Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Masih Sekar


__ADS_3

"Kenapa kita jadi ada disini sih? Kayaknya terakhir kita ngumpul kan di taman dekat perpus ya?" tanya Aish.


"Sudah, nggak apa-apa. Yang penting kita bisa balik dan masih utuh aja udah Alhamdulillah banget kan?" kata Seno.


"Iya sih, ayo kita keluar. Kayaknya ini gudang belakang sekolah kan ya. Waktu pertama kali gue ketemu sama lo kan ya Hen?" tanya Aish.


"Bener, tapi pasti dikunci" kata Hendra.


"Darimana Lo tahu?" tanya Seno.


"Dulu gue kan ngebuka gudang ini pakai alat, nggak pakai kunci" kata Hendra.


"Yaudah sih, lo kan pernah buka pintu ini sebelumnya, pastinya sekarang lo bisa dong bukain lagi?" kata Falen.


"Gue coba dulu lah" Hendra beranjak dari duduknya, menuju pintu yang tertutup itu.


Matanya mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membuka paksa pintunya. "Sepertinya kawat ini bisa" batin Hendra.


Diapun mengambil sebuah kawat yang sudah agak berkarat yang tergeletak di bawah kolong meja. Teman-temannya hanya memperhatikan tingkah Hendra.


Awalnya dia mencoba membuka handlenya, siapa tahu tidak terkunci. Tapi sialnya memang terkunci. Lantas bagaimana caranya mereka bisa masuk ya? Sungguh diluar nalar.


"Emang kekunci guys" katanya.


Hendrapun mencoba keahliannya membuka handlenya yg terkunci, tapi sulit.


"Kayaknya handlenya diganti baru deh, seingat gue dulu waktu gue kesini tuh nggak kayak gini modelnya" kata Hendra masih berusaha membuka paksa, tapi sulit.


"Toloonng.... tolongg..." kata Aish setelah berjalan mendekati pintu.


"Pakai aba-aba dong princess, abang kaget tahu" kata Hendra sambil mengelus dadanya karena kaget dengan teriakan Aish.


"Oh iya, gue lupa. Hehehe" kata Aish sambil tersenyum.


Akhirnya keempat sekawan itu berteriak minta tolong. Berharap ada yang datang untuk menolong mereka.


"Emang jarang banget sih yang berkeliaran disekitaran sini setahu gue" kata Hendra.


"Waktu itu gimana caranya lo bisa nyampek sini sih Ai?" tanya Hendra setelah lelah berteriak.


"Gue juga nggak tahu, kan disuruh nyari anggota osis buat minta tandatangan kan. Nah gue jalan aja seenak hati gue, ternyata nyampek sini. Malah dapet tontonan gratis lagi, kayak ngelihat drakor secara live tahu" Aish bercerita dengan semangat sambil matanya melirik-lirik Falen yang melotot menyiratkan agar tutup mulut.


"Sudah nggak usah bahas itu lagi. Sekarang kita pikirin gimana caranya biar kita bisa keluar" kata Falen yang mulai menjadi topik pembahasan.

__ADS_1


"Cg, ya sudahlah. Gimana ini sekarang?" tanya Aish.


Teman-temannya hanya mengendikkan bahu.


Setelah cukup lama menunggu, terlihat ada pergerakan dari luar pintu. Sepertinya akan ada yang memasuki gudang ini, terlihat handlenya naik turun.


Ceklek


Pintu terbuka, betapa senang hati mereka. Senyuman sudah mengembang di wajah masing-masing.


"Sekar?" ucap mereka kompak.


"Uwah, kalian tahu nama gue? Tersanjung rasanya hati gue" kata Sekar.


"Cg, lebay" Hendra yang masih terbawa amarah dari negri sebelah berlaku ketus.


"Kok lo bisa tahu kalau kita disini?" tanya Seno.


"Gue tadi dengar suara minta tolong, pas gue ngecek ternyata dari sini sumbernya. Yasudah gue minta pak kebon buat bukain pintunya" Sekar menjelaskan.


"Benar seperti itu?" tanya Falen curiga, dia sampai memicingkan matanya.


"Iya benar, masak sih gue bohong" jawabnya.


"Bisa nggak sih kalian ngelihatnya biasa aja, sudah ditolongin juga" katanya agak ketus.


"Eh iya maaf, lo mirip banget sama teman kita, iya kan Sen, Fal, Hen?" tanya Aish.


Temannya hanya mengangguk.


"Eh tunggu, lo kok pakai baju putih abu-abu sih? Bukannya ini hari Jum'at?" tanya Falen.


"Hari Jum'at? Lo ngigau ya? Ini tuh hari Senin, kalian yang seharusnya gue tanya, kenapa masih pakai seragam yang itu?" tanya Sekar.


"Masak sih?" tanya Seno.


"Mbak sama mas-mas ini yang orang tuanya rombongan datang ke sekolah hari Sabtu kemarin pasti nih" kata Pak Kebon.


"Iya kah pak? ngapain?" tanya Aish.


"Kalian tuh nggak pulang sejak Jum'at, ternyata nginap disini toh?" kata pak kebon.


"Kurang kerjaan banget nginap disini pak" kata Seno. "Berarti beneran dong kita habis melakukan perjalanan horor?" tanya Seno dengan suara pelan pada ketiga temannya.

__ADS_1


"Yasudah ayo keluar, kalian sudah dicari selama tiga hari ini. Kenapa bisa jadi ada di dalam gudang sih? Kurang kerjaan sekali kalian ini" pak kebon menggerutu sambil berjalan keluar, setelah mengunci pintu gudang, pak kebon mengajak semua pergi dari gudang itu.


"Ayo kalian ikut saya" kata pak kebon, keempat sekawan itu manut dan berjalan dibelakangnya.


Sepanjang perjalanan, banyak mata memandang heran pada keempat kawanan itu, ditambah lagi satu, yaitu Sekar yang masih juga ngintilin mereka.


..."*Loh, itukan empat sekawan yang kabarnya hilang itu ya?"...


..."Eh, ternyata Falen bule itu ganteng juga ya?"...


"Beruntung banget sih cewek mungil itu jadi princessnya mereka yang ganteng-ganteng"


..."Tunggu deh, kenapa nggak gue aja sih princessnya*"...


Banyak sekali suara-suara tawon yang berdenging tapi masih sempat terdengar mampir ditelinga Aish dan punggawanya.


Aish melihat Hendra dan Falen berjalan tenang, sementara dia dan Seno yang merasa sangat risih dengan suara-suara dengungan itu.


Seno dan Aish tidak pernah menjadi pusat perhatian semacam ini, apalagi katanya ini hari Senin. Hari paling komplit para guru dan muridnya pasti jarang yang absen. Pasti membuat keduanya mati kutu.


Falen menyadari bahwa Aish sangat terganggu, diapun merangkul sahabatnya itu agar bersikap biasa saja. "Berjalan dengan tegap dan berwibawa, jangan menunduk, memangnya lo lagi nyari uang koin?" bisik Falen pada Aish, berharap mengurangi rasa malunya.


Aish mendongak dan mengangguk, membiarkan Falen merangkulnya agar tak merasa sendirian.


Sekar merasa ada sesuatu yang mengusik hatinya melihat kedekatan Aish dan Falen. Tapi dia tidak tahu apa itu, karena memang selama mereka bersekolah, baru kali ini dia berurusan dengan keempat sekawan yang mempunyai julukan "punggawa dan princessnya" ini.


Ada apa dengan hatinya? Masak iya dia cemburu? Apa mungkin dia juga ingin punya teman seperti teman-teman Aish ini? Mereka terlihat luar biasa.


Sementara Seno sudah mulai bisa menguasai hatinya setelah berulang kali mendapat support dari Hendra yang berjalan disampingnya dengan menepuk pundaknya beberapa kali. Berusaha memberi energi positif agar temannya ini juga percaya diri. Tidak usah mendengar sesuatu yang tidak patut didengar.


Disisi lain, Sekar yang berjalan disamping pak kebon berulang kali menoleh pada Falen yang masih merangkul sayang pada Aish. Sesekali terdengar mereka yang bercanda.


"Jadi kepingin punya sahabat kayak mereka. Apa benar mereka tulus ya dalam berteman? Atau justru itu adalah persahabatan yang saling menguntungkan?" Batin Sekar terus saja membuat spekulasi tersendiri tentang kedekatan mereka.


"Sungguh gue ngerasa benar-benar familiar dengan mereka. Tapi dalam situasi seperti apa? Dan juga, pandangan cowok yang bernama Hendra ini sangat tidak bersahabat denganku sejak awal tadi" Sekar terus saja membatin dan sesekali menoleh pada empat sekawan itu.


Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan. Ternyata mereka digiring menuju ruang BP? Mereka sama sekali tidak menyadari hal itu, karena sepanjang perjalanan mereka senantiasa bercanda.


"Hah, ngapain kesini sih pak bon?" tanya Aish.


"Iya nih, memangnya kita ngelakuin kesalahan apa?" Falen angkat bicara.


"Masih saja nyari kesalahan, karena kalian tidak pulang selama tiga hari, saya harus bolak-balik, wira-wiri, mondar-mandir, disuruh ini itu demi mencari kalian. Malah nginep di gudang, padahal sudah dicari muter-muter nggak ketemu juga" kata pak non jengkel.

__ADS_1


"Sudah ayo masuk, kalian ini merepotkan saja" lanjut pak bon menyuruh mereka masuk ruang BP.


__ADS_2