Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
step 2, on going


__ADS_3

Seolah tak terjadi apa-apa, Richard dan Reno memasuki ruang kelas dengan tampang tak berdosa. Padahal baru saja mereka telah membuat satu sekolah menjadi heboh.


"Ini nih aktor yang jadi rebutan" goda teman sekelas Richard.


"Diem kalian, gue sambit baru tahu rasa" kata Richard ketus menuju ke bangkunya yang ada di deretan paling belakang, diiringi tatapan mengejek dari teman-temannya.


"Lo nggak tahu ya kalau barusan lo jadi bahan obrolan dari cewek-cewek yang jadi fans girl lo?" tanya seorang teman sekelasnya, cewek juga.


"Gue nggak minat sama mereka, kalau lo mau ambil saja" kata Richard.


"Hengmh... sombong banget" gerutu cewek itu.


"Kenapa, lo juga ngefans sama gue?" tanya Richard, cewek itu melengos pergi.


"Dimatanya hanya ada Aishyah seorang" kata Reno yang sukses membuat Richard menjadi bahan olokan pagi itu dari temannya.


Richard hanya diam saja, karena nyatanya dia memang sudah bucin sama Aishyah. Tapi mendengarkan olokan temannya pagi ini juga membuatnya sedikit emosi.


Saat seorang temannya mengolok dengan menyebut nama Aish, maka Richard tidak tinggal diam.


"Berhijab tapi bispak" kata seorang temannya.


Richard berdiri, mendekati temannya yang telah menyebut Aish dengan sembarangan. Mencengkram kerah baju yang dipakainya, dan tangannya sudah melayang diudara. Siap memukul wajahnya kalau saja tidak dihalangi oleh seorang guru yang masuk di jam pelajaran pertama pagi ini.


"Berhenti kalian, masih pagi sudah mau berantem. Kamu juga Richard, baru masuk sekolah sudah cari masalah" kata guru itu.


Richard melepaskan cengkeramannya, membiarkan temannya pergi dengan gemetaran, dan diapun kembali duduk di kursinya.


"Kemana kamu kemarin tidak masuk sekolah? Kamu juga Reno, dan satu lagi itu si Yopi kemana? Kalian bertiga ini kompak kok bolos sekolah" tanya Guru itu.


"Yopi dirumah sakit, bu. Habis operasi, kita berdua nungguin dia dari hari Jum'at kemarin" jawab Reno santai.


"Operasi apa?" tanya guru itu merasa sedikit bersalah karena tidak tahu kabar anak didiknya.


"Operasi kelamin, bu. Yopi ingin jadi wanita" gurau Reno, membuat teman sekelasnya berlomba menahan tawa.


"Kenapa tidak mengabari pihak sekolah?" tanya bu guru terdengar khawatir.


Eh... bu guru tidak menyadari alasan Reno yang ngelantur, sukanya marah-marah sih.


"Lupa" jawaban singkat yang membuat sang guru jadi emosi.


"Santai sekali kamu bilang lupa, kalian nggak menganggap sekolah itu penting ya?" ceramah Bu guru di pagi ini.


Richard menopang kepalanya dengan tangan, dan memejamkan matanya. Telinganya terlalu sakit untuk mendengar ceramah sepagi ini. Apalagi semalam juga tidurnya tidak begitu nyenyak.


Sedangkan Reno menatap sang guru dengan seksama, seolah tak berkedip. Dengan mulut sedikit menganga, membuatnya terlihat sangat lucu.


Teman sekelasnya jadi heboh, suara tawa yang tertahan keluar dari mulut teman-temannya karena takut dimarahi sang guru.

__ADS_1


Merasa dipermalukan, bu guru menggebrak meja Richard, membuatnya sangat kaget dan menatap tajam sang guru.


"Kenapa? Mau pukul ibu juga?" tanya sang guru seolah tidak takut sama sekali. Padahal dalam hatinya juga merasa ngeri karena Richard yang terkenal bandel dan sulit diatur.


"Bu guru kelihatan sangat cantik kalau marah-marah begitu" kata Reno dengan tatapan penuh kekaguman, tapi berubah jadi menjengkelkan di waktu yang tidak tepat seperti ini.


Teman-temannya tambah tak tahan, bahkan sudah ada yang tertawa dengan keras.


Sementara sang guru sudah sangat pusing menghadapi kedua makhluk didepannya ini. Yang satu mengerikan, yang satunya menjengkelkan.


Dengan langkah gontai, bu guru menuju kursinya di depan kelas. Setelah duduk, beliau memegangi pangkal hidungnya karena tiba-tiba merasa tidak sehat menghadapi muridnya.


"Susahnya mengajar di sekolah elit seperti ini, ingin berbuat kasar tapi takut terkena imbasnya nanti. Mereka semua bukan anak sembarangan, sekali saja berbuat tidak menyenangkan, pasti berhadapan dengan jajaran orang penting" pikir sang guru berusaha sabar.


"Panggilan untuk Richard Putra Hutama dari kelas 11 IPS-1. Dan panggilan untuk Brian Falentino Usmany dari kelas 11 IPA-2, untuk segera menuju ke ruang BP".


"Dan panggilan untuk Dewi Sekartaji dari kelas 11 IPA-1, dan Viona Adelia Rasya Prastiwi dari kelas 10 IPA-1, untuk segera ke ruang BP. Terimakasih".


Terdengar panggilan dari pengeras suara untuk beberapa murid yang harus mendatangi ruang BP, pasti karena video yang baru saja diputar.


Tanpa permisi, Richard langsung saja pergi dari ruang kelasnya. Sang guru hanya bisa pasrah, dalam hati bersyukur juga karena kehilangan satu murid bandel agar bisa mengajar dengan nyaman.


Reno melambaikan tangan diiringi senyuman riang saat Richard menoleh padanya meski hanya sekilas saja. Bu guru hanya bisa geleng-geleng kepala, semoga stok kesabarannya melimpah untuk menghadapi Reno yang menjengkelkan.


Richard bertemu Falen di depan ruang kelasnya, sepertinya Falen juga baru keluar darisana.


"Aish ada sama lo kan dari kemarin?" tanya Falen memecah kecanggungan. Richard hanya mengangguk.


"Lo selalu nggak becus buat menjaga seseorang" kata Richard tanpa menatap Falen.


"Gue minta maaf soal ini, gue sudah berusaha semaksimal mungkin. Nggak tahunya memang ulah orang dalam, tentu saja sulit untuk diketahui" kata Falen membela diri.


Richard hanya tersenyum smirk mendengar penuturan Falen.


"Brian, Brian..." kata Richard lirih.


Sedikit rasa tidak nyaman muncul dihati Falen. Dia merasa tidak bisa menjaga sahabatnya dengan baik.


Sampai di ruang BP, sudah ada Viona dan Sekar yang duduk bersisian di sofa. Sekar menunduk dalam melihat Falen datang.


"Kalian sudah datang, duduk dulu" kata bu Kris yang masih tetap di singgasananya.


"Jadi, perbuatan kalian sudah sangat merugikan Aishyah. Kamu sadar kan dengan apa yang telah kalian lakukan? Sekar dan Viona?" tanya bu Kris.


"Itu semua karena saya dihasut oleh Viona, bu" kata Sekar.


"Enak saja lo nyalahin gue, yang punya semua foto itu kan lo kak Sekar" balas Viona.


"Dan itu terjadi karena kalian berdua loh Richard dan Falentino" kata Bu Kris.

__ADS_1


"Kok jadi saya yang disalahkan, bu? Saya nggak nyuruh mereka memperlakukan pacar saya seperti itu, sampai dia dikeluarkan loh bu dari sekolah ini" kata Richard yang masih berusaha menahan emosi.


Falen tahu Richard sudah tidak sabaran, berteman dari SD membuatnya hafal dengan tabiat temannya ini.


"Watak jahat itu tercipta dengan sendirinya, bu. Seandainya Sekar bisa menahan dirinya untuk tidak termakan hasutan Viona, pasti semua ini tidak akan pernah terjadi" kata Falen berusaha bijak.


"Sementara disisi lain, Viona mempunyai akses untuk melakukan semua keinginannya. Ibu juga dengar kan dari penuturannya tadi kalau dia adalah anak dari Pak Winata? Seharusnya pak Winata juga dihadirkan disini agar bisa mengklarifikasi dengan semua keputusan beliau kemarin saat mengeluarkan Aishyah dengan sepihak" kata Falen.


"Ya, kamu benar Falen. Pak Winata sedang melakukan meeting virtual dengan para donatur" kata Bu Kris.


"Kita tidak bisa berunding tanpa adanya beliau disini, karena dari tangan beliaulah semua permasalahan ini muncul" kata Falen.


"Seharusnya beliau tidak memberikan dengan sembarangan kunci dari ruangan yang sekiranya penting, seperti ruang OSIS, ruang Operator, dan juga ruang Arsip" kata Falen dengan menatap Viona yang sudah ketakutan.


"Baiklah, kamu benar. Secepatnya ibu akan meminta pak Winata, pembina OSIS, beberapa dewan guru dan juga kalian berempat yang namanya disebut-sebut dalam video itu untuk bisa duduk bersama dan melakukan perundingan" kata Bu Kris.


"Saya rasa Aishyah juga perlu diundang untuk datang, bu. Bagaimanapun dia yang sudah sangat dirugikan dalam masalah ini" kata Richard yang akhirnya bersuara.


"Iya, ibu akan berusaha membujuknya agar mau datang" kata bu Kris.


"Bu Kris siapkan saja undangannya, biar saya yang sampaikan" kata Richard.


"Iya, baiklah" kata bu Kris yang segera membuat surat panggilan untuk Aishyah.


Setelah surat itu di print out, bu Kris memasukkan ke dalam amplop coklat dan memberi stempel atas nama sekolah.


"Ini Richard, ibu harap Aishyah mau datang lusa, untuk ikut dalam rapat bersama. Ibu juga akan berusaha mengundang para donatur, karena pihak sekolah sudah mengeluarkan seorang murid berprestasi tanpa sepengetahuan mereka" kata bu Kris.


Viona menunduk dalam, dia sangat takut sekarang. Karena perbuatannya, bukan hanya akan mengancam posisinya di sekolah ini, tapi juga posisi ayahnya sebagai kepala sekolah yang baru menjabat setahun belakangan.


Penyesalan memang datangnya belakangan.


.


.


.


.


Votenya dong pliiss....


like, komen, juga dikasih gift jadi tambah semangat.


Terimakasih semuanya,


salam sehat yaa


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2