
Pagi menjelang, suasana di dalam istana sangat tidak kondusif. Semua demo karena perintah Dewi Sekar yang tiba-tiba memenjarakan Aishyah, Frans, Mahendra dan juga Senopati.
Semua kubu membawa pasukan masing-masing. Membuat Dewi Sekar merasa semakin ketakutan. Apakah tindakannya sudah kelewat batas? Tapi semua tindakannya telah dibenarkan oleh hatinya yang sedang amarah.
Memang benar apa kata orang, jangan mengambil tindakan apapun saat sedang emosi. Tahan diri, setelah tenang, pikirkan lagi dengan kepala dingin.
Kini Sekar sedang gelisah di dalam kamarnya, mondar-mandir merasa takut karena kekacauan yang ia buat.
Sementara di dalam tahanan, Aish dan Falen sedang meringkuk karena merasa pusing dan juga demam. Mungkin efek dari bisa ular masih ada di dalam tubuh mereka.
Air mata selalu lolos dari pelupuk mata Aish yang terpejam. Menggumamkan nama sang bunda, berharap bundanya datang merawatnya saat sedang sakit seperti ini.
Begitupun Falen, pria jangkung itu menggapit lututnya dan memiringkan tidurnya. Berharap merasa sedikit hangat. Dia kedinginan.
"Falen demam Hen, gimana ini?" tanya Seno setelah nengecek kening Falen yang terasa panas. Tangannya menelusup diantara dinding penjara untuk bisa memegang kening Falen.
"Pasti Aish disana juga seperti itu Sen. Gue cemas banget sama keadaan mereka. Kenapa nggak ada yang masuk kesini buat nengokin kita ya?" Hendra balik bertanya.
"Tolong .. Tolong.. Teman kami sedang sakit, tolong panggilkan tabib untuk memeriksanya" Hendra berteriak berkali-kali, berharap ada yang menolongnya.
Seseorang masuk, Seno dan Hendra menaruh harapan untuk kedua temannya agar mendapat pertolongan.
"Kalian jangan teriak-teriak, sebentar lagi kalian akan digiring ke tengah lapangan untuk disidangkan" kata seorang prajurit yang datang.
"Mata lo buta ya, teman kami sedang sakit. Tolongin dulu lah biar mereka selamat, panggilin tabib cepetan biar mereka diperiksa" bentak Hendra.
Ada beberapa orang prajurit datang, beberapa diantaranya membuka pintu tahanan. Setelah pintu terbuka, keempat tawanan penting itu diseret menuju luar gedung penjara.
"Jangan kasar-kasar, Aishyah dan Frans sedang sakit" hendra masih membentak prajurit yang membawa Aish dan Frans dengan kasar.
Aish hanya bisa berdoa, semoga tuhan memberi jalan terbaik bagi mereka. Dia tidak akan sanggup jika harus pergi menghadap Tuhannya kembali di tempat yang asing dan dalam situasi seperti itu. Air mata berjatuhan di pipi mulus Aishyah.
Sampai di lapangan, ternyata sudah berkumpul banyak orang yang terpecah menjadi kubu lawan dan kawan.
Terlihat raja dan keluarganya berdiri angkuh di podium pendek dan lebar yang cukup untuk menampung banyaknya penghuni utama kerajaan.
Dewi Sekar gugup melihat sahabat dan kekasihnya berdiri lemas seperti menahan sakit. Tangan mereka diletakkan dibagian belakang badannya, dituntun oleh prajurit kerajaan.
"*Mereka tidak bersalah, bebaskan mereka"
"Dasar orang asing tidak tahu diri, hukum mati saja mereka"
"Tegakkan keadilan, jangan hukum yang tidak bersalah*"
Ricuhnya keadaan membuat kepala Aish semakin pusing. Samar-samar dilihatnya sang babah berdiri bersama para pengikutnya untuk membela Aishyah.
Hatinya sedikit menghangat, sedikit senyum terukir di bibir Aish untuk sang babah. Betapa tulus rasa sayangnya.
Aish menoleh pada teman-temannya, mereka menatap ke sembarang arah. Bingung, pasti rasa yang dama yang keempat sekawan itu rasakan sekarang.
__ADS_1
Lapangan ini sangat luas, entah apa fungsi sebenarnya. Kini mereka berdiri dalam satu barisan menghadap lautan manusia, yang diberi jarak dengan adanya tumpukan kayu bakar.
Keluarga kerajaan berdiri di podium sebelah Aish dan kawan-kawannya. Podium Aish lebih tinggi daripada podium mereka. Entah apa yang akan mereka perbuat. Aish sudah pasrah, dia sakit, malah harus dituduh yang tidak-tidak.
"Berkumpulnya kita disini adalah untuk memberi keadilan pada keempat orang dihadapan kita ini" kata penasehat kerajaan mengawali proses hukuman.
"Dewi Sekar Taji telah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Putri Aishyah dan Tuan Frans ternyata berani melakukan tindakan asusila di wilayah kerajaan" lanjutnya.
Sontak perkataan penasehat ini membuat keempat tawanan itu melotot sempurna. Tindakan macam apa yang mereka maksud? Dan tentu saja perkataan putri raja selalu dipercaya oleh rakyatnya bukan?
Timbullah kericuhan, pro dan kontra terjadi menyambut pernyataan si penasehat.
Sungguh Sekar sangat keterlaluan karena telah menuduh seperti itu. Rasa cemburunya telah menutup mata hatinya. Membuat orang lain dalam masalah yang sangat serius seperti ini, antara hidup dan mati.
"Apapun pembelaan kalian, tentu perbuatan semacam itu tidak pantas dilakukan oleh orang terpandang seperti kalian" lanjut penasehat membakar semangat rakyat untuk mendukungnya.
Di sela-sela kericuhan, terngiang-ngiang di kepala Aish perkataan dari bisikan angin beberapa waktu yang lalu.
"Kemalangan menuju kebenaran, keangkuhan merusak tatanan, penderitaan awal munculnya kehidupan"
"Kemalangan menuju kebenaran"
"Kalian ingat kata-kata itu?" tanya Aish
"Tentu, kita adalah orang yang malang itu ternyata" kata Seno.
"Sebentar lagi kebenaran akan terungkap" lanjutnya.
"Mungkin keangkuhan raja untuk menutup kesalahan putrinya demi menutupi malu" kata Hendra.
"Sebentar lagi akan terjadi keributan besar" lanjutnya.
"Penderitaan awal munculnya kehidupan"
"Mungkinkah kita bisa kembali?" tanya Falen.
"Semoga" kata Aish lemah.
Penasehat melontarkan kata-kata yang terus menggiring opini rakyatnya seolah-olah keempat tawanannya memang patut untuk dihukum.
Segala pernyataan dan sanggahan yang keluar dari mulut Aish dan teman-temannya seolah hanya isapan jempol.
Sebenarnya Sekar tidak tega melihat pemandangan seperti itu. Tapi rasa marah membuatnya tidak bisa mengontrol diri. Sehingga untuk menarik kembali kata-katanya merupakan hal yang sangat memalukan.
Mana ada putri raja yang bertindak bodoh seperti dirinya? Dan dia memilih untuk menyelamatkan muka daripada kesetiakawanan.
Suasana semakin ricuh karena rakyat yang menginginkan mereka dihukum mati. Dibakar didepan umum. Kayu bakar telah disusun sedemikian rupa untuk prosesi hukuman.
Tentu saja pengikut setia mereka menolak, adu mulutpun tak bisa dihindari. Sementara Aish dan ketiga temannya sudah pasrah. Tidak ada pembelaan yang didengarkan, percuma. Seperti bicara pada tembok.
__ADS_1
Tiba-tiba api telah membakar tumpukan kayu didepan Aishyah, Seno, Hendra dan juga Falen.
"Silahkan sebutkan keinginan terakhir kalian" kata Algojo.
"Baiklah, kami rela dengan hukuman ini. Memang dari awal tempat ini bukanlah dunia yang sebenarnya bagi kami" kata Hendra.
"Tapi jika memang kami tidak berbuat seperti apa yang kalian tuduhkan, maka akan terjadi suatu petunjuk untuk kalian setelah kami dieksekusi" kata Seno.
"Lihatlah nanti petunjuk dari kebenaran yang sesungguhnya" kata Falen.
Sedangkan Aish sudah tidak bisa berkata-kata. Mungkinkah hidupnya akan berakhir disini? Ditempat yang tidak dikenali? Bahkan dengan cara mengerikan seperti ini?
Tanpa aba-aba, seseorang mendorong tubuh Hendra dengan sangat kuat hingga twrjun ke atas bara api.
Aish, Sebo dan Falen berteriak histeris dengan kejadian yang tiba-tiba itu.
"Hendraaaa....hiks ..hiks..hiks.." Aish menangis melihat sahabatnya menggeliat diantara kobaran api. Begitupun Seno dan Falen, bahkan tangisan mereka tak terdengar karena api yang melahap tubuh Hendra mengeluarkan suara yang mengerikan.
Giliran Seno dijatuhkan, tubuhnya terdorong sempurna setelah teriakan meminta tolong sama sekali tidak diindahkan.
Aish dan Falen semakin meraung meratapi kedua temannya yang mendahului.
"Dan inilah puncak dari segala kericuhan, pasangan asusila, dasar orang asing biadab" kata penasehat raja, membakar semangat rakyat yang ingin segera menghukum, tapi juga membuat para pengikut Aish dan Falen semakin geram.
Ternyata Aish dan Falen didorong bersamaan karena di cap sebagai biang masalah.
Keduanya telah bersiap dengan segala kemungkinan, tapi nyatanya, kobaran api tidak membuat keduanya merasa panas dan sakit.
Meski tubuh mereka menggelepar, tapi seolah mereka terjatuh pada sebuah lubang yang sangat dalam.
Rasanya seperti saat kau sedang demam, lalu bermimpi jatuh dari ketinggian. Sama juga saat kau terhanyut, dan sudah lelah untuk bergerak.
Babah Aishyah sangat terpukul dengan kejadian itu. Datangnya dia dan putrinya ke istana nyatanya hanya untuk mengantar nyawa sang putri tercinta.
Tapi sungguh kejadian aneh terlihat setelah keempat tawanan itu dieksekusi. Terlihat seperti empat sinar yang sangat terang keluar dari kobaran api, bergerak naik menuju angkasa di siang yang terik itu.
Seperti memberitahu bahwa sebenarnya mereka tidak bersalah.
Hal itu sontak membuat para pengikut keempat tawanan itu marah, karena raja telah menghukum kebenaran.
"Kalian lihat itu wahai para penghuni istana? kalian telah menghukum kebenaran" kata seorang pengikut Mahendra dengan lantang.
"Musnahkan ketidakadilan!" seru pengawal Seno.
"Serbuuuuuu!" kata pengikut Aish.
Terjadilah pertumpahan darah di kerajaan Tebo Agung siang itu. Sungguh menjadikan kerajaan itu luluh lantah, sebab kurangnya persiapan dan mudahnya menjatuhkan sang raja.
*********
__ADS_1
jangan pelit-pelit untuk klik tombol like yaa ...