Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
hujan


__ADS_3

"Sya, gue minta maaf ya. Soalnya tadi gue nggak sengaja sudah bentak lo" kata Yopi yang berada diatas motor bersama Aish.


Malam ini Aish diantarkan oleh Yopi, karena Richard masih harus mendapatkan pelajaran tambahan di rumahnya untuk mempelajari bisnis papanya.


Seperti yang sudah dijanjikannya saat orang tuanya bersedia menampung Aish setelah kecelakaan dulu.


"Nggak apa-apa, Yop. Gue ngerti kok, lo lagi butuh waktu buat sendiri" jawab Aish, dia sering berada di posisi Yopi.


"Makasih ya, Sya. Ehm, sama satu lagi dong" kata Yopi sedikit ragu.


"Apa?" tanya Aish.


"Gue boleh pinjam motor lo, nggak? Ada urusan penting soalnya. Urgent banget deh pokoknya" kata Yopi memberanikan dirinya untuk meminta izin Aish.


"Boleh aja sih, nggak masalah. Terus, besok gue berangkat sekolah sendiri apa gimana nih?" tanya Aish.


"Nanti gue kabari elo lagi ya, makasih lho Sya. Lo memang teman gue yang paling baik sedunia" kata Yopi yang merasa lega karena Aish telah mengizinkan.


"Puji aja terus, memang lo lagi ada maunya tuh" kata Aish dengan bibir yang mencebik.


Yopi menghentikan laju motor di halaman rumah Aish. Setelah memastikan Aish masuk dengan selamat, dia sendiri melanjutkan perjalanannya menuju terminal.


Dengan perasaan tak menentu, Yopi sedikit gelisah memikirkan keadaan Nindi kali ini.


"Kenapa kira-kira ya sama tuh anak. Apa terjadi sesuatu? Tapi apa?" banyak sekali pertanyaan yang ada di benak Yopi.


Setengah jam berkendara, Yopi telah sampai di terminal. Dia mencari tempat yang sekiranya terasa aman untuk menunggu kedatangan Nindi.


Berada di bawah tiang listrik di dekat pintu masuk, Yopi duduk diatas motor yang mesinnya telah dimatikan. Disini sangat terang karena berada tepat dibawah lampu jalan.


"Masih jam dua belas malam" gumam Yopi setelah melihat jam di pergelangan tangannya.


Tanpa Yopi sadari, ada tiga orang preman yang mendekat ke arahnya. Mereka bertiga sepertinya sudah merencanakan hal buruk untuk Yopi yang sendirian.


"Hei, bocah. Ngapain lo disini?" salah seorang dari mereka menegur Yopi.


Yopi melihat ke arah mereka. Memperhatikan dengan baik ketiganya.


Dua diantara mereka berambut gondrong. Dan Yopi heran, kenapa preman terminal selalu menyukai rambut panjang.


Sedangkan yang satunya terlihat lebih rapi, hanya saja kaos ketat yang dia pakai memperlihatkan banyaknya tatto yang ada di kedua lengannya, bahkan hingga leher dan mencapai di satu sisi telinganya.


"Malah bengong, kita lagi ngobrol sama elo bego" hardik si gondrong yang satunya.


"Oh, hai bang. Gue lagi nungguin teman yang mau nyampek nih" kata Yopi berusaha bersikap setenang mungkin.


"Anak mana lo?" tanya si preman rapi.


"Oh, gue anak kampung Kembang" jawab Yopi.


Mereka bertiga saling melirik mendengar jawaban dari Yopi.


"Kenapa bang? Kok diam?" Yopi bertanya balik pada mereka.


"Tetangganya si Rian?" tanya si preman rapi.


"Oh, gue saudaranya. Gue tinggal sama engkong, babenya bang Rian. Abang-abang ini kenal sama bang Rian?" tanya Yopi.


"Ngibul lo ya? Setahu gue Rian nggak punya saudara yang tinggal di rumahnya" kata preman gondrong.


"Apa perlu gue telpon bang Riannya? Biar abang-abang ini percaya sama omongan gue?" geretak Yopi pada ketiganya, untung saja Yopi punya nomor telepon Rian.


"Coba saja, kita nggak percaya sama bacot bocah kayak lo" kembali si gondrong menimpali.


"Oh, oke" ucap Yopi yang melakukan sambungan video pada Rian.


Sengaja Yopi melakukan panggilan Video agar ketiga preman itu mempercayainya.


"Apaan, Yop? Ganggu banget sih lo" rupanya Rian sudah terlelap di jam ini.


Ketiga preman itu ikut menatap layar ponsel Yopi dengan perasaan khawatir.


"Nih bang, gue lagi di terminal. Terus ketemu sama tiga orang ini. Katanya gue disuruh hubungi bang Rian. Soalnya ada yang mau mereka sampein katanya, bang" kata Yopi yang memperlihatkan wajah ketiga preman yang ada di sampingnya.


Rian memperhatikan layar ponselnya dengan seksama. Berusaha mengenali ketiga orang yang Yopi maksud.


"Ada apa?" tanya Rian setelah mengenali ketiganya.


"Hehe, maafin kita ya bang. Tadinya kita cuma bercanda doang kok sama ini sodaranya abang. Malah di telponin beneran. Maafin kita ya bang" kata salah satu dari mereka.


Dan ketiganya terlihat menangkupkan tangan di depan dadanya. Menyiratkan rasa bersalah yang mendalam, apa rasa takut?


Sebesar itu pengaruh nama Rian bagi keselamatan Yopi malam ini. Dan Yopi bersyukur karena di didik oleh keluarga yang tepat.


"Mereka bilang gue tukang ngibul karena gue bilangnya tinggal di rumahnya engkong, bang" Yopi mengadukan kata-kata dari ketiga orang tadi padanya.

__ADS_1


Sekalian saja agar preman-preman itu tak lagi mengganggunya di lain hari.


"Sialan lo bertiga, dia itu adek gue. Ingat baik-baik ya muka dia, mulai sekarang lo jangan gangguin dia lagi" bentak Rian yang mendapat gangguan tidur di tengah malam buta seperti ini.


"Gara-gara lo bertiga nih gue jadi nggak bisa tidur lagi. Padahal sudah hampir tiga hari gue belum sampat tidur" kata Rian yang memarahi tiga orang itu.


"Maafin gue bang, maaf ya bang" ketiganya kompak meminta maaf karena takut pada Rian.


"Awas lo bertiga ya, sudah deh lo tutup saja teleponnya, Yop" kata Rian yang mengancam tiga preman terminal.


"Iya bang, maaf banget gue gangguin abang ya" kata Yopi yang kemudian mematikan sambungan teleponnya. Dan menaruh kembali di saku jaketnya.


"Gimana bang? Sudah percaya sama gue?" tanya Yopi memandang ketiganya dengan tajam.


"Sorry ya, memangnya lo ngapain ke terminal malam-malam begini, tong?" tanya si gondrong yang tak lagi bernada tinggi.


"Gue lagi nungguin teman gue, bang. Kan sudah gue bilang daritadi" kata Yopi sambil memperhatikan jam tangan mahalnya, sisa peninggalan dari masa kejayaannya yang masih tersisa.


Sudah jam satu, "Lama juga berurusan sama preman-preman ini" gumamnya dalam hati.


Yopi celingukan melihat pada beberapa bus yang datang.


"Bus yang dari Solo sudah nyampek apa belum sih, bang?" tanya Yopi.


"Belum tong, bentar lagi mungkin" jawab si rapi.


"Nah, itu bus yang dari Solo. Yang warna merah" kata si gondrong saat melihat sebuah bus merah baru saja memasuki area terminal.


"Beneran bang?" tanya Yopi.


"Iya, benar. Eh, tong. Nama lo siapa? Nanti kalau kita ketemu lagi biar gue bisa nyapa elo" kata si gondrong lagi.


"Gue , Yopi bang. Ingetin muka gue ya. Abang-abang ini semua stay di terminal ini ya?" tanya Yopi.


"Iya, kita selalu disini" kata si rapi.


"Nanti kapan-kapan gue main-main kesini dah bang. Sekarang gue mau nyariin teman gue dulu" kata Yopi berdiri, berlalu meninggalkan ketiga preman itu dan mendekat pada bus merah yang preman itu maksud.


Semoga saja Nindi benar-benar berada di bus itu.


Yopi menajamkan matanya, mencari keberadaan seorang gadis yang daritadi sedang dipikirkannya.


"Yopi..." teriak Nindi yang menemukan keberadaan Yopi terlebih dahulu.


Gadis itu berlari, mendekat pada Yopi dan seketika memeluknya erat. Nindi menangis lagi, teringat lagi dengan tambatan hatinya yang ternyata menambatkan hati pada wanita lain.


Nindi masih bergeming, tak kuasa untuk menjawab.


"Sudah ya, cup...cup...cup.. Malu dilihatin banyak orang. Sudah ayo gue anterin lo pulang dulu ya" kata Yopi.


Terasa Nindi menganggukkan kepalanya dalam pelukan Yopi.


Setelah Nindi mengurai pelukannya, Yopi menghapus jejak air mata di kedua pipinya, dan menuntunnya untuk mendekat ke arah motor yang diparkirnya.


"Loh, bang. Kenapa masih disini?" tanya Yopi yang masih melihat ketiga preman itu berada di dekat motornya


Nindi mengeratkan pegangannya, dia takut saat melihat preman-preman itu. Apalagi di tengah malam seperti ini. Suasana terminal sudah sepi.


"Lo tuh lain kali hati-hati ya, Yop. Kunci motor lo ngegantung disini daritadi. Kita cuma jagain doang" kata salah satu dari mereka.


"Oh, makasih banget ya bang. Gue sekalian pamit deh, sudah ketemu sama teman gue" kata Yopi yang masih menggandeng tangan Nindi.


"Lo jemput cewek rupanya" goda mereka.


"Iya bang, gue balik duluan ya. Oh, iya. Nih buat abang-abang, buat beli rokok ya" kata Yopi mengulurkan selembar uang berwarna merah pada mereka.


"Nggak usah, Yop. Nanti Bang Rian marah sama kita" tolak mereka.


"Nggak apa-apa bang, gue ikhlas kok" kata Yopi, akhirnya mereka mau menerimanya.


Yopi mulai menjalankan motornya setelah berpamitan pada para preman yang telah menjagakan motor Aish.


"Aku tuh sudah takut sama preman itu, Yop. Ndak taunya kenal ya sama kamu" kata Nindi.


"Barusan kenal juga, kok. Ternyata mereka itu temannya bang Rian" kata Yopi.


"Bang Rian itu siapa? Kakaknya kamu ya?" tanya Nindi.


"Abangnya si Aish, kan sekarang gue tinggal sama engkongnya Aish" kata Yopi.


"Oh" singkat saja jawaban Nindi. Dia memang sangat lelah malam ini.


"Ini tujuannya kemana nih? Apa mau langsung pulang aja?" tanya Yopi.


"Pulang saja deh, Yop. Aku capek banget" kata Nindi yang sudah merebahkan kepalanya ke pundak Yopi, rasanya sangat nyaman.

__ADS_1


"Siap, tuan putri" kata Yopi tersenyum.


Cukup lama berkendara, akhirnya motor yang mereka tumpangi berhenti di teras rumah Nindi.


"Nin, sudah sampai" kata Yopi membangunkan Nindi yang tertidur di pundaknya, dengan tangan melingkar di perutnya.


"Hmmm.... Iya, sudah sampai ya" Nindi masih bergumam untuk mengumpulkan nyawanya.


Mereka turun dari motor. Yopi menunggu Nindi yang sedang membuka kunci rumahnya dalam diam.


"Mau masuk dulu, Yop?" tanya Nindi.


"Lo ngusir gue?" tanya Yopi terkejut, dia pikir Nindi akan menyuruhnya mampir.


"Ya kalau mau masuk sih boleh aja, Yopi" kata Nindi mempersilahkan Yopi masuk.


"Masuk dong. Gue juga capek kali, Nin. Seharian kerja nggak fokus gara-gara mikirin elo. Gue sampai nggak sengaja ngebentak si Aish. Untung saja nggak ada si Richard" Yopi sedikit menceritakan kejadian di cafe tadi sore.


"Kalau sampai ada si Richard, bisa-bisa gue dipecat sama tuh tuan muda" kata Yopi.


"Kok bisa sih? Kasihan kan Aish, nggak marah kan dianya?" tanya Nindi yang ikut duduk di sofa panjang di ruang tamunya.


"Nggak sengaja sih gue. Tapi dia nggak marah kok. Dia kan suka marahnya cuma sama Richard doang" kata Yopi sambil terkekeh.


"Memang Richard itu orangnya kaku banget ya. Aku saja ngeri dekat-dekat sama dia. Tapi aku heran sih, kenapa Aish betah ya?" komentar Nindi pada pasangan Aish dan Richard.


"Eh, malah ngomongin orang malam-malam begini" kata Yopi yang menyadari percakapan mereka.


"Sekarang lo cerita sama gue, kenapa elo tiba-tiba pulang sekarang? Pakai acara nangis lagi, gue kan khawatir sama lo, Nindi" kata Yopi, tangannya mengelus sayang pada rambut panjang Nindi yang jarang sekali di ikat.


"Aku tadi siang ke rumahnya kak Fahri, tapi kata ibunya dia itu tinggal di kontrakan dekat kampus..." Nindi menceritakan kronologi peristiwa hari ini yang membuat hatinya patah tak beraturan.


Jika hanya menemukan Fahri duduk berdua di sebuah taman dengan wanita lain, mungkin Nindi masih bisa memberikan kesempatan kedua untuk Fahri.


Tapi yang Nindi lihat adalah peristiwa bersatunya dua makhluk yang melakukan konjugasi. Tentunya akan sangat sulit untuk diterima olehnya.


Yopi mendengar dengan serius semua cerita yang Nindi katakan padanya. Dia jadi teringat dulu, dia dan Emily juga melakukan hal itu di belakang Richard.


Mungkinkah perasaan Richard sama seperti Nindi saat ini?


Berpikir ke arah sana, membuat Yopi semakin merasa bersalah dan semakin berhutang budi pada Richard yang masih mau menerimanya sebagai sahabat baiknya.


Hingga Richard mau membantunya di semua segi kehidupannya, memberinya keluarga baru yang perhatian padanya, memberi pekerjaan dengan jabatan yang baik meski masih bersekolah, dan yang pasti, Richard masih menyebutnya sebagai sahabat.


Yopi jadi malu pada dirinya sendiri. Tekadnya semakin kuat untuk selalu berada di samping Richard apapun kondisinya nanti.


"Sudah ya, lo jangan nangis lagi. Masih bagus karena lo tahu saat ini kalau cowok itu brengsek, daripada baru ketahuan sifat aslinya saat nanti kalian berdua sudah dalam hubungan yang lebih serius" kata Yopi berusaha menenangkan Nindi yang masih saja meneteskan air matanya.


"Tapi hati aku sakit banget, Yop. Coba kalau kamu ada di posisi aku, kamu yakin kalau kamu bakalan kiat menghadapi semuanya?" tanya Nindi di sela tangisnya.


"Iya, lo boleh sedih, boleh nangis juga. Tapi jangan lama-lama dong. Sumpah mata lo sembab banget, udah kayak kodok tau nggak" ledek Yopi.


Nindi melihat wajahnya pada cermin, memang benar kalau wajahnya sudah seperti kodok. Dan melihat tampilan wajahnya yang seperti itu, membuat Nindi jadi malu sendiri. Membuatnya tertawa karena wajah lucunya.


"Gitu dong tertawa, kan jadi kelihatan lebih baik" kata Yopi. Nindi tersipu malu mendengar omongan Yopi.


"Sudah malam, Nin. Hampir jam dua pagi, nih. Gue balik dulu ya, soalnya besok gue harus nganterin tuan putri ke sekolah" kata Yopi yang ingin undur diri.


"Iya, aku anter ke depan ya" kata Nindi, lalu berdiri dan mengikuti Yopi di belakangnya.


"Hati-hati di jalan ya, Yop. Jangan ngebut-ngebut" kata Nindi sambil melambaikan tangannya setelah Yopi bersiap pergi.


"Lo masuk dulu deh, baru gue pergi" kata Yopi.


Nindi mengangguk, berbalik badan dan masuk ke dalam rumahnya.


Belum sempat mengunci pintu rumahnya, hujan deras tiba-tiba mengguyur daerah rumah Nindi.


Tak jadi pergi, Yopi membelokkan motornya kembali ke rumah Nindi, bahkan meneduhkan motornya di teras rumah Nindi.


Melihat itu, Nindi tak jadi mengunci pintu rumahnya. Memilih untuk membukanya lagi dan membiarkan Yopi masuk ke dalam ruang tamu.


.


.


.


.


.


Terimakasih bagi semua yang sudah menyempatkan untuk menyentuh tombol like nya.


dan memberi komentar, serta memberikan vote.

__ADS_1


salam sehat semuanya ❤️❤️❤️❤️


__ADS_2