Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
cerita Emily


__ADS_3

Emily membuka kedua tangan yang menutup wajahnya. Setelah mengambil nafas, dia mulai bercerita.


"Tadi pagi dia datang kesini, karena semalam kami sudah janjian untuk berterus terang sama orang tua gue" Emily mengawali ceritanya diiringi isakan kecil yang masih keluar dari mulutnya.


"Sebenarnya orang tua gue sudah tahu dari beberapa minggu yang lalu, hanya saja gue dan Yopi belum siap untuk mengatakan secara langsung".


"Dulu saat pertama gue kasih tahu Yopi kalau gue hamil, dia sempat syok dan nyuruh gue buat gugurin kandungan ini. Tapi gue nggak mau, gue nggak tega. Selain itu kan juga bahaya buat nyawa gue".


"Diam-diam gue biarin kehamilan ini terus berkembang. Lama-lama semua orang pasti tahu, dan gue nggak ambil pusing. Gue masih mau dia selamat" kata Emily sambil mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit.


"Papa gue nggak nyalahin kami sepenuhnya, beliau malah menyalahkan diri sendiri dan merasa nggak becus mendidik gue sebagai anaknya. Gue sadar, gue salah. Dan gue nggak mau nambahin dosa dengan menggugurkan kandungan ini".


"Akhirnya, Yopi juga memahami ini. Bagaimanapun dia ayahnya, dan dia nggak mau biarin gue melalui ini sendirian".


"Setelah menceritakan semuanya ke orang tua gue, kami pergi rumah Yopi. Orang tua gue juga ikut kesana. Tapi perlakuan orang tua Yopi sangat tidak manusiawi. Orang tua Yopi bahkan menghina papa sama mama gue. Jelaslah kita nggak terima. Karena bukan cuma gue yang salah, tapi kami berdua yang melakukan itu secara sadar".


"Gue menyesal, sangat menyesal. Masa depan gue hancur. Bahkan orang tua Yopi mengusir kami dengan caci maki" kata Emily yang kini sudah berderai air matanya.


"Terus kenapa Yopi bisa sampai begitu, Em?" tanya Richard.


"Gue nggak tahu, Ri. Setelah ayahnya Yopi ngusir gue dan papa, kita sekeluarga pergi dari sana. Gue sudah nggak tahan sama cacian dari mereka".


"Ayah Yopi melarang buat ngikutin gue waktu itu, Yopi sendirian di rumahnya. Terus sampai saat ini gue nggak tahu lagi kabar dari dia. Sampai kalian datang" kata Emily.


"Yopi luka parah. Gue nemuin dia ada di depan rumah gue dalam keadaan pingsan. Tapi dia masih bisa selamat setelah Operasi tadi sore. Sekarang masih dirawat di rumah sakit" kata Richard.


"Terus rencana lo ke depannya giman, Em?" tanya Reno.


"Papa nyuruh gue tinggal sama tante gue di Perancis, sekalian lanjutin sekolah disana setelah gue lahiran nanti" kata Emily.


"Kapan lo berangkat?" tanya Richard.


"Secepatnya setelah semua urusan mengenai surat-suratnya selesai. Minggu-minggu ini mungkin" kata Emily dengan ******* nafas sedih.


"Lo nggak mau jenguk Yopi dirumah sakit?" tanya Richard.


"Gue dilarang keluar rumah sampai nanti waktunya berangkat. Gue minta tolong sama kalian berdua, boleh?" tanya Emily.


"Tentu, apa?" tanya Richard.


"Sebentar ya, tunggu disini" kata Emily masuk ke dalam rumahnya. Meninggalkan Richard dan Reno.


Sekitar sepuluh menit berlalu, Emily datang kembali membawa secarik kertas di tangannya.


"Tolong lo berikan ini ke Yopi kalau dia sudah sadar nanti. Gue minta maaf karena nggak bisa jenguk dia kali ini" kata Emily dengan isakan yang tak bisa diredam.


Richard mengambil surat itu, dan mengantonginya untuk diberikan pada Yopi nanti.


Mereka berdua masih menunggu isakan Emily sedikit reda sebelum berpamitan.


Terdengar ada mobil yang datang, rupanya orang tua Emily yang baru sampai ke rumahnya.


Sepasang pria dan wanita paruh baya terlihat menghampiri mereka, tatapan tidak suka langsung terpampang jelas saat pandangan mereka saling bertemu.


"Siapa yang menyuruh kamu keluar rumah, Emily?" bentak sang ayah.


Emily hanya menunduk, masih menangis.


"Kalian berdua, cepat pergi dari sini" kembali Richard dan Reno diusir saat bertamu.


Kedua remaja itu meninggalkan pekarangan rumah Emily setelah berpamitan dengan bahasa isyarat.


Richard mengemudikan mobilnya, disampingnya Reno yang masih setia.


"Hari ini sialan banget ya, dua kali loh kita diusir saat bertamu. Benar-benar hari yang terkutuk" kata Reno yang terus mengomel.


"Sudah, diam. Kita fokus sama kesembuhan Yopi dulu" kata Richard berusaha tenang meskipun dalam hatinya emosi juga.


Beruntung yang mengusirnya adalah orang tua dari teman-temannya, kalau tidak, pasti sudah diajak duel satu lawan satu oleh Richard.


Harga dirinya terlalu tinggi untuk diam saja saat diperlakukan tidak terhormat.

__ADS_1


Mereka berdua menikmati perjalanan dalam keheningan. Tidak ada yang bersuara hingga sampai dirumah sakit. Pikiran keduanya sibuk sendiri.


"Maaf, jam besuk sudah habis. Kalian boleh datang besok pagi" kata resepsionis melarang Richard dan Reno masuk.


"Teman kita sedang sendirian di ruangannya" kata Richard.


Tapi masih ada penolakan dari resepsionis itu. Mereka berdua mengalah, beringsut mundur tapi tentu tidak benar-benar pergi.


Menunggu di luar, keduanya sedang sibuk melihat peta rumah sakit yang terpampang di papan informasi.


"Lewat jalan ini saja, sepertinya di sebelah sana tidak ada yang jaga" kata Richard.


"Ayo" kata Reno setuju.


Mereka berdua melangkah menuju bagian samping dari gedung rumah sakit itu. Hanya pintu gerbang setinggi dua meter yang menjadi penghalangnya.


Jika berhasil melompati pagar itu, jarak ke ruangan Yopi hanya sekitar lima ratus meter saja, tapi harus melewati tangga karena letak liftnya terlalu jauh. Dan Yopi ruangan Yopi ada di lantai dua.


Richard membiarkan Reno untuk naik terlebih dahulu, tubuhnya yang boncel memerlukan bantuan Richard untuk bisa menaiki pagar.


Richard menyatukan kedua telapak tangannya dan meletakkan didepan perut agar Reno menggunakannya sebagai tangga darurat.


Berhasil, Reno akan melompat sekarang, semoga suara jatuhnya tidak terlalu keras agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Kini giliran Richard yang naik, beruntung tubuhnya tinggi menjulang. Jadi, dia tidak terlalu kesulitan saat melewati pagar itu.


Keduanya tersenyum puas, dengan santainya mereka berdua menuju ruangan Yopi. Tapi seorang satpam memergoki saat Richard turun dari pagar tadi.


Terjadi aksi kejar-kejaran di malam itu. Mereka berdua sembunyi di toilet agar terhindar dari kejaran satpam.


Sial lagi, mereka berdua salah masuk toilet. Semua wanita yang ada didalamnya berteriak histeris. Bahkan ada yang sempat menyiram dengan seember air.


Untung saja air itu bukan air comberan, meskipun begitu, tetap saja membuat keduanya sedikit basah.


Richard dan Reno berlari lagi, mereka berdua menertawakan nasib sialnya hari ini. Richard merangkul tubuh boncel Reno, terlihat seperti seorang kakak yang sedang merangkul adiknya.


"Sial banget hari ini, hahaha" kata Richard yang akhirnya bisa tertawa.


"Bego banget bisa salah masuk toilet, pantesan nggak dikejar. Mana bisa satpamnya masuk toilet cewek" kata Reno masih tergelak dengan nasib mereka.


"Maaf lama ya, sus. Makasih sudah bantu kami buat jagain Yopi" kata Richard.


"Iya, sama-sama. Ada yang perlu saya lakukan lagi?" tanya suster itu.


"Nggak ada sus, sekali lagi makasih ya" kata Richard sambil membuka jaketnya yang sedikit basah karena insiden tadi.


"Iya, saya permisi dulu" kata suster itu berpamitan.


Reno mendudukkan dirinya di sofa, menengadahkan kepalanya, lalu memejamkan matanya.


"Kira-kira kenapa Yopi bisa ada di depan rumah gue ya, Ren?" tanya Richard.


"Gue juga nggak tahu, Ri. Nanti kita tanya kalau dia sudah bangun" kata Reno.


"Capek gue, ngantuk. Gue tidur disini ya" kata Reno yang sudah merebahkan dirinya di sofa tunggal itu, membiarkan Richard mencari tempat sendiri untuk tidur.


"Sialan lo boncel, lo nyuruh gue tidur di lantai gitu?" tanya Richard, tapi tak mendapat jawaban dari Reno. Tak menunggu lama, dia sudah mendengkur samar.


"Cepat banget lo ngilang, heran gue" gerutu Richard karena Reno sudah tertidur.


Richard mengambil ponselnya, mengamati benda pipih itu ternyata dalam keadaan off. Dia lupa belum mencharge hapenya seharian ini.


"Pasti salah paham lagi. Kira-kira bagaimana ya hasil sidangnya? Kenapa gue bisa lupa sih nggak ngabarin Aishyah. Atau gue telpon kak Willy saja deh" kata Richard kembali mengeluarkan ponselnya.


"Sialan, gue lupa kalau hape gue mati" kata Richard kesal. Dia mengacak-acak rambutnya, bingung harus berbuat apa.


Merasa mengantuk, Richard mencari alas atau apapun untuk tidur. Tapi tidak ada.


Saat berdiri, dia lihat ranjang ukuran single itu lumayan lebar juga untuk ditiduri Yopi seorang.


Sedikit berusaha, Richard bisa menggeser tubuh Yopi yang masih pingsan untuk memberi sedikit celah untuknya merebahkan diri.

__ADS_1


Dia tersenyum melihat sedikit tempat diatas ranjang, segera dia merebahkan diri. Sangat sempit memang, tapi not bad lah daripada harus tidur di lantai yang dingin.


Tak butuh waktu lama untuk Richard bisa berkelana di dunia mimpi. Hari ini memang cukup melelahkan untuk dilalui. Semoga esok hari bisa lebih baik.


...★★★★★...


Lain halnya dengan Aish, ponselnya memang kehabisan daya sejak sore tadi. Tapi begitu tiba dirumahnya, gadis itu langsung mencharger hapenya.


Bahkan lima menit setelah colokan disambung, Aish langsung menyalakan ponselnya. Berharap ada kabar dark Richard. Dia agak khawatir, karena baru kali ini Richard tidak menepati janjinya.


Beberapa saat menunggu setelah ponselnya menyala, ternyata masih tidak ada kabar apapun dari Richard. Kini hatinya diliputi pikiran yang tidak baik.


"Mungkin nggak sih kalau Richard sudah benar-benar menyerah kali ini?" kata Aish dalam hati.


"Mungkin gue terlalu lama menggantung hubungan ini, jadi dia sudah lelah dan nggak mau lagi berjuang" pikiran Aish terus saja tertuju pada Richard.


Mengingat hasil persidangan tadi, pikirannya mulai teralihkan.


"Kira-kira kenapa ya istrinya mas Willy menyuruh bang Tomy untuk membunuh kak Alif?".


"Apa dia cemburu? Atau ada alasan lainnya?" Aish bermonolog dalam hatinya.


Tanpa segan Aish mendial nomor ponsel Willy. Dia juga penasaran dengan hubungannya dengan Alif dan Helda.


"Iya, Assalamualaikum"


Willy mengangkat panggilan Aish.


"Waalaikumsalam...


*Mas, sebelumnya Aish minta maaf ya kalau sempat menuduh mas Willy". ~Aish


^^^..."Iya, nggak apa-apa kok. Kamu belum tidur?" ~Willy...^^^


"Saya mau tanya sama mas Willy. Dulu, alasan apa yang membuat mas Willy juga menikahi kak Alif?" ~ Aish


^^^"Tentu karena saya cinta sama Alif" ^^^


^^^^^^~Willy^^^^^^


"Apa istri mas Willy tahu kalau kalian menikah?"


~Aish


^^^^^^"Ya, bahkan dia sendiri yang mengusulkan supaya saya menikahi kakak kamu, Aishyah. Karena dia sendiri tidak bisa memberi keturunan dalam rumah tangga kami. Saya juga sempat kaget saat tahu kalau dialah otak dari pembunuhan itu. Setahu saya, hubungan kami bertiga baik-baik saja" ^^^^^^


^^^^^^~Willy*^^^^^^


"*Saya juga bingung kalai begitu, huft. Yasudah, biar besok kita lihat saja di pengadilan"


~Aish


^^^"Richard sudah menghubungi kamu apa belum?"^^^


^^^~Willy^^^


"Belum mas, hapenya nggak bisa dihubungi"


~Aish


^^^"Kenapa dengan anak itu, yasudah kamu istirahat dulu ya. Sudah malam, jangan begadang"^^^


^^^~Willy^^^


"Iya, Assalamualaikum"


^^^"Waalaikumsalam*"^^^


Aish menutup panggilannya dengan perasaan gamang. Cukup lama dia sibuk dengan pemikirannya sendiri. Sampai tidak sadar diapun tertidur.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2