha kamu lancar dan stabil dulu lah" wejangan panjang dan lebar yang Willy tuturkan sepertinya sedikit masuk ke dalam otak Richard.
"Gue pikirin dulu deh, kak. Nanti gue kabari lagi" kata pamungkas dari Richard membuat Willy tak bisa berkata apa-apa.
"Kalau menurut gue sih nggak masalah ya, Ri. Lo sendiri kan sudah banyak di kenal orang lewat video-video yang kita upload. Dan Indira sekarang adalah model yang sedang naik daun. Pasti deh nanti bakal lebih banyak orang yang tertarik untuk membeli produk kita, dan usaha kita akan dapat untung yang lumayan" kata Reno memberi saran.
"Lagian kenapa sih lo kayak anti banget sama tuh cewek?" tanya Yopi.
"Nggak kenapa-kenapa, males aja gue" pikiran Richard masih pada senyum mendamba yang Indira berikan padanya tiap kali bertemu.
"Alasan yang tidak bermutu. Pikirkan bisnis kamu, jadilah orang yang profesional kalau kamu mau bisnis kamu maju" kata Willy sedikit ngegas.
"Cg, nanti malam gue kabari. Mood gue ancur gara-gara cewek sialan itu" kata Richard yang kemudian berlalu meninggalkan ruang rapat.
"Ini nih yang saya tidak sukai darinya, anak yang egois" kata Willy sepeninggal adiknya.
Reno dan Yopi hanya bisa membatu. Perseteruan saudara kandung yang terbawa ke alam bisnis.
Sedangkan Richard, tentu saja langkahnya membawa pada seseorang yang pasti bisa mengembalikan moodnya lagi.
Siapa lagi kalau bukan Aish.
Meski masih menyimpan sedikit amarah, Richard sudah menyiapkan rencana untuk menjahili Aish.
Target ditemukan, Aish sedang merapikan meja yang baru saja ditinggalkan pengunjungnya.
"Pasti bentar lagi ke dapur" gumam Richard yang sudah menunggu targetnya di dapur.
Baru beberapa menit mendudukkan diri, pintu dapur sudah terbuka. Aish masuk dengan sedikit bersenandung.
"Lo lagi senang ya? Nyanyi segala, suara lo tuh cempreng, Ra" kata Richard memulai kejahilannya.
"Eh, ngapain pak bos disini? Pergi sana, ganggu aja" balas Aish tak mau kalah.
"Gue bosnya, Ra. Lo berani banget sama gue" sedikit nge gas untuk melancarkan strategi.
"Iya, lo memang bosnya. Dan gue mulai takut sekarang" kata Aish sambil meletakkan bekas peralatan makan yang dibawanya dari depan.
"Cg, lo nggak lihat kalau gue lagi nggak mood?" kata Richard yang mulai berdiri, mengekor pada Aish yang akan mengantar pesanan.
Aish sedikit menoleh, sudah terasa aura keberingasannya. "Terus mau lo apa?" kata Aish ketus, Richard jadi terhibur.
"Bodo amat lah, sudah sana lo pergi saja. Lo kan lagi sibuk" kata Richard yang mode ngambek, kembali duduk di tempatnya tadi.
Tanpa kata Aish benar-benar meninggalkan Richard, membuatnya sedikit melongo karena tak di gubris. Richard menunggu Aish kembali ke dapur.
"Loh, belum pergi juga pak bos?" tanya Aish yang baru saja masuk, padahal Richard cukup lama menunggu.
"Gue mau milk shake coklat, cepetan buatin gue" perintah Richard ketus.
"Kan ada chef nya, kenapa nggak minta tolong sama dia aja sih? Gue lagi sibuk, ini kan malam Minggu. Banyak pengunjung di depan" kata Aish berusaha sabar.
"Gue kan maunya lo yang bikinin, kenapa? Lo keberatan? Oh, iya gue lupa. Kalau malam Minggu kan lo bakal disamperin sama punggawa-punggawa lo ya. Yaudah, siap-siap sana. Nggak usah perduli sama gue" kata Richard, padahal ada chef juga kan disana.
Aish jadi malu sendiri, dia hanya mengelus dadanya. "Lo lagi PMS ya? Mau lo nggak ketebak" kata Aish yang juga ngambek.
"Gue cuma mau lo bikinin milk shake doang, Ra" kata Richard memelas,
"Ish, iya-iya gue buatin. Habis ini jangan gangguin gue lagi, ya" kata Aish.
Dan ya, Aish membuatkan permintaan Richard yang sengaja menjahilinya.
Setelah siap, Aish menuangkan minuman itu ke dalam gelas besar.
"Nih, sudah selesai" kata Aish menyodorkan gelasnya pada Richard.
"Gue mau pakai cup yang dikasih sedotan, males gue bawa-bawa gelas" kata Richard.
Aish memutar bola matanya jengah, butuh kesabaran ekstra.
Tapi tak apa, Aish mengganti minumannya ke dalam cup plastik setelah memberi sentuhan susu coklat.
"Nih" kata Aish.
"Makasih, sayang" kata Richard tanpa malu.
__ADS_1
Chef disana hanya tersenyum, sementara pipi Aish sudah memerah.
"Kok kurang manis sih?" kata Richard mengomentari milk shake buatan Aish.
"Masak sih?" tanya Aish heran, biasanya dia membuatnya seperti itu, tapi kenapa malah kurang manis?
"Sini gue tambahin susu aja ya?" tanya Aish
Richard hanya mengangguk dan memberikan cup milk shake nya pada Aish.
"Nih, sudah" kata Aish setelah menambahkan susu.
"Masih kurang manis, Ra. Lo tumben banget sih bikinnya kayak gini?" tanya Richard mengeluh.
"Diabet lo kebanyakan gula" Aish menggerutu saat menerima cup milk shake dari Richard.
Dan diapun meminum sedikit mill shake buatannya yang tadi diminum Richard.
"Ini sudah manis, Richard. Manis banget tau. Lo mau yang manis kayak gimana lagi sih?" gerutu Aish memberikan lagi cup milk shakenya.
Richard mendengus ketus, kembali meminum mill shake itu dan seketika merubah ekspresinya menjadi senang.
"Lho, iya beneran jadi manis, Ra" kata Richard sambil menatap penuh wajah Aish saat meminumnya
"Iya kan, itu manis banget" kata Aish tanpa prasangka.
"Kadi manis banget kalau minumnya sambil lihatin wajah lo" kata Richard yang masih memandangi wajah Aish.
Pipi Aish memerah, tak kuasa menahan malu. Sementara chef disana sudah tertawa lepas. Dan Richard masih saja tersenyum dan memandangi wajah Aish sambil meminum milk shakenya.
"Lo ngerjain gue ya" kata Aish, tangannya sudah tergerak dan secepat kilat mencubit lengan Richard.
"Aduh, sakit banget, Ra" kata Richard yang tak jadi romantis.
Richard fikir Aish akan tersipu malu dan bersikap manis manja setelah mendengarnya, tapi malah dia mendapat cubitan keras.
"Makanya jangan suka usil" kata Aish diakhiri dengan hembusan napas kasar.
"Cg, lo ini nggak ada manja-manjanya" kata Richard sebal.
"Oh iya, Ra. Kak Willy bilang mau pakai Indira buat model iklan gue" kata Richard sudah mode biasa, membahas tawaran Willy tadi.
"Memangnya kenapa? Ya kalau lo pikir dia juga bagus ya tinggal bilang Ok doang, apa susahnya?" tanya Aish.
Richard heran pada Aish yang selalu positif thinking.
"Ya nggak apa-apa, Richard. Enak dong nanti lo bisa berkesempatan jadi artis kayak Seno" kata Aish dengan polosnya.
"Lo nggak ngerasa cemburu gitu, Ra?" tanya Richard.
"Enggak, biasa aja sih. Kan buat kerjaan Richard, siapa tau lo jadi artis. Kan gue jadi pacarnya artis, hehehehe" kata Aish terkekeh.
"Lo suka kalau gue jadi artis?" tanya Richard.
"Biasa aja sih, tapi kalau lo jadi artis jadi sibuk banget kayak Seno" kata Aish berandai-andai.
Mereka berdua berdiskusi di dapur, di tengah kesibukan karyawan lain yang keluar masuk dapur untuk mengantar pesanan.
Tak ada yang berani menegur Aish karena memang sedang terlibat perbincangan dengan pemilik cafe.
"Seno nyariin lo di depan, Aish" kata Ilham yang baru saja memasuki dapur.
"Oh, sudah datang ya dia. Yuk ikut kesana Richard" kata Aish.
Richard hanya mengekor pasrah pada Aishyah, meski sebenarnya dia tak begitu suka.
"Hai teman-teman" sapa Aish yang melihat ketiga sahabatnya sudah berkumpul, ada Indira juga disana.
Richard masih berwajah datar, dengan kedatangan punggawa Aish saja dia sudah sebal, apalagi ditambah Indira yang selalu tersenyum aneh padanya.
Mood Richard benar-benar buruk kali ini.
Richard menahan Seno yang sudah bersiap memeluk Aish, padahal hanya bercanda. Seno juga mau mengerjai Richard yang posesif.
Malah Seno berpelukan dengan Richard. Membuat semuanya tertawa, tapi tidak dengan Indira.
"Boleh princess gue ikut duduk disini?" tanya Seno pada Richard.
"Tapi gue lagi kerja, Seno. Gue temenin kalau lagi nyantai, ya" kata Aish.
Richard diam saja, terserah apa yang Aishyah mau.
"Gue ke atas dulu ya, Ra. Kak Willy masih disana, tadi gue ninggalin dia" kata Richard, dan Aish hanya mengangguk paham.
"Eh, Richard. Gimana tawaran gue, lo mau kan jadi lawan main gue di iklan yang lo tawarin kemarin?" tanya Indira sudah tidak sabar.
__ADS_1
"Terserah" jawaban singkat dari Richard menerbitkan senyuman cerah dari bibir Indira.
Richard meninggalkan meja teman-teman Aish, lebih baik mengurusi kerjaannya saja daripada melihat wajah Indira yang Richard tidak sukai.
"Maafin dia ya" kata Aish merasa sungkan.
"Kenapa lo harus minta maaf sih, princess. Sudah lupain aja, dia kan memang gitu" kata Seno menepuk pelan bahu princessnya.
Malam Minggu memang sudah menjadi langganan bagi punggawa princess untuk berkunjung, meski tak bisa terus menemani, Aish terus berusaha menjadi sahabat yang baik bagi mereka dengan menyempatkan diri bergabung bersama.
Sering kali Senopati menyumbang lagu kalau moodnya sedang baik. Tapi Aish juga tak memaksa kalau Seno hanya sedang butuh teman curhat. Pasti Aish akan menangguhkan kerjaannya dan menemani bayi besarnya itu.
"Kenapa lo? pergi wajah lo sepet, sekarang datang-datang muka lo tetap aja sepet" tanya Reno yang masih membahas masalah iklan yang akan Richard bintangi sendiri, masih bersama Willy dan Yopi serta beberapa lagi orang yang bersangkutan.
"Bukan urusan lo" kata Richard yang ikut bergabung lagi dengan mereka.
"Oke, jadi bagaimana Richard? Sudah tanya sama ibu negara kamu kan? Jadi, kamu mau apa tidak?" tanya Willy.
"Siapa ibu negara?" tanya Richard tak mengerti jika orang di sekitarnya sudah memberi gelar kehormatan bagi Aish.
"Aishyah, siapa lagi?" kata Willy.
"Cg, sudah. Dan gue setuju" kata Richard yang membuat Willy terkagum-kagum pada Aish yang bisa membuat batu dihadapannya ini bisa menurut padanya.
"Oke, bagus! Akan segera kakak tunjukkan skrip iklannya. Saya yakin produk kamu akan laku keras setelah iklan ini ditayangkan" kata Willy optimis.
"Bisa nggak sih kak kalau modelnya diganti?" sekali lagi Richard bertanya.
"Nggak, kita harus sebisa mungkin menghemat pengeluaran untuk apapun itu. Agar ke depannya kita masih ada simpanan uang untuk kestabilan usaha kamu" kata Willy memberi saran.
"Oke lah, tapi kalau bisa jangan terlalu panjang durasinya ya, kak" pasrah Richard, akhirnya mau ikut saran kakaknya.
"Iya" kata Willy singkat.
★★★★★
Richard sudah memulai aktivitas syutingnya bersama Indira, gadis itu selalu bersemangat saat bisa bertemu dan beradegan seolah menjadi pasangan Indira.
Konsep iklan yang menampilkan Richard dengan gitarnya dan bernyanyi berduet dengan Indira.
Lagu manis seolah menceritakan kebahagiaan mereka berdua sebagai sepasang kekasih.
Diakhiri dengan ciuman dari Indira untuk Richard, tapi hanya ciuman di pipi.
Ini adalah Minggu terakhir untuk proses syutingnya, sudah 70% adegannya akan selesai.
"Nggak, gue nggak mau adegan terakhirnya" Richard menolak mentah-mentah adegan itu.
Padahal itu adalah adegan yang paling Indira nantikan.
"Kenapa sih Richard, cuma cipika-cipiki doang" kata Willy.
"Gue nggak mau kak, kalau lo mau, boleh kok lo wakili gue" kata Richard masih kekeuh dengan pendiriannya.
"Kenapa sih Richard, gue nggak penyakitan kok, sehat gini. Cantik lagi, kenapa lo nggak mau sih cuma akting doang kali" kata Indira berharap Richard mau merampungkan iklan ini secepatnya.
"Pokoknya gue nggak mau, ganti aja. Atau kalau enggak pakai stund man aja" kata Richard.
Willy tergelak, "Ini adegan ciuman, Richard. Bukan adegan berantem, ngapain pakai stund man?" kata Willy tergelak.
"Mendingan lo bikin adegan gue berantem aja kak, daripada ciuman. Atau lo aja yang jadi stund man gue, Gimana?" tanya Richard memberi saran.
"Richard, jangan kayak anak kecil deh. Cepat selesaikan adegannya biar segera selesai syutingnya" kata Willy.
"Pokoknya gue nggak mau, kak. Terserah lo mau terusin atau bikin iklan baru" kata Richard masih menolak, tak mau diganggu keputusannya.
"Ih, kamu ini merepotkan saja" gerutu Willy yang tahu jika adiknya ini akan tetap menolak apapun yang terjadi.
Dan entah bagaimana caranya, Willy memenuhi permintaan adik kecilnya ini. Bagaimanapun, dia adalah kakaknya. Dan sudah sewajarnya kalau dia lebih mendengarkan adiknya daripada orang lain.
Sedangkan Indira harus puas meski tak bisa menyelesaikan adegan terakhir yang sudah ditunggunya sejak lama.
"Oke, terimakasih semuanya. Proses syuting sudah selesai, sekarang kita serahkan hasilnya pada pihak editing".
"Secepatnya akan kita lihat hasil iklan kita di beberapa stasiun televisi terkenal di negri kita. Semoga dengan adanya iklan ini akan mempermudah dan meningkatkan penjualan produknya" kata Willy mengakhiri sesi syuting malam ini.
"Terimakasih atas kerja keras dari semuanya hari ini, kita akhiri pertemuan kita. Wassalamu'alaikum" Willy menutup pertemuan mereka malam ini dengan doa bersama sebelum pulang.
Richard segera menempel pada kakaknya begitu tahu jika Indira sudah berencana untuk mendekat padanya, dan bisa dipastikan kalau dia akan berusaha mendekat.
Berpura-pura tidur saja, itulah jalan ninja yang Richard gunakan kali ini.
.
.
__ADS_1
.
.