
Malam ini benar-benar telah Aish tunggu, karena sang bunda sangat pengertian mau mengizinkan putrinya untuk pergi bersama ketiga temannya.
Selama berjaga, Hendra benar-benar menjauhkan Aishyah dari dokter Siras setelah mengetahui cerita kemarin saat Aish diserang oleh Sofia.
"Pokoknya lo harus dekat sama gue terus, lo nggak boleh sampai bareng dokter Siras. Dia memberi efek buruk buat lo" kata Hendra posesif.
"Tapi semalam dia loh yang nganterin gue pulang, hen" kata Aish.
"Itu karena lo nggak angkat telpon dari gue, kalau lo angkat pasti lo bakalan gue atau Falen yang jemput. Jadi, jangan dekat-dekat lagi sama dokter itu ya" kata Hendra.
"Terserah lo sih Hen" kata Aish malas berdebat.
Malam tahun baru seperti ini banyak sekali pasien yang datang, terutama korban kecelakaan.
Hendra selalu mendampingi Aish, melindunginya setiap kali ada darah dari tubuh pasien agar tak mengganggu pandangan Aish. Tapi untungnya, setelah kejadian pingsan kemarin, rasa takut dalam diri Aishyah saat melihat darah sudah tak terlalu parah.
Hanya saja saat ada pasien dengan luka yang mengerikan, dia merasa sedikit trauma.
Memang sudah menjadi hal yang lumrah jika setiap kali akan ada perayaan, pasti juga banyak korban.
Hingga jam jaga akan segera berakhir, suasana UGD masih juga ramai. Semua anggota PMR yang berjaga tidak sempat meminta tandatangan dari dokter Siras. Dokter itu sedang menangani operasi mendadak pada seorang korban kecelakaan.
"Dokter Siras sedang melakukan tindakan operasi, kalian bisa kumpulin kertas tugasnya di meja nurse corner saja ya. Biar nanti dokter cek dan tandatangani kalau sudah selesai" kata suster Ana.
"Iya mbak, terimakasih. Kami pulang dulu ya mbak Ana" kata Hendra, yang ditugaskan menjadi ketua kelompok.
Semua anggota sudah keluar dari UGD untuk pulang ke rumah masing-masing. Aish dan Hendra sedang menunggu kedatangan Falen untuk menjemput, sementara motornya sendiri terparkir aman di basemen rumah sakit.
"Hai, kalian sudah lama?" tanya Falen saat baru tiba, dia bahkan bertanya dari dalam mobilnya setelah membuka kaca.
"Nggak lama kok" kata Aish sambil membuka pintu belakang, membiarkan Hendra duduk disamping Falen.
"Seno masih belum kelar syutingnya, mommynya barusan chatt gue" kata Falen.
"Eh, gimana kalau kita jenguk Richard sebentar?" kata Aish.
"Mau ngapain sih princess?" tanya Falen, hubungannya dengan Richard memang tidak begitu baik.
"Sebentar saja Falen, kasihan dia kemarin sendirian" kata Aish.
"Sebentar doang ya, soalnya jarak ke tempatnya Seno lumayan jauh loh" kata Falen yang tidak bisa menolak permintaan Aish.
"Iya, janji bentaran doang" kata Aish tersenyum senang.
Sesuai kesepakatan bersama, akhirnya mereka tiba di depan pintu kamar Richard. Seperti kemarin, pintu itu masih dijaga oleh dua orang bodyguard.
__ADS_1
"Gue sama teman-teman gue mau jenguk Richard" kata Falen memperlihatkan sebuah kartu nama, dan ajaibnya kedua bodyguard itu langsung menyetujui dan membukakan pintu untuk mereka.
"Uwah, Falen hebat. Kemarin gue masih lama loh buat bisa masuk" kata Aish.
"Gue kan keren" kata Falen.
Tiba didalam, mereka dikejutkan dengan pemandangan yang sangat mengejutkan. Dimana Richard yang sedang berciuman dengan Emily, pacarnya Richard.
Aish yang masuk paling akhir langsung ditutup matanya oleh Falen, dia tak menginginkan Aish melihat adegan mesum didepannya.
"Apaan sih Fal, ngapain sih pakai acara nutupin mata gue segala. Lo lagi mau ngasih surprise ya sama gue" kata Aish berusaha memberontak, tapi tentu tak diizinkan oleh Falen.
Richard segera melepas ciumannya dengan Emily saat mendengar suara cerewet Aishyah. Emily tentu saja wajahnya sudah sangat cemberut karena adegannya tengah diganggu oleh kedatangan mereka yang tak diundang.
"Sorry kalau kedatangan kita ganggu kalian" kata Hendra yang masuk duluan.
"Ini kenapa sih, lo nih ngapain sih bule?" tanya Aish setelah matanya terbuka kembali.
"Ada adegan dewasa, bocil kayak lo nggak boleh lihat" kata Falen menyindir Richard dan Emily.
Aish memandang ke depan, "oh rupanya ada Emily" batin Aish jadi merasa tidak enak.
"Maaf ya kalau kedatangan kita ganggu kalian. Gue cuma mau lihat kondisi lo doang kok Richard. Gue kira lo sendirian kayak kemarin" kata Aish merasa bersalah.
Richard tak tahu harus bagaimana, sebagian hatinya mengharap Aish tetap disini, tapi sebagian lainnya merasa tak mungkin untuk mengusir Emily dan kedua teman Aish.
"Sudah tau ganggu, kenapa kalian nggak balik saja sih?" tanya Emily, wajahnya semakin sebal setelah tahu Falen bersama Aish.
"Maaf ya Richard, kalau gitu kita pamit dulu ya. Semoga kamu lekas pulih biar bisa cepat masuk sekolah" kata Aish hendak pergi.
"Tunggu, thank's ya Aishyah. Lo sudah luangin waktu buat nengok gue" kata Richard tidak rela ditinggal Aishyah.
"Iya, sama-sama. Yasudah kalau gitu, kalian lanjutin adegan dewasa kalian deh. Kita mau pergi ya" kata Aishyah, membuat Falen dan Hendra melotot melihat ke arah Aish yang bertampang sok imut setelah mengatakannya.
Sementara wajah Emily sudah merah padam, entah karena malu atau marah. Dan Richard hanya diam, menatap sendu ke arah Aishyah.
"Dah Richard, dah Emily. Selamat malam" kata Aish menarik lengan kedua temannya untuk pergi.
"Memangnya mereka berdua ngapain sih tadi, sampai lo nutupin mata gue?" tanya Aish masih penasaran saat mereka berjalan bersama menuju parkiran.
"Sudah, lo lupain saja. Sekarang kita ke tempat Seno ya" kata Falen.
Setelah sampai di parkiran, Falen segera masuk dan manghidupkan mobilnya. Hendra duduk di sebelah Falen. Dan ketika Aish hendak masuk juga, sebuah suara terdengar memanggilnya.
"Aishyah, kamu masih belum pulang?" tanya dokter Siras.
__ADS_1
"Eh, abang dokter. Ini lagi mau jalan bang, mau menyambut tahun baru sama teman-teman Aish" kata Aishyah.
"Abang dokter mau pulang juga?" tanya Aish.
"Iya baru selesai operasi langsung mau pulang sekarang" jawab Siras melihat mobil Falen.
"Seperti mobilnya Brian?" batin Siras.
"Buruan princess" kata Hendra sambil melongok ke luar jendela.
"Eh, ada dokter. Mau pulang dok?" tanya Hendra, Siras hanya mengangguk.
"Yasudah bang dokter, Aish duluan ya. Sudah ditungguin sama mereka" kata Aish.
"Iya kamu hati-hati ya" kata Siras menyisakan tanya tentang mobil Falen yang familiar.
Mobil Falen melaju meninggalkan Siras yang masih berdiri di posisinya. Dia segera pergi setelah mobil yang ditumpangi Aish sudah keluar dari area parkir.
"Lo jangan dekat-dekat deh sama tuh dokter, princess" kata Falen.
"Memangnya kenapa?" tanya Aish.
"Benar tuh apa kata Falen, tuh dokter banyak ngasih pengaruh buruk buat lo deh princess" Hendra juga menyuruh Aish menjauhi abang dokternya.
"Mana bisa gue jauhin bang dokter sih Fal, dia kan yang nandatanganin tugas harian gue. Dia juga yang ngasih tugas buat semua anggota PMR di UGD kan? kalau gue jauhin dia, bisa-bisa nilai praktek gue nol besar dong?" tanya Aish.
"Lagian apa coba alasan yang bikin lo nyuruh gue jauhin bang dokter?" tanya Aish lagi.
Falen hanya terdiam, Hendrapun tak mampu menjawab. Karena apa yang Aish katakan memang benar. Dokter Siras yang menjadi dokter pembimbing mereka.
"Sudah deh, nggak usah bahas ini lagi ya. Sekarang kita fokus sama acara kita malam ini, masih jauh ya Fal?" tanya Aish.
"Lumayan, masih sekitar dua jam lagi. Sekitar satu setengah jam lah kalau nggak macet" kata Falen.
"Gue tidur bentar ya, ngantuk banget nih" kata Aish.
"Iya, lo istirahat saja. Nanti gue bangunin kalau sudah nyampek" kata Falen.
Aish menguap, mencari posisi ternyaman untuk istirahat. Dan tak butuh waktu lama, gadis itu sudah benar-benar tertidur.
"Dasar kebo" kata Falen saat melihat Aish sudah tertidur.
.
.
__ADS_1
.
.