
"Sumpah gue kangen banget sama lo, Seno" kata Aish memeluk Seno dari samping. Sejak tadi Seno sudah sibuk mengusir Falen yang duduk di sebelah Aish.
Dan kini dia sangat senang karena bisa duduk disamping princess tersayangnya.
"Gue juga kangen banget sama lo, princess" kata Seno yang merangkul pundak Aish sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Hendra menatap malas pada Seno. Dia juga rindu, hanya saja dia tidak biasa mengungkapkan perasaannya semudah orang lain. Hendra tidak terbiasa mengucapkan rasa sayang, cinta, bahkan dia juga cukup sulit untuk sekedar meminta maaf.
"Hubungan lo sama Richard gimana, princess? Baik-baik saja kan?" tanya Falen.
"Baik, sangat baik malah" jawab Aish.
"Dia baik kan sama lo?" tanya Falen lagi.
"Baik kok, gue rasa sekarang gue terlalu banyak bergantung sama dia. Kayaknya gue harus sedikit lebih mandiri setelah ini. Gue mau cari kerja sampingan" kata Aish.
"Kenapa memangnya?"tanya Seno.
"Ya kan nggak selamanya gue harus dinafkahi sama Richard, hehehe. Nikah saja belum masak iya dia harus mencukupi kebutuhan gue. Malu lah gue" kata Aish terkekeh.
"Lo mau kerja dimana?" tanya Hendra.
"Disini, Richard bilang kalau ada kerjaan part time juga disini. Jadi, daripada gue nganggur kan lebih baik kerja disini buat menyambung hidup" kata Aish.
"Bagus juga sih disini, gue setuju. Jadi nanti gue bisa sering mampir kesini kalau ada lo" kata Seno.
"Uwah, bagus itu. Jadi nanti pasti bakalan banyak yang tertarik buat datang kesini kalau artis setenar lo aja sering nongkrong disini" kata Aish senang.
"Lo kok sore banget sih pulangnya? Ada kegiatan apa disekolah?" tanya Seno yang masih melihat Aish dengan seragam sekolahnya.
"Iya nih, gue kena hukuman" kata Aish.
"Kok bisa?" tanya Seno terkejut, dia sampai melepas rangkulan tangannya.
"Gue habis berantem, ssttt... Jangan bilang-bilang Richard ya, hihihihi" kata Aish terkekeh sambil menutup mulutnya.
Falen menggeleng-gelengkan kepalanya, sedikit tidak percaya jika Aish sudah berbuat onar di sekolah barunya.
"Ceritain ke kita dong, kok bisa berantem sih? Berantem sama siapa?" tanya Seno antusias.
"Lo ingat Ilham, teman satu tim gue?" tanya Aish.
"Ingat gue, yang buluk itu kan?" tanya Falen.
"Lo mah, jangan suka ngatain orang dong" kata Aish sebal.
"Kalau Mike, kapten tim basket dari sekolah gue, ingat nggak?" tanya Aish lagi.
"Oh, Mike si songong itu ya. Inget banget gue mukanya, sudah gue tandai jadi orang yang nggak akan sudi untuk gue temuin lagi" kata Hendra.
"Ish, kalian ini pendendam sekali" kata Aish.
"Terus?" tanya Seno.
"Jadi Ilham itu jualan kue di sekolah, bantuin ibunya gitu. Terus kuenya jatuh kena lemparan bolanya si Mike. Nggak terima dong gue, pas gue tegur malah ngajakin berantem tuh anak".
"Gue jabanin lah, dia jual gue beli dong" kata Aish bangga.
Ketiga temannya memperhatikan dengan seksama cerita Aish yang menggebu. Aish sangat semangat menceritakan saat dia berantem.
"Terus, terus?" tanya Seno senang.
"Menang dong gue, eh... Malah ada guru BP datang, langsung jewer telinga gue sama telinga Mike, tahu! Kita dibawa ke ruang BP dengan telinga yang masih dijewer" kata Aish sebal.
Seno tertawa mendengar cerita Aish, membayangkan lucunya Aish dan Mike yang dijewer telinganya.
"Terus gue dihukum buat ngajari Mike Matematika, dia bodoh banget di pelajaran ini. Tapi sekarang sudah lumayan bisa sih" kata Aish.
"Terus si Mike dapat hukuman apa? Masak iya cuma lo doang yang dihukum?" tanya Seno.
"Dia juga dihukum, jualin donatnya si Ilham sampai habis selama satu minggu ini" kata Aish.
Seno terkekeh, tapi tidak dengan Falen dan Hendra. Mereka berdua hanya memandangi Aish tanpa ekspresi.
"Lo berdua kenapa sih? Diem-diem bae, ada apaan sih?" tanya Aish heran.
Falen hanya menunjuk ke arah belakang Aish dengan dagunya. Aish mengerti jika ada seseorang di belakangnya dengan melihat kode dari Falen.
Aish menoleh, Uwah... Gawat!
Ada Richard yang berdiri disamping Yopi, ekspresinya sepertinya datar. Tapi dalam hatinya siapa tahu.
Aish menunjukkan cengir kudanya, menampakkan puppy eyesnya. Berharap Richard akan luluh dengan tatapan itu.
"Jadi begitu ceritanya? Kenapa sama mereka lo cerita, tapi sama gue lo diem saja?" tanya Richard yang mengambil sebuah kursi dan meletakkan disamping Aish.
__ADS_1
Lalu tangannya mengusir tangan Seno yang sejak tadi melingkar di bahu Aish.
Seno manatap sebal pada Richard, tapi dia menurunkan tangannya juga. Gawat kan kalau Richard ngajak berantem, bisa bonyok wajah tampan nan rupawan yang sekarang menjadi aset utamanya.
"Hehehe, gue masih belum ada kesempatan buat cerita sama lo, Richard. Makanya gue diem aja, nanti kan kalau ada kesempatan juga gue pasti cerita kok sama lo" kata Aish membela diri.
"Alasan doang" kata Richard menatap Aish penuh kasih. Tangannya tergerak mengelus pucuk kepala Aish.
Hendra merasa muak dengan pemandangan didepannya.
"Berangkat sekarang yuk, Ri. Nanti Reno keburu marah-marah kalau nunggu terlalu lama" ajak Yopi.
"Mau kemana sih?" tanya Aish.
"Nyari perlengkapan buat camping, lo mau ikut atau disini saja?" tanya Richard.
"Gue disini deh, masih kangen gue sama mereka" kata Aish.
"Kalian nggak nyiapin juga perlengkapan campingnya?" tanya Aish.
"Gue disiapin mommy" jawab Seno yang belum selesai dengan makanannya.
"Gue gampang lah" kata Hendra.
"Punya gue sudah dong" kata Falen.
"Sip deh, kita disini ya. Lo kalau mau keluar bareng Reno sama Yopi nggak apa-apa, biar nanti gue pulangnya bareng mereka saja" kata Aish yang masih ingin berlama-lama dengan punggawanya.
"Oke deh, awas tangan lo, Sen. Jangan sentuh-sentuh sembarangan" ancam Richard.
Seno hanya melirik tajam,"Apanya yang macam-macam sih? Aneh banget lo jadi orang" kata Seno yang sebenarnya tahu kalau Richard sedang melarangnya untuk menyentuh Aish.
"Sudah... Sana pergi" kata Aish sedikit mendorong lengan Richard.
"Lo ngusir gue?" tanya Richard.
"Enggak, kan lo memang mau pergi" kata Aish.
"Kalau gitu nanti gue langsung balik ke rumah, ya. Lo hati-hati kalau pulang, motor lo biar dibawa sama Yopi" kata Richard.
"He em" kata Aish membiarkan Richard pergi.
"Richard tadi nyebut nama gue lho" kata Seno takjub.
"Eh, Fal. Kata Richard, kalian dulu sempat dekat ya? Sekarang kenapa lo kayak menjauh gitu?" tanya Aish pura-pura tidak tahu, dia ingin tahu cerita dari pihak Falen.
"Hengmh .. yasudah kalau lo nggak mau cerita. Kalian mau camping dimana sih?" tanya Aish.
"Di bukit perkemahan, dekat puncak. Ternyata disana masih ada hutan lindung lho, meskipun sudah jarang ditemui adanya binatang liar, tapi kawasan hutannya masih sangat alami. Jarang orang yang masuk terlalu jauh kedalam hutannya karena medan yang sulit dan banyak sekali jurangnya" kata Falen.
"Asyik dong, kira-kira nanti sekolah gue juga camping disana apa enggak ya?" tanya Aish.
"Semua SMA di kota ini pasti campingnya disana, princess. Karena terbatasnya lahan, jadinya hanya ada maksimal lima sekolah yang boleh melakukan camping disana secara bersamaan" kata Falen.
"Jadi kayak ada jadwal campingnya gitu ya?" tanya Aish lagi.
"Iya, jadwalnya sudah tersusun sejak kita baru saja masuk di kelas sebelas. Dan baru dilaksanankan camping saat kita sudah semester genap seperti sekarang ini" kata Falen lagi.
"Lo tahu banyak ya, gue saja nggak tahu yang kayak gini" kata Seno.
"Gue kan ketua OSIS, jadi gue ikut waktu pengambilan jadwal camping dulu. Bersama dengan semua ketua OSIS dari berbagai sekolah SMA di kota ini" kata Falen bangga.
"Oh, gitu" kata Seno sambil manggut-manggut.
"Lo tahu nggak, jadwal camping di sekolah gue kapan? Penasaran nih gue" kata Aish.
"Tahu dong, bentar gue cek dulu di grup OSIS ya" kata Falen membuka aplikasi di ponselnya.
"Sekolah lo masih lama, princess. Dua bulan sebelum ujian semester. Mungkin sekitar tiga bulan lagi" kata Falen.
"Lama banget ya, padahal gue sudah nggak sabar" kata Aish.
"Daripada nggak camping, hehe. Lo belum pernah ikutan camping ya sebelum ini?" tanya Hendra.
"Nggak pernah, dulu kalau ada kegiatan camping pasti bunda melarang. Alasannya ya karena gue anak gadis, bahaya. Bahkan bunda sendiri yang izin sama guru gue ke sekolah. Malu banget gue kalau ingat kejadian dulu, gue dikatain anak mama waktu masih SMP" kata Aish.
"Seenggaknya lo masih diperhatiin sama bunda, lah gue nggak ada yang merhatiin dari dulu" kata Hendra.
"Kasihannya, gue perhatiin deh" kata Aish menggoda Hendra yang cemberut.
"Lo cari pacar saja, Mahendra. Pasti diperhatiin" kata Falen.
"Atau jadi artis kayak gue saja, fans gue selalu merhatiin gue. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Bahkan sekarang, banyak yang diam-diam ngambil foto gue" kata Seno PD.
"Masak sih? Kita kan di ruangan khusus" kata Aish.
__ADS_1
"Nih, kalau lo nggak percaya" kata Seno memperlihatkan ponselnya.
Ternyata sudah banyak sekali unggahan dari para fansnya yang diam-diam mengambil foto Seno yang sedang nongkrong dengan teman-temannya.
Bahkan posenya yang sedang merangkul Aish sudah menjadi trending topik.
"Iri gue sama princess, coba kalau gue yang jadi sahabatnya Senopati. Pasti gue ikutin kemanapun dia pergi"
komentar seorang fans Seno di unggahan foto salah satu fansnya, yang kebetulan men 'tag' akun Seno
"Bener nggak sih mereka cuma teman? Kok mesra banget?"
Komentar yang lainnya.
"Lihat saja, nanti pasti jadian"
ucap yang lain.
"Tapi sahabatnya Senopati nggak cuma princess doang kok, tuh ada lagi lainnya"
kata yang lain lagi.
"Pusing banget ya jadi mereka, urusan pribadi lo sangat berpengaruh sama para fans lo, ya" kata Aish.
"Iya, tapi gue senang juga sih karena banyak yang kenal sama gue" kata Seno.
Selepas isya, Aish diantar mobil Falen dengan selamat sampai rumahnya.
Sengaja Hendra dan Falen melarang Seno yang mengantar Aish karena khawatir kalau ada fans dari Seno yang akan berbuat nekat dengan mendatangi rumah Aish, atau bahkan mengganggunya.
Jadi, dengan berat hati Seno harus membiarkan Aish pulang dengan Falen.
"Apa kabarnya bang dokter, Fal? Lama gue nggak ketemu sama abang lo" tanya Aish saat masih berada di dalam mobil Falen.
"Baik sih gue rasa. Dia jarang banget pulang ke rumah. Kan punya apartemen sendiri" jawab Falen.
"Oh, gitu" jawab Aish manggut-manggut.
"Lo dulu sebenarnya ada masalah apa sih sama abang gue? Kenapa sampai Richard nitipin lo sama gue? Dan tiba-tiba lo langsung pulang saat tahu kalau kak Siras itu kakak gue?" tanya Falen yang belum tahu kejadian yang menimpa Aish.
"Nggak apa-apa kok, sudah berlalu. Nggak usah dibahas lagi. By the way, lo sama Sekar masih sering ketemu?" tanya Aish.
"Pernah sekali setelah dia dikeluarkan dari sekolah. Dia datang ke rumah gue, terus bilang ke gue kalau dia mau pindah" kata Falen.
"Pindah kemana?" tanya Aish.
"Katanya sih pindah jauh, ke Surabaya" kata Falen.
"Oh, lo sedih dong. Terus, hubungan kalian bagaimana?" tanya Aish lagi.
"Kita masih berstatus cuma teman kok, nggak lebih. Gue juga jadi nggak tertarik lagi sama dia gara-gara caranya yang salah untuk mencapai tujuannya. Dan itu merugikan lo, princess" kata Falen yang masih fokus dengan jalan raya.
"Hati cewek yang diliputi rasa cemburu memang mengerikan ya, hehehe" kata Aish berusaha mencairkan suasana.
"Dua kali lo kena masalah gara-gara cewek yang dekat sama gue, ya. Maafin gue ya, princess" kata Falen.
"Kenapa jadi lo yang minta maaf, sih? Namanya juga orang hidup, Fal. Pasti ada saja masalah, tinggal bagaimana caranya kita menghadapinya. Kalau nggak mau kena masalah ya sudah, nggak usah hidup saja. Iya kan?" kata Aish.
"Ini yang bikin gue suka berteman sama lo. Pikiran lo selalu optimis, gue sendiri sering menyalahkan takdir" kata Falen.
"Gue juga nggak sekuat itu, Fal. Gue sering nangis kalau sendirian. Bayangin saja, waktu lo pulang ke rumah dan nggak ada siapapun yang menyambut kedatangan lo. Sebenarnya gue sedih, tapi mau bagaimana lagi? Bunda sama ayah sebenarnya juga pasti nggak mau ninggalin gue sendiri".
"Tapi tuhan ngasih gue jalan hidup kayak gini pasti juga karena tuhan yakin kalau gue pasti kuat. Kan ada kalian disamping gue" kata Aish memberikan senyumnya.
"Kok jadi curhat sih, hehe".
"Berhubung sudah sampai dirumah, lo mau mampir dulu apa nggak?" tanya Aish.
"Gue langsung balik deh, tugas rumah gue lumayan banyak hari ini" kata Falen sambil mengacak ujung hijab di kepala Aish.
Kegiatan sepele yang selalu dirindukan princess dan para punggawanya adalah saat berpamitan seperti ini. Seolah mereka sedang menyalurkan rasa kasih sayang selayaknya saudara.
"Gue masuk dulu ya, lo hati-hati pulangnya. Salam sama mama lo ya" kata Aish sebelum keluar dari mobil Falen.
"Iya, pasti gue sampein. Lo langsung masuk ya, jangan keluyuran lagi" kata Falen.
"Siap, bos" kata Aish memberikan hormat seperti saat upacara.
Keduanya tergelak sebelum pergi.
Hari ini Aish sangat senang, rasa rindunya pada para sahabatnya sedikit terobati.
Pasti malam ini dia bisa tidur dengan nyenyak
.
__ADS_1
.
.