
Getar ponsel Aish mengalihkan pandangannya dari jendela mobil. Aish melihat ada nama Mike yang terpampang di layar ponselnya.
"Kebetulan banget, awas lo Richard" batin Aish melirik Richard yang masih fokus mengemudi.
Dibelakang, Romeo masih asyik dengan ponselnya sendiri. Karena tidak ada yang menggubris perkataannya daritadi, dia memutuskan untuk main game saja.
Menggeser ikon hijau, selanjutnya Aish menempelkan ponsel ke telinganya.
"Assalamualaikum, Mike" sapa Aish memulai panggilan teleponnya.
(....)
Sontak Richard dan Romeo langsung menoleh pada Aish yang sibuk dengan hapenya, sedang bertelepon ria.
"Iya, ini lagi dijalan, mau pulang. Lo ingat ya hari ini gue lepas gibs?" tanya Aish dengan senyuman, seolah bahagia saat Mike menanyakannya.
(....)
"Masuk kok, kenapa memangnya?" entah Aish menanyakan tentang apa, Richard dan Romeo sangat penasaran.
(....)
"Oh, iya, oke. Gue nggak bakalan ikut upacara, lo sebagai ketua OSIS harus nolongin gue minta izin sama gurunya ya" kata Aish dengan tawa khasnya.
(....)
"Siap bos. Nanti kita cari bahan makalahnya sama-sama ya. Sorry ya, gara-gara gue malah tim kita dapat tugas tambahan" mendramatisir keadaan, Aish masih ingin agar Richard juga merasakan apa yang dia rasakan.
(....)
"Oh, sudah mendingan kok. Paling seminggu lagi juga sudah sembuh total. Makasih loh sudah perhatian sama gue" ini kalimat yang paling Richard benci.
Memangnya selama Aish sakit, siapa yang paling perhatian sama dia? Cuma diberi kata-kata saja sudah membuat Aish harus berterima kasih seperti itu.
(....)
"Ok Mike. Sampai jumpa Senin depan" masih mempertahankan senyumannya, seolah sedang berbicara bertatap muka.
(....)
"Iya, Waalaikumsalam Mike".
Sudah, Aish sudah menutup panggilan telepon dari Mike.
Pandangan Richard sangat tajam kali ini, sesekali bahkan dia menatap cukup lama pada Aish yang masih saja diam setelah menutup teleponnya tadi, padahal dia sedang mengemudi.
Dan dibelakang sana, Romeo pun tak kalah geram. Entah mengapa dia tidak suka dengan teman Aish yang satu itu.
Richard mengemudi dengan kencang, dia ingin memberi sedikit pelajaran pada Aishyah.
Sudah lama sekali Richard tidak pernah lagi turun di sirkuit balap. Semua itu dilakukannya demi menghargai Aish yang pernah melarangnya dulu.
Dan kini, dia akan membuktikan betapa menyenangkannya balapan.
Merasa laju mobil semakin kencang, Aish jadi sedikit was-was. Matanya menatap jalanan dengan awas, kadang memicing saat rasanya akan menabrak kendaraan di depannya, kadang membola saat seperti tidak bisa menikung.
Tangannya memegangi dadanya yang terasa berdegup kencang karena ketakutan.
"Astaghfirullah, Richard jangan ngebut-ngebut dong" akhirnya Aish bersuara.
Sekarang Richard yang dalam mode diam.
"Richard, lo sinting ya. Di kejar polisi baru tahu rasa, lo" komentar Romeo dari belakang.
Tak menggubris keduanya, Richard tetap menjalankan mobilnya dengan kencang.
"Ya Allah, Richard... Pelan-pelan dong, gue takut nih" kata Aish yang berpegangan erat pada seat beltnya.
Richard masih terdiam, pokoknya dia mau memberi Aish pelajaran kali ini.
Sudah banyak pengendara lain yang mengumpati cara Richard membawa mobilnya.
Romeo mengerti kalau Richard hanya ingin mengerjai Aish. Dia diam saja sekarang, bersender sambil menikmati laju kendaraan yang ditumpanginya.
Anggap saja dia sedang balapan, Romeo juga punya hobi yang sama dengan Richard. Balapan dan main musik, tapi tidak suka dengan taekwondo dan olahraga.
"Richard, gue mohon pelanin dikit ya... Please, gue takut Richard" kata Aish, tubuhnya seperti diombang-ambing, terpental-pental.
Sumpah, Aish sangat takut. Serasa maut ada didepan matanya. Dia jadi ingat ayah, bunda dan kakaknya.
"Oke, terus saja ngebut, sekencang-kencangnya. Kalau malaikat Izrail datang dan cabut nyawa gue, setidaknya gue lebih bahagia bisa kumpul sama keluarga gue".
Kalah telak kali ini, Aish memang sangat tidak suka dengan hal-hal yang sepertinya dekat dengan kematian seperti ini.
Traumanya karena sudah sendirian, tak ada lagi keluarganya karena dipisahkan oleh maut
Dasar wanita, air mata adalah senjata utama yang bisa membuat pertahanan laki-lakinya melemah.
Hati Richard melembut, dia lupa jika kekasihnya memang terlalu melow untuk diajak merasakan sesuatu yang anti mainstream.
Mata Aish sudah berkaca-kaca, wajahnya pias karena takut. Kedua tangannya menggenggam erat seat beltnya.
Sumpah, kegiatan yang membuat serasa diambang maut seperti itu selalu membuat Aish takut.
Selalu wajah orang-orang yang sudah meninggalkannya yang terngiang dibenaknya saat hampir diujung nyawa.
Masih berderai air mata, Aish terisak seperti anak kecil. Romeo belum tahu sisi Aish yang seperti ini.
__ADS_1
Yang dia tahu, Aish adalah gadis yang ceria dan jarang sekali mengeluh. Bahkan dia bisa bertahan dengan laki-laki seperti Richard yang dingin.
Romeo tidak tahu cerita masa lalu keluarga Aish, asal-usul hubungannya dengan Richard yang sempat sudah akan berpisah karena masalah hukum Willy, Helda dan Alif dulu.
Laju mobil sudah normal, Richard bahkan menepikan kendaraannya hanya untuk bisa menenangkan Aish.
"Maafin gue, Ra" kata Richard, dia sudah menggenggam telapak tangan Aish, dan rasanya sangat dingin.
Deru nafas Aish masih terdengar keras, dia masih berusaha menormalkan detak jantungnya.
"Maaf" satu tangan Richard menghapus air mata Aish.
"Cg, lo cengeng banget sih dek. Seru tahu balapan" komentar Romeo dibelakang sana.
Aish masih tak bersuara, bahkan sampai memejamkan matanya.
"Gue takut, Richard. Lo jangan ngelakuin itu lagi, ya" kata Aish yang masih sesenggukan.
"Iya, maafin gue" Richard menenggelamkan kepala Aish di dadanya. Berharap ketakutan itu segera pergi.
Kepala Aish hanya bisa mengangguk dalam dekapan Richard.
"Gue takut, Richard. Kalau sampai kenapa-kenapa sama lo gimana?".
"Kalau gue yang celaka, nggak ada yang bakalan nangisin gue. Bahkan gue bisa bahagia bisa kumpul sama keluarga gue. Tapi kalau lo yang celaka, nanti siapa lagi yang ada disamping gue? Yang bisa nguatin gue?".
Richard suka sebenarnya dengan Aish yang cerewet, tapi tidak dalam keadaan menangis begini.
Dibelakang sana, Romeo semakin penasaran. Ada apa sama Aish? Kenapa cuma begini doang bisa bikin dia sangat ketakutan seperti itu?
Sayangnya, dia sudah tidak punya cukup waktu untuk menanyakannya. Karena besok dia sudah harus kembali ke Aussie, melanjutkan kuliahnya.
"Sebentar ya, gue beliin minum buat lo" Richard menegakkan kembali tubuh Aish yang tadi dipeluknya.
Dia keluar dari mobil, dan sedikit berlari untuk membelikan minum untuk Aish.
"Lo kenapa sih dek?" tanya Romeo.
"Nggak kenapa-kenapa kok. Cengeng banget ya gue, kak?" sedikit tersenyum kaku, Aish menghapus sisa air matanya.
"Nggak nyangka gue, masak gini doang lo ketakutan sih?" tanya Romeo.
"Mendingan gue ketemu hantu daripada ada di situasi kayak tadi itu, kak" kata Aish, dia menundukkan kepalanya. Terasa sedikit pusing.
Richard sudah kembali, dia membawa sekantong penuh makanan dan minuman dari minimarket di seberang jalan.
"Ini semua gara-gara lo, Romeo sialan" kata Richard, tapi dengan melempar sebotol minuman dingin untuk kakaknya.
"Kok jadi gue, sih?" tanya Romeo.
"Makanya, jangan resek. Suka banget ngerjain orang. Entah bagaimana nasib Franda sekarang. Pasti masih nangis tuh anak" kata Richard.
"Perhatian banget, sekalian saja balik ke rumah sakit. Di cek dulu kondisinya, biar lega" sindir Aish.
"Memangnya boleh?" tanya Richard.
"Nanti kan lo bisa pulang sama Mike, ya? Dia kan perhatian banget sama lo, Ra" Richard menyindir Aish juga, tak mau kalah.
"Mendingan kalian berantem saja deh diluar. Panas telinga gue dengerin kalian berantem" kata Romeo.
Keduanya menoleh pada Romeo, kenapa orang ini tidak menyadari jika semua ini akibat ulah kejahilannya.
Kompak, Aish dan Richard melemparkan botol minuman mereka pada Romeo.
"Aduh, sialan memang kalian berdua ini" kata Romeo menahan sakit di kepalanya.
★★★★★
"Malam banget Yop? Darimana lo?" tanya Richard yang masih berada di teras rumah Aish bersama Romeo
Yopi terkejut, dia tidak mengira jika masih ada Richard disana.
"Malam gimana sih, masih juga jam sepuluh. Kalian saja juga masih disini" kata Yopi mengelak sambil melepas helm dari kepalanya.
Dia tidak akan mengatakan jika dia baru saja jalan dengan Nindi.
"Besok lo berangkat bareng gue apa gimana, Sya?" tanya Yopi, berharap mereka melupakan jika dia belum menjawab pertanyaan mereka.
"Terserah sih kalau gue" kata Aish.
"Boleh deh, biar pulangnya saja gue jemput lo. Langsung ke cafe ya besok pulang sekolah?" tanya Richard.
"Iya, boleh" kata Aish.
Yopi bahagia, dengan begitu dia bisa mengantarkan Nindi pulang besok siang.
Entah mengapa, Yopi suka ngobrol dengan Nindi akhir-akhir ini.
"Memangnya besok mau kemana kalian?" tanya Romeo.
"Sekolah dong, kak" jawab Aish tanpa berpikir.
"Kalian ini bego kok sama-sama. Besok itu hari Minggu, lupa ya kalau gue balik ke Aussie " kata Romeo mengingatkan mereka semua.
"Lo benar Romeo, kenapa gue jadi lupa kalau daritadi kita nggak pulang-pulang juga karena besok libur, ya" gumam Richard.
"Yasudah lah, kita balik saja Richard. Biar besok kalian bisa nganterin gue ke bandara, ya. Bisa kan, dek?" tanya Romeo.
__ADS_1
"Gue sih terserah Richard, kak. Kalau dia ngajak, ya gue ikut" kata Aish.
"Bolehlah, pasti. Okelah, kita pulang Richard" malah Romeo yang memutuskan.
"Gue balik dulu ya, Ra. Lo jangan tidur terlalu malam" kata Richard berpamitan.
"Gue balik duluan Yop, buruan juga lo balik" kata Richard.
Aish hanya mengangguk, dan melambaikan tangan saat keduanya beranjak. Menyisakan dia berdua dengan Yopi di teras rumahnya.
"Gue juga mau balik, Sya. Lo masuk dulu gih, motornya juga sudah gue masukin ke dalam rumah lo" kata Yopi.
"Tunggu, itu makanan buat lo. Tadi dibeliin sama Richard, tapi lo nggak datang juga. Mendingan lo makan disini saja ya" kata Aish, sebenarnya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan Yopi.
Asli, Yopi sangat kenyang. Tadi sudah makan dengan Nindi, tapi tidak mungkin menolak. Takut Aish mencurigainya.
"Iya, thank's ya" kata Yopi yang sudah duduk di seberang Aish, mereka dipisahkan meja kecil.
Yopi mulai makan, meski sangat tidak berselera. Dia sangat kenyang sebenarnya.
"Abis dari rumah Nindi?" tanya Aish.
Yopi terkejut dengan pertanyaan itu, dia hanya melirik singkat pada Aish, sementara fokusnya adalah ingin segera menghabiskan makanannya dan pergi dari sini.
"Nggak kok, gue nggak dari rumah Nindi" jawab Yopi, tadi dia tidak ke rumah Nindi memang, tapi mereka berdua jalan-jalan bersama.
"Oh, yasudah. Gue lihat lo pernah jalan sama Nindi, gue kira kalian dekat" kata Aish menyelidiki.
"Nggak kok, kita cuma teman biasa" kata Yopi mengelak.
"Gue nggak keberatan kalau lo mau deketin dia, Nindi baik kok. Tapi pesan gue cuma satu, Yop. Lo jangan rusak anak orang lagi, ya. Ingat pengalaman lo, buat itu jadi pelajaran. Jangan lo ulangi lagi sama orang lain" pesan Aish, dia sayang pada Yopi. Takut dia berbuat salah lagi.
"Lo tenang saja, Sya. Gue cuma berteman doang kok sama dia, nggak lebih" jawab Yopi.
Aish hanya mengangguk, tak ada hak lebih untuknya berbicara panjang lebar.
Sementara di tempat lain, Richard sedang bersama Romeo kali ini. Tak pernah juga sebelumnya Richard berpikir untuk bisa sedekat ini dengan kakaknya.
Kedekatan mereka dikarenakan adanya Aish sebagai penghubung. Lagi-lagi, Aish membuatnya bisa merasakan jika dia masih memiliki keluarga.
Dulu, meskipun penuh rintangan, Aish telah berhasil membuatnya dekat dengan Willy, bahkan sampai sekarang karena Willy yang membantu Richard merintis usahanya.
Sekarang, secara tidak langsung Aishpun juga membuatnya bisa sedekat ini dengan Romeo.
"Gue penasaran sama lo, Ri. Kenapa lo kelihatan cinta banget sama Aishyah? Pasti lo kena karma ya?" pertanyaan Romeo mengandung ejekan.
Richard melirik sebal, masak sih dia kena karma?
"Mana mungkin, ya mungkin memang dia jodoh gue" jawab Richard enteng.
"Apa alasannya lo pilih dia? Selain karena dia cantik" Romeo masih penasaran.
"Ya nggak ada alasannya, Romeo. Nanti lo sendiri pasti ngerasain, gimana rasanya kalau sudah benar-benar klik sama seseorang" kata Richard.
"Sok tua banget sih lo. Padahal gue loh yang jadi kakak" kata Romeo.
"Dewasa itu bukan dilihat dari usianya sih menurut gue. Buktinya lo masih suka mainin cewek saat gue sudah pas sama satu hati" kata Richard benar-benar sok dewasa.
Romeo mencebikkan bibirnya, "Geli gue sama lo yang kayak gini" cibirnya
Richard tersenyum, "Gue sendiri juga nggak ngerti, Aish tuh beda. Dari awal gue ketemu sama dia, itu sudah terasa lain" Richard mengingat pertemuan mereka dulu.
"Beda gimana?" tanya Romeo masih penasaran juga.
"Waktu itu dia lagi belain Seno yang lagi gue bully di sekolah. Dan gue nurut loh sama dia yang lagi marah" senyum Richard mengembang saat mengingat itu.
"Beneran bucin sih" gumam Romeo.
"Terus, yang katanya dia adik dari istrinya Willy yang sudah mampus itu apa juga benar?" tanya Romeo.
"Cg, bahasa lo jelek banget Romeo. Meninggal, bukannya mampus. Lo kira kucing?" Richard sedikit tidak terima saat Romeo berkata seenaknya sendiri.
"Iya, sorry. Jadi, benar?" sesal Romeo.
"Iya, dia adiknya kak Alif. Gue juga baru tahu saat kasus kematian kak Alif diperkarakan" jawab Richard.
Romeo mengangguk, rumit juga hubungan mereka.
"Terus, dia nggak marah?" tanya Romeo.
"Marah lah. Waktu itu adalah ujian terberat dalam hubungan gue sama Aishyah sejauh ini" kata Richard mengenang saat itu.
"Uwah, seru juga hubungan lo. Tapi lo beruntung sih dapat cewek kayak dia. Yang kalau ngambek nggak butuh duit banyak buat ngilangin ngambeknya, hahaha" Romeo tergelak mengingat kejadian sore tadi, Aish tak jadi ngambek cuma dengan ngebut.
"Orang baik kan ketemunya juga sama yang baik" kata Richard sudah besar kepala.
"Dia yang baik, elo mah kagak, Richard. Banyakan buruknya" ejek Romeo kali ini.
"Seenggaknya, gue sudah berusaha jadi lebih baik. Nggak kayak elo" balas Richard.
"Haduh, iya... Elo sudah jadi orang baik, nggak kayak gue" pasrah Romeo.
Richard hanya sedikit melirik pada kakaknya, "masih seperti es batu yang keisi nyawa kalau tampang lo begitu" kata Romeo.
.
.
__ADS_1
.
.