Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Nindi


__ADS_3

"Nin, lo bareng sama gue ya. Nanti gue dijemput sama Richard" kata Aish saat mendengar bel pulang sekolah sudah berdenting.


"Ndak ah, aku gangguin kalian berdua nanti. Pacar kamu mukanya jutek banget kalau ada yang gangguin" kata Nindi menolak ajakan Aish dengan alasan yang sangat realistis.


"Sya, gue bantu ke gerbang ya" kata Yopi, mulai mendorong kursi roda bersama Nindi menuju gerbang sekolah.


Rupanya Richard sudah berada disana, padahal bel baru saja berbunyi.


"Aku ke halte duluan ya, Aish. Kamu hati-hati" kata Nindi berjalan berlawanan arah.


"Iya, lo juga hati-hati ya, Nindi" kata Aish yang sudah masuk ke dalam mobil. Dibantu Richard kali ini.


Tin.... Tin....


Nindi terlonjak kaget saat sebuah mobil mengklakson dengan kerasnya.


"Astaghfirullah, kaget aku. Ngapain sih?" Nindi berteriak pada mobil didepannya.


Ternyata itu adalah Yopi, perlahan dia melongokkan kepalanya setelah membuka jendela mobil.


"Hahahaha, muka lo lucu banget tahu nggak sih, Nin" ejek Yopi.


"Kamu ngapain sih?" tanya Nindi masih dengan wajah ketusnya.


"Ayo, gue anterin lo pulang. Mumpung gue lagi pakai mobilnya si bos nih" kata Yopi dengan tawa riangnya.


"Loh, ya boleh kalau begitu. Ayuk lah" kata Nindi tersenyum, memasuki mobil.


"Mobilnya keren banget ya, Yop" kata Nindi. Sebenarnya bukan pertama kalinya dia numpang pada mobil Richard.


Tapi tetap saja dia mengagumi interior mobil mewah yang tak seperti angkot yang biasa dia tumpangi.


"Dulu gue juga pernah kali punya mobil kayak gini, lagi sial saja nasib gue jadi gembel" kata Yopi mengingat betapa kaya rayanya dia dulu.


"Masak sih? Tapi kalau dari tampang sih, kamu memang ndak seperti rakjel semacam saya" komentar Nindi sambil menatap lekat wajah Yopi.


Merasa risih, Yopi mengusap wajah Nindi yang masih tak mau berpaling menatapnya daritadi.


"Lo ngapain sih?" tanya Yopi sedikit malu.


Mantan player itu agak merona dipandangi gadis lugu semacam Nindi.


"Ya aku kan lagi ngamati wajahmu, Yopi. Dari awal aku lihat kamu, pertama kali masuk sekolah dulu. Aku tuh sudah yakin kalau kamu itu sebenarnya ndak berasal dari lingkungan seperti lingkunganku" kata Nindi masih melihat Yopi, meski sudah tak se intens tadi pandangannya.


"Lo kelamaan ngelihatin gue bisa-bisa naksir lo sama gue" kata Yopi, karena saat tak sengaja melirik pada Nindi, gadis lugu itu masih saja menatapnya.


"Ndak lah, hatiku tuh sudah dimiliki seseorang. Ndak mungkin aku berpaling ke lain hati" kata Nindi dengan menggerakkan bibirnya ke bawah, niatnya mau mengejek Yopi. Tapi malah terkesan sangat lucu.


"Hahahaha, bibir lo Nin. Sudah kayak bibirnya spongebob" kata Yopi.


"Enak aja kamu itu. Cantik gini dibilang kayak Spongebob" kata Nindi yang sudah melepas pandangannya dari Yopi, kini dia melihat ke depan.


"Lagian lo sih. Rumah lo masih jauh nggak nih?" tanya Yopi.


"Ndak kok, ikutin saja jalan ini. Rumahku di tepi jalan kok, ndak masuk gang"


"Eh, iya Yop. Boleh ndak sih aku tanya sesuatu sama kamu?" tanya Nindi yang kembali menatap Yopi.


"Daritadi sudah banyak tanya, baru ijin sekarang" gerutu Yopi.


"Aku tuh penasaran banget sama kamu. Benar ndak sih kamu itu saudaranya Aish? Kok kalau dilihat secara fisik, kalian ndak ada mirip-miripnya sama sekali sih?" tanya Nindi.


"Memang bukan. Gue baru kenal sama Aish tuh ya pas SMA ini. Dulu kita satu SMA, beda jurusan" jawab Yopi yang semakin membuat Nindi heran.


"Terus, bagaimana bisa kalian kompak banget?" tanya Nindi.


"Gue disuruh jagain dia sama Richard. Panjang lah ceritanya, males banget gue ngedongengin lo. Gue harus kerja abis ini, nggak ada waktu buat cerita sama lo" kata Yopi.


"Hengmh, gitu ya. Lain kali kamu ceritain sama aku ya. Hehehe" kata Nindi sedikit kecewa.


"Lo minta diceritain sama Aish saja deh. Lain kali gue pasti bakalan sibuk banget soalnya" kata Yopi.


"Belagu banget kamu jadi orang" kata Nindi dengan lirikan tajam.


"Lagian lo kepo banget sih" kata Yopi.


"Yasudah, aku ndak jadi tanya deh" kata Nindi yang memalingkan muka, melihat ke arah jendela.


Memandangi tukang jualan kedelai rebus dan gulali di pinggir jalan. Sudah lama Nindi tak melihat penjual itu, dan kini kebetulan momennya sangat tepat.


Nindi ingin sekali membelinya.

__ADS_1


Yopi sudah salah paham, dikiranya Nindi sedang merajuk.


"Kok diem, lo marah sama gue?" tanya Yopi.


"Ndak, Yop. Aku turun disini saja deh, ndak apa-apa ya?" tanya Nindi merengek.


"Uwah, pasti marah nih anak. Dasar cewek, salah ngomong dikit doang sudah tersinggung" batin Yopi yang bingung mencari tempat untuk menepi.


"Kenapa sih? Lo beneran marah sama gue?" tanya Yopi heran.


"Ndak Yop, rumah aku sudah dekat kok. Tuh didepan yang ada pagarnya warna hitam. Yang ada warungnya itu" kata Nindi menunjuk sebuah warung yang kira-kira berjarak 300 meter dari tempat mereka berhenti.


Nindi segera membuka pintu mobil setelah Yopi berhasil menghentikan laju mobil dan menepikan di tempat yang aman.


Gadis itu segera berlari ke belakang mobil, membuat Yopi semakin heran. Masih dengan anggapan bahwa Nindi benar-benar marah, Yopi malah ikut turun untuk mengejarnya.


"Mas... Mas Danuuu... Berhenti, aku mau beli" teriak Nindi pada pedagang gulali yang sudah menjalankan sepedanya beberapa meter darinya.


Beruntung pedagang itu mendengar teriakan Nindi, diapun berbalik menghampiri langganannya.


"Maaf ya mbak Nindi, aku kirain mbaknya belum pulang sekolah. Makanya aku tinggal saja, ndak tahunya malah ngejar" kata pedagang itu dengan logat yang menyerupai Nindi.


"Aku kan jadi GR mbak, dikejar cewek cantik kayak mbak Nindi" kata Danu, penjual gulali.


Yopi terpengarah, perkiraannya salah. Ternyata Nindi sedang mengejar pria lain.


Yopi hanya bisa melongo.


Nindi menoleh ke arah Yopi, dia kira Yopi sudah pergi. Ternyata sedang melihatnya dengan tatapan aneh.


"Loh... Kamu belum balik toh, Yop?" tanya Nindi sambil mengibaskan rambutnya, cuaca cukup terik sore ini.


"Gue kira lo ngambek" kata Yopi berjalan mendekati Nindi dan pedagang gulali.


"Mau beli berapa, mbak Nindi?" tanya Danu, si pedagang gulali.


"Beli sepuluh ribu, mas. Sama gulali model ayam, dua tusuk ya" Nindi memesan gulali sekalian untuk Yopi.


Kembali menoleh pada Yopi, Nindi tersenyum karena kulit putih Yopi terlihat memerah terkena paparan sinar matahari.


"Aku lagi mau beli kedelai rebus, ini tuh makanan favorit aku. Soalnya makanan ini sudah sangat langka" kata Nindi kembali mengamati proses pembuatan gulali pesanannya.


Nindi sudah menerima sekresek kecil kedelai rebus tadi.


"Mau ndak?" Nindi menawarkan bungkusan kedelai rebus pada Yopi.


"Apaan nih? Aneh banget bentuknya?" tanya Yopi yang memang baru pertama kali melihat kedelai rebus.


"Ini tuh kedelai, bahan dasar untuk membuat tempe. Masak sih kamu ndak tahu?" tanya Nindi yang mendapat gelengan kepala dari Yopi.


"Cobain deh, rasanya enak loh" kata Nindi mengupaskan kedelai untuk Yopi coba rasanya.


Agak ragu sebenarnya, tapi Yopi penasaran juga.


"Lumayan juga, not bad lah" komentar Yopi.


"Bukan lumayan, tapi ini tuh enak, Yopi" kata Nindi yang tidak terima dengan komentar Yopi. Karena Yopi terus saja memasukkan biji-biji kedelai yang telah terkupas ke dalam mulutnya.


"Kenapa lo suka sama makanan kayak gini? Jujur ini pertama kali gue nyoba" kata Yopi yang masih sibuk membuka kulit kedelai.


"Soalnya, rasanya mengingatkanku pada tempe asli buatan Malang. Tempe Malang itu rasanya beda banget, dan kedelai ini bisa mengobati rasa rinduku pada tempe, hehehe" alasan yang aneh menurut Yopi.


"Beli tempe biasanya kan ada Nin, nggak ada bedanya. Semua tempa tuh sama, rasanya ya kayak gitu" komentar Yopi.


Nindi melirik tajam, lalu berkomentar juga. "Ndak sama Yopi ganteng, kamu ndak pernah toh ngerasain makan tempe Malang asli?" tanya Nindi.


"Nggak minat gue. Makan steak saja enak, daripada tempe" kata Yopi dengan mulut yang masih daja mengunyah biji-biji kedelai rebus.


"Kebanyakan steak bisa stroke ringan kamu nanti. Kalau tempe kan ndak, makanan sehat itu. Tinggi protein. Kamu pernah baca artikel kalau tempe itu makanan tersehat di dunia ndak sih?" tanya Nindi gemas, tidak terima jika makanan favoritnya diejek.


"Nggak. Lagian nggak ada gunanya juga baca-baca yang kayak gitu. Kerjaan gue banyak, nggak ada waktu buat baca artikel nggak guna kayak gitu" kata Yopi.


Kembali Nindi melirik pada Yopi. "Bilangnya ndak guna, ndak minat. Tapi yah, tuh mulut ndan berhenti mengunyah" kata Nindi.


"Eh, iya. Mau habis aja nih biji. Bang, gue beli juga deh, dua puluh ribu. Kantongin jadi dua bang, sepuluh ribuan" kata Yopi.


"Siap, maseh" kata penjualnya.


Membuat Yopi sedikit tertawa dengan perkataan penjual itu. Sangat kekinian.


"Nih mas. Ini punya mbak Nindi cantik" kata Danu menyerahkan dua kresek kedelai pada Yopi, dan dua permen gulali pada Nindi.

__ADS_1


"Berapa bang semuanya?" tanya Yopi.


"Tiga puluh ribu, maseh" jawab Danu.


Yopi menyerahkan selembar uang berwarna biru, "Kembaliannya buat abangnya saja" kata Yopi.


"Uwah, makasih ya maseh. Semoga rejekinya lancar, langgeng sampai maut memisahkan sama mbak Nindi, ndak sering berdebat ya" kata Danu dengan senyuman.


Tapi malah membuat Yopi dan. Nindi saling bertatapan dengan raut wajah aneh.


"Mas Danu salah paham, dia ini temannya Nindi. Bukan pacarnya Nindi" komentar Nindi.


"Oh, belum ya. Ya ndak apa-apa disegerakan saja pacarannya. Hehehe. Yasudah, saya keliling lagi ya mbak Nindi" kata Danu.


Nindi hanya tersenyum dan melambaikan tangannya. Yopi tak lepas melihat wajah Nindi, "Manis juga" gumam Yopi.


"Nih buat kamu" kata Nindi membuyarkan lamunan Yopi.


"Nggak mau gue" kata Yopi.


"Ini tuh enak, Yopi. Kayak tadi kedelai itu, kamu kan awalnya ndak mau. Malah keterusan ngunyahnya" kata Nindi sambil berjalan menuju rumahnya yang sudah terlihat.


Yopi menerima permen lembek berbentuk ayam jago dari tangan Nindi. Dan mulai menjilati. Rasanya manis, seperti gula yang direbus.


"Tuh, enak kan?" kata Nindi yang masih melihat Yopi berdiri di tempatnya sambil menjilati permen gulali.


Yopi tersadar, dan segera beranjak mensejajari langkah Nindi.


"Gue anterin lagi ya" kata Yopi.


"Ndak usah deh, Yop. Sudah dekat juga. Makasih lo ya" kata Nindi mengangkat kantong kresek berisi kedelai rebus pemberian Yopi tadi.


"Nggak apa-apa, Nin. Lagian searah juga. Yuk naik" kata Yopi membukakan pintu depan untuk Nindi.


Tak bisa menolak, akhirnya Nindi mau juga menaiki mobil.


Yopi sedikit berlari mengitari mobil untuk masuk ke kursi kemudi.


"Kok ndak jalan juga sih, Yop?" tanya Nindi, Yopi masih asyik dengan permen gulalinya.


"Bentar, lagi nanggung" kata Yopi yang akhirnya melahap permen itu dalam satu kunyahan.


Nindi tertawa melihat kelakuan Yopi. "Ndak enak kalau makannya sekali hap gitu. Dinikmati lah, Yopi. Buru-buru amat" kaya Nindi.


"Tadi suruh buruan, repot banget lo jadi cewek" kata Yopi yang semakin membuat Nindi tertawa.


"Lo suka banget ketawa ya, Nin?" kata Yopi yang sudah menghidupkan mesin mobilnya.


"Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang" kata Nindi.


"Nggak bakalan ada yang ngelarang orang ketawa kali Nin. Lo aneh-aneh saja" kata Yopi.


"Kadang larangan tertawa itu bukan berasal dari larangan orang, Yopi. Tapi karena keadaan yang melarang. Kalau kamu lagi sedih, hati kamu merana. Meskipun ada kang Sule di depan kamu lagi ngelucu, kamu juga ndak bakalan ketawa. Karena keadaan kamu yang melarang. Gitu loh maksudku" kata Nindi menjelaskan, dia juga masih sibuk dengan biji-biji kedelai.


Yopi sedikit berpikir, "benar juga nih cewek. Keadaan gue sering bikin gue nggak bisa ketawa. Nih cewek sakti juga ya, sering banget ketawa" batin Yopi.


"Lo sendiri sering banget ketawa. Apa hidup lo selalu happy ya?" tanya Yopi penasaran. Bahkan dia sudah mematikan lagi mesin mobil, karena sudah sampai didepan rumah Nindi.


"Ndak lah. Senang, sedih, susah, gembira itu kan selalu berputar, Yop. Kalau pas lagi senang, ya ketawa. Kalau lagi sedih, bisanya ya ngetawain kesedihan kita. Iya nggak?" kata Nindi.


"Iya, lo benar. Gue sering banget ngetawain kesialan gue akhir-akhir ini" kata Yopi dengan pandangan menerawang. Membayangkan kesedihan-kesedihan yang selama ini dia alami.


"Sudah, ndak usah terlalu difikirkan. Nanti kesedihan kamu itu pasti akan berlalu, berganti kebahagiaan. Pasti itu" kata Nindi yakin.


"Karena setelah kebahagiaan itu terjadi, pasti akan ada lagi kesedihan lainnya. Semua itu terus berputar, Yop. Selama masih ada nafas di badan ini, maka sudah pasti akan selalu ada silih berganti cobaan hidup. Jadi, jangan terlalu bersedih ya" kata Nindi menyemangati Yopi yang terlihat muram.


Yopi tersenyum, mendengar penuturan Nindi. Gadis periang ini punya pandangan hidup yang bagus menurut Yopi.


"Makasih sudah mau anterin aku pulang ya. Makasih juga buat ini. Kamu hati-hati dijalan. Salam buat Aishyah ya" kata Nindi sambil sedikit mengangkat kedelai rebusnya.


Kembali wajah Nindi menampilkan senyuman. "Gadis yang murah senyum" pikir Yopi.


"Iya, lo hati-hati kalau masuk rumah" kata Yopi.


Nindi sudah menutup kembali pintu mobilnya. Saat Yopi sudah mulai beranjak, masih saja Nindi melambaikan tangan dan tersenyum.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2