
"Mari ikut ke ruangan saya, ada yang harus saya sampaikan" kata dokter Siras yang kemudian berjalan menuju ruangannya.
"Bang Fian, saya ke ruangan dokter dulu ya" kata Aish berpamitan, karena yang lainnya juga masih tetap menunggu disana.
"Iya, nanti setelah kamu dari ruangan dokter kita bicara lagi" kata Fian.
"Terimakasih bang" kata Aish. Dia menuju ke ruang dokter, Richard masih setia menemaninya.
"Jadi bagaimana bang dokter? Apa yang terjadi sama bunda?" tanya Aish yang sudah bersama Siras dan Richard di ruangan dokter.
"Apa selama ini ibu kamu pernah pernah mengalami sakit di bagian kepalanya?" tanya Siras.
"Seingat saya nggak pernah bang" kata Aish.
"Tapi sejauh pengamatan saya, ada peradangan di selaput darah di rongga hidung ibu kamu. Sepertinya karena sering mimisan. Saat ini tekanan darah ibu kamu tinggi, mungkin karena syok sebelumnya".
"Dan, yang paling parah. Maaf saya harus memberitahu bahwa ada pembuluh darah yang pecah di kepala ibu kamu Aishyah. Dan ini adalah kejadian yang sangat fatal. Semoga ada keajaiban yang bisa membuatnya bertahan" kata dokter Siras.
Aish tentu saja sangat syok, belum lama tadi dia mendapati bahwa kakaknya meninggal sebagai korban pembunuhan. Sekarang harus menerima kenyataan bahwa bundanya tak sadarkan diri, membuatnya kembali menangis.
"Sabar Aishyah, semoga bunda segera membaik ya" kata Richard.
"Tolong lakukan yang terbaik dokter. Apa perlu tindakan lebih lanjut untuk menyelamatkan bunda?" tanya Richard.
"Sejauh ini kami masih harus menunggu perkembangan pasien. Karena tidak bisa melakukan tindakan apapun saat kondisinya terlalu lemah seperti ini, sangat membahayakan" kata dokter Siras.
"Baiklah, terimaksih dok. Kami permisi" kata Richard.
"Tolong selamatkan bunda ya bang dokter" kata Aish dengan air mata yang terus meleleh, bahkan matanya sudah mulai sembab.
"Pasti Aishyah, saya akan berusaha semaksimal mungkin" kata Siras.
Richard merangkul pundak Aish, membiarkan gadisnya menangis dalam dekapan. Mereka berdua berjalan ke ruang tunggu. Dimana semuanya sedang menunggu Aishyah.
Jendela ruang ICU sedikit terbuka, Aish mengintip keadaan bundanya yang masih belum boleh dijenguk. Bunda masih terbaring lemah. Alat bantu pernapasan di hidungnya terlihat kembang kempis, menandakan bahwa masih ada nyawa yang bernapas dari dalam tubuh bunda.
"Bisa kita bicara sekarang Aishyah?" tanya Fian.
Aish menoleh, melihat orang-orang yang berada di belakangnya. Kemudian dia mengangguk dan duduk diantara mereka.
"is, kamu tahu dimana selama ini kakakmu tinggal?" tanya Fian.
"Tahu bang, saya sering melihat kakak dari jauh kalau kangen" kata Aish.
"Dimana?" tanya Fian.
"Di kontrakan haji Jamal. Di Bekasi" jawab Aish.
"Kamu pernah kesana?" tanya Fian lagi.
"Pernah bang, sesekali. Kalau sudah benar-benar kangen sama kakak. Cuma akhir-akhir ini sudah nggak pernah, soalnya di sekolah Aish banyak kegiatan. Masih belum sempat nengokin kakak" jawab Aish yang mulai meneteskan air mata lagi.
"Oh iya, kakak kan punya anak. Sekarang bagaimana keadaanya bang? Ada dimana sekarang anaknya?" tanya Aish.
"Nanti akan saya cari anaknya. Kamu tenang dulu ya, kamu tungguin ibu kamu saja sekarang. Kami permisi dulu ya Aishyah. Nanti saya hubungi kamu lagi" kata Fian berpamitan, dia masih harus mengurus hal lainnya.
__ADS_1
Aish membiarkan saja Rian yang berpamitan juga selepas kembarannya pergi. Kini hanya tinggal Falen, Hendra dan Richard yang masih setia menemaninya.
"Jadi, selama ini kalian terlihat dekat gara-gara masalah kakak?" tanya Aish.
"Gue minta maaf ya princess. Alasan kenapa gue nggak bilang sama lo, karena memang belum jelas kebenarannya. Setelah semuanya jelas, kita kan juga pasti sampaikan sama lo" kata Hendra.
"Kapan lo tahu semua ini Hen?" tanya Aish, kini dia sudah tidak menangis. Hanya saja gurat kesedihan terpampang nyata di wajahnya.
" Sejak malam tahun baru waktu kita sama-sama ke pantai" jawab Hendra.
Aish terdiam, dia sudah tidak berminat untuk bertanya. Pikirannya sedang tertuju pada bundanya yang sedang terbaring lemah. Dia menutup wajah dengan kedua tangannya. Ingat bahwa belum menunaikan kewajibannya, dia akan solat Maghrib dulu.
"Gue mau ke mushola. Titip bunda ya" kata Aish, Richard mengangguk dan tersenyum.
"Biar gue temenin. Gue juga mau solat" kata Falen, Aish mengangguk.Mereka berdua menuju mushola terdekat. Sementara Hendra dan Richard duduk di kursi yang sama.
"Baju lo kotor, kita cari baju buat lo sebentar ya" kata Falen mengajak Aish keluar dari rumah sakit. Mereka menuju toko baju terdekat, dan setelahnya menuju ke masjid terdekat.Mereka berjalan kaki, Aish sedikit bisa menghirup udara segar.
"Lo yang kuat ya princess. Kita bakal selalu ada buat lo" kata Falen.
"Makasih ya Fal. Nggak tahu gue bakalan seperti apa tanpa kalian" kata Aish menatap jalanan.
Saat di masjid, mereka sudah ketinggalan waktu berjamaah. Suasana masjid sudah mulai sepi.
Kini Aish bisa menangis tanpa malu, dia mengadu pada Tuhannya. Meluapkan segala rasa dalam hatinya. Saat hatinya terguncang karena kematian sang kakak yang tak wajar, menyebabkan bundanya terbaring lemah.
Doa terbaik untuk sang bunda, mengiringi deraian air mata yang tumpah. Remaja seusianya masih butuh tuntunan orang tua, Aish berharap sang bunda masih mempunyai kesempatan untuk mendampinginya dalam mengarungi kerasnya dunia. Semoga tuhan mengabulkan doanya.
★★★★★
"Bagaimana bunda?" tanya Aish setelah duduk bersama.
"Masih belum sadar" kata Richard mengamati Aish yang sudah ganti baju.
"Lo pulang dulu nggak apa-apa Richard, baju lo kotor banget. Maafin gue yang selalu ngrepotin lo ya" kata Aish.
"It's ok. Gue tinggal dulu ya, nanti gue balik lagi kesini" kata Richard.
"Makasih ya Richard" kata Aish melepas kepergiannya.
"Kalian juga pulang dulu nggak apa-apa. Makasih sudah banyak bantu gue. Kalian pasti capek kan?" kata Aish.
"Gue nggak bisa ninggalin lo sendirian princess. Apalagi keadaannya sedang kayak gini" kata Hendra.
"Tapi kalian juga butuh istirahat. Gue pasti kabari kok kalau ada apa-apa" kata Aish.
"Yasudah, kita balik dulu. Nanti kita kesini lagi ya, sekalian bawa baju ganti lo. Biar gue minta tolong sama enyak nanti" kata Falen yang tahu jika Aish ingin sendiri.
"Lo hati-hati ya princess. Kabari kita selalu" kata Hendra.
"Iya, pasti. Makasih ya" kata Aish dengan senyum yang dipaksakan.
Aish duduk sendiri, dia merenungkan takdirnya. Dalam sehari, dua kabar duka menghinggapi. Dia sadar jika hubungannya dengan sang kakak tidak begitu baik. Tapi dia masih menyayangi sebagai satu-satunya saudara kandung.
Dia duduk sambil menopang wajah dengan kedua tangannya. Terasa buliran hangat air mata kembali terjatuh diantara sela-sela jarinya.
__ADS_1
"Sabar ya Aishyah" kata dokter Siras yang entah sejak kapan duduk disampingnya.
Aish mendongak untuk menatap wajah dokter itu. "Iya bang dokter. Apa bunda pasti bisa sembuh kembali bang?" tanya Aish.
"Kita doakan saja yang terbaik. Semoga ibu kamu bisa segera sadar ya" kata Siras.
Cukup lama keduanya hanya duduk diam, mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Suster keluar dari ruang rawat dengan tergesa-gesa. Saat mendapati sang dokter ada didepan ruangan dia segera menghampiri.
"Pasien kritis dok" kata suster.
"Bunda saya kenapa sus?" tanya Aish panik.
"Kamu tunggu disini, biar saya periksa ibu kamu ya" kata Siras.
Aish menunggu di balik jendela yang tirainya sudah ditutup. Entah apa yang sedang terjadi didalam ruangan itu. Dia mondar-mandir, menunggu dengan sangat khawatir.
Tiga puluh menit berlalu, Siras membuka pintu dengan wajah yang sangat kusut. Aish segera berlari menghampirinya.
"Bagaimana bang dokter? Bunda nggak apa-apa kan?" tanya Aish panik.
"Maafkan saya Aishyah, karena tidak bisa menolong ibu kamu. Tuhan lebih menyayanginya" kata Siras.
Bagaikan disambar petir, Aish segera berlari ke dalam ruangan setelah mendengar ucapan Siras. Dia melihat suster sedang melepas alat bantu kehidupan yang tadi menancap di tubuh bundanya.
"Suster, jangan dilepas! Bang dokter, mereka jahat. Mereka mau melepas alat bantunya bang. Nanti bunda saya kenapa-kenapa, tolong katakan sama mereka bang, jangan dibolehin melepas alatnya. Saya mohon bang dokter" kata Aish dengan linangan air mata dan menangkupkan kedua tangannya di dada. Berharap sang dokter mau memasang kembali alat itu ke tubuh bundanya.
"Tolong bang, jangan diam saja. Cepat bilang sama mereka bang" kata Aish berteriak. Siras hanya diam memandang tingkah gadis cantik itu.
Aish menggoyang-goyang pundak Siras, dia marah saat sang dokter hanya diam. "Bang, saya bilang kan jangan dilepas alatnya. Nanti bunda nggak bisa napas bang. Jangan diam saja" kata Aish dengan air mata semakin deras.
Siras memeluk Aish yang seperti orang gila. Berharap bisa memberi ketenangan padanya. Aish meronta-ronta dalam pelukannya, masih merasa tidak terima saat para suster mulai menutup tubuh bundanya sampai kepala.
"Allah lebih sayang sama ibu kamu Aishyah, ibu kamu sudah tidak merasakan sakit lagi sekarang" kata Siras mendekap tubuh Aish yang masih meronta.
Cukup lama untuk Aish bisa sedikit lebih tenang. Tubuhnya merosot mengingat bundanya yang sudah tak bisa diselamatkan.
Richard datang saat Siras masih memeluk kekasihnya. Ada rasa cemburu membakar hatinya. Tapi melihat para suster menutup tubuh bunda sampai menutupi kepala, dia sadar jika Aish sedang berduka.
"Apa apa ini?" tanya Richard yang baru datang.
Siras melepas dekapannya, membiarkan Aishyah berdiri.
"Pasien tidak bisa ditolong" jawa Siras.
"Bunda, jangan tinggalin Aish sendiri" kata Aish sambil memeluk jenazah bundanya. Aish menangis, dia sangat terpukul. Tadi pagi dia masih bisa mendengar kecerewetan bundanya. Malam harinya, bunda sudah tidak mau membuka mata lagi. Bunda sudah tiada, menyisakan duka mendalam di hati Aishyah yang masih sangat belia.
Richard mendekat, berdiri di samping Aishyah yang masih memeluk jenazah ibunya. Memegang kedua pundak Aish yang terlihat naik turun karena menangis.
"Tenang Aishyah. Lo nggak sendirian, gue pastikan kalau akan selalu ada disamping lo" kata Richard memaksa Aish melepaskan dirinya dari sang bunda yang sudah terbujur tanpa nyawa.
.
.
.
__ADS_1
.