
"Kenapa teleponnya nggak lo angkat, Ra?" tanya Richard.
Beberapa kali terlihat ada telepon masuk ke dalam ponsel Aish, tapi gadis itu hanya membiarkan saja.
"Gue nggak mau angkat, soalnya nomornya aneh. Kode awalnya kayak nomor luar negri, tapi gue belum sempat cari tahu asal negaranya" kata Aish yang sedang menikmati es boba rasa taro miliknya.
"Sering telepon?" kembali Richard bertanya, sedikit heran karena orang terjauh yang Aish kenal adalah Romeo, dia sedang ada di Aussie.
Dan kode awal dari nomor yang baru saja menelepon Aish bukanlah dari negri kangguru.
"Baru dari semalam sih kayaknya. Tapi sering banget telepon. Nanti deh kalau dia telepon lagi gue angkat" kata Aish.
Ini malam Minggu, Aish dan Richard sedang menikmati kebersamaan meski hanya berduaan saja di Destinasi cafe.
Mereka ikut menikmati penampilan dari band indie yang sengaja diundang untuk meramaikan suasana cafe di malam panjang ini.
"Princess, akhirnya gue temuin lo" sebuah suara manja terdengar merdu di telinga Aish.
"Seno... ya ampun, kok nggak kasih kabar dulu kalau mau kesini?" tanya Aish dengan senyum lebarnya, sementara wajah masam Richard sudah terpampang nyata.
Niatnya untuk hanya berduaan dengan pacarnya malah terganggu dengan datangnya Seno.
"Gue tadi langsung kesini, kabur dari mommy yang nyuruh gue pulang setelah syuting" keluh Seno yang sudah duduk berdempetan dengan Aish.
Seno melepas topi, jaket, kaca mata dan maskernya. Menaruh sembarangan, bahkan menduduki jaketnya saat tak bisa meletakkannya dimanapun.
Bahkan dia tak segan menyambar boba dari tangan Aish dan menyedotnya dengan tampang seperti sangat kehausan.
"Haus banget, ya?" tanya Aish, tangannya sibuk merapikan barang-barang Seno, menaruh di tempat yang lebih aman.
"He em. Eh, gue sudah bikin janji sama Falen dan Hendra. Gue suruh kesini, biarin aja malmingnya gue gangguin" kata Seno dengan tawa riangnya.
Merasa senang karena berhasil mengganggu acara kencan teman-temannya. Hanya dia seorang yang sedang menjomblo saat ini.
"Hepi banget wajah lo" komentar Richard, tak suka dengan keberadaan Seno yang tidak tepat.
"Iya dong" kata Seno dengan beraninya, karena ada Aish yang pasti akan membelanya dari siapapun. Meskipun itu adalah Richard.
"Lo kesini naik apa?" tanya Aish.
"Ojol, kan gue lagi kabur, princess. Jenuh gue tiap hari syuting terus, pengen main lah sekali-sekali" kata Seno, dia bahkan sudah menghabiskan boba milik Aish.
"Tapi gue juga minta Falen dan Hendra bawa pacarnya kesini kok. Biar nggak kelabu-kelabu banget lah malam minggu mereka" kata Seno, tangannya terangkat untuk memanggil waiters.
"Mau pesan apa, kak?" tanya waitress yang datang, anak buah Richard itu sudah dilatih untuk tidak heboh saat ada artis ataupun infuencer terkenal yang mengunjungi cafenya.
Seno membolak-balik buku menu, mencari minuman yang seperti milik Aish tadi.
"Kok nggak ada es boba kayak punya lo tadi sih, princess?" tanya Seno heran.
"Iyalah, Seno. Kan gue beli di depan sana" kata Aish.
"Memangnya boleh bawa minuman dari luar?" tanya Seno heran.
"Oh, iya lupa. Cafe punya pacar sendiri kan bebas ya" kata Seno menggumam tanpa melihat ke arah Aish, masih sibuk dengan buku menu.
"Mau blue ocean soda sama potato wedges deh mbak" kata Seno.
"Lo nggak sekalian pesan, princess?" tanya Seno, merasa sedikit tak enak hati karena telah menghabiskan minuman Aish.
"Nggak deh, nanti gue ambil sendiri kalau mau apa-apa" kata Aish sepeninggal waiters tadi.
"Hai, princess. Bikin acara kenapa mendadak banget sih?" tanya Falen yang sudah berdiri di sebelah Aish.
"Gue nggak bikin acara kok, Fal. Oh, pasti ulah lo nih, Senopati" kata Aish yang melihat Seno hanya senyum-senyum saja.
"Hai, Richard" sapa Falen pada mantan sahabatnya , hanya dijawab anggukan kepala saja.
"Hehe, iya. Sorry deh, lagian Falen sama Mahendra pasti nggak bakalan mau kalau gue yang undang. Beda kalau sabotase nama elo, pasti mereka berdua langsung kesini" kata Seno bahagia karena berhasil mengganggu acara ketiga temannya.
Richard mendecak, sedikit tidak suka dengan suasana yang diluar rencananya. Tapi dia berusaha diam untuk menghargai perasaan Aish. Padahal dalam hatinya, Richard tidak begitu cocok dengan teman-teman Aish.
Apalagi saat Hendra datang, dia juga terlihat sedang menggandeng seorang gadis menuju ke mejanya. Seketika wajah Richard sudah tertekuk sempurna.
Falen dan Hendra datang hampir bersamaan, pasti Seno sudah merencanakan itu semua.
"Hai, Richard. Apa kabar lo?" basa-basi Hendra.
"Jadi nggak baik gara-gara teman lo tuh" kata Richard menunjuk Seno dengan dagunya.
"Richard, ish... Nggak boleh gitu" kata Aish membela Seno, membuat Richard semakin tersisihkan.
__ADS_1
"Kalau ini gue kenal, lo kan Queen ya? Adik kelasnya Hendra bukan sih?" tanya Aish, wajahnya terlihat sangat bahagia.
"Iya kak, kak Aish masih ingat?" tanya Queen menyambut uluran tangan Aish.
"Ingat dong, kita pernah ketemu di acaranya Seno kan?" tanya Aish, dia juga mempersilahkan Queen bergabung.
"Kalau yang itu gue nggak kenal loh, Fal. Lo nggak pingin kenalin sama kita semua?" tanya Seno sedikit penasaran.
"Dia Indira, teman gue" kata Falen memperkenalkan Indira.
Gadis itu menyalami satu per satu teman Falen, seraya menyebutkan namanya, wajah cantiknya menampilkan senyuman terbaik. Dan tangannya berhenti cukup lama saat menjabat tangan Richard yang duduk di sebelahnya.
Memang Richard tidak duduk bersebelahan dengan Aish sejak tadi, mereka berdua duduk terpisahkan oleh meja.
Tak ada yang menyadari itu, bahkan Aish sendiri. Memang tak pernah ada pikiran buruk apapun dari seorang Aishyah. Kadang Richard harus ekstra sabar untuk menjaga Aish.
Richard segera melepas genggaman tangan Indira. Bahkan wajah datarnya tak berubah sedikitpun. Indira memilih duduk di sebelah Richard. Sesekali bahkan gadis itu tertangkap sedang mencuri pandang padanya.
Obrolan mereka terasa nggak nyambung dengan Richard. Selama ini saat bersama teman-temannya, memang dia jarang melibatkan para gadis ikut serta.
Cukup lama berada disana tak membuatnya bisa lebih akur, malah ingin kabur.
Malas melihat Indira yang suka sekali menatap ke arahnya. Kenapa sih Aish sangat tidak peka?
"Ra" Richard sudah tak tahan, diapun memanggil pacarnya yang duduk berseberangan dengannya, tapi malah berdekatan dengan Seno.
"Iya" jawab Aish dan Indira bersamaan, membuat semua yang ada saling melirik.
Indira bahkan menjawab panggilan Richard yang disangka untuknya dengan senyum terbaik.
Sedangkan Aish jadi merasa aneh melihat Indira yang sedikit bersikap manis pada Richard, padahal ada Falen disini.
Bukannya merasa cemburu, Aish jadi merasa tak enak hati pada Falen. Takut dia tambah salah paham pada Richard.
"Gue ke atas ya, kalau lo ada perlu sama gue tinggal telepon atau langsung nyusul kesana" kata Richard sambil berdiri, dia akan meninggalkan Aish disana.
"Iya, nanti gue susul kesana" kata Aish sedikit canggung karena Indira melirik tajam padanya.
Richard bahkan pergi tanpa berpamitan dengan teman-teman Aish.
"Sorry ya, dia memang begitu orangnya" kata Aish merasa sedikit tidak enak hati.
"Iya kak, memang kak Richard begitu orangnya. Dingin, hehe" kata Queen berusaha mencairkan suasana.
"Itu mah elonya yang nggak tahu diri, Senopati. Sudah tau Aish ada bodyguardnya, masih berani lo deketin. Untung saja nggak dipatahin leher lo" kata Hendra.
Indira jadi paham sekarang, rupanya Aish itu pacarnya Richard. Dan dia tidak suka mengetahuinya.
"Gue kan sayang sama princess, biarin dong kalau gue deket-deket sama dia" kata Seno manja.
Perkenalan pertama Indira kali ini sangat tidak disukainya, dua pria setampan Richard dan Senopati sangat menyukai Aishyah yang kalau dibandingkan dengannya sangat berbeda jauh.
Tapi Indira berusaha sebisa mungkin untuk bersikap wajar, karena ada Falen yang tadi datang bersamanya. Pasti semuanya akan menganggap kalau dia adalah teman spesial nya Falen.
Cukup lama mereka ngobrol, rupanya Richard yang sudah gak tahan duluan untuk tidak menanyakan keadaannya.
"Bentar ya, pak babin lagi telpon" kata Aish seraya terkikik setelah berkata seperti itu.
"Iya, kenapa?" tanya Aish melalui ponselnya.
Indira menajamkan rungunya demi bisa mengetahui isi pembicaraan Aish dan Richard.
(....)
"Eh, batrai hape gue mau habis. Nanti kalau lo nggak bisa telpon gue berarti lagi mati ya hapenya" kata Aish setelah mendengar bunyi tutut saat Richard menelponnya.
(....)
"Bawa kok, tapi kayaknya ada di mobil lo deh. Lupa nggak kebawa tadi, hehe" kata Aish, lupa jika dia menaruh chargernya di mobil Richard.
(....)
"Jangan, biar gue ambil sendiri. Gue ke atas deh ambil kuncinya ya" sebenarnya Aish akan mengambil sendiri chargernya. Sungkan dia untuk merepotkan Richard.
(....)
"iya-iya, gue tungguin disini" pasrah Aish, dia mematikan hapenya untuk menghemat baterai.
"Kenapa lagi, sih? Berantem mulu" tanya Seno.
"Nggak berantem kok, hape gue lowbat Sen. Richard mau ambilin charger gue di mobilnya" jawab Aish dengan santainya. Tak tahu dia kalau ada seseorang yang sedang mengincar kekasihnya.
__ADS_1
Richard sengaja tak menyapa Aish saat melewati mejanya menuju ke parkiran. Tapi mata awas Indira menangkap sesosok pria yang dari tadi ditunggunya.
"Gue ke toilet dulu ya, Fal" pamit Indira. Tentu Falen mengijinkannya tanpa rasa curiga sama sekali.
Tapi langkah kakinya tak membawa Indira ke toilet. Rupanya dia sedang mengendap untuk mengejar Richard yang sedang menuju ke parkiran.
"Hai" sapa Indira saat melihat Richard akan menutup pintu mobilnya.
Indira mengamati mobil mewah Richard dengan tatapan memuja. Dia suka sekali kemewahan.
Meski mendengar sapaan dari Indira, tak membuat Richard sedikitpun ingin membalasnya.
Baginya sudah cukup satu Aish, tak mau lagi mengganti kebawelan yang selalu dirindukannya dengan warna suara lain yang bukan dari pita suara Aish.
"Gue nyapa lo, tau" gadis itu masih ngotot mendekati Richard.
Richard menghentikan langkahnya, dia berbalik menghadap Indira yang ternyata lebih tinggi daripada Aish.
"Gue nggak minat balas sapaan lo. Dan satu lagi, jangan deketin gue" kata-kata menohok yang Richard tuturkan, nyatanya tak membuat semangat di hati Indira untuk mendekati Richard menjadi padam.
Senyum licik Indira terpampang diwajahnya.
"Menarik, kita lihat sejauh mana pertahanan lo" kata Indira yang sudah bertekad mendekati es batu semacam Richard.
"Nggak Brian, nggak ceweknya, semua sama. Dasar orang-orang nggak punya otak. Awas saja kalau sampai mereka gangguin Aishyah" sepanjang dari parkiran hingga sampai ke meja Aish, Richard terus saja menggerutu tak jelas.
"Kenapa sih?" tanya Aish yang mendapati wajah Richard terlihat sangat tidak bersahabat.
"Sini hape lo, biar gue charge di atas" kata Richard masih berekspresi tak jelas.
Aish memberikan ponselnya, "Lo kenapa sih, Richard. Ada masalah?" tanya Aish ragu, melihat Richard yang seperti ini membuatnya cemas.
Indira datang, dengan tampang seolah tak terjadi apa-apa, dia duduk dengan tenang di tempatnya.
Richard melirik tajam padanya, sangat tidak ingin bertemu dengannya kali ini. Dan semoga ke depannya, dia tidak akan pernah bertemu dengannya lagi.
"Ra, nanti kalau lo mau pulang langsung ke atas ya. Jangan kemaleman" singkat saja pesan Richard, tapi membuat semuanya merasa tersindir.
"Lo ngerasa terganggu sama kedatangan kita disini?" tanya Falen, emosinya sedikit tersulut.
"Bukannya gitu, Fal. Besok pagi gue sama Richard sudah janjian mau joging. Ehm, dia cuma ngingetin gue doang kok" sedikit gugup Aish berujar. Dia memegang lengan Richard dan Falen.
Keduanya sudah sama-sama berdiri, ingin menunjukkan identitas mereka sebagai lelaki sejati, mungkin.
Aish jadi bingung sendiri dengan perubahan Richard yang tiba-tiba dan tanpa alasan seperti ini.
"Sudah ya, kalian duduk deh. Nggak enak dilihatin banyak orang" kata Aish.
Dan ajaibnya, kedua lelaki jangkung itu mematuhi perkataan seorang Aishyah.
Indira semakin tak menyukai Aishyah, kenapa semua lelaki disana terlihat patuh padanya.
Aish berdiri diantara dua pria yang duduk dengan emosi, dia merangkul pundak dari keduanya dengan sedikit cemberut.
"Fal, Richard ulurin tangan kalian" perintah Aish.
Keduanya masih terdiam.
"Ayo, mana tangan kalian" kata-kata Aish masih tak diperdulikan oleh keduanya.
Dengan terpaksa, Aish menarik tangan Richard dan Falen agar mau berjabat. Aish hanya ingin kedua pria itu kembali bersahabat, seperti yang Yopi ceritakan dulu.
"Gini kan kelihatan keren, gue seneng banget kalau kalian akur" senyum Aish terukir indah melihat Richard dan Falen sudah berjabat tangan.
Tapi jangan salah, mereka saling membuang muka. Tak saling bertatap mata.
Dan disana, tangan usil Seno diam-diam merekam prosesi perdamaian dua kubu yang sudah lama gencatan senjata.
"Semoga kalian selalu rukun dan tetap rukun. Malam ini gue bahagia banget. Kalian semua jadi saksi ya, dalam aksi perdamaian antara Richard Putra Hutama dengan Brian Falentino Usmany" kata Aish, disaksikan Hendra, Seno, Indira dan Queen.
Tangan Aish masih memegangi jabatan tangan Richard dan Falen. Tak membiarkannya lepas begitu saja. Kedua pria itu sama pentingnya bagi Aish.
Sedangkan untuk Richard dan Falen, kebahagiaan Aish adalah keutamaan bagi mereka berdua. Entah mengapa, Aish mendapatkan posisi penting dalam hati keduanya.
Richard mengelap telapak tangannya menggunakan jaket yang dia kenakan setelah Aish memperbolehkan jabatan tangan itu terlepas, seolah baru saja memegang kotoran.
Begitupun Falen yang langsung mengelapkan telapak tangannya pada lengan baju Seno.
.
.
__ADS_1
.
.