
"Untuk menemukan identitasnya sepertinya butuh waktu, Hendra. Karena sidik jarinya benar-benar habis karena tangan dan kakinya terbakar. Rambutnya juga hanya tersisa beberapa helai. Jadi, saya harap kalian sedikit bersabar untuk kami bisa mengungkap tentang identitas dari jenazah ini" kata dokter Retno.
"Huft, kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa mengetahuinya dokter?" tanya Falen.
"Saya tidak bisa menjaminnya, bisa satu Minggu, dua Minggu atau bahkan satu bulan. Doakan saja yang terbaik, agar kami bisa segera mengungkapnya" kata dokter Retno.
"Tenang, nanti kalian pasti akan kami hubungi jika ada perkembangan sekecil apapun itu" kata Fian yang melihat gurat kekecewaan di wajah Hendra dan Falen.
"Oh iya, jika kalian mendapatkan informasi apapun itu mengenai jenazah ini, kalian bisa infokan ke saya. Agar jika nanti sidah ada perkembangan dari pihak rumah sakit, penyelidikan akan lebih cepat jika ada informasi lain yang masuk ke meja kepolisian tentunya" kata Fian.
"Iya bang, pasti akan kami laporkan pada abang jika kami mendapatkan informasi" kata Falen.
Mereka masih melanjutkan obrolan mereka hingga menjelang malam. Melihat jam yang sudah hampir pukul sepuluh malam, Hendra mengajak Falen untuk menjemput Aishyah yang sedang berjaga di rumah sakit. Dia khawatir jika tidak ada yang mengantarkannya untuk pulang.
"Sudah hampir jam sepuluh Fal, bagaimana kalau kita jemput Aishyah? Kita anterin dia pulang" kata Hendra.
"Iya, boleh. Kasihan juga kalau dia harus nunggu angkot malam-malam begini" kata Falen.
"Kita pamit duluan ya bang, mau jemput Aishyah" kata Falen.
"Saya juga mau pulang saja" kata Retno, dokter itu merasa tidak nyaman jika harus berada diantara kakak beradik kembar yang sama-sama menaruh hati padanya.
Rian dan Fian saling melempar pandangan saat Retno berpamitan. Mereka berdua masih belum ada yang mau mengalah rupanya.
Hendra dan Falen tersenyum mengejek pada abang kembarnya, membuat mereka berdua mendapat tatapan sinis. Tapi hal itu tak membuat Hendra dan Falen takut, malah geli karena tahu penyebab mereka yang saling berselisih paham.
★★★★★
"Kamu pulang sama siapa?" tanya dokter Siras setelah semua anggota PMR bersiap untuk pulang.
"Nggak tahu bang dokter, Aish mau naik angkot saja" kata Aish.
"Biar saya antarkan?" tanya Siras menawarkan diri.
"Engmh, nggak usah deh bang" kata Aish. Siras hanya diam mendengar penolakan itu, sudah biasa jika Aishyah menolak hal semacam ini. Alasan tidak mau merepotkan selalu terlontar jika dipaksakan.
Setelah doa bersama dilakukan, semua anggota PMR berpamitan pada dokter shift pengganti. Mereka pulang melewati pintu poli, hanya saat ada keperluan tertentu mereka melewati pintu UGD.
Aishyah sedang menuju jalan raya, melewati parkiran yang luas dan beberapa penjual yang memang diperbolehkan berdagang disana. Dengan beberapa aturan tentunya.
Tin... Tin...
Sebuah mobil mengklakson Aish yang sedang berjalan. Aish menepi, berdiri di area yang cukup aman.
__ADS_1
"Ayo naik, gue anter pulang" rupanya Richard benar-benar menepati janjinya untuk mengantar Aish pulang setiap selesai jaga.
"Loh, Richard. Kamu disini?" tanya Aish.
"Ayo gue anterin lo pulang sekarang" kata Richard, dia masih terbawa emosi saat tahu dokter Siras yang mengantar Aishyah tadi siang.
Aishyah masih bingung, apakah dia mau pulang bersama Richard atau tidak. Gadis itu masih berdiri di tempatnya, apalagi melihat raut wajah Richard yang sedikit emosi. Aish jadi merasa kalau Richard sebenarnya terpaksa untuk mengantarkannya pulang.
Dibelakangnya, ternyata dokter Siras tak mau kalah. Pria itu sampai keluar dari mobilnya agar bisa mengantarkan Aishyah pulang malam ini.
"Hai Aishyah, ayo saya antar kamu pulang" kata dokter itu yang kini berdiri berhadapan dengan Aishyah.
Aishyah jadi bingung, dia tidak pernah menyangka akan berada di situasi semacam ini.
"Engmh ... gue, eh saya itu anu..." kata Aish terbata karena bingung harus berbuat apa.
Richard keluar dari mobilnya, sekarang dia berdiri di sisi lain dari Aishyah yang berdiri gugup.
"Dokter urus saja pasien-pasiennya dokter di dalam sana ya. Biar gue yang anterin Aishyah pulang" kata Richard pada dokter Siras yang rupanya tidak mau mengalah.
"Ini sudah terlalu malam, sepertinya lebih aman jika Aishyah saya yang antarkan. Karena pemuda seperti kamu bisa saja mengajak Aishyah ke tempat lain" kata Siras.
Richard tersenyum smirk, dia tidak menyangka dengan alasan yang terdengar dibuat-buat oleh si dokter.
"Saya rasa kamu cukup cerdas untuk bisa mengerti dengan apa yang saya maksud" kata Siras membuat Richard sedikit emosi.
Jadilah mereka berdua saling pandang dengan tatapan tajam, dibatasi oleh Aishyah yang berada ditengahnya.
Aishyah makin bingung, kali ini dia sangat ingin bisa berubah. Menjadi apa saja tidak apa-apa, atau kalau perlu, dia akan menggali tanah dan pergi seperti cara tikus melarikan diri.
Hendra datang di saat yang tepat, sengaja Falen tidak ikut turun dari mobilnya karena dia masih tidak mau jika Aishyah tahu kalau Siras adalah kakaknya.
"Hai princess. What are you doing in here?" tanya Hendra memecah pandangan sengit antara Siras dan Richard, berganti menatap sengit pada Hendra yang bertampang sok polos.
Sebelumnya, Falen dan Hendra yang berencana mengantarkan Aish pulang, mendapati sahabat cerewetnya itu sedang berada di tengah-tengah pria yang berebut untuk sekedar mengantarnya pulang.
Falen dan Hendra masih betah di dalam mobil Falen untuk melihat adegan yang seperti di film-film drama itu. Mereka bahkan masih sempat menertawakan ekspresi bingung Aishyah.
"Lo atau gue yang turun buat menyelamatkan princess junjungan kita?" tanya Falen dengan nada lucu.
"Hahaha, lo saja gimana? Sekalian lo lawan kakak lo yang seperti pangeran Arab itu" jawab Hendra.
"Gue ogah ngelawan dia, nanti bisa-bisanya tuh orang ngadu ke papi gue. Terus papi pasti ngelarang gue buat keluar rumah setelah sekolah. Tuh orang memang benar-benar nyebelin" kata Falen.
__ADS_1
"Okelah, biar gue yang turun. Gue pastiin kalau Aish ikut sama kita" kata Hendra dengan percaya diri.
Dan disinilah dia sekarang, berada dalam pandangan membunuh dari dua pria yang berebutan princessnya.
"Hendra, ya Allah... Lo kenapa bisa ada disini?" tanya Aish sedikit lega.
"Biasanya kan lo sama gue, jadi sekarang lo sama gua saja. Lebih aman dan nyaman" kata Hendra.
Aish tersenyum pada sahabatnya itu, kali ini dia benar-benar menyelamatkannya dari situasi yang aneh.
"Maaf ya Richard, maaf juga ya bang dokter. Aish sama Hendra saja. Ehm, tadi bunda mau nitip sesuatu untuk mamanya Hendra. Iya kan Hen?" tanya Aish pada Hendra dengan mengedip-ngedipkan matanya, berharap Hendra bisa kompak kali ini.
"Ya, mama sudah menantikan titipan dari bunda. Jadi, malam ini mama minta jika titipan dari bunda harus sudah didapatkan" kata Hendra yang mengerti maksud kedipan mata Aish.
Aish bosa bernapas sedikit lega, dia ingin segera bisa keluar dari kedua pria ini.
"Maaf ya Richard, maaf ya abang dokter. Nanti lain kali saja ya" kata Aish melangkah ke arah Hendra, dia menarik jaket Hendra agar segera mengikutinya.
Richard dan Siras hanya bisa berdiri terdiam melihat ternyata Hendra yang berhasil membawa Aish bersamanya.
"Mau kemana? Mobilnya disana" kata Hendra, Aish menariknya ke arah yang salah.
"Oh, disana ya? Ayo kesana" kata Aish. Dia masih memberikan senyumnya pada Richard dan dokter Siras yang masih betah berdiri dan menatapnya.
"Alhamdulillah, selamat" kata Aish yang kini duduk di jok belakang, dia sampai tidak tahu jika ada Falen didepannya.
"Hahahahaa, laris banget lo malam ini" ejek Falen yang ada di kursi kemudi.
"Heh, ada Falen juga rupanya" kata Aish yang daritadi masih melihat ke arah Richard dan Siras.
Hendra sudah ada di posisinya, dia duduk di samping Falen yang mengemudi.
"Huft, untuk kalian datang. Kalau tidak, gue bisa-bisa pulang jalan kaki tadi" kata Aish.
"Besok biar gue yang anterin lo pulang princess" kata Falen.
"Terserah lah, yang penting nggak sama mereka" kata Aish lega, dia bisa pulang dengan nyaman kali ini.
.
.
.
__ADS_1
.