Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
cantik


__ADS_3

Hiks.... Hiks...


Hiks.... Hiks...


Hendra mendengar suara tangisan yang lirih, tengah malam seperti ini dia terbangun karena suara tangisan itu.


"Heh, bule. Bangun" kata Hendra berusaha membangunkan Falen yang tertidur lelap.


Hendra masih menguap, beberapa kali mengucek matanya yang masih terasa berat dan mengantuk. Tapi suara itu masih saja terdengar.


"Falen, Brian bule .. Bangun" kata Hendra mengguncang bada Falen, tapi temannya itu sangat sulit dibangunkan.


Hendra mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kamar Falen. Temaramnya lampu membuatnya harus memicingkan mata untuk mendapat pandangan yang jelas.


Suara tangisan masih terdengar sayup-sayup sampai ke telinganya. Hendra sudah tidak berniat membangunkan Falen yang tidur seperti pingsan.


Dia turun dari ranjang Falen, menguatkan indra pendengarannya untuk mencari sumber suara. Sepertinya ketemu.


Ada wanita yang duduk didepan ranjang Falen, posisinya yang duduk di lantai tidak terlihat sebelumnya oleh Hendra yang berada diatas ranjang


Sosok itu duduk dilantai bersandar pada lemari besar. Kepalanya diletakkan diatas kedua lengannya yang bertumpu pada kedua lutut.


Rambut panjangnya menjuntai hingga lantai, bahunya naik turun. Menandakan dia sedang menangis tertahan. Tapi suara yang dikeluarkan malah mengganggu tidur Hendra.


Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari, tentu saja Falen masih terlelap karena mereka berdua juga mengerjakan tugas sekolah bersama semalam, bahkan sempat melakukan video call pada Aish dan Seno di sela-sela break syutingnya.


Hendra ragu untuk mendekat atau tetap berdiri ditempatnya untuk menunggu sosok itu sadar jika tangisannya telah membangunkan Hendra.


Cukup lama dengan kebimbangannya, Hendra terdiam ditempatnya. Sementara sudah tak terdengar tangisan dari sosok yang sedang duduk bersandar itu.


Hendra terkejut saat sosok itu mengangkat kepalanya. Memperlihatkan wajahnya yang sepertinya sudah sedikit membusuk. Keluar beberapa belatung dari salah satu bola matanya.


Ujung bibir wanita itu terangkat, menyunggingkan seutas senyum yang mengerikan. Bola matanya yang lain menatap Hendra dengan pandangan hampa. Sekujur tubuhnya berkulit hitam seperti terbakar. Menyisakan gaun berwarna navy yang tetap rapi.


Sosok berusaha berdiri, gerakannya yang lambat sangat mengerikan di mata Hendra. Baru kali ini cowok itu melihat secara langsung adegan horror semacam ini. Kakinya bergetar takut, tapi masih kuat menopang berat badannya. Matanya mengamati pergerakan slow motion dari sosok didepannya tanpa berkedip, takut jika tiba-tiba sosok itu berada didekatnya jika dia mengedipkan mata.

__ADS_1


Wanita itu berjalan secara perlahan setelah berhasil berdiri, mendekat ke arah Hendra yang masih berdiri terpaku di tempatnya.


Baru kali ini Hendra merasakan arti kata takut yang sebenarnya. Selama ini meskipun dia bisa melihat pada mereka yang tak terlihat, tidak ada perasaan takut di hatinya karena merekapun tidak menyadari kepekaan Hendra.


Tapi kali ini berbeda, sosok yang sepertinya ingin memberitahu sesuatu padanya ini berwujud sangat mengerikan.


Bahkan bau badannya sudah sangat memuakkan, Hendra ingin muntah dibuatnya. Bau bangkai yang sangat membuat perut mual tak karuan.


Semakin wanita itu berjalan, penampilannya juga semakin berubah. Selangkah dia berjalan, kedua bola matanya terlihat normal. Selangkah lagi dia berjalan, kakinya telah menapak lantai dan memakai sepatu high heelsnya yang cantik.


Semakin dia berjalan, bau di tubuhnya kian hilang. Kulit terbakarnya mulai terlihat normal, halus dan putih.


Hendra memandang intens pada kedua mata wanita yang kini telah berubah penampilannya. Sangat cantik dan mempesona. Wujud kecantikan alami yang diidamkan oleh kebanyakan wanita.


Tinggi badannya sangat pas dengan busung dadanya yang penuh dan berisi, sepertinya sangat nyaman jika di dekap dalam pelukan.


Tapi pandangannya hampa, seolah tersirat kesedihan yang mendalam. Air matanya terus menetes, suara tangisannya terdengar pilu di malam yang sunyi seperti ini.


Hendra bingung antara harus takut atau terpukau dengan kecantikan wanita ini. Mengingat sosok itu adalah hantu, Hendra tersadar dan mundur beberapa langkah berusaha menjauh dari wanita ini.


"Pergi lo, jauhin gue. Mau lo apa?" teriak Hendra.


Tapi wanita itu tetap berusaha memegang tubuh Hendra. Dia terus maju untuk menjangkau Hendra, sedangkan Hendra terus mundur untuk bisa menjauh.


Hendra terjatuh, dia tersandung kaki kursi yang ditaruh sembarangan. Kini dia terduduk dilantai dengan selonjoran kaki. Sementara sosok itu tetap berusaha mendekat.


"Aahhhhh.... Pergi lo!! Jauhin gue, mau lo apa?" tanya Hendra sedikit berteriak, tapi masih belum mampu membangunkan Falen.


"Aahhh" Hendra menutup wajahnya dengan kedua tangan. Memejamkan matanya saat melihat sosok itu sudah sangat dekat.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, seorang pria masuk tergesa karena mendengar teriakan Hendra.


"Kamu kenapa Hendra?" tanya Siras yang melihat Hendra duduk selonjoran sambil menutup wajahnya dan berteriak.


Hendra membuka matanya, terlihat Siras telah berada dihadapannya dengan tatapan heran. Pria itu mengulurkan tangan untuk membantu Hendra berdiri.

__ADS_1


Cukup lama sampai Hendra mau menerima uluran tangan dari Siras. Cowok itu masih terlihat syok.


"Are you ok? Ngapain kamu duduk disitu?" tanya Siras melihat kelakuan aneh Hendra di pagi buta begini.


"Saya ok, dokter. Dokter kenapa disini?" tanya Hendra.


"Saya dengar teriakan kamu, saat saya buka pintu kamar ini, kamu malah duduk disitu. Kamu mimpi buruk kah?" tanya Siras memberikan segelas air pada Hendra.


"Kamu minum dulu agar lebih tenang" kata Siras.


"Terimakasih dokter" jawab Hendra meminum air dari dokter Siras.


"Yasudah, kamu lanjutkan tidur lagi saja. Ini masih sangat pagi" kata Siras kemudian berlalu pergi, menuju kamarnya sendiri untuk istirahat.


Dokter itu baru saja pulang dari rumah sakit, dia menuju ke kamarnya saat mendengar teriakan Hendra dari kamar adiknya.


Setelah kepergian Siras, Hendra mengedarkan pandangannya lagi. Berharap wanita mengerikan itu sudah tak lagi ada di sana.


Rupanya dia telah kembali pada wujudnya semula, berdiri sendirian di pojok ruangan yang sedikit gelap. Tanpa melakukan apapun.


Hendra sedikit lega, dia sudah terbiasa dengan tampilan sosok seperti itu. Tapi untuk yang tadi, sungguh itu adalah pengalaman pertamanya.


Hendra kembali ke ranjang, menutup sebagian tubuhnya dengan selimut yang terjatuh saat dia berdiri tadi, dan merebahkan diri di samping Falen yang tertidur seperti orang pingsan.


Dia tidur membelakangi Falen yang mendengkur kecil dengan napas yang teratur.


Hendra membayangkan wajah wanita tadi, sangat cantik dengan make up tipis dan warna pink di bibirnya. Rambut panjang sedikit bergelombang di ujungnya. Sangat cantik, sungguh familiar. Tapi tetap saja Hendra lupa dimana pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya.


Setelah kejadian itu, Hendra sudah tidak bisa memejamkan matanya lagi. Dia takut jika sosok itu akan kembali berulah. Jadi dia memutuskan untuk tetap terjaga dan memperhatikan sosok yang berdiri tanpa lelah sepanjang malam.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2