
...*Sesuatu yang paling menyesakkan adalah...
...menahan diri untuk tidak bertemu sementara hati ini sangat rindu....
...Setiap hari berjumpa tanpa bisa saling menyapa...
...Detakan jantung tak sesuai irama jika pandangan mata kita berjumpa...
...Tapi tunggu,...
...kita tak boleh bertemu...
...anggap saja tidak saling kenal meskipun ada rasa yang tak tertahan dalam dada....
...I Love You...
...My Khumaira*....
******
Siang itu sepulang sekolah, Aish sedang mengendarai motornya dengan lambat sambil menikmati semilir angin di panasnya cuaca.
Berhenti sebentar di depan sebuah taman, Aish melihat kedalamnya. Orang-orang disana tampak bahagia. Melalui hari bersama keluarga tercinta.
Sejenak Aish menghela napasnya yang tiba-tiba terasa sesak. Entah dorongan dari mana, gadis itu melajukan motornya menuju parkiran. Mematikan mesinnya di tempat teduh, dan turun dari motor untuk mencari tempat beristirahat.
Aish ingin sebentar saja menikmati harinya. Dulu, saat bundanya menyuruh mengantarkan baju jahitan para pelanggannya, Aish sering mampir di suatu taman hanya untuk menghabiskan es krim. Setelahnya, dia akan pulang dengan hati senang.
Melihat penjual es krim keliling, Aish menghampiri dan membeli satu bungkus es krim yang akan dinikmati sendirian saja.
Dia duduk di tempat semula, membuka bungkus es krim rasa stroberi vanilla dalam cup dan menyendoknya sedikit demi sedikit sambil menerawang jauh ke depan.
Aish mulai melamun, membiarkan es krimnya berada di pangkuan. Dia tidak sedang ingin makan es krim, tapi sedang ingin sendirian.
"Es krim lo leleh" kata sebuah suara mengagetkan acara melamun Aish.
"Eh, apa?" tanya Aish gelagapan.
"Es krim lo leleh, Ra. Kenapa sendirian disini?" tanya Richard. Sebenarnya dari tadi saat keluar dari gerbang sekolah, Richard sudah membuntuti Aish.
Melihat Aish sedang sendirian, dia memberanikan diri untuk menghampirinya. Richard sangat merindukan Aishyah.
"Oh, iya. Lagi pengen sendirian saja sih" kata Aish sambil menyendok lagi es krimnya yang sudah agak mencair.
"Kok tiba-tiba ada disini?" tanya Aish berbasa-basi.
"Gue daritadi disini, lo nggak tahu saja. Kan lagi asyik melamun" kata Richard dengan pandangan yang juga lurus ke depan.
"Gue minta maaf ya" kata Aish, membuat Richard yang duduk di sebelahnya menoleh dan mengangkat alisnya, dia merasa heran.
"Minta maaf buat apa?" tanya Richard.
"Mungkin nggak lama lagi gue bakalan di DO dari sekolah kita, lo tahu sendiri gue lagi kena masalah" kata Aish, dia berbicara tanpa melihat ke arah Richard.
"Dan gue nggak mau ninggalin penyesalan, ya gue minta maaf kalau selama ini sudah nyusahin lo" kata Aish tulus.
"Gue nggak ngerasa disusahin, dan gue pastiin kalau lo nggak bakalan keluar dari sekolah" kata Richard.
Aish hanya tersenyum menanggapi perkataan Richard. Mana bisa dia berbuat lebih, jika memang harus pergi, ya pergi saja. Tidak usah menyesali apapun.
Nasibnya sebagai orang biasa, hanya bisa menerima tanpa bisa protes. Karena mengutarakan pendapat yang benarpun akan menjadi percuma saja. Seperti berbicara dengan tembok.
"Gue nggak kayak lo yang bisa beli apapun, termasuk kebenaran sekalipun" kata Aish. Entah ada maksud apa di dalam kalimatnya barusan.
Hanya saja, Richard tidak suka mendengarnya.
"Nggak ada yang bisa membeli kebenaran, Ra. Sekecil apapun, setiap kesalahan pasti mempunyai celah" kata Richard menjeda kalimatnya, menunggu respon Aish yang mengeryit mendengarnya.
"Dan celah itu akan membesar jika ada yang mengetahuinya. Dan lo harus tahu, nggak semuanya bisa dibeli dengan uang" kata Richard.
"Ya, lo memang benar. Nggak semuanya bisa dibeli dengan uang, seperti kebahagiaan dan keluarga contohnya" kata Aish dengan penekanan pada kata Keluarga.
Richard menoleh, sedikit tersenyum dan menggelengkan kepala. Dia tahu arah pembicaraan Aish selanjutnya.
"Gue selalu ikuti kelanjutan kasus kak Willy. Sekarang sudah sidang ke dua, Jum'at depan setelah kita UTS bakalan ada sidang terakhir. Dan keputusannya juga di hari itu" kata Richard.
__ADS_1
"Oh, iya? Gue tahunya cuma Jum'at ada sidang, gue nggak tahu kalau sidang penentuannya juga hari itu" kata Aish.
"Tomy masih belum mau buka mulut tentang dalang dari perbuatannya. Tapi gue sudah berusaha ngobrol sama dia kemarin. Gue samperin ke tahanan" kata Richard yang kali ini menunduk.
"Ngapain lo temui bang Tomy?" tanya Aish.
"Gue cuma memohon sama dia buat jujur, karena gue belum sanggup kehilangan lo, Ra" kata Richard.
Aish mengatupkan bibirnya. Sebenarnya rasa dalam hatinyapun sama. Dia tidak ingin jauh dari pria si sebelahnya ini. Aish merasa bahwa Richard tercipta menjadi perpanjangan tangan tuhan untuk berada disisinya, untuk menggantikan keluarganya.
Tapi dia bisa apa? Kenyataan pahit bahwa kematian keluarganya berawal dari Willy, kakaknya Richard, membuatnya harus berpikir dua kali untuk terus mempertahankan hubungannya.
Apalagi dengan kematian tragis Alif, tidak etis saja jika nantinya terbukti bahwa Willy bersalah. Sedangkan Aish harus memaksakan keinginannya untuk tetap berhubungan dengan adik dari pembunuh kakaknya.
"Gue mau lo janji satu hal sama gue" kata Richard.
"Apa?" tanya Aish.
"Jum'at nanti lo harus datang ke persidangan, kita lihat hasilnya nanti. Jika benar kakak gue bersalah, gua pastiin bakalan pergi jauh dari hidup lo" kata Richard.
"Tapi jika nanti kak Willy nggak bersalah, gue mau lo terima gue lagi. Dan gue bakal pastikan kalau cincin ini bakalan balik lagi ke jari manis lo" kata Richard memperlihatkan cincin yang dulu dia berikan pada Aish yang telah dibuatnya menjadi bandul untuk kalungnya.
Aish terdiam, dia sangat tersanjung dengan penuturan Richard. Dicintai sedemikian besar oleh cinta pertamanya tentu sangat menyenangkan, jika tidak dalam keadaan seperti ini.
Apa memang mungkin jika cinta pertama itu tidak mungkin bisa bersatu?
"Kita lihat saja nanti di persidangan" kata Aish.
"Gue nggak tanya itu, Ra. Yang gue mau lo janji sama gue untuk terima gue lagi kalau kakak gue nggak bersalah" kata Richard.
Aish menghembuskan napasnya dengan kasar, dia tahu karakter Richard yang keras kepala.
"Ok, gue janji" kata Aish pada akhirnya. Karena diapun sama, masih merasakan debaran jantung yang tidak karuan jika berada di samping Richard.
Seulas senyum manis terukir di bibir Richard. Memperlihatkan wajah Aishyah dalam jarak sedekat ini yang selalu dia rindukan.
Aishyah yang pipinya akan bersemu merah jika dipandangi terlalu lama. Aishyah yang selalu dirindukannya.
Lama-lama Aish jadi salah tingkah karena merasa diperhatikan oleh Richard.
Richard ikut berdiri, tiba-tiba memeluk Aish yang berdiri dihadapannya. Pelukan yang sangat erat.
"Eh, ngapain sih Richard?" tanya Aish berusaha memberontak.
"Bentar, Ra. Sebentar saja biarkan seperti ini. Gue kangen sama lo, kangen banget" kata Richard yang masih mendekap Aish dengan erat. Dia memejamkan matanya untuk menikmati setiap sensasi dalam tubuhnya.
Saat rasa rindu itu perlahan terasa teruraikan, menyisakan kelegaan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Lama-lama Aishpun terdiam, dia juga merasakan sensasi yang sama. Membiarkan Richard mendekapnya.
★★★★★
"Semalam papa sama mama aku marah besar sama aku, Yop" kata Emily mengadu pada pacarnya.
"Kenapa?" tanya Yopi , saat itu mereka berdua sedang ada di rooftop sebuah cafe yang pernah Richard ngunakan untuk bermalam bersama Aish waktu itu.
"Mama tahu aku hamil. Aku nggak ceriatain ke mama, tapi kata mama perut aku sudah kelihatan. Saat mama tanyain, aku nggak bisa ngelak, aku nggak bisa bohong" kata Emily.
"Waktu mama ceritain ke papa, beliau marah besar sama aku" kata Emily bercerita sambil menangis.
"Kamu belum gugurkan kandungannya?" tanya Yopi kaget, seingatnya dulu dia pernah menyuruh Emily untuk menggugurkan kandungannya, bahkan dia sudah memberi sejumlah uang untuk melakukan itu.
"Belum, dan aku nggak berniat menggugurkannya" kata Emily sambil menunduk. Dia tahu jika Yopi tidak menginginkan buah cinta mereka.
"Kenapa? Aku masih belum siap jadi ayah, sayang. Kita bahkan masih SMA, mana bisa kita mengurus bayi" kata Yopi menahan emosi, dia sudah mengacak rambutnya untuk mengurai kegundahan di hatinya.
"Aku tahu, kita sudah sangat berdosa karena melakukan itu sebelum waktunya. Dan aku tidak ingin menambah dosaku untuk tega membunuh janin yang tidak berdosa" kata Emily yang air matanya sudah sangat deras mengiringi pertengkarannya.
"Terus rencana kamu apa selain menggugurkan janin itu? Nggak ada lagi, sayang. Nggak ada jalan lain".
"Satu-satunya cara hanya itu, gugurkan kandungan kamu" kata Yopi.
Emily bangkit, seketika dia menampar pipi kanan dan kiri Yopi dengan sangat keras. Bahkan sudah tercetak gambar lima jari di kedua pipinya sesaat setelah Emily melayangkan tangannya.
Yopi terdiam sebentar, merasakan sensasi panas dan terbakar di kedua pipinya. Perlahan dia mengusap pipinya yang memerah.
__ADS_1
Tangan Yopi sudah terangkat untuk membalas perlakuan Emily terhadapnya. Mengetahui itu, Emily memejamkan matanya, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menantikan Yopi yang sudah berniat menampar wajah Emily.
Lama Emily memejamkan mata, tapi tak jua merasakan tangan Yopi memukulnya.
"Lo jangan jadi pecundang, brengsek. Jangan beraninya memukul cewek" kata Richard yang menangkap tangan Yopi.
Tadi Richard baru datang ke tempat itu setelah berhasil menemui Aish di taman. Niatnya hanya ingin merilekskan pikirannya yang sedang kusut.
Saat tiba di rooftop, ternyata ada Yopi yang sudah bersiap menampar Emily.
"Sudah deh, Ri. Lo jangan sok jadi pahlawan. Lo masih mau belain dia, jangan-jangan lo masih ada rasa ya sama dia" kata Yopi membentak Richard sambil tangannya menunjuk Emily.
"Lo tahu kan Yop, stok kesabaran gue itu cuma sedikit" kata Richard.
"Terus kenapa? Lo mau nantangin gue, mau berantem sama gue? Ayo, gue ladenin lo sekarang" kata Yopi semakin menyulut amarah Richard.
Tanpa pikir panjang, Richard segera melayangkan tinjunya pada Yopi.
Tak ingin tertindas lagi, Yopi juga melawannya. Mereka bergulat di rooftop sekarang.
Suara teriakan Emily untuk memisahkan mereka berdua sudah tak diindahkan lagi.
Beruntung ada Reno yang datang, sedikit banyak dia pasti tahu bagaimana caranya untuk memisahkan kedua temannya yang sudah seperti Tom and Jerry itu.
"Lo pura-pura sakit perut sekarang" kata Reno yang tak dimengerti oleh Emily.
"Buruan, cepat. Keburu Yopi meninggoy tahu" kata Reno
Entah benar atau tidak, Emily malah mematuhi ucapan Reno.
Emily berteriak kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Aduuhh... Tolong... Tolongin gue .. Perut gue sakit banget.. Aauuuwh.. Tolong" teriak Emily sambil memegangi perutnya sampai berguling di lantai
Benar saja, mendengar teriakan Emily yang kesakitan, kedua sahabat itu menghentikan aksi saling jotosnya.
Mereka berdua langsung mendekat pada Emily. Saling rebut untuk menanyakan keadaannya.
"Kamu kenapa sayang? Apanya yang sakit?" tanya Yopi panik.
"Perut lo sakit, Em?" tanya Richard yang ikutan panik.
"Gara-gara kalian berdua bego. Aduh, sakit banget" kata Emily masih berpura-pura.
"Lo minggir deh, Ri. Emily tuh pacar gue, lo nggak lupa kan?" kata Yopi yang seketika menyadarkan Richard.
"Makanya, jadi pacar tuh jangan mau enaknya doang bego. Bangsat memang lonjadi orang" balas Richard tak kalah nyolot.
"Sudah, kalian berdua ini ribut melulu. Tolongin dulu itu cewek lo kesakitan Yopi bego" kata Reno sambil melipat tangannya di depan dada. Rencananya berhasil kan.
"Loh, iya. Ayo sayang, duduk disana saja. Perutnya sakit banget ya?" kata Yopi yang sedang memapah Emily untuk duduk di tempatnya semula.
"Iya, sakit. Dia nggak tega lihat ayahnya kesakitan" kata Emily yang seketika membuat Yopi tersadar jika dia sedang mengkhawatirkan kandungan Emily juga.
Richard dan Reno saling pandang, pikiran mereka berdua sama. Yopi sedang dalam masalah besar.
Suasana sempat hening. Kini, Yopi, Emily, Reno dan Richard duduk bersama untuk memikirkan jalan keluar terbaik.
"Sebagai pria sejati, sebaiknya lo temui orang tua Emily secepatnya, Yop. Meskipun gue yakin kalau lo bakalan dihajar lagi. Tapi itu lebih baik daripada lo ngotot buat Emily gugurin kandungannya" kata Richard memberi usul.
"Bener apa kata Richard, Yop. Lo jangan mau enaknya doang, sudah runyam begini saja lo mau lepas tangan. Enak banget hidup lo" kata Reno sarat akan sindiran keras. Mulutnya sangat pedas.
"Iya, kalian benar. Gue memang nggak boleh jadi pecundang" kata Yopi sambil menunduk, rasanya dia tak punya muka karena malu.
"Jadi, kamu mau tanggung jawab kan sayang?" tanya Emily.
"Ya, memang audah seharusnya seperti itu" kata Yopi.
"Aku akan menemui orang tua kamu setelah UTS ya sayang. Sekarang kita fokus dulu saja sama ujian ini. Toh cuma empat hari doang" kata Yopi yang kini memegang tangan Emily, membuat Reno mendecak tak terima. Nasibnya sebagai jomblo tertekan melihat adegan itu.
Emily mengangguk senang, kini dia sudah bisa sedikit tersenyum lega.
.
.
__ADS_1
.