Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
permintaan maaf Indira


__ADS_3

"Sebuah video unggahan dari Senopati menggegerkan publik lagi. Pasalnya, dari video itu diketahui jika seorang model pendatang baru sedang live dan mengakui semua perbuatannya yang pernah menyinggung princess Aishyah beberapa waktu yang lalu" kata seorang presenter di sebuah berita gosip artis di stasiun TV terkenal.


Kebetulan waktu itu Aish sedang menonton TV bersama Nindi di rumahnya.


"Lho, Aish. Denger deh, berita tentang kamu lagi ini" kata Nindi.


"Iya gue lihat" kata Aish ketus.


"Ih, biasa saja kali mukanya itu" kata Nindi.


Mereka berduapun menyimak berita itu dengan serius.


"Aku tuh ndak nyangka kalau ada orang kayak gitu ya? Sampai merugikan orang lain cuma karena alasan hati" kata Nindi.


"Bahasa lo, Nin. Ketinggian" kata Aish mengejek.


"Biarin lah, Aishyah yang cantik. Indira itu siapa sih?" tanya Nindi.


"Temannya Falen. Dia kakak tingkat kita di kampus nanti lho, Nin. Pasti nanti kita sering ketemu sama dia" kata Aish dengan tenangnya.


"Ehm .. Terus hubungan kamu sama Richard bagaimana? Kelihatan banget lho kalau kamu tuh masih sayang banget sama dia. Kenapa nggak balikan saja sih?" tanya Nindi.


"Gue masih ragu, Nin. Lo tahu sendiri kan kalau ridho orang tua itu juga ridhonya Tuhan. Jadi, selama orang tuanya Richard nggak setuju sama hubungan gue, ya gue bisa apa Nin?" tanya Aish.


"Gue nggak mau kalau gue paksain sebuah hubungan, nanti suatu saat gue malah musuhan sama mertua gue. Ih, nggak enak banget pasti kan, Nin? Coba kalau lo jadi gue" kata Aish.


"Benar juga sih, tapi kok jadi aku yang nggak mau kalian putus sih, Aish" kata Nindi.


"Kalian kawin lari saja deh, bagaimana?" saran Nindi.


"Kalau kalian berdua nikah diam-diam, terus pulang-pulang bawa anak pasti orang tuanya Richard setuju deh sama kamu. Lagian mamanya Richard itu lho kelihatan banget kalau suka sama kamu, Aish" kata Nindi.


"Otak lo, Nin. Anak mulu. Kuliah dulu yang rajin, baru mikirin anak" kata Aish.


"Emang lo pikir nikah di usia muda itu enak?" tanya Aish.


"Ya ndak tahu aku, Aishyah. Kan belum pernah. Tapi aku memang rencananya tuh pengennya nikah di usia muda. Pengen jadi mahmud gitu" kata Nindi sambil tersenyum jahil.


"Apaan mahmud?" tanya Aish.


"Mamah muda, Aish. Ndak gaul banget sih, kamu tuh " kata Nindi.


"Yang ada nih ya, nanti kalau anak lo nangis, elonya ikutan nangis juga. Jadi lomba nangis, Nindi" kata Aish.


"Hahahaha. Iya juga ya" kata Nindi.


Malam ini, rencananya Nindi akan menginap di rumah Aish. Besok pagi-pagi sekali mereka berdua masih harus berurusan dengan administrasi perkuliahannya.


"Hape kamu bunyi, Aish" kata Nindi.


"Iya" kata Aish yang melihat ada nama Seno di layarnya.


"Assalamualaikum, ada apa Seno?" tanya Aish.


"Waalaikumsalam, lo lagi dimana princess?" tanya Seno.


"Dirumah. Nih lagi sama Nindi, kenapa memangnya?" tanya Aish.


"Ada beberapa orang yang mau mampir ke rumah lo. Untung saja lo lagi ada temannya, soalnya syuting gue belum kelar" kata Seno.


"Siapa memangnya?" tanya Aish.


"Orang-orang yang lagi nyari berita" jawab Seno.


"Cg, gue nggak suka deh kalau rame-rame gitu Sen" kata Aish.


"Kan ada si Nindi, princess. Lo minta dia saja yang temui mereka" ide Seno brilian kali ini.


"Oh, benar juga" kata Aish sambil memindai penampilan Nindi yang cukup bagus malam ini.


"Gue cuma mau ngabari itu doang sih. Yasudah, gue lanjut syuting dulu ya princess. Assalamualaikum " pamit Seno


"Waalaikumsalam, Seno" kata Aish menutup teleponnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu telepon-teleponan sama Senopati tapi ngelirik aku seperti itu?" tanya Nindi dengan perasaan tidak enak.


"Ehm.. Gimana ya Nin. Gue kan nggak suka dilihat banyak orang. Tapi barusan Seno bilang kalau mau ada segerombolan wartawan datang ke rumah gue" kata Aish.


"Terus?" tanya Nindi.


"Mau nggak kalai lo saja yang temui mereka?" tanya Aish penuh harap.


"Uwah, boleh banget. Oke terus kalau aku. Kamu tenang saja ya. Memangnya aku harus bicara bagaimana?" Nindi malah penuh semangat mengiyakan permintaan Aish.


"Kocak lo" ledek Aish.


"Jadi apa ndak nih? Berubah pikiran lho akunya nanti" kata Nindi.


"Yee .. Jangan dong. Masak cantik-cantik ngambekan sih" goda Aish.


"Jadi, Indira mau kesini, Nin. Terus Seno bilang katanya ada beberapa pertanyaan juga dari wartawan. Lo bebas sih mau jawab apa. Tapi kalau tanya gue kemana, bilang saja gue lagi nggak enak badan. Lagi istirahat. Gitu ya?" tanya Aish memastikan kepahaman Nindi.


"Oh, beres itu mah. Yang penting kan aku bisa masuk TV kan?" tanya Nindi.


"Nggak muat kali, Nin" kata Aish.


"Mboh lah. Males aku ngomong sama kamu" kata Nindi jengkel.


Tok .. Tok... Tok..


Nindi segera beranjak saat terdengar ketukan di pintu rumah Aish.


"Pasti mereka yang datang ya, Aish?" tanya Nindi sudah tidak sabar.


"Kita lihat dulu dari jendela yuk" ajak Aish.


"Permisi"


"Spada"


"Selamat malam"


"Assalamualaikum"


Sementara Aish dan Nindi masih mengintip dari balik tirai.


"Wah, benar mereka datang Aish" bisik Nindi senang. Seperti anak kecil di hari pertama lebaran saat kedatangan tamu.


"Lo handle dengan baik, ya. Nanti gue traktir mie ayam deh. Tapi jangan ngomong yang aneh-aneh. Awas saja lo" kata Aish memperhatikan Nindi yang suka ember.


"Beres, serahkan sama Nindi cantik. Sekarang kamu masuk, rebahan di kamar. Dan tunggu berita baiknya launching ya" kata Nindi sudah tidak sabar.


"Iya" kata Aish berlari ke dalam kamarnya.


Setelah situasi aman, Nindi membuka pintu rumah Aish dan menyapa para pemburu berita.


"Waalaikumsalam, eh .. Ada apa ya, kok rame-rame begini bertamu ke rumah orang?" tanya Nindi pada para wartawan, dan segera menutup pintu kembali.


Dilihatnya ada sesosok wanita cantik yang di amankan oleh dua orang bertubuh tegap di belakangnya. Perawakan polisi, tapi bukan polisi.


Nindi belum tahu saja kalau itu adalah bodyguardnya Seno yang ditugaskan untuk mengawal Indira hingga dia meminta maaf pada Aish.


"Selamat malam, maaf kami sedang mencari princess Aishyah. Apakah yang bersangkutan ada di rumahnya?" tanya seorang wartawan yang sedikit kecewa karena bukanlah Aish yang membuka pintu.


Apalagi semua kamera wartawan disana sudah dalam posisi on semua.


Nindi tersenyum sebelum menjawabnya, sebenarnya Nindipun juga sangat cantik meski tanpa polesan make up apapun di wajahnya.


"Maaf ya, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Teman saya, sahabat baik saya yang bernama Aishyah Khumaira itu sedang tidak enak badan. Dia seperti kekurangan imun untuk menjaga daya tahan tubuhnya akibat serangan berita-berita hoax yang beberapa hari ini terus menerpanya".


Jawaban Nindi semakin membuat Indira tertunduk dalam. Dia memang menyadari jika kadang kekuatan media memang sering membuat mental seseorang down dan menjadi stress, hingga membuat tubuh menjadi tumbang.


Sedangkan Nindi malah melirik tajam pada Indira yang baru pertama kali dilihatnya tapi sudah membuat Nindi memutuskan untuk menjauhinya saja di masa depan.


"Anda siapa? Boleh dijelaskan apa hubungan anda dengan princess Aishyah?" tanya wartawan.


"Oh, nama saya Anindita. Panggil saja saya Nindi. Saya sahabat baik Aishyah, dan sekarang saya berada di rumahnya karena khusus untuk merawat Aishyah yang sedang kurang enak badan" alasan Nindi terdengar terlalu berlebihan menurut Aish.

__ADS_1


Tapi tak apalah, daripada dia sendiri yang harus keluar dari rumahnya.


"Kalau boleh tahu, sakit apa princess Aishyah? Ke dokter mana biasanya dia memeriksakan diri? Dan bagaimana kondisi terakhir princess Aishyah?" dari dengungan pertanyaan dari para wartawan, hanya itu yang berhasil Nindi tangkap dengan telinganya.


"Jadi, Aishyah sekarang sedang beristirahat. Tidak bisa diganggu dulu, kalau ada yang perlu disampaikan bisa melewati saya sebagai perantaranya. Karena memang kondisinya cukup mengkhawatirkan" kata Nindi.


Berondongan pertanyaan kembali muncul. Dan Nindi tidak bisa mendengar dengan jelas.


"Begini saja, tujuan utamanya silahkan disampaikan dulu. Pasti akan saya sampaikan pada Aishyah nanti" kata Nindi.


Semuanya terdiam saat seorang body guard mengisyaratkan tanda silang menggunakan tangannya agar semua berhenti berbicara.


"Silahkan nona segera sampaikan permintaan maafnya, dan nona Nindi bisa merekamnya agar bisa dilihat secara langsung oleh Non Aish nanti" kata bodyguard itu.


Nindi setuju, segera dia mengeluarkan ponselnya dan mengaktifkan video untuk merekam perkataan Indira.


"Sudah" kata Nindi yang menyorotkan kamera ponselnya lada Indira.


"Selamat malam Aishyah. Saya Indira, melalui media ini saya ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya karena keteledoran saya membuat banyak kerugian untuk kamu" kata Indira mengawali permintaan maafnya.


"Dan saya mohon agar permasalahan kita ini tidak sampai ke ranah hukum. Karena pasti akan memerlukan waktu yang panjang dan tenaga yang besar untuk melalui semuanya".


"Sekali lagi saya sangat berharap kamu mau memaafkan semua perbuatan saya dan teman saya yang dengan sengaja menyebarluaskan berita tentang kamu tanpa persetujuan dari kamu".


"Saya harap permasalahan ini bisa kita selesaikan secara kekeluargaan. Terimakasih" Indira mengakhiri permintaan maafnya.


Nindipun sudah merekam semuanya atas permintaan bodyguard Seno. Tak lupa para wartawan juga sudah mengabadikan momen itu dengan kameranya masing-masing.


"Mohon dijelaskan terlebih dahulu nona Nindi, bagaimana keadaan princess Aishyah sekarang" masih sempat wartawan itu bertanya.


"Kondisinya cukup mengkhawatirkan. Sekarang sedang beristirahat setelah meminum obatnya. Jadi, alangkah baiknya jika keramaian seperti ini harus dihindari dulu oleh Aishyah. Karena kondisi jiwa dan raganya sedang tidak bagus" kata Nindi benar-benar terkesan serius.


"Lantas bagaimana hubungannya dengan Richard? Apakah benar jika sudah kandas?" tanya wartawan lainnya.


"Kalau untuk itu saya nggak bisa memberi tahu secara sembarangan. Yang jelas, mereka masih memerlukan restu dari kedua orang tua Richard. Jika restunya audah didapatkan, kita doakan saja mereka berdua bisa segera melangkah ke jenjang yang lebih serius" pernyataan macam apa yang telah Nindi berikan.


"Satu pertanyaan lagi, bagaimana hubungan antara princess Aishyah, Senopati dan Hendra yang sebenarnya? Bisakah sedikit dijelaskan disini?" tanya seorang wartawan.


"Senopati, Hendra dan satu lagi Falentino itu adalah sahabat-sahabat terbaiknya Aishyah. Saya saja sering cemburu melihat kedekatan mereka" kata Nindi.


"Mungkin memang kalau orang yang baru mengetahui mereka berjalan berduaan saja, entah Aish dengan Seno, atau Aish dengan Hendra, apalagi dengan Falentino yang suka merangkul pundak Aish. Pasti kalian akan menganggap mereka itu punya hubungan lebih".


"Padahal ya mereka adalah sahabat, lebih ke saudara mungkin ya. Dan saya suka melihat pertemanan mereka" kata Nindi tulus saat menilai persahabatan para punggawa dan princessnya.


"Dan bagaimana tanggapan mereka atas berakhirnya hubungan Aishyah dan Richard?" tanya seorang wartawan.


"Saya tidak begitu tahu mengenai hal itu. Karena kan itu privasi mereka ya. Tapi saya rasa mereka bertiga juga tidak keberatan kalau Aish masih bersama Richard" kata Nindi sambil melirik pada Indira yang hanya diam saja daritadi.


"Satu pertanyaan lagi..." kata Wartawan yang langsung dipotong oleh Nindi.


"Saya minta maaf banget ya kakak-kakak wartawan semua. Berhubung ini sudah malam, dan kondisi Aishyah sedang tidak bagus. Alangkah baiknya kalau kalian memberi waktu untuk Aishyah beristirahat. Untuk sesi wawancaranya bisa dilanjutkan lain waktu saat Aishyah sudah lebih baik" kata Nindi menyela pembicaraan mereka.


"Terima kasih atas kedatangan semuanya, hati-hati di jalan. Selamat malam, assalamualaikum " pamit Nindi sambil berusaha masuk dan menutup pintu rumah Aishyah.


Dua orang body guard Seno sedang berusaha menghalau para wartawan yang masih ingin menetap disana dan mencari lebih banyak informasi.


Dan untuk Indira, bodyguard Seno membiarkan gadis itu pulang sendiri. Entah akan kemana dia selanjutnya. Mereka berdua sudah tidak perduli karena tugasnya hanya untuk mengantarnya ke rumah Aish. Bukan untuk mengantarkan dia pulang.


"Huh, sial banget sih nasib gue. Sudah capek,asih harus berjalan kaki sampai kesini. Dan sekarang apa lagi? Masih belum ada angkot yang lewat" keluh Indira.


Sedangkan Aish sedang terkikik geli bersama Nindi di dalam kamarnya sambil melihat permintaan maaf dari Indira.


Karena dibelakangnya, Nindi sedang mengolok-olok saat Indira bicara pada kamera tanpa sepengetahuannya.


"Sudah Nin. Kita tidur ya sekarang. Besok pagi kita harus ke kampus. Jangan sampai telat" kata Aish.


Mereka berduapun tidur setelah saling mengobrol beberapa saat.


Entah siapa yang lebih dulu tertidur, yang jelas keduanya sudah terlelap sebelum tengah malam menjelang.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2