
Richard sedang bersama Yopi dan Reno kali ini, berada di rooftop cafe setelah mendapat izin dari enyak untuk membawa Yopi bersamanya.
Aish belum juga pulang dari sekolahnya, hingga jarum pendek pada jam tangannya menunjuk pada angka 4. Sementara panggilannya daritadi tidak juga diangkat, "lagi ngapain sih tuh anak" gerutu Richard setelah beberapa kali berusaha menghubungi Aish.
"Lagi sibuk cuci mata di sekolah baru pasti tuh pacar lo, Ri" kata Reno yang semakin membuat Richard menekuk wajahnya.
Yopi hanya bisa menahan tawanya, masih belum berani mengejek Richard yang suka menjitak kepala temannya jika sedang marah.
Kalau sampai terjitak oleh Richard kan bahaya, luka bekas operasinya belum sepenuhnya pulih.
"Lo mau masuk sekolah kapan?" tanya Richard setelah membiarkan ponselnya teronggok diatas meja.
"Kayaknya gue keluar saja dari sekolah, Ri. Gue nggak punya duit buat bayar biaya sekolah disana. Lo tahu sendiri kan mahal banget" kata Yopi.
"Iya juga sih, duit tabungan gue sudah habis buat beli cafe ini. Kalau gue minta sama orang tua gue buat biayain lo sekolah, lo mau nggak?" tanya Richard.
"Atau biar orang tua gue juga bisa, atau separuh orang tua lo, separuhnya orang tua gue" kata Reno.
"Jangan lah, biar gue putus sekolah saja deh. Mau nyari kerjaan saja, kasihan engkong sama enyak ngasih gue makan tanpa pamrih" kata Yopi.
"Kalau sudah begini saja, lo baru bisa mikir buat kasihan sama orang tua ya" kata Reno.
"Aha, gue ada ide bagus buat lo, Yop" kata Richard.
"Apa?" tanya kedua temannya bersamaan.
"Lo bisa kerja di cafe ini, nanti biar dicariin posisi yang tepat buat lo sama pengurusnya. Lagian juga dibawah lagi butuh banyak karyawan, lagi ramai pengunjung" kata Richard.
"Terus?" tanya Yopi.
"Terus, uang dari hasil kerja lo sebagian lo kasih ke enyak, dan sebagian lagi buat biaya lo sekolah" kata Richard.
"Mana cukup buat bayar sekolah di Mahardika, Ri" kata Yopi.
"Lo sekolah di tempatnya Aishyah saja, sekalian gue minta lo buat jagain dia setiap hari di sekolahnya" kata Richard yabg mendapat cebikan bibir dari kedua temannya.
"Sekali merengkuh dayung, dua lalat bisa digaplok ini namanya. Dasar bucin" kata Reno.
"Gue kesel karena kemarin di hari pertama dia sekolah saja sudah banyak cowok yang sok ngedeketin dia. Gue khawatir bakalan banyak cowok yang berusaha ngambil hatinya kalau nggak ada yang jagain dia" kata Richard.
"Boleh juga sih ide lo, kalau disekolah negri kan biayanya lebih murah ya. Jadi, gue bisa tetap sekolah, sekalian jagain tuan putri" kata Yopi.
"Kalau lo mau, biar kakak gue yang sekalian jadi wali murid juga buat lo. Jadi nggak akan ribet urusannya" kata Richard.
"Iya deh, boleh. Gue banyak banget hutang Budi sama kalian berdua" kata Yopi.
"Lo tenang saja, itu kan gunannya teman. Kita bisa saling bantu" kata Reno.
"Satu hal yang harus lo lakuin selama sekolah, selain belajar, lo harus jagain Aishyah dari cowok-cowok yang sok dekat sama dia" kata Richard.
"Siap, bos" kata Yopi terkekeh, Reno sudah tidak berminat mengejek Richard.
★★★★★
"Lo seharian kemana sih? Gue hubungi nggak diangkat-angkat?" tanya Richard yang masih mampir ke rumah Aish setelah mengantarkan Yopi ke rumah enyak.
"Iya maaf, tadi hapenya di silent. Soalnya gue terpilih buat mewakili lomba antar SMA yang diadakan setiap tahunnya. Tadi gue masih brifing sama dewan guru dan juga murid lainnya yang terpilih" kata Aish menjelaskan.
"Oh, gue tahu. Turnamen antar SMA itu bakalan diadakan di Mahardika tahun ini. Jadi, lo bakalan mengunjungi sekolah lagi" kata Richard.
"Kok lo bisa tahu?" tanya Aish.
"Iya, soalnya gue juga mewakili sekolah buat tanding basket" kata Richard.
"Oh" kata Aish yang jadi terdiam, dia terlihat sedang berpikir.
"Kenapa? Lo nggak nyaman ya kalau diadakan disana?" tanya Richard.
"Nggak masalah sih buat gue mau diadakan dimana juga. Yang gue pikir, hukuman buat Sekar sama Viona kemarin apa? Sampai gue pulang waktu itu kan masih belum ada keputusan buat mereka berdua" kata Aish.
"Mereka juga dikeluarkan dari sekolah, bahkan kepala sekolah juga diganti, meskipun masih tetap mengajar di sekolah tapi jabatannya sudah diturunkan" kata Richard.
Aish hanya manggut-manggut. "Gue kasihan sama Sekar, dia polos banget sih mudah dihasut sama orang lain. Gimana nasibnya sekarang ya?" tanya Aish.
"Ngapain dipikirin sih? Dia kan jahat sama lo. Biarin saja dia dapat hukumannya" kata Richard.
"Dia itu sebenarnya baik, dia cuma cemburu sama gue yang menurut dia terlalu dekat sama Falen. Dia suka banget sama si bule" kata Aish.
"Brian juga jadi wakil dari sekolah buat kompetisi antar sekolah, kayaknya mewakili kompetisi pengetahuan, Hendra juga satu tim sama gue di olahraga" kata Richard.
"Uwah, bakalan lawan gue dong si Bule" kata Aish.
"Tim lo ada cowoknya juga?" tanya Richard.
"Nindi, gue sama satu lagi Ilham. Murid di kelas sebelah gue" kata Aish.
"Awas lo jangan dekat-dekat sama dia" kata Richard.
"Kalau nggak dekat ya nggak ada kemistrinya dong. Satu tim kan harus kompak" jawab Aish.
__ADS_1
"Gue nggak suka kalau lo dekat sama cowok lain" kata Richard.
"Lo cemburu ya?" goda Aish sambil menunjuk wajah Richard dengan telunjuknya, niat hati hanya menggoda, malah dianggap serius oleh Richard.
"Jelas lah, gue kan cinta sama lo. Wajar kalau gue cemburu" kata Richard.
"Huft, harusnya tuh gue yang kepikiran sama lo. Lo kaya, ganteng, pasti banyak cewek yang nempel sama lo, kayak Viona contohnya. Kalau gue kan wajah standar, miskin, yatim piatu, siapa coba yang mau sama gue?" kata Aish.
Richard menatap Aish tidak suka, "Gue yang suka sama lo, kalau cowok ganteng kayak gue saja suka sama lo, apalagi cowok yang mukanya standar, apalagi cowok jelek, pasti bakalan banyak yang suka sama lo" kata Richard.
Entah harus senang atau tidak, nyatanya pengungkapan rasa sayang Richard terlalu berlebihan menurut Aish.
"Anda percaya diri sekali, pak. Saya tidak percaya kalau anda yang baru saja berbicara seperti itu" kata Aish uang seolah takjub setelah mendengar perkataan Richard.
"Pokoknya, lo nggak boleh dekat-dekat sama cowok lain. Awas saja kalau sampai gue dengar, apalagi sampai gue lihat lo sama cowok lain. Pasti gue abisin cowoknya" kata Richard.
"Hii, ngeri. Sudah dong, nggak usah bahas-bahas yang nggak penting gini. Jadi, kapan nih gue bisa kerja di cafe lo?" tanya Aish mengalihkan pembicaraan tak pentingnya.
"Bisa secepatnya semau lo. Tapi beberapa minggu ke depan kayaknya kita bakalan sibuk sama jadwal kompetisi ini deh" kata Richard.
"Iya juga sih. Setelah kompetisi saja deh gue mau ngelamar di Cafe Destinasi ya" kata Aish.
"Boleh, sekarang fokus sama kompetisi dulu saja" kata Richard.
★★★★★
Sudah satu minggu ini Aish dan Richard disibukkan dengan jadwal latihan agar bisa tampil maksimal dalam kompetisi antar SMA yang diadakan tiap tahun itu.
Kelas sebelas memang kelasnya kompetisi, banyak ajang yang diadakan di tingkat ini. Kalau kelas sepuluh sedang mencari bibit unggul, maka di kelas sebelaslah bibit-bibit itu sudah terlihat. Dan di kelas duabelas, semua bibit itu sudah harus fokus untuk ujian kelulusan.
"Selamat pagi bu, maaf saya baru saja dari toilet" kata Aish yang baru saja memasuki kelasnya pagi ini, setelah upacara dia harus ke toilet bersama Nindi tentunya.
"Loh... Yopi, kok lo bisa ada disini sih?" tanya Aish yang terkejut karena Yopi sedang berdiri di depan kelas.
"Kamu kenal sama dia, Aishyah?" tanya Bu guru.
"Kenal bu, dia teman saya" kata Aish yang masih tertegun di tempatnya.
"Gue jadi murid baru disini" kata Yopi berbisik pada Aish.
"Kamu boleh duduk dulu, Aishyah. Teman baru kalian ini akan memperkenalkan diri" kata bu guru.
"Oh, iya bu" kata Aish menuju tempat duduknya.
"Silahkan perkenalkan diri kamu" kata bu guru.
"Hanya itu saja?" tanya bu guru.
"Iya bu, cukup segitu saja. Saya duduk dimana, bu?" tanya Yopi.
"Bangku yang tersedia hanya itu, yang paling bekalang. Kamu tidak keberatan kan duduk disana?" tanya Bu guru.
"Tidak sama sekali, saya permisi mau ke bangku saya ya bu" kata Yopi yang langsung melenggang pergi menuju ke kursinya di deretan paling belakang, masih satu baris dengan tempat duduk Aish.
"Gue jadi punggawa lo disekolah ini" kata Yopi yang sempat menghentikan langkahnya dan berhenti di bangku Aish.
Aish hanya memutar bola matanya, "pasti Richard yang menyuruh Yopi sekolah disini juga. Tapi kan sebelumnya dia ada di kelas IPS, apa bisa nyambung kalau langsung pindah di kelas IPA?" batin Aish.
"Kamu kenal dia toh?" tanya Nindi berbisik.
"Kenal" jawab Aish singkat.
Pelajaran dilakukan seperti biasanya, hingga jam istirahat berbunyi, Aish dan Nindi akan ke kantin untuk membeli makanan.
"Kamu mau beli apa? Biar aku yang antri makanan, kamu beli minuman ya?" kata Nindi setelah mereka memasuki area kantin yang ramai, beruntung masih ada meja kosong.
"Bakso ya, Nin. Sambalnya dua sendok, kecap dikit sama saosnya dibanyakin" kata Aish yang mendapat acungan jempol dari Nindi. Sementara dia sendiri akan mencari minuman, Aish sudah hafal dengan minuman kesukaan Nindi, jus jeruk yang ada real pulpy nya.
Ponsel Aish berbunyi tepat setelah dia duduk, sambungan video dari para punggawa. Aish tersenyum ceria saat menjawabnya.
"Assalamualaikum, haaiii teman-teman"
kata Aish sambil meletakkan ponselnya ditempat yang aman.
"Waalaikumsalam, gue kangen banget sama lo princess"
kata Seno dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.
"Mereka berdua nggak nakal kan sama lo, Senopati?"
Tanya Aish.
Nindi datang dengan nampannya, dia melihat ke arah layar ponsel Aish untuk mengetahui dengan siapa Aish bicara.
"Loh, bukannya itu Senopati OW ya, Aish? Ya ampun, aku tuh ngefans banget sama dia. Kamu lagi melakukan fake call ya, biar dikira berteman sama artis?" ledek Nindi.
"Enak saja lo, ini tuh panggilan asli tau" kata Aish tidak terima.
"Masak sih, coba kamu kenalin sama aku kalau memang asli" kata Nindi.
__ADS_1
"Seno, nih ada yang mau kenalan sama lo. Dia teman gue disini"
kata Aish
"Haaii, nama lo siapa? Gue harap lo nggak jahat ya sama princess gue. Jadi teman yang baik ya buat dia"
Kata Seno yang wajahnya memenuhi layar ponsel Aish.
"Geser dong, Sen. Gue juga mau ngobrol sama princess"
terdengar suara Hendra.
"Nggak mau, lo vicall sendiri saja pakai hape lo" kata Seno.
Dua panggilan masuk lainnya diterima oleh Aish, dari Hendra dan Falen. Keduanya tersenyum melihat wajah Aish di layar ponselnya masing-masing.
"Kita juga lagi di kantin nih, princess. Nggak ada lo jadi males buat makan di taman dekat perpustakaan kayak biasanya"
kata Falen.
Aish tersenyum, "Eh, kenalin nih. Namanya Nindi, teman sebangku gue di kelas"
kata Aish.
"Hai, aku Nindi"
kata Nindi melambaikan tangannya pada layar ponsel.
Yopi mendekat, ikut duduk disamping Aish. "Ada gue disini, kalian nggak usah khawatir sama princess lo ya. Bakalan gue jagain dengan sepenuh hati"
kata Yopi.
"Loh, kok bisa ada lo disana Yop?"
tanya Falen.
"Panjang ceritanya, lain kali gue ceritain kalau nggak lupa"
kata Yopi.
"Lo dari dulu memang sialan"
Umpat Falen yang membuat Yopi malah terkekeh.
"By the way, lo cantik juga ya, Nindi. Lo hati-hati sama si Yopi, ya. Dia itu penjahat kelamin"
Kata Falen.
"Sialan lo Brian. Gue ini cowok baik-baik"
kata Yopi membela diri.
Mendengar temannya saling bertengkar, Aish dan Nindi malah asyik dengan makannya.
"Yah, si princess malah asyik makan. Padahal makanan kita juga masih belum disentuh"
kata Seno.
"Buruan makan, keburu masuk kelas"
kata Aish.
Merekapun makan sambil tetap melakukan video call hingga bel berbunyi. Dan harus mengakhiri panggilannya.
"Aku ndak nyangka kalau kamu berteman sama artis setenar Senopati. Kagum aku sama kamu, Aish" kata Nindi sambil berjalan ke ruang kelasnya, diiringi Yopi yang senantiasa ikut kemanapun Aish pergi.
"Dia teman gue sejak baru masuk SMA dulu" kata Aish.
"Kamu sekolah dimana sih sebelumnya?" tanya Nindi.
"Ada deh, rahasia pokoknya" jawab Aish yang tak ingin ada yang tahu masa lalunya.
Dan untuk masalah Yopi yang ada di kelas IPA, akan ditanyakannya nanti sepulang sekolah.
.
.
.
.
.
Uwah, aku triple update loh hari ini😁😁
tetap biasakan klik like setelah membaca ya readerku sayang...
salam sehat❤️❤️
__ADS_1