Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Richard lagi


__ADS_3

"Kita ke rumah sakit ya, atau paling nggak ke klinik dulu. Lo harus diperiksa" sebuah suara menyadarkan Aish dari tangisannya.


Gadis itu mendongak, melihat siapa yang telah menolongnya."Richard? kok lo bisa ada disini?" tanya Aish dengan deraian air mata, memandangi wajah Richard yang juga lebam di beberapa sudut, bahkan sudut bibirnya robek dan sedikit berdarah.


"Itu pasti sakit ya, maafin gue ya. Lo jadi nolongin gue lagi" kata Aish.


"It's ok. Kita ke rumah sakit dulu" katanya.


"Tapi lo kok bisa nyasar kesini sih? ngapain malem-malem keluyuran?" tanya Aish, tak sadar jika dirinya juga keluyuran malam-malam sampai dipalak preman.


"Cg! lo nggak nyadar kalau lo juga keluyuran malam? Gue abis nganterin Emily, rumahnya di belakang kompleks perumahan ini" katanya.


"Oh..." Aish berfikir, di belakang kompleks ini adalah kompleks perumahan elit, jadi sekali lagi dia berada diantara orang-orang yang tak terjangkau.


"Kalian kenapa keluyuran malam-malam begini?" tanya Seorang aparat pada Richard dan Aish yang sedang duduk di trotoar.


"Cg, kita dipalak" kata Richard sambil mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam dompetnya.


"Bapak hubungi papa saya, itu nomornya. Biar pengacara papa saja yang urus. Saya mau ke rumah sakit dulu" katanya.


Aish menatap heran, kedua aparat itu mengangguk patuh setelah melihat kartu nama yang Richard bawa. "Kekuatan orang-orang berada memang menyeramkan" batin Aish.


"Sekarang lo ikut gue, kalau nggak ketemu rumah sakit, paling tidak ketemu klinik 24 jam" kata Richard mengajak Aish berdiri dan pergi dari sana.


"Tapi sepeda gue ilang, gue mau cari sepeda gue dulu ya" kata Aish.


"Iish, lo tuh nggak bisa dibilangin banget sih, sepeda lo urusan nanti saja. Ini sudah malam, lo juga babak belur gitu" kata Richard, Aish hanya menunduk.


"Gini aja deh, pak saya minta tolong cariin sepedanya teman saya ya. Bawa saja ke kantor polisi kalau ketemu, besok saya ambil" kata Richard pada oknum aparat itu, dan mereka meng iyakan alih-alih sebagai barang bukti, atau mereka tunduk? Sungguh diluar jangkauan nalar kaum akar rumput.


Tidak ada alasan lagi bagi Aish untuk menolak ajakan Richard. Badannya sakit semua, pandangan matanya menggabur, mungkin karena mata kanannya yang kena tonjok preman itu, membuatnya terlihat lebam dan bengkak.


"Tapi bunda gue pasti khawatir Chard, gue izin bunda dulu ya" kata Aish.


"Itu bakalan lama, mendingan kita periksa dulu, terus gue anterin lo pulang. Abis itu terserah lo mau apa" kata Richard tidak tahan dengan Aish yang seakan ingin menolak.


Aishpun mengangguk patuh, mereka mencari klinik atau rumah sakit. Bersama mengendarai mobil Richard, Aish duduk di kursi samping kemudi, menemani temannya yang sedang fokus menyetir.


Perjalanan terasa lama, atau mungkin karena tubuh Aish yang sangat kelelahan? Hingga tak sadar Aish tertidur dengan nyenyak.


Tiba di sebuah rumah sakit daerah, Richard bingung bagaimana cara membangunkan Aish. Tidurnya sangat nyenyak.


"Kasihan lo ya, ngapain coba malam-malam masih keluar rumah" batin Richard memandangi wajah ayu Aishyah.


Aish menggeliat memandang sekitarnya,"Sudah sampai ya?" tanyanya.


"Ayo masuk, lo bisa jalan nggak?" tanya Richard.


"Bisa" jawab Aish sambil membuka seatbelt dan mau turun.


"Lo ngapain sih malam-malam masih di luar?" tanya Richard.


"Oh itu, gue abis nganterin baju jahitannya pelanggan bunda. Tapi tadi orangnya masih keluar, jadi gue nungguin. Sampai akhirnya kemaleman deh" Aish menjelaskan.


"Yaudah kita masuk" kata Richard, Aish mengangguk dan mereka masuk ke UGD.


"Kenapa ini?" tanya seorang dokter laki-laki muda.

__ADS_1


Aish sejenak terpesona, dokter itu sangat tampan. Wajah-wajah timur tengah dengan mata elang dan bulu mata yang lentik. Hidung mancungnya seperti perosotan anak TK. Sungguh 11 12 dengan king Shah Rukh Khan.


Dia segera menundukkan pandangan, melihat ke arah lain. Takut khilaf matanya.


"Kalian bonyok ya? Abis tawuran?" tanya dokter itu lagi menegaskan, karena tidak satupun yang mau menjelaskan.


"Kita dipalak, bukan tawuran. Hanya membela diri" jawab Richard.


"Ok. Bagian mana saja yang sakit?" tanya dokter itu.


"Kamu bisa pindah ke brankar yang lain ya" kata dokter itu pada Richard, cowok itupun pindah.


Dokter itu memeriksa tekanan darah dan juga memeriksa Aish dengan stetoskopnya. Aish diam saja merasakan sakit yangbseolah disekujur tubuhnya.


Awalnya dokter itu mengolesi mata dan bibir Aish yang lebam dengan salep, entah salep apa.


Saat dokter itu akan membuka pakaian Aish, gadis itu terkejut dan menyilangkan kedua tangannya di resleting jaketnya.


"Eh, dokter mau apa?" tanya Aish.


"Saya mau periksa bagian tubuh kamu, siapa tahu ada luka lainnya" kata dokter itu.


"Eh, jangan. em.... biar mbak suster aja deh yang periksa saya. Dokter periksa teman saya saja" kata Aish. Dokter itu tersenyum dan mengangguk, berjalan menjauhi Aish dan mendekat pada Richard, setelah menginstruksikan seorang suster untuk memeriksa Aish.


"Suster, tolong tutupin selambunya dulu ya. Saya nggak nyaman kalau terbuka seperti ini" kata Aish. Suster melakukan itu. Lalu meminta Aish membuka jaketnya, dan menyingkap tuniknya hingga batas leher. Suster itu melihat ada memar di punggung kiri Aish.


"Mbaknya tiduran tengkurap dulu ya, ini punggungnya memar, saya bersihkan dulu" kata suster.


"Aduh duh, pelan-pelan sus, sakit itu" kata Aish.


Sementara Richard yang diperiksa dokter itu juga merasa badannya sakit semua. Tapi tidak banyak memar di tubuhnya, hanya bibirnya saja yang sedikit berdarah. Tentu saja karena basic ilmu bela dirinya yang mumpuni, hanya saja tadi dia kalah jumlah dan kalah pengalaman, juga harus menjaga Aish saat sedang bertarung.


"Iya, makasih ya mbak. Teman saya sudah juga mbak?" tanya Aish tapi langsung saja nyelonong ke tempat Richard.


"Sudah?" tanya Aish, Richard mengangguk sambil merapikan bajunya juga.


"Kalian pacaran ya?" tanya dokter itu mencairkan suasana.


"Eh, enggak dok. Kita teman satu sekolah saja, kebetulan tadi Richard yang bantuin saya melawan preman" kata Aish.


"Kalian sekolah dimana?" tanya dokter itu lagi.


"Di SMA Mahardika" jawab Aish.


Dokter itu manggut-manggut seolah mengerti. Tapi sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.


"Salah satu sekolah yang di beri aliran dana sama mama kan? Berarti mereka temannya Brian?" batin dokter itu.


"Kalian temannya Brian?" tanya dokter itu.


"Bukan dok, saya nggak pernah dengar namanya Brian di sekolah" kata Aish sambil menggeleng, mengingat memang tidak ada nama Brian dalam ingatannya.


"Yasudah, kalian tebus resep ini dan minum obatnya secara rutin, dan oleskan juga salepnya agar memarnya cepat hilang" kata dokter itu sambil menuliskan resep untuk mereka.


"Terimakasih dok" ucap Richard sambil menerima kertas resep dan bersiap pergi, Aish mengekor pada Richard.


"Tapi gue lagi nggak ada duit chard, obat gue nggak usah ditebus nggak apa-apa deh" kata Aish sambil berjalan di lorong rumah sakit yang sudah sepi, dan obrolan itu sampai di telinga sang dokter.

__ADS_1


"Bukannya dia sekolah di tempat elit, kenapa tidak punya uang?" batin dokter itu.


"Sudah lo tenang aja, biar gue yang tebusin obat lo. Lo nggak usah khawatir" kata Richard.


"Jangan dong, gue malah punya utang sama lo. Gue sudah banyak berhutang budi sama lo, gue nggak enak" kata Aish.


"Bibir lo tuh sakit, masih bisa ya cerewet gitu. Sudah diem aja, gue yang bayarin. Duit gue banyak" kata Richard.


Aish mendengus, memang benar uangnya Richard banyak, tapi kan nggak enak juga kalau harus ngrepotin dia terus-terusan.


Setelah menebus obat dan masuk ke dalam mobil, Richard masih harus mengantarkan Aish pulang. Sebenarnya badannya sudah sangat lelah, tapi kan tidak tega juga kalau harus ninggalin cewek sendirian malam-malam begini.


"Kalau lo capek, gue bisa pulang naik ojol kok. Jadi lo langsung pulang aja nggak apa-apa" kata Aish, tahu kalau Richard pasti capek.


"Nggak, gue anterin lo dulu" Kata Richard.


Aish hanya diam, dia juga sudah lelah untuk berdebat. Jadi dia menurut saja saat Richard ingin mengantarnya pulang.


Sampai dihalaman rumah Aish, terlihat bundanya berjalan mondar-mandir di teras rumahnya.


"Bunda gue pasti khawatir deh, makasih ya Richard. Gue turun dulu" kata Aish keluar, menuju sang bunda yang cemas.


"Ya Allah Aish.... kamu kemana saja nak? Bunda khawatir banget" kata Bunda memeluk Aish.


"Aduh bun... punggung Aish sakit" kata Aish.


Bunda melihat wajah Aish yang memar, mata kanannya sampai hampir tak bisa terbuka.


"Loh kok jadi kayak gini sih? kamu kenapa nak?" tanya bunda mengelus sayang kepala Aish.


"Dia tadi dipalak tante" kata sebuah suara di belakang Aish, rupanya Richard masih turun untuk memastikan Aish masuk.


"Loh... kok bisa? Tapi kamu nggak apa-apa kan nak? Kamu siapa?" tanya bunda.


"Saya teman sekolahnya Aish tan, kebetulan saya tadi lewat terus ngelihat Aish dikeroyok" kata Richard, sebenarnya Aish sudah mengkode agar Richard tutup mulut. Tapi cowok itu masih buka suara.


"Besok lo masuk sekolah?" tanya Richard.


"Iya, gue nggak mau bolos" kata Aish.


"Tapi badan lo masih sakit, muka lo juga masih lebam gitu" kata Richard.


"Nggak apa-apa gue pakai masker besok" kata Aish.


"Dia ini kepala batu nak, kalau besok maunya masuk ya pasti tetap masuk sekolahnya" kata bunda.


"Yaudah, besok gue jemput lo. Kita berangkat sekolah bareng" kata Richard.


"Eh, nggak usah. Gue sudah banyak ngrepotin lo" kata Aish menolak.


"Nggak apa-apa" kata Richard.


"Saya permisi dulu tante" lanjutnya berpamitan, dan pulang kembali ke rumahnya.


Aish dan bunda masuk setelah mobil Richard hilang dari pandangan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2