Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
malming


__ADS_3

"Onty, walna olen buat matahali, ya?" tanya Livy, dia sedang mewarnai bersama Aish di rooftop tempat biasanya Aish menghabiskan waktu bersama Richard.


"Iya, cantik. Kalau daun warna apa?" tanya Aish yang masih mewarnai air.


"Daun walna ijo ya onty" jawab Livy yang juga masih sibuk mewarnai matahari.


Sementara Aish mewarna bersama Livy, keponakannya dari Alif dan Willy, Richard juga sedang terlibat pembicaraan serius dengan Willy.


"Kamu yakin mau memakai uang warisan kakek untuk itu?" tanya Willy.


"Ya, dan gue harap lo mau promosikan produk gue lewat perusahaan lo, kak" jawab Richard.


"Sebentar, jadi ini alur dari usaha kamu seperti apa? Produk kamu didesain sendiri atau ada tukang desain khusus atau kamu hanya membeli dari para pengrajin?" tanya Willy.


"Gue sudah cari pengrajin setengah jadi di Jawa Barat. Nanti untuk desain gambarnya ada tim khusus, gue dan Reno sudah punya beberapa produk hasil desain kami sendiri" kata Richard.


"Tapi kakak nggak mau kalau sekolah kamu sampai terganggu dengan bisnis kamu ini, Richard. Biar papa dan mama dulu lah yang mencukupi kebutuhan kamu. Fokuslah pada pendidikan dulu" kata Willy memberi saran.


Bukannya Willy tidak percaya pada kemampuan adiknya. Hanya saja dia tidak mau adiknya keteteran untuk mengurus bisnisnya, sementara dia masih harus menamatkan SMA.


"Gue nggak kerja sendiri kak, ada orang-orang yang bantu gue. Ada Reno, ada Yopi, ada banyak orang yang terlibat. Jadi lo nggak usah khawatir sama sekolah gue" kata Richard.


"Bahkan gue sudah ada beberapa hasil produk yang sudah jadi. Tapi masih ada di gudang pengrajin, soalnya belum ada tempat buat showroom-nya" kata Richard.


Willy sebenarnya bangga dengan insting bisnis adiknya ini, semangatnya sama sepertinya dulu. Saat mengawali karirnya di bidang advertising, hingga kini dia sukses dan mempunyai banyak relasi di segala chanel media sosial.


"Baiklah, urusan periklanan sangat mudah. Kakak bisa memberikan secara cuma-cuma untuk iklan pertama produk kamu. Sekarang yang harus kamu pikirkan, carilah tukang yang profesional. Karena membangun sebuah tempat usaha itu cukup rumit" kata Willy.


"Tentu" jawab Richard.


"Dimana kamu akan membangun showroom-nya?" tanya Willy.


"Gedung perkantoran di sebelah cafe ini kosong, kak. Beberapa minggu yang lalu, gue sudah ketemu sama pemilik lamanya. Gue dibantu pengacaranya papa, sudah membeli gedung itu".


"Rencananya, nanti disana bakalan gue bangun studio musik dan showroom dari peralatan musik yang gue produksi sendiri. Terus untuk urusan iklan, gue mau minta bantuan sama lo. Mungkin masih satu tahun lagi semuanya akan berjalan, sekarang gue masih harus mengurus pembangunan gedungnya dulu" kata Richard.


"Kakak suka kalau kamu mau mengalokasikan uang warisan itu dengan baik. Nanti kamu jangan sungkan untuk meminta bantuan kakak jika keuangan kamu mulai menipis, tapi pembangunan yang kamu impikan masih belum selesai" kata Willy.


"Menurut hasil perhitungan gue sih, seharusnya cukup kak. Gue masih ada pemasukan dari cafe ini juga" kata Richard.


"Untuk membangun sebuah tempat, itu kadang berjalan diluar jalur rencana kita, Richard" kata Willy.


"Yes, I know" kata Richard.


"Boleh kakak lihat rancangan gedung yang akan kamu renovasi itu?" tanya Willy.


"Sebentar gue ambil" kata Richard berdiri, dia akan mengambil kertas yang sudah digambari desain bangunan impiannya.


"Kamu lagi mewarnai apa, Livy?" tanya Willy mendekati anak dan adiknya.


"Pemandangan, pa. Onty bantuin Livy" kata Livy yang masih sibuk dengan crayonnya.


"Kalian lagi bahas apa sih, mas? Kok sepertinya serius sekali?" tanya Aish.


"Richard ingin membangun showroom untuk menjual produk hasil karyanya sendiri. Saya tidak menyangka kedekatan kalian membawa dampak yang sangat bagus untuknya. Kamu sumber inspirasinya, Aishyah. Saya yakin kalau kamu bisa membuatnya menjadi lebih baik" kata Willy.


"Mas Willy terlalu berlebihan, perubahan setiap orang itu berasal dari dalam hatinya masing-masing. Bukan karena siapapun" kata Aish.


"Ya, tapi Richard berubah semenjak dia dekat dengan kamu. Dan mas senang karena perubahannya menjadi anak yang lebih baik. Dia bahkan sudah memiliki insting bisnis sebagus ini meskipun masih SMA".


"Kau tahu, Romeo bahkan masih suka berfoya-foya dan bermain perempuan di luar negri. Kemarin mama mendapat teguran dari kampus Romeo. Katanya dia mengeroyok temannya karena kalah taruhan" kata Willy menceritakan kelakuan adiknya yang lain.


"Mas Willy bisa tahu berita itu? Bukannya hubungan keluarga kalian tidak begitu baik?" tanya Aish.


"Memang hubungan saya dengan papa sangat renggang, tapi mama masih sering menghubungiku meski hanya lewat telepon. Dia jarang menghubungi Alan jika ada masalah, pasti saya yang diteror untuk membantunya menyelesaikan masalah Romeo" kata Willy.


Aish hanya tersenyum menanggapi ucapan Willy. Jadi, kesimpulannya adalah Willy yang pasti akan menjadi pemecah masalah adik-adiknya.


"Ini kak desain yang gue maksud" kata Richard menghampiri Willy yang sudah pindah di dekat Aish.


"Ngapain kakak disini?" tanya Richard.


"Saya hanya melihat hasil karya anak dan adik saya sendiri, ada yang salah?" tanya Willy geli, bahkan untuk hal sekecil ini Richard sangat posesif.


"Benar juga, Aish kan adik iparnya dan Livy itu anaknya" kata Richard dalam hatinya.

__ADS_1


"Lo bilang mau lihat ini, kak" kata Richard yang sudah mulai cocok dengan kakaknya. Dia sedang butuh pengarah untuk merealisasikan bisnisnya, dan Willy adalah satu-satunya orang yang bisa diajak tukar pendapat, karena papanya sibuk sendiri dengan bisnis raksasanya.


Willy pindah tempat lagi, sekarang dia sedang melihat rancangan gedung yang akan Richard renovasi.


"Bagus juga, kakak setuju kalau ada jalan penghubung langsung dengan cafenya. Jadi nanti pengunjung bisa dengan mudah membeli makanan ataupun minuman setelah latihan bermusik".


"Dan untuk etalase alat-alat musiknya, kakak juga setuju dengan lay out yang ada. Hanya sedikit saran saja, menurut kakak, lebih baik showroom peralatan musik ada di lantai dua. Berbeda lantai dengan studio musiknya, agar pemeriksaan keamanan lebih mudah" saran Willy.


"Betul juga. Bagaimana kalau lantai satu untuk studio musik, lantai dua untuk penjualan alat-alat musik, dan lantai tiga untuk kantor?" tanya Richard.


"Begitu lebih baik, kakak setuju" kata Willy.


Mereka berdua terlibat pembicaraan serius mengenai bisnis yang akan Richard dirikan. Sementara Aish kuga sedang sibuk bermain dengan Livy.


Aish senang karena masih bisa bertemu dengan satu-satunya keluarga yang dia punya. Sungguh, tanpa Aish sadari dia sudah sangat bergantung pada Richard.


★★★★★


"Hukuman lo sudah selesai kan, Ra? Gue nggak suka kalau lo sering-sering dekat dengan si Mike itu" kata Richard.


"Seharusnya sudah, kan sudah satu minggu gue ngajari dia. Gue juga nggak suka kali kalau terus-terusan jadi guru gratisan buat si Mike" kata Aish.


Malam minggu ini Richard dan Aish sedang berduaan di rooftop cafe, selepas kepergian Willy dan Livy.


"Lo nggak pingin jalan-jalan? Ini malam minggu lho, Ra" kata Richard mengkode untuk mengajak Aish jalan-jalan.


"Lagi males sih gue, pasti macet jalanan. Lo lihat deh, parkiran depan cafe ini ramai banget" kata Aish yang mengamati halaman cafe.


"Jalan pakai motor lo saja, mobil gue juga lagi dipakai sama Yopi buat ngecek gitar di gudang" kata Richard.


"Motor gue ada diparkiran dong?" tanya Aish.


"Iya, gimana? Mau jalan-jalan pakai motor?" tanya Richard.


Berpikir sejenak, akhirnya Aish mau juga diajak jalan dengan motornya.


"Ayo deh, kita jalan" kata Aish.


Richard menggandeng tangan Aish, menggenggam sampai mereka diparkiran.


Hanya ada beberapa tambahan orang yang Richard rekrut untuk memajukan cafe ini atas saran dari kakaknya, Willy.


Para waiters dan waitress di cafe itu hanya tahu jika Richard adalah anak dari pemilik cafe. Jadi mereka membiarkan saja saat Richard sering mengajak teman-temannya keluar masuk ruangan khusus karyawan.


"Sudah" kata Richard setelah memasangkan helm Aish dengan benar.


"Makasih, sayang" kata Aish menggoda Richard.


Wajah terkejut Richard sangat terbaca dengan panggilan yang Aish lontarkan barusan.


"Lo godain gue ya" kata Richard yang mencubit hidung Aish.


Keduanya tertawa sebelum menaiki motor biru bergambar Doraemon milik Aish.


"Mau kemana sih?" tanya Aish yang tidak tahu arah tujuan kendaraannya.


"Agak jauh tujuannya, lo pegangan yang kenceng ya" kata Richard yang melingkarkan tangan Aish ke perutnya.


"Lo kalau sama Yopi pegangnya jangan kayak gini ya. Awas lo kalau peluk-peluk Yopi" kata Richard mengancam.


"Iya, bawel" kata Aish sedikit berteriak, suaranya terbawa angin.


Hampir dua jam diatas motor, Aish sudah mulai merasa tidak nyaman. Pinggangnya mulai terasa sakit.


"Mau kemana sih? Kok belum sampai juga?" tanya Aish.


"Sebentar lagi sampai kok, lo merem saja di punggung gue" kata Richard.


Aish menurut, matanya sudah mulai terasa pedas. Semilir angin membuatnya semakin merasa mengantuk. Diapun memejamkan mata sambil memeluk Richard agar tidak terjatuh.


Richard tersenyum, mendapati kekasihnya merasa nyaman. Dia sangat bahagia, akhirnya ada waktu bagi mereka berdua untuk menikmati waktu.


Tak terasa, ternyata Richard sudah memarkirkan motor Aish. Tapi tak membuat Aish membuka matanya.


"Ra, bangun. Sudah sampai" kata Richard mengguncang lengan Aish yang melingkar di perutnya.

__ADS_1


"Oh, iya. Sudah sampai ya?" tanya Aish.


"Dimana ini?" tanya Aish yang membuka helmnya.


"Kita di pantai, ya?" tanya Aish yang memandangi sekeliling.


"Iya, sekali-sekali main di pantai malam-malam biar seru" kata Richard.


Mereka berdua berjalan beriringan memasuki area pantai.


Richard masih saja menggenggam tangan Aish tanpa malu.


"Ramai juga ya meskipun malam" kata Aish.


"Iya, kan sudah banyak cafe yang memang sengaja buka malam hari" kata Richard.


Sebenarnya Richard juga sedang mengamati kondisi cafe sekitaran pantai yang sering dikunjungi anak muda disini. Sekalian menikmati waktu bersama Aish, dia juga ingin melihat kondisi cafe yang sedang diminati para pengunjung, untuk memajukan cafenya juga.


Mereka berdua memilih meja yang terletak di ujung. Ingin melihat deburan ombak dimalam hari.


"Kita ngomongin masa depan yuk" kata Richard dengan wajah yang dimanis-maniskan.


"Apaan sih. Masih kecil juga, malah ngomongin masa depan" kata Aish yang tidak menyukai topik pembicaraan mereka.


"Wooi!! Bu guru gue ada disini juga" teriak Mike, rupanya dia sedang nongkrong juga bersama teman-temannya.


Richard mendesah, tidak menyukai kedatangan Mike.


"Ngapain sih dia kesini" gerutu Richard yang melihat Mike berjalan ke arah mereka berdua.


"Hei Mike, lo disini juga?" tanya Aish berusaha tersenyum. Dia jadi bimbang karena melihat raut wajah Richard yang sangat tidak bersahabat.


Dengan seenak hatinya, Mike menduduki kursi dihadapan Aish. Dengan tawa riangnya, yang terlihat sangat menyebalkan dimata Richard.


"Lo pacaran ya?" kata Mike bertingkah bodoh.


"Eh, kenalin ini Richard, ini Mike, Richard" kata Aish memperkenalkan mereka berdua.


Dengan malas, Richard menerima uluran tangan dari Mike. Sementara Mike malah menampilkan muka sok polosnya.


"Oh, jadi ini yang namanya Richard. Orang penting di hidup Aishyah dan Yopi? Kok kayak biasa saja sih orangnya" batin Mike yang tahu jika tadi Richard datang bersama Aish membawa motor yang biasa Aish gunakan bersama Yopi.


"Ngapain lo lihatin gue?" tanya Richard yang tidak suka cara pandang Mike terhadapnya.


"Nggak apa-apa, gue cuma pengen tahu pacarnya Aishyah seperti apa" kata Mike mengalihkan pandangannya.


"Pergi lo, teman lo nungguin tuh" kata Richard mengusir Mike.


"Richard, nggak boleh gitu dong" kata Aish merasa tidak enak pada Mike.


Aish bingung, di satu sisi dia tahu kalau Richard tidak terlalu baik untuk menerima kedatangan orang baru. Tapi dia juga tidak mungkin mengusir Mike. Beberapa hari ini dia sudah bersikap baik dan tidak berbuat kasar lagi padanya.


"Oke deh, gue balik saja ke teman-teman gue. Kalian have fun ya" kata Mike yang akhirnya mengerti untuk tidak mengganggu acara orang lain.


"Sorry ya, Mike" kata Aish yang merasa tidak enak.


Mike berlalu, tapi selama dia bersama temannya, pandangannya tak pernah lepas dari Aish yang sedang bersama dengan Richard.


"Ngapain minta maaf, Ra? kan lo nggak salah" kata Richard.


"Ya kan gue ngerasa nggak enak sama dia, lo barusan ngusir dia" kata Aish sambil menikmati kelapa muda bakar yang sedang viral di cafe itu.


"Dia kan gangguin kita, Ra. Gue nggak suka, lagian juga, pandangannya ke lo bikin gue pengen nyolok matanya pakai garpu" kata Richard.


"Lo mah gitu, semua teman gue mau dihajar. Terus gue harus berteman sama spongebob gitu?" tanya Aish.


"Itu yang bikin gue ngerasa kalau gue harus segera ngehalalin lo. Banyak yang mau ngerebut lo dari gue" kata Richard kembali ke topik yang Aish tidak sukai.


"Cg, kita masih SMA tau! Pikiran lo terlalu dewasa. Kita masih harus kuliah, gue juga masih pingin beli rumah, punya karir yang bagus, baru deh mikir nikah" kata Aish.


"Lo mau bahagiain siapa? Mendingan kita langsung nikah setelah lulus sekolah. Gue bakalan penuhi semua kebutuhan lo. Lo tinggal kasih gue anak yang banyak, kalau bisa anak cewek yang cantik kayak lo" kata Richard berandai-andai.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2