
"Bisa nggak kalau kita putus aja hari ini?" tanya Aish sambil menundukkan kepalanya.
Bagai disambar petir di siang bolong. Richard tentu sangat terkejut dengan pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut Aish.
"Jangan main-main, Ra. Gue nggak suka kalau lo ngeprank gue pakai pertanyaan konyol kayak gitu" Richard sangat marah mendengar pertanyaan Aish.
Di tempat duduknya, Aish masih menunduk dengan air mata yang tak bisa berhenti keluar. Tangannya sibuk mengusap tumpahan air matanya.
"Lo denger gue baik-baik ya, Ra. Selamanya gue nggak akan pernah biarin lo pergi ninggalin gue. Bahkan kalau sampai lo mati duluan, gue bakalan nyusulin lo. Nggak perduli bagaimanapun caranya, gue maunya cuma sama lo" perkataan Richard semakin membuat Aish bersedih.
Nyatanya, rasa cintanya sama besarnya dengan rasa cinta di hati Richard. Dan itu sangat menyakitkan.
"Seharusnya kita dari dulu nggak berusaha melawan takdir, Richard. Sekarang kita tahu kalau kita cuma hamba-nya yang kecil dan rapuh. Kita nggak akan pernah bisa melawan takdir tuhan" kata Aish semakin sesenggukan.
Tapi dia berhasil mengeluarkan kalimat sepanjang itu dengan usaha yang tentu sangat sulit.
Richard menatap ke depan, pandangannya penuh amarah yang tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya.
Jemari itu menggenggam erat kemudi yang ada di hadapannya, hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kita beda, Richard. Gue harus bersujud demi bisa mengagungkan tuhan, sedangkan lo harus menyanyi dengan khusuk demi bisa mengungkapkan rasa cinta lo sama tuhan".
"Gue sadar kalau kita itu memang beda, Richard. Gue cuma gadis miskin dan sebatang kara yang harus kerja keras demi bisa terus hidup, sedangkan lo orang kaya. Kasta kita di dunia ini saja sudah beda" kata Aish yang berusaha tegar kali ini.
"Gue nggak mau hidup di alam mimpi yang mengharapkan bintang jatuh dengan harapan agar semesta merestui kita".
"Nggak gitu, Richard. Kita nggak bisa melawan orang tua, kita nggak bisa melawan takdir tuhan. Gue harus rela kali ini, gue nggak mau mengharapkan kita bisa bersatu kalau orang tua lo saja nggak mau menerima hubungan kita ini. Gue harap lo mau memikirkan semuanya sekali lagi. Janganlah keegoisan kita membuat kita semakin jauh dari keluarga" kata Aish.
Richard merenungi semua perkataan Aishyah. Tapi hatinya tidak bisa berbohong kalau rasa cintanya pada Aish memang sedalam itu, memang sebesar itu, dan memang seburuk itu pula kenyataan dari perbedaan yang mereka alami.
"Tapi gue nggak mau kayak gini, Ra. Kita sudah berjuang sejauh ini, kenapa lo jadi berhenti di tengah perjalanan seperti ini, Ra?" tanya Richard yang kini menggenggam tangan Aishyah.
Sementara Aish masih saja tak mau memandang ke arahnya, kepalanya tertunduk dalam. Isakan kecil masih terdengar darinya.
"Hati gue sakit melihat lo sedih kayak gini, dan gue semakin sakit mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut lo, Ra" kata Richard yang juga tak kuat untuk tidak menangis kali ini.
Sebagai seorang lelaki, bukan hal yang salah kan kalau Richard juga ikut menangis kali ini?
Rasa cintanya pada Aishyah sungguh terlalu dalam, hingga saat kenyataan di depan matanya mengharuskan untuk menerima adanya perpisahan, entah bagaimana nanti Richard akan melanjutkan hidupnya.
Aish melepas genggaman tangan Richard. Dia sudah tidak kuat untuk lebih lama bersama Richard kali ini.
Mungkin pertahanannya akan ikut goyah jika mendapat rayuan dari mulut Richard kalau dia masih harus berlama-lama dengannya.
"Gue pamit sama lo, Richard. Jujur di dalam hati gue memang cuma ada lo doang. Tapi seperti yang tadi gue bilang, kita beda. Kita harus sama-sama belajar untuk menerima kenyataan ini. Gue harap, lo bisa ketemu sama kebahagiaan lo sendiri nantinya" kata Aish.
"Dan gue juga berharap, gue bisa mendapatkan kebahagiaan gue" kata pamungkas dari mulut Aish membungkam bibir Richard.
Cowok itu hanya bisa meneteskan air mata tanpa bisa mencegah Aish untuk tidak pergi darinya.
Mimpi apa Richard semalam?
Kenapa pagi ini dia mendapatkan surprise yang sangat menyakitkan seperti ini?
Aish membuka pintu mobil, melangkah dengan cepat entah akan kemana. Yang penting bisa jauh dulu dari orang yang selama beberapa tahun ini sudah bersamanya.
"Tunggu, Ra" teriak Richard saat mendapati Aish sudah sedikit berlari menjauhinya.
Seolah tak mendengar teriakan Richard, Aish tetap saja berlari kecil sambil menahan isakannya.
Richard berhasil memegang tangan Aish, menariknya hingga mereka berpelukan.
Aish semakin menangis dalam pelukan Richard.
"Gue mohon sama lo, jangan tinggalin gue. Apapun bakalan gue lakuin, asal lo jangan pernah tinggalkan gue, Ra. Gue mohon sama lo" pinta Richard dengan pelukan yang semakin erat.
"Seandainya gue mampu, Richard. Gue pasti akan jadi orang yang paling bahagia karena mendapatkan cinta yang besar dari lo" kata Aish yang berusaha mengurai pelukan itu.
Keduanya sama-sama menangis, tak perduli mereka jadi bahan tontonan orang-orang di sekitarnya.
"Itu bukannya Richard, ya? Yang video nyanyinya banyak di upload" sebuah bisikan terdengar dari orang yang berkerumun.
"Iya, benar. Dia kuliah disini juga kayaknya" kata yang lain.
"Aslinya cakep amat ya" komentar yang lain.
"Kenapa dia nangis?" tanya yang lain.
"Putus kayaknya, kesempatan buat kita nih" seloroh yang lain.
"Itu princess apa bukan sih? Princessnya Senopati. Jadi benar mereka pacaran ya?" terdengar bisikan lain.
"Memang pantas sih mereka putus. Princess biar sama Senopati aja, mereka kan keyakinannya sama. Tapi kalau sama Richard beda" kata yang lain.
"Biar Richard sama gue aja" bisik yang lain lagi.
__ADS_1
Aish tak kuat mendengar semua cemoohan orang tentang dirinya, Richard dan Seno.
Bahkan apa hubungannya dengan Seno? Kenapa dia jadi ikut terbawa juga?
Sebuah mobil berhenti di dekat Aish dan Richard yang masih membatu dan sama-sama menangis.
"Princess, gue nggak salah lihat kan. Benar kan itu lo. Ya Ampun, kita bisa ketemu disini ya" dengan senangnya Seno tiba-tiba ikut dalam perlombaan menangis antara Aish dan Richard.
Mendapat tatapan tajam dari Richard, dan tatapan kesedihan dari Aish, membuat Seno tak jadi meneruskan langkahnya yang hanya kurang beberapa inchi saja dari mereka berdua.
"Gue ada di tempat yang salah, ya?" tanya Seno dengan tatapan lugunya.
Aish segera melepas genggaman tangan Richard, dan berlari.
Entahlah, yang penting jauh dari kerumunan orang dan jauh dari Richard yang sedang ingin dijauhinya.
"Princess, lo mau kemana?" setengah berlari Seno mengikuti Aish yang sudah melesat jauh.
Memang untuk perlombaan lari, Aish jagonya. Dia bahkan pernah juara lari di SD nya dulu.
Dan kini, bakat itu telah menyelamatkannya dari suasana genting yang tengah dia hadapi.
"Ini semua gara-gara lo" ancam Richard sambil mencengkeram krah baju Seno.
Tentu saja tingkah Richard yang seperti itu di halangi oleh para body guard yang selalu ada si samping Senopati.
"Jangan macam-macam sama tuan kami" ancam beberapa orang yang memaksa Richard melepaskan tangannya.
Richard mundur beberapa langkah, menatap tajam pada Seno yang memandangnya aneh.
"Salah gue apa coba? Kenapa jadi gue yang lo marahi sih, Richard?" tanya Seno.
Richard tak menggubris pertanyaan Seno, dia membalikkan badan dan kembali ke dalam mobilnya sendiri.
Segera dia tancap gas, bahkan hampir mencelakai orang-orang yang ada disana. Banyak yang berteriak histeris saat mobil Richard hampir menabrak Seno.
"Aaahhhhh.... Senopati" teriakan para gadis yang takut idolanya akan dicelakai oleh Richard yang notabene juga menjadi idola baru di kalangan para gadis.
Kelegaan terasa dari mereka karena apa yang Richard lakukan hanyalah geretakan semata.
Tapi tentu membuat hati Seno mendadak ngilu. Dia terlalu gugup untuk meneruskan keinginannya mendaftar di kampus ini.
"Balik ke rumah deh pak" perintah Seno pada body guardnya.
"Bapak saja yang urus, gue lagi nggak mood" kata Seno.
"Siap, tuan" kata bodyguardnya mematuhi arahan Seno.
Sedangkan Seno sendiri sudah masuk kembali ke dalam mobilnya.
Kejadian di pagi menjelang siang ini membuat moodnya berantakan.
Di satu sisi, dia sangat khawatir pada Aish yang entah sedang ada dimana. Dan di sisi lain, dia bingung dengan sikap Richard yang tiba-tiba menyalahkannya.
"Sebenarnya gue salah apa, sih?" tanya Seno pada diri sendiri.
Kerumunan di luar gedung kampus lama kelamaan terurai dengan sendirinya. Tentu berita ini akan menjadi head line di banyak portal berita esok hari.
Entah tambahan apa yang akan mereka berikan untuk membuat beritanya semakin menarik. Seno menantikannya esok hari, bahkan dia sudah tidak sabar untuk melakukan jumpa pers.
Di tempat lain, Aish masih berlari. Sampai ngos-ngosan dia meninggalkan pelataran kampus yang ada Seno dan Richard disana.
Dia masih menangis, ya semenyakitkan itu memang rasanya berpisah sedangkan rasa di hati ini masih terlalu dalam.
"Aaaaahhhhhh" teriak Aish yang sekarang entah berada dimana.
Saat dia berhenti dan mengedarkan pandangannya. Dia sudah berada di tengah kampung kumuh dan menjadi bahan tontonan warga.
"Gue dimana ini?" gumamnya sambil melihat sekitar.
Dia jadi malu sendiri. Melangkah ragu entah kemana lagi. Matanya sudah sembab, bajunya yang terkena tumpahan air dalam vas dirumah Richard tadi sudah agak mengering.
Tapi hatinya sekarang sakit, merasakan lagi luka karena kehilangan memang sangat menyesakkan.
Dan Aish kembali merasakannya.
"Hei, neng. Lagi sendirian saja?" goda beberapa preman yang tiba-tiba mengitari Aish.
Senyum tak menyenangkan terlihat di wajah-wajah sangar mereka. Aish jadi takut sekarang. Karena lumayan banyak preman yang mengitarinya.
Tapi pandangan matanya tertuju pada salah satu dari mereka yang terlihat bertato naga melilit bunga. Tatto itu terlihat karena salah satu dari mereka yang memakai baju tanpa lengan, dan berompi jeans.
"Gue adiknya bang Rian. Gue aduin sama bang Rian kalau kalian mau macem-macem sama gue" kata Aish tanpa rasa takut sedikitpun.
Karena sakit hatinya, dia jadi ingin memukul orang rasanya.
__ADS_1
"Hahahahhaaha" tawa mereka meledak mendengar nama Rian disebutkan.
"Lo pikir kita percaya sama mulut seksi lo itu?" kata mereka yang malah menertawakan Aish.
Mendengar bibirnya disebut, Aish jadi makin geram saja.
"Kalian ini sudah tua beraninya sama anak kecil, coba kalau memang kalian berani. Sini maju satu persatu, jangan beraninya main keroyokan sama gue" ejek Aish mengena di hati mereka.
"Besar mulut juga lo bocah. Oke kalau itu mau lo, sini kita ladeni. Tapi awas kalau sampai lo kalah, bisa mampus lo di tangan kita, hahahahaha" kata salah satu dari mereka mencemooh perkataan Aish.
Satu orang dari mereka maju, sedangkan lima lainnya mundur. Memberi ruang bagi mereka berdua untuk adu otot.
Biarlah meski melawan perempuan, mereka tak ada yang merasa malu.
Aish memasang kuda-kuda, cukup lama dia tidak pernah latihan. Giliran dapat jatah latihan, malah melawan preman beneran.
"Yaaak... ciat, ciat. Bugh .. Bugh.. Bugh..." keduanya saling adu kekuatan.
Beruntung di ronde pertama ini Aish bisa menang dengan mudahnya.
"Ganti, dasar preman loyo. Ayo maju satu-satu" kata Aish sambil menggosok pelan hidungnya.
"Banyak bacot lo bocah" teriak satu diantara mereka yang langsung menandangi permintaan Aish.
Kembali mereka beradu otot, saling menendang, saling memukul. Dan kembali, Aish menang di pertandingan ke duanya.
Kemenangannya menambah rasa percaya diri dalam hatinya. Dan kembali dia harus bertanding dengan lawan selanjutnya.
Rasa sakit hatinya sedikit teralihkan, Aish masih semangat untuk bertarung.
"Aaaahhhhhh..... Richard sialaaannnn" teriak Aish sambil menerima perlawanan dari preman di hadapannya.
Mengingat Richard, semangatnya untuk bertarung semakin besar.
Kemenangan kembali dikantonginya, tiga preman tumbang di tangannya.
Bugh!!!!
Satu pukulan mendarat di wajah cantik Aish saat melawan preman kelima.
Pukulan telak diterimanya di area mata, membuat pandangannya seketika menggabur.
Aish terhuyung, mundur beberapa langkah ke belakang. Hampir jatuh tapi untung saja dia bisa kembali menyeimbangkan diri.
"Hahhahahah, rasain lo cewek sialan. Banyak bacot, rasain" teriak preman itu.
Kesakitan. Tentu saja rasa sakit menjalar ke seluruh urat syarafnya.
Aish kembali menangis, bahkan dia berteriak tak tahu malu.
"Aaaahhhhh.... Aaahhhh...." teriak Aish yang merasa lebih sakit di hatinya daripada di kelopak matanya.
Para preman itu saling pandang satu sama lain. Tak menyangka jika pukulannya akan berpengaruh sejauh itu pada gadis di hadapannya ini.
Aish mengangkat tangan kanannya, menandakan untuk rehat sejenak. Sementara tangan kirinya memegang kelopak matanya yang sakit.
"Berhenti dulu bang, gue mau telpon bang Rian" kata Aish dengan isakan kecil dari mulutnya.
Preman-preman itu menurut, aneh.
Seolah mendapat perintah langsung dari Rian. Mereka menunggu dan mengamati apa yang Aish lakukan.
Aish melakukan video call pada abangnya. Sementara dia juga masih sesenggukan menahan tangis.
"Bang Rian..... hiks .. hiks .. hiks .."
Aish langsung menangis saat mengawali panggilan videonya, bahkan dia lupa memberi salam pada abangnya.
"Aishyah, lo kenapa? Lagi dimana? Kenapa lo nangis?" tanya Rian bingung, apalagi melihat tampilan wajah Aish yang kelopak matanya mulai membiru.
Enam orang preman yang mengelilingi Aish saling melirik takut kali ini.
"Pantesan jago berantem, jadi memang adiknya bang Rian" bisik salah satu dari mereka.
"Iya, bisa gawat ini" kata yang lainnya.
Rian masih menampilkan wajah khawatirnya, apalagi Aish masih belum meredakan tangisnya. Kekhawatirannya semakin menjadi-jadi.
.
.
.
.
__ADS_1