Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
tiba-tiba marah


__ADS_3

Aish tersadar saat Richard membuang paksa tangan Falen yang ada dipundaknya. Falen tersenyum sinis melihat keangkuhan Richard. Sedangkan Aish menatap Richard yang sedang menatapnya.


Untuk saat ini Aish benar-benar belum siap, air matanya turun tanpa diperintah. Dia terlalu lemah untuk berusaha menguatkan hatinya.


Tangan Richard memegang kedua bahu Aish, dia tidak akan membiarkan kekasihnya pergi kali ini sebelum mendapat penjelasan darinya.


Semua mata masih melihat kejadian itu, ada juga yang menerka-nerka apa yang akan terjadi setelahnya.


Aish melepaskan cengkraman tangan Richard dengan paksa. Dia meneruskan langkahnya yang sempat terhenti tadi, berjalan menuju ke kelasnya.


Falen mencegah Richard yang akan mengejar Aish, mereka berdua kembali menjadi rival setelah sebelumnya sempat akur meskipun hanya sebentar.


Melihat Aish yang berjalan sambil sesekali menyeka air matanya membuat Seno tidak tega untuk tidak menemani. Sementara urusan Richard biarlah menjadi bagian Falen dan Hendra.


"Gue harap lo ngerti kondisi Aish saat ini, dia lagi butuh sendiri. Lo jangan ganggu dia dulu" kata Falen yang tangannya masih mencegah Richard.


"Lo jangan ikut campur urusan gue sama pacar gue" kata Richard.


"Please, untuk saat ini gue harap lo mau dengerin gue demi kebaikan lo juga" kata Falen.


"Sekarang mendingan lo pakai dulu seragam sekolah kalau memang mau masuk sekolah. Gue tahu lo pasti baru sampai kan?" tanya Hendra.


"Kenapa dia jadi begini?" tanya Richard.


"Nanti pulang sekolah kita bicarakan ini" kata Falen beranjak meninggalkan Richard, Hendra mengekor pada Falen yang pergi.


Richard masih belum mengerti dengan perubahan sikap Aish. Setahunya, dia tidak melakukan kesalahan apapun. Lantas apa yang membuatnya berubah?


Melihat ke sekelilingnya, masih banyak mata yang memandangnya dengan tatapan mendamba. Banyak adik tingkatnya yang menatapnya kagum, karena memang baru kali ini dia masuk sekolah setelah beberapa minggu absen.


Richard berbalik, kali ini tujuannya adalah ruang kesenian. Dia sedang butuh alunan musik untuk menenangkan diri.


Richard yang baru keluar dari mobilnya, menjadi pusat perhatian.



★★★★★


"Makan princess, memangnya lo nggak lapar?" tanya Seno yang melihat Aish hanya mengaduk-aduk makanannya.


"Iya" jawab Aish singkat.

__ADS_1


Seno, Hendra dan Falen saling menatap satu sama lain, mereka tahu jika Aish butuh sendirian untuk menenangkan diri. Tapi mereka juga tidak mungkin meninggalkannya dalam kondisi seperti ini.


"Lo jangan benci sama Richard, dia nggak salah apa-apa, princess. Begitupun kakaknya, belum tentu dia bersalah. Lo harus positif thinking ya, biarkan polisi mengungkap kebenarannya dulu. Jangan sampai lo kecewa nantinya" kata Falen.


"Kalau tahu pacaran bikin hati gue kayak gini, mendingan dari dulu gue nggak coba-coba deh. Biar saja gue jomblo seumur hidup daripada pusing begini" kata Aish mengeluh.


"Jadi, apa yang bikin lo ngerasa pusing? Hubungan lo sama Richard ke depannya, atau karena kakaknya yang lo curigai sebagai dalang pembunuhan kakak lo?" tanya Hendra.


"Dua-duanya, gue bingung" kata Aish.


"Pusingnya buat nanti saja deh, princess. Sekarang mendingan lo habisin makanan lo dulu ya, sebentar lagi sudah mau bel loh" kata Seno.


"Gue nggak laper, sebentar gue mau ke toilet dulu ya" kata Aish berpamitan pada ketiga temannya.


"Gue anterin ya" kata Seno.


"Nggak, gue masih hafal kok jalannya. Nanti kalian jangan nungguin gue ya, langsung ke kelas saja" kata Aish beranjak ke toilet, menyisakan ketiga temannya yang diam tapi saling pandang.


"Jadi, pacaran bisa bikin orang kayak gitu ya? Mendingan gue nggak dekat-dekat cewek deh, gue takut kayak Aish" kata Seno berkomentar setelah Aish menjauh.


"Memangnya ada cewek yang mau sama lo?" ledek Hendra.


"Ya ada juga, apalagi kalau film gue sudah rilis, terus gue jadi terkenal, pasti cewek-cewek bakalan ngantri pengen jadi pacar gue" kata Seno yang membuat kedua temannya tertawa.


"Iya, oke. Terserah lo Senopati" kata Falen.


"Sudah yuk, kita beresin dulu. Sebentar lagi bel" kata Falen mulai merapikan peralatan makannya.


★★★★★


Aish ke toilet hanya untuk membasuh wajahnya, berharap bisa mengurangi sedikit saja penat di hatinya. Penat memikirkan kasus yang menimpa kakaknya, dan juga penat karena hatinya yang sudah terlalu nyaman dengan Richard.


Setelah mengetahui jika Richard berhubungan darah dengan pembunuh kakaknya, tentunya akan membuatnya jadi bingung untuk meneruskan perjuangannya dengan cinta pertamanya, atau memang hubungannya dengan Richard yang masih seumur jagung itu harus kandas? Menyisakan luka yang tentunya akan dirasa seumur hidup.


Merasa bosan dengan aktivitasnya, Aish menyudahi lamunannya. Kini dia bersiap menuju kelasnya. Bel masuk masih kurang lima menit.


Karena Aish berjalan sambil menunduk, dia jadi tidak tahu kalau di luar toilet wanita sudah ada seseorang yang menunggunya keluar. Seseorang yang daritadi mengganggu hati dan pikirannya.


Richard menarik tangan Aish begitu tahu jika gadis itu keluar dari toilet. Dia mengungkung kekasihnya di dinding di depan toilet. Kedua tangannya diletakkan dipermukaan tembok, dan membiarkan Aish terkurung dibawahnya.


Aish mendongak melihat Richard. Dia sudah bersiap jika Richard akan melakukan ini padanya. Pasti dia bingung dengan perubahan sikap Aish, hanya saja Aish masih terlalu malas untuk menjelaskan pada Richard.

__ADS_1


"Lo ada masalah apa sih sama gue, Ra? Kenapa tiba-tiba sikap lo seperti ini? Kalau memang gue salah, lo bilang dong. Jangan bikin gue jadi bingung" kata Richard lembut, berharap Aish akan luluh dan mau menjelaskan semuanya.


"Gue lagi nggak mau ngomong sama lo, Richard. Jadi please, tinggalin gue sendiri" kata Aish tegas.


"Nggak mau, sebelum lo jelasin ke gue dimana salah gue sampai lo bersikap seperti ini" kata Richard.


"Kalau gue bilang pergi, please pergi. Gue jadi makin sebel tahu nggak sama lo" kata Aish memalingkan mukanya.


"Please, Ra. Tolong jangan kayak gini, jangan kayak anak kecil. Kalau ada masalah bisa kita selesaikan dengan baik-baik. Gue mau ngerubah sifat ataupun sikap gue kalau menurut lo itu salah atau lo nggak suka. Tapi please, jangan bikin gue bingung sendiri" kata Richard memohon.


"Gue masih belum siap buat jujur sama lo saat ini, nanti kalau waktunya tepat, gue pasti ngomong sama lo. Tapi bukan sekarang, lo mendingan pergi dulu" kata Aish yang juga keras kepala.


"Lo kan sudah dengar kalau Aish butuh waktu, jadi mendingan lo pergi dulu kali ini" kata Falen yang sengaja mencari Aish yang tidak kunjung datang di kelasnya.


"Gue kan sudah bilang sama lo, jangan ikut campur urusan gue" kata Richard dengan nada tinggi. Emosinya yang tidak stabil menjadi terpancing dengan kedatangan Falen yang juga menyuruhnya untuk pergi.


"Aish sahabat gue, kalau dia merasa tidak nyaman pasti gue bakalan bantu" kata Falen yang ikutan nyolot.


Tanpa pikir panjang, Richard melayangkan pukulan ke wajah Falen. Mengenai pipi sebelah kanannya dan melukai bibirnya. Falen sampai terjatuh karena pukulan yang tiba-tiba.


Aish yang kaget sontak berlari ke arah Falen yang masih tersungkur, tangannya terulur untuk membantu Falen bangun.


"Gue kan sudah bilang sama lo kalau nggak mau diganggu, jangan main pukul sembarangan dong. Kalau lo punya masalah itu selesaikan dengan otak, jangan pakai otot. Lo masih punya otak kan?" bentak Aish dengan napas memburu, emosinya sudah diambang batas kesabaran.


"Makanya kasih tahu sama teman lo ini, jangan terlalu ikut campur masalah orang" kata Richard yang malah membentak Aish juga, tangannya terangkat untuk melayangkan pukulan susulan bagi Falen.


Aish memegang krah baju Richard dengan kedua tangannya. Sorot mata tidak suka terpancar dari pandangannya. Richard sedikit terkejut dengan perlakuan Aish padanya, cukup kasar untuk ukuran gadis polos.


Pandangan sayu Richard beradu dangan tatapan sinis Aish. Dia menunduk untuk bisa melihat wajah marah Aish dengan baik.


"Kalau lo memang mau tahu, lo tanya saja sama kakak lo yang egois itu. Kakak lo yang sudah ngambil kakak gue dari keluarga gue. Kakak lo yang sudah membuat gue kehilangan semua keluarga gue" Aish berkata dengan emosi dan air mata yang mengalir lagi. Meski dia sudah bosan menangis, tapi nyatanya air mata itu masih saja turun.


Richard terdiam, dia butuh waktu untuk mencerna ucapan Aish. Apa maksud Aish yang menyalahkan kakaknya karena kematian keluarganya?


Aish melepas cengkeraman tangannya pada Richard, sekarang dia menuju ke arah Falen yang sudah berdiri.


"Kita pergi saja, Fal" kata Aish menggandeng tangan Falen untuk mengikutinya.


Richard memandang mereka berdua tidak suka, yang jelas hari ini juga dia harus tahu apa kesalahannya. Bagaimanapun caranya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2