Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
kang cilok


__ADS_3

Aish melihat tukang cilok yang duduk di tepi jalan. Pandangan matanya menyiratkan Keletihan yang luar biasa, sementara dagangannya terlihat masih banyak.


"Kasihan, pasti orang rumahnya nungguin" gumam Aish, dia merogoh kantongnya. Ternyata ada uang dua puluh ribu, uang yang rencananya akan digunakan untuk naik angkot.


"Lo ngomong sesuatu?" tanya Richard.


"Nggak ada. Bisa berhenti sebentar nggak? Gue mau beli cilok" kata Aish.


"Lo mau beli makanan kayak gitu?" tanya Richard.


"Memangnya kenapa?" Aish balik bertanya.


"Kan nggak higienis, lo nanti sakit perut" kata Richard.


"Nggak akan, berhenti bentaran ya. Pliiss..." kata Aish memohon.


"Lo yakin?" tanya Richard lagi, dia mulai memperlambat laju mobilnya.


"Bahkan gue pernah minum air langsung dari kran, dan gue masih hidup sampai sekarang" kata Aish sambil menertawakan kebiasaan buruknya itu.


"Mulai sekarang harus dihilangkan kebiasaan buruk lo itu" kata Richard, mobilnya sudah benar-benar berhenti di samping penjual cilok.


Aish hanya tersenyum menanggapi perkataan Richard. Dia keluar dari mobil Richard, menghampiri si penjual cilok yang berwajah masam.


"Masih ada bang ciloknya?" tanya Aish.


"Masih banyak neng. Mau beli?" tanya si penjual.


"Boleh, berapaan bang?" tanya Aish.


"Lima ribu seporsinya neng" kata si abang penjual.


"Beli empat porsi saja deh bang, saos kacang sama kecapnya disatuin saja, sambelnya disendirikan ya bang" kata Aish memesan.


"Siap neng. Segera laksanakan" kata penjual itu semangat.


"Seharusnya sambelnya jangan disendirikan neng" kata si penjual.


"Memangnya kenapa bang?" tanya Aish.


"Nanti rindu neng, katanya rindu itu berat. Kasihan, nanti sambelnya tidak kuat" kata si penjual cilok melawak.


"Idih, abang bisa saja" Aish tertawa mendengar gombalan receh si abang tukang cilok.


Richard tersenyum memandang interaksi Aishyah dan si penjual cilok. Rasa kagumnya pada Aishyah semakin bertambah karena sifat rendah hatinya.


"Richard, lo mau kan bantuin gue makan cilok ini?" tanya Aish pada Richard yang berdiri saja di belakangnya.


Richard hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi perkataan Aishyah.


"Eh neng, si eneng pinter banget cari pacar" kata penjual cilok.


"Gue nggak punya pacar tuh bang" kata Aish.


"Sama abang mau nggak?" tanya si abang cilok.

__ADS_1


"inget anak bini bang" kata Richard, Aish masih saja tersenyum mendengar perkataan si abang cilok yang menurutnya lucu.


"Berarti si abangnya nih yang pinter nyari pacar" kata Kang cilok pada Richard.


"Kenapa bang?" Richard mengomentari perkataan si abang.


"Kalian serasi, yang cewek cantik terus yang cowoknya ganteng. Abang doain kalian langgeng ya" kata si kang cilok.


"Amin" kata Richard.


"Malah diaminin" kata Aish tersipu malu.


"Sudah belum bang bikinnya?" tanya Aish untuk mengusir rasa malu.


"Sudah neng, ini jadinya dua puluh ribu ya neng" kata si kang cilok.


Aish merogoh sakunya, mencari keberadaan selembar uang terakhirnya. Ketemu, tapi saat akan membayar, Richard sudah mendahului. Menyodorkan selembar uang berwarna biru pada si penjual cilok.


"Kembaliannya ambil saja bang" kata Richard.


"Terimakasih bang" kata kang cilok itu senang, doa-doa tulus terucap dari mulut si tukang cilok setelah menerima uang dari Richard.


Aish dan Richard telah kembali ke mobilnya. "Makasih ya Richard" kata Aish.


"Sama-sama" jawab Richard, dia masih belum berencana untuk menyalakan mesin mobilnya.


Aish membuka satu bungkusan ciloknya, menuang sedikit sambal kedalamnya. Dia mencolok gumpalan aci itu setelah bumbunya menyatu.


"Enaknya" kata Aish saat cilok itu masuk ke dalam mulutnya.


Richard memandangi Aishyah, wajah lugunya seolah menghipnotis Richard untuk terus memandangi.


Tanpa meminta persetujuan Richard, Aish membuka bungkusan cilok lainnya. Menaruh tusuk sate ke dalamnya dan menyodorkan pada Richard yang masih terdiam.


"Ini, buat lo. Kan lo yang beli, jadi harus makan juga ya" kata Aish.


"Gue nggak minat" kata Richard.


"Ayo dong cobain, pasti nanti lo suka deh" kata Aish lagi.


Mau tak mau diapun menerima bungkusan itu, dia mulai memakannya. Ternyata rasanya lumayan juga, tak seburuk pemikirannya.


Mereka berdua masih tetap diposisinya, memakan cilok di dalam mobil Richard yang terparkir di pinggir jalan.


Tukang cilok masih mangkal ditempat semula, sudah selarut ini dia masih berusaha menjual dagangannya.


Aish merasa jika Richard tidak seburuk penampilannya. Dia dan kedua temannya kerap disebut-sebut sebagai pembuat onar karena sering menjumpai bu Kris si guru BP.


Tapi banyak juga fans dari ketiganya karena memang bakat bermusiknya yang luar biasa, ditambah wajah mereka yang rupawan. Kaum hawa di sekolah Aish sering mengirim hadiah untuk mereka bertiga.


"Ngapain lo perhatiin gue, bisa naksir lo nanti" kata Richard yang diperhatikan Aish.


"Lo baik juga ya ternyata" kata Aish.


"Memangnya seperti apa gue selama ini menurut lo?" tanya Richard.

__ADS_1


Aish bingung harus menjawab apa, untung saja obrolan mereka harus terjeda karena ponsel Aishyah yang bergetar, ada pesan masuk rupanya.


Rupanya dokter Siras yang menanyakan apakah Aish sudah dirumah atau belum.


"Siapa?" tanya Richard.


"Dokter Siras, nanyain sudah dirumah apa belum katanya" jawab Aish.


"Tuh kan, dokter itu menaruh perhatian lebih sama lo" kata Richard.


"Biarin deh. Pulang yuk, sudah setengah sebelas ini" kata Aish.


"Ok" kata Richard sedikit kecewa, cowok itu mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Richard senang karena malam ini dia bisa bersama Aish meski hanya sebentar. Dia berharap akan ada waktu lebih untuknya agar bisa bersama.


*****************


"Sebentar lagi akan diadakan pensi untuk menyambut acara ulang tahun sekolah kita ini. Diharapkan untuk semua murid untuk mau berpartisipasi. Oleh karenanya, pada pertemuan yang akan datang, saya minta kalian untuk menunjukkan bakat kalian di bidang seni. Boleh tarian, nyanyian, permainan musik, puisi atau apapun" kata guru seni yang mengisi pelajaran kali ini.


"Setiap anak boleh menunjukkan bakatnya, apapun itu. Dan yang terpilih akan otomatis mendapatkan nilai A pada rapor kalian nanti. Kalian bisa berlatih sejak hari ini, dan akan tampil di pertemuan yang akan datang. Jadi, persiapkan diri kalian. Sampai jumpa minggu depan" kata guru kesenian itu sebelum mengakhiri pertemuannya kali ini.


Aish jadi frustasi, karena dia benar-benar tidak ada bakat di dunia Seni. "Mampus gue kali ini" kata Aish setelah gurunya pergi.


"Kenapa princess?" tanya Falen.


"Gue harus apa sama tugas kali ini bule?" tanya Aish.


"Terserah lo sih, nyanyi aja. Siara lo kan cempreng" kata Falen meledek.


"Jahat memang lo. Ajarin gue main alat musik dong bule" kata Aish.


"Maaf banget ya princess cantikku, seminggu ini gue harus bantuin papi di kantor. Papi maksa gue harus belajar urusan kantor juga" kata Falen.


"Hendra, bantuin gue ya" kata Aish lagi.


"Gue juga minta maaf banget princess, ada urusan yang benar-benar penting yang harus gue kerjakan dalam minggu-minggu ini" jawab Hendra, mengingat urusannya dengan abang kembarnya masih belum terlaksana.


"Seno mah nggak usah ditanya, orang sibuk" kata Aish pasrah.


"Maafin gue ya princess" kata Seno.


"Lo nanti izin lagi ya Hen?" tanya Aish.


"Iya princess, ada urusan yang benar-benar penting yang harus gue kerjakan" kata Hendra.


"Terus nilai praktek lo gimana dong?" tanya Aish lagi.


"Gue sudah konsultasi sama senior kita, katanya boleh nggak ikut jaga tapi harus ngumpulin makalah tentang kesehatan gitu" kata Hendra.


"Urusan apa sih Hen?" tanya Aish penasaran.


"Urusan keluarga kok" kata Hendra. Tidak mungkin dia menceritakan hal ini kepada Aish karena semuanya masih belum jelas.


"Yasudahlah, biar gue nyari inspirasi nanti. Seandainya boleh ganti dengan menulis karya ilmiah" kata Aish lesu.

__ADS_1


Sebenarnya Falen dan Hendra kasihan juga melihat Aish yang tidak bersemangat. Tapi urusannya dengan Fian kali ini lebih penting daripada tugas kesenian ini sekalipun.


Beruntung mereka berdua ada sedikit bakat dalam bermusik. Hendra dan Falen sama-sama bisa bermain gitar, bahkan Hendra sudah biasa dengan tuts-tuts pada piano.


__ADS_2