Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
kita juga sedih


__ADS_3

Sedikit berjingkat karena kaget, Aish reflek menoleh dan mengambil tangan dipundaknya. Sedikit lagi dia akan memelintirnya jika si empunya tangan tidak segera menegur.


"Ini gue Aish, sakit tangan gue lo remes-remes" ternyata Seno yang datang bersama Falen. Hendra menyunggingkan sedikit senyum melihat reflek Aish yang bagus.


"Kirain siapa, kan gue kaget. Makanya dateng tuh pake salam, malah langsung nabok pundak gue lagi" kata Aish membela diri.


" Iya gue salah" kata Seno.


"Waalaikum salam"


"Assalamualaikum" Seno berucap salam.


"Waalaikumsalam, gitu dong. Kok kalian bisa ada disini sih?" tanya Aish.


"Hendra hubungi kita. Dia bilang princes kita lagi sedih butuh dihibur. Jadi ya kita disini buat hibur elo lah tuan putri" kata Falen.


Aish yang terharu matanya jadi berkaca-kaca lagi. "Kalian baik banget sih, sayang gue ke kalian. Bawa apaan tuh gede banget bungkusannya?" tanya Aish melihat kantong kresek besar dengan isi hampir penuh ditangan Seno.


"Jeli banget mata lo lihat tentengan gini?" Falen mencibir. Seno dan Hendra malah tersenyum.


"Kita pindah kesana yuk duduknya, sambil gelar tikar nih. Anggap aja lagi tamasya" kata Seno berjalan ke arah rerumputan yang agak lapang, kemudian menggelar tikar untuk diduduki bersama.


Mereka semua pindah ke tempat yang disarankan Seno. Suasana disini sepi, tidak banyak orang yang mengunjungi tempat sebagus ini, apalagi tidak ada tarif untuk masuk.


Karena pemerintah memang menyiapkan taman atas bukit ini untuk kawasan wisata bagi warganya. Tapi sepertinya para warga lebih suka jalan-jalan di mall dan nonton di bioskop daripada main di atas bukit seperti mereka.


Diatas tikar, mereka duduk melingkar. Aish berhadapan dengan Seno, diapit Hendra disebelah kiri dan Falen disebelah kanan.


Seno menuangkan isi dari dalam kresek putih besar bertuliskan AlfaIndo, aneka macam camilan berjatuhan.


Aish melongo melihat betapa banyak camilan itu. Seno hanya cengir kuda. "Mommy gue bilang harus bawa banyak makanan, karena diatas bukit nggak ada tukang jualan. Makanya tadi gue sempetin borong makanan dulu" katanya dengan polos.


Teman-temannya hanya tertawa menanggapi si anak mommy yang satu ini. Tapi dengan begitu semua jadi ikut kenyang juga.

__ADS_1


"Kok lo berdua bisa barengan sih?" tanya Aish.


"Tadi waktu gue diparkiran, Hendra wa gue nyuruh kesini. Dia sama lo katanya lagi sedih. Makanya kita datengnya bareng" kata Falen.


"Terus Seno ngapain di sekolah? kan ini hari libur?" tanya Aish lagi.


"Gue ikut osis Ai, soalnya gue nggak tahu lagi mau ikutan ekskul apa. Jadi ya gue terima aja tawaran Falen buat bergabung sama dia. Daripada di ekskul lain, entar gue nggak ada temennya lagi. Lo kan sudah sama Hendra, biar gue sama Falen. Adil kan" jawab Seno.


"Iya in aja dah anak mommy" kata Hendra membuat Seno manyun.


"Kelihatannya sih lo udah nggak apa-apa ya, cuma mata lo kayak kodok, sembab gitu. hahaha" Falen malah mengomentari mata sembab Aish.


"Lo jahat banget sih Fal. Gue lagi sedih masih sempat ngatain gue lo"Aish bicara sambil manyun.


"Tau nih si Falen, jahat" Seno ikut berkomentar.


"Nih Ai, es krim coklat buat lo yang lagi galau. Biar ati lo adem" Kata Seno menyodorkan es krim untuk Aish.


"Uwah, makasi ya Sen. Lo baik banget. Nggak kayak temen lo yang satu ini" Aish mengkode Falen yang sedang mengunyah snack kentang bersaus.


"Tadi itu kakak lo ya Ai?" tanya Hendra, Aish hanya mengangguk.


"Cantik banget ya kakak lo, meskipun sudah punya anak kan ya?" lanjutnya.


"Iya, kakak gue emang cantik banget. Sampai dia lupa diri, terus kebablas. Bikin keluarga gue berantakan" jawab Aish sambil menikmati es krimnya.


Ketiga temannya diam menungggu kelanjutan ceritanya. Merasa tak mendengar apapun dari ketiga kawannya, Aish mendongakkan kepala menatap satu per satu temannya yang menatapnya penuh harap untuk mendengar kelanjutan kisahnya.


"Kenapa bengong?" tanya Aish membuat ketiga temannya berdecak.


"Cg!!! gue nungguin cerita lo malah balik tanya" Falen memang tidak sabaran.


Aish menghela napas kasar. Memang sepertinya dia harus membagi bebannya ini bersama temannya. Mungkin dengan begitu dia bisa merasa sedikit plong.

__ADS_1


Toh teman-temannya ini pasti tidak akan mempermasalahkan kerumitan keluarganya yang sederhana.


"Kak Alif memang sangat cantik, semua orang mengakui itu" Aish mengawali ceritanya.


"Tapi dia jadi lupa diri. Saat masih SMP saja dia sudah berpacaran dengan om-om untuk bisa hidup enak. Karena memang basic keluarga gue yang sederhana. Ayah gue punya usaha garmen, meskipun masih dalam skala kecil. Tapi sudah punya lima orang yang ikut membantu usaha ayah".


"Kakak nggak suka kalau kemauannya tidak dituruti. Jadi semampunya, ayah akan menuruti semua permintaan kakak. Seperti ayah lain yang bertanggung jawab kan?" tanya Aish, dan teman-temannya mengangguk bersama.


"Waktu itu ayah ada kesalahan sama koleganya, ada salah pesanan gitu. Gue juga nggak paham. Membuat usaha ayah terancam bangkrut, jadi ayah menjual rumah lama peninggalan kakek dan membeli rumah baru yang lebih sederhana dan masuk ke dalam gang gitu. Yang gue tempati sekarang".


"Tapi kakak malu sama teman-temannya, dari sinilah kakak gue yang masih SMA kelas sebelas jadi sering pulang malam, bahkan pernah nggak pulang. Setiap pulang pasti ditegur dong sama orang tua gue, Secara anak cewek kan nggak boleh pulang malam".


"Kakak gue semakin liar. Waktu itu dia ngaku kalau hamil, ada pacarnya juga datang ke rumah. Tapi pacarnya itu ternyata sudah punya istri dan anak. Jadi dia minta izin untuk jadiin kakak gue istri keduanya. Tapi ayah gue nolak, dan terjadi cek-cok antara kakak sama ayah. Akhirnya, debat dengan amarah itu berakhir dengan ayah mengusir kakak dari rumah selama masih memilih pacarnya itu".


"Kakak sepertinya lebih sayang pacarnya daripada keluarganya, jadi dia tetap pergi dari rumah. Selang beberapa minggu, ayah gue terkena stroke karena mikirin kakak, sepertinya dia juga merasa kehilangan, tapi tertutupi ego yang sama kerasnya. Hingga ayah nggak sanggup lagi dan meninggalkan gue sama bunda untuk selamanya" Aish mengakhiri ceritanya dengan isakan kecil.


Falen menepuk pundak Aish, dan menyandarkan kepala gadis itu dipundaknya. Aish tak menolak, dia merasa sedikit tenang setelah bercerita.


"Kalian tahu nggak, bahkan setelah semua kejadian itu. Sahabat gue satu-satunya malah pergi ninggalin gue, dia bilang malu berteman sama gue. Takut kebawa pergaulan kayak kakak gue. Padahal gue kan nggak kayak gitu ya Hen?" Tanya Aish, dan Hendra hanya menganggukkan kepalanya.


"Lo tenang aja Ai, kita nggak bakalan ninggalin elo kayak temen lo itu. Kita bakalan selalu ada buat lo, iya kan prend?" tanya Falen. Seno dan Hendra mengangguk kompak.


"Bahkan kakak gue juga jadi benci sama gue. Padahal gue nggak ikutan ngusir dia, selama ini dia pikir orang tua gue cuma sayang sama gue. Mana ada sih orang tua yang pilih kasih. Nggak ada, itu cuma perasaannya buat nutupin amarah. Pelampiasannya jadi gue yang dia benci juga" kata Aish.


"Iya, udah. Lo jangan sedih lagi ya. Kita bakalan selalu ada buat lo. Lo bisa anggep kita jadi kakak, adek, teman, atau lawan juga boleh selama lo butuh apapun" Seno yang angkat bicara membuat ketiga temannya menoleh serempak ke arahnya.


"Gue salah ya?" tanyanya bingung.


"Enggak, tumben aja lo bener" kata Hendra.


"Jadi selama ini ada duka mendalam yang ditutupi keceriaan dari pribadi hangat lo ini ya Ai?" Falen membatin memperhatikan Aish yang mulai tersenyum oleh tingkah teman-temannya.


"Semua orang punya cerita masing-masing Ai, yang lo anggap kuat tidak sekuat itu, yang lo anggap hebat juga nggak sehebat itu. Ada sisi lemah di tiap manusia yang tidak bisa dihadapi seorang diri. Jadi selama lo butuh bantuan apapun, lo bisa bilang sama kita. Iya kan Sen, Hen?" kata Falen.

__ADS_1


"Iya, Lo bener Fal. Kita bisa saling membantu di tiap kesulitan. Jadi jangan pwrnah ngerasa sendiri" kata Hendra.


Aish tersenyum ceria dengan penuturan temannya, masih banyak yang sayang padanya.


__ADS_2