
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Awal Senin di bulan Desember, adalah awal dimana Aish dan semua anggota PMR SMA Mahardika melakukan giat di rumah sakit Persada.
Jadwal hari ini Aish yang tentu bersama Hendra ikut jam jaga. Dimulai pukul tiga sore hingga pukul sepuluh malam.
"Gue anter ke rumah lo ya princess?" kata Hendra.
"Boleh deh, makan dulu dirumah gue ya. Abis itu baru berangkat" kata Aish.
"Gue juga pengen dong makan masakan bunda lagi princess, kangen juga sama bunda nih" kata Falen merangkul Aish yang berjalan ke arah parkiran.
"Gue juga ikut" kata Seno.
"Jam kita mepet tau. Lain kali aja deh ke rumah gue rame-ramenya yaa" kata Aish.
"Ish, lo gitu. Mentang-mentang kita nggak satu ekskul" kata Seno.
"Ya bukannya gitu juga Senopati, emang jam kita mepet banget. Ini aja sudah mau jam dua, gue sama Mahendra masih harus mandi, terus makan dulu. Baru ke rs, takut nggak keburu. Mana kita diincar sama abang dokter galak ya Hen" Aish menjelaskan dengan menggunakan nama disaat mereka tersesat di dunia aneh dulu. Terkadang mereka sering menyebut nama saat berada di dunia aneh itu saat sedang bersama.
Mendengar namanya di sebut, Hendra hanya mengangguk saja sambil tetap berjalan.
"Sabtu deh kita ke rumah ya" lanjut Aish menenangkan sahabatnya.
"Dokter galak siapa?" tanya Falen.
"Ada, dokter rada sinting..hehe. Yang waktu itu ribut sama pacarnya di taman itu loh, yang malam-malam itu" kata Aish, raut muka Falen seketika berubah. Tapi dengan cepat dia merubah wajahnya lagi agar terlihat biasa saja.
Untungnya tinggi Aish hanya sebatas dada Falen, jadi dia tidak melihat perubahan raut wajah sahabatnya itu.
"Sebenarnya dokter itu tuh ganteng banget malah, tapi heran aja kenapa punya cewek aneh gitu ya?" tanya Aish pada diri sendiri.
"Lo suka sama tuh dokter?" tanya Falen sambil mengacak ujung hijab Aish.
"Ish, apaan sih. Bukan gitu, ya emang dokternya ganteng tuan Frans. Tapi kan rada sinting, kayak dendam banget sama gue gara-gara ketahuan ribut. hehehe" kata Aish menjelaskan.
"Yasudah, lo hati-hati ya di jalan. Lo jangan ngebut-ngebut kalau bawa motor ya Mahendra. Sekali-kali lo bawa mobil gitu loh, biar princess kita nih nggak kehujanan, nggak kepanasan, kan kasihan. Lama-lama bisa hitam kalau terkena matahari terus-terusan" kata Seno.
__ADS_1
"Gue sih lebih suka bawa motor, lebih simple aja. Tapi kalau princess maunya pakai mobil biar gue bawa mobil saja deh lain kali" kata Hendra.
"Ish, apaan sih. Kelamaan kalau pakai mobil, enakan pakai motor, bisa cepat" kata Aish.
"Oke deh, kalian hati-hati ya" kata Falen melepas rangkulannya, membiarkan Aish naik ke atas motor Hendra.
"Dah Falen, dah Seno. Assalamualaikum" kata Aish berpamitan sebelum Hendra benar-benar menjalankan motornya setelah ber high five ala-ala mereka.
*******
Hendra dan Aish telah siap di meja makan setelah mandi dan ganti baju. Mereka sedang menyantap masakan bunda sebelum berjuang di rs.
"Kata kak Agung, akhir tahun kayak gini nih bakalan banyak pasien di UGD" kata Hendra sambil memakan makanan di piringnya.
"Masak sih, bakalan rame dong nanti di UGD nya" Aish menanggapi.
"Lo yang kuat ya princess, kalau ngelihat darah langsung pergi saja. Gue takut lo kenapa-kenapa" kata Hendra.
"Iya, nanti gue usahain nggak nangani yang berdarah-darah deh" kata Aish.
"Hehehe, bener juga lo. Ayo cepetan makannya, keburu telat nanti kita" ajak Aish untuk segera berangkat.
"Ikan baladonya enak banget princess, doyan nih gue. Hahaha" kata Hendra.
"Sudah gue bawain nih buat bekal, lo mau dibawain juga nggak?" tanya Aish.
"Boleh deh. Yasudah kita berangkat sekarang" kata Hendra setelah menenggak air putih.
"Bunda, kita berangkat dulu ya" pamit Aish pada bundanya yang sedang sibuk dengan peralatan jahitnya.
"Iya, kalian hati-hati ya dijalan" kata bunda.
"Dah bunda. Assalamualaikum" pamit Aish mencium punggung tangan bundanya, Hendra melakukan hal yang sama.
"Waalaikumsalam" jawab bunda.
__ADS_1
Perjalanan cukup lancar, tidak ada kendala berarti di jam segini. Masih belum waktunya orang pulang kerja, jadi jalanan masih lengang.
Mereka sampai di rs pukul dua lebih lima puluh lima menit. Masih jauh dari kata terlambat, masih bisa membereskan barang bawaan di loker yang telah disediakan.
Hari pertama kegiatan, mereka didampingi dokter Siras dan dokter Ani, serta beberapa orang suster dan juga empat orang cleaning service, ditambah enam orang murid jaga, termasuk Hendra dan Aish.
"Fendi dan Joana, tugas kalian bersama suster Ana mengecek oksigen dan infus pasien. Roy dan Cristie, tugas kalian bersama suster Riana membersihkan dan mengganti hand scoon. Hendra dan Aishyah, ikut saya" kata dokter Siras membagi tugas.
Semua patuh pada instruksi dan membubarkan diri sesuai kelompok kerja masing-masing.
"Pikiran gue selalu nggak baik kalau harus satu team dengan abang dokter ini deh" batin Aish tak menentu.
"Kalian ikut saya menangani pasien baru, tugas pertama kalian adalah mengecek tensi, denyut nadi dan kesadaran pasien. Isi sesuai kolom di daftar ini" kata dokter Siras memberikan tabel dengan papan pada kedua murid ini.
"oke, sekarang kalian lakukan observasi pada pasien yang ada disini dulu. Tanyakan juga keluhannya" kata dokter Siras lagi.
Dokter itu mengamati cara kerja kedua murid yang sedang mengontrol pasien, dia berdiri di ujung ruangan sambil matanya sigap mengamati. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya, bersandar di dinding dekat pintu karyawan.
Dia kagum juga pada cara kerja Aish yang ramah pada setiap pasien, bahkan tak segan ada yang sampai tertawa. Entah apa yang sedang mereka obrolkan.
Sedangkan Hendra yang tabiatnya sedikit kaku dan tanpa ekspresi, tugasnya malah lebih cepat selesai. Hampir separuh dari pasien yang ditugaskan padanya sudah ditangani, sedangkan Aish yang terlalu ramah malah selesai lebih lambat.
Hendra mendekat pada Aish, ingin melihat kondisi temannya itu. Takutnya ada yang berdarah-darah hingga membuat princessnya merasa tidak nyaman.
"Lo baik kan?" tanya Hendra lirih.
Aish memberikan senyum termanisnya "Gue baik banget Hendra, makasih sudah perhatian" kata Aish yang kebetulan sedang telah selesai mengukur tensi seorang wanita paruh baya.
"Kamu tampan ya, kalian pacaran ya?" tanya ibu-ibu itu, dokter Siras yang mendengar ucapan wanita itu jadi ikut menajamkan telinganya. Sebenarnya dia juga sedikit penasaran, karena dua anak itu selalu terlihat bersama.
"Bukan bu, kita saudara kan ya" kata Aish pada Hendra, menanggapi ucapan wanita itu.
"Iya, kita saudara" jawab Hendra.
"Oh, pantas. Yang cewek cantik, yang cowok ganteng. Ibu kira kalian pacaran, ternyata saudara toh" kata ibu itu.
__ADS_1