
"Terus gimana bisa gue pingsan? Lo mukul kepala gue pasti ya Sen? Jahat banget sih lo" kata Aish.
"Nggak lah Aish sayang, mana tega gue mukul lo. Ngelihat lo digigit nyamuk aja gue nggak tega, apalagi mukul" kata Seno.
"cg!! terus gimana ceritanya Aish ada di teras klenteng?" tanya Hendra.
Falen yang memang belum tahu secara detail kisahnya hanya menyimak sambil mengunyah.
"Waktu itu tiba-tiba lo kayak kejang-kejang gitu, terus lo pingsan. Gue kan takut terjadi apa-apa, apalagi ada di dalam rumah orang kan. Jadi gue sama pengawal gue bawa lo ke teras klenteng, harapan gue biar ada yang bantuin lo" kata Seno.
"Tapi dari siang sampai sore ternyata sepi, nggak ada orang sama sekali. Jadi gue sendiri yang dateng lagi buat ngelihat keadaan lo Ai, maafin gue ya" lanjutnya.
"Gue kejang-kejang? kok bisa ya?" tanya Aish.
"Mungkin itu masa dimana tubuh asli lo di dunia itu ketarik, terus lo masuk ke tubuh itu. Mungkin loh ya, gue sendiri juga nggak yakin" kata Falen.
"Bisa jadi seperti itu" kata Hendra.
"Oh, jadi elo ya orang misterius yang bawa gue. Terus ada kuda istana itu punya siapa dong?" tanya Aish.
"Gue juga yang bawa, soalnya paginya gue abis nemuin raja. Jadi gue bawa satu kuda istana, terus gue lupa. Pengawal gue yang balikin tuh kuda, gue juga bilang buat rahasiain tentang hal itu" kata Seno.
"Oh, yasudahlah. Yang penting kita selamat ya. Malah Hendra jadi punya kelebihan" kata Aish.
"Sekarang gue jadi penasaran sama nasib kerajaan itu. Ada nggak ya sebenarnya kerajaan itu?" tanya Falen.
"Au ah gelap. Biarin aja sih kalau gue. Yang gue heran malah Sekar yang sama, apa Sekar yang sekarang tahu sesuatu ya?" tanya Seno.
"Nanti deh kalau ada waktu gue berusaha deketin dia biar bisa tanya-tanya, kayaknya dia juga ikut ekskul PMR deh" kata Aish.
"Okelah. Kayaknya bentar lagi juga sudah bel nih, waktu setengah jam rasanya cepat banget ya" kata Falen.
"Gue ke toilet bentar ya" kata Aish.
"Dianterin?" tanya Falen.
"Nggak deh, makasih. Gue sendiri aja" kata Aish.
Aish meninggalkan teman-temannya yang masih asyik ngobrol. Berjalan ke arah toilet yang agak jauh dari keberadaan mereka, bahkan melewati kelasnya lagi.
Setelah selesai dengan hajatnya di toilet cewek, Aish membenahi hijabnya dengan bercermin di wastafel yang berjejer.
Beberapa orang cewek masuk ke dalam toilet, satu diantaranya berdiri di pintu masuk, tiga lainnya melangkah lebih dalam. Ingin menemui seseorang yang sedang bercermin.
"Hai kak, saya duluan ya" kata Aish yang memang sudah selesai.
"Tunggu dong princess" kata kakak tingkatnya itu.
Roman-romannya ada yang tidak beres nih, Aish mencium gelagat ingin membully dengan berdirinya kakak-kakak tingkatnya disekitarnya, dan si pemeran utamanya pasti yang berdiri di depannya ini.
"Ada apa kak?" tanya Aish.
"Nggak usah sok nggak tahu deh lo, gue minta tolong sama lo ya, jauhin Falen. Lo jangan deket-deket dia lagi deh" katanya.
"Loh memangnya kenapa kak, dia teman sekelasku, duduknya juga dibelakangku, terus gimana caranya ngejauhin dia coba?" tanya Aish.
"Lo nantangin gue ya?" bentaknya.
__ADS_1
"Nggak kok kak, memangnya salahnya dimana kalau dekat sama Falen? Kan kita cuma berteman aja kak" Aish menjelaskan dengan sabar, berurusan dengan cewek yang sedang cemburu memang serba salah, jadi harus sabar.
Dewi meradang karena melihat Aish yang sepertinya tidak takut padanya.
"Gue nggak mau tahu, selama lo masih deket-deket Falen, dia tuh nggak perduli sama gue. Selalu elo yang dinomor satukan, padahal gue pacarnya, bukan lo. Atau jangan-jangan lo punya rasa ya sama Falen?" tanya Dewi.
"Nggak kak, beneran kok kalau kita cuma teman, sahabat sih lebih tepatnya. Nggak ada perasaan yang aneh-aneh kok" kata Aish.
"Terus apa yang gue lihat tadi pagi? Falen tuh jalan ngerangkul elo bego, bahkan setiap kali ada Falen, pasti ada elo. Lo sengaja kan ngintilin pacar gue?" tanya Dewi.
"Aduh kak, beneran kita tuh sahabatan aja. Kalau kakak ngelihat setiap ada Falen selalu ada saya, itu nggak cuman saya aja, selalu sama Hendra dan Seno" kata Aish.
"Lo tuh ngeles mulu ya princess yang sok kecantikan" kata salah satu teman Dewi yang malah menarik hijab Aish.
"Wih, seriusan nih mainnya?" tanya Aish melepas ujung hijabnya dengan paksa.
"Lo nantangin kita?" tanya Teman Dewi lainnya.
"Yang main narik hijab duluan kakak kan?" kata Aish sambil merapikan hijabnya.
"Malah nyolot, udah kita beri aja deh" kata teman Dewi lainnya mengompori.
Hijab Aish kembali ditarik ke belakang, membuat kepala Aish tertarik hingga menengadah menghadap ke atas.
Sudah tidak boleh sabar nih, Aish menarik paksa hijabnya dari tangan kakak tingkatnya itu. Membuat tangan kakak tingkatnya sakit.
Cewek lainnya malah menarik hijab Aish dari depan, membuat hijabnya terlepas sempurna. Memperlihatkan rambut hitam, panjang dan lebat Aish terpampang nyata. Dan membuang hijabnya sembarangan.
Aish marah, tangannya mengepal melihat kelakuan kakak kelasnya. Sudah sangat keterlaluan.
"Makanya jangan nyolot" kata salah satunya meremehkan.
Aish menarik krah baju orang yang sudah menarik hijabnya, dan menyangkut pautkan tentang kakaknya.
"Brengsek, darimana dia tahu?" batin Aish.
"Lo marah? Jelas kalau emang lo sama kayak kakak lo yang ****** itu" lanjutnya memancing emosi Aish.
Sudah tidak bisa sabar lagi, Aish benar-benar marah.
Saat tangan Aish terangkat ke atas untuk memukul, cewek yang ada dibelakangnya mengambil tangan itu dan memelintir ke belakang badannya, begitupun tangan satunya juga.
Kini kedua tangan Aish dikunci dibelakang badannya oleh dua orang kakak kelasnya. Ya meskipun Aish sedikit bisa bela diri, tapi kalau satu lawan empat seperti ini kan kalah jumlah. Dia kewalahan.
"Lepasin, beraninya main keroyokan ya kalian" bentak Aish.
"Hahahhaha...Tau rasa lo sekarang. Makanya jangan suka nyolot".
Seorang lainnya mengguyur tubuh Aish dengan air hingga basah kuyup. Untung saja bukan air kotor.
Seorang lainnya yang sebelumnya menjaga pintu, mengisi wastafel dengan air kran, setelah penuh, dua orang yang mengunci tangan Aish mendorongnya dan memasukkan kepala Aish ke dalam wastafel.
Aish megap-megap, merasakan air masuk ke dalam hidungnya hingga terasa perih. Sementara Dewi hanya melihat tingkah teman-temannya dengan senyum mengejek.
Seseorang tiba-tiba masuk setelah beberapa saat mempermainkan kepala Aish di dalam wastafel.
"Begini kelakuan ketua OSIS ternyata ya, perundungan" kata seseorang itu. Membuyarkan aksi bullying yang menimpa Aish.
__ADS_1
Air mata Aish tentu saja sudah turun sejak tadi, sejak disangkutpautkan dengan kakaknya. Apalagi saat kemasukan air dalam hidungnya, itu sangat sakit.
"Pergi sekarang atau gue laporin kalian ke BK!" bentaknya hingga membuat kakak-kakak kelasnya itu lari berhamburan.
Aish masih menutup mukanya dengan telapak tangannya, setelah berusaha mengeluarkan air dari hidungnya yang sudah memerah, sakit! Bukan hanya kepalanya, tapi juga hatinya.
Tali rambutnya hilang, penampilannya acak-acakan. Bajunya basah, hijabnya kotor.
Cowok didepannya merasa prihatin, dia mengambil hijab Aish yang kotor. Lalu melipatnya, sekarang bagian dalam hijab yang tidak begitu kotor berada diluar.
Lalu dia mengambil salah satu gelang tali kecil yang elastis dari pergelangan tangannya, menggunakannya sebagai ikat rambut. Dia juga yang memasangkan ikat rambut itu, Aish sedikit kaget saat sebuah tangan terasa merapikan rambutnya.
"Diem dulu, gue bantuin iket rambut lo" katanya.
"Ini toilet cewek, nanti ada yang masuk gimana?" tanya Aish dengan sesenggukan yang masih tersisa.
"Nggak akan ada, sudah bel" katanya lagi.
Aish pun diam saat cowok itu juga memberikan hijabnya saat sudah mengikat rambut Aish, Aish sendiri yang memakai hijabnya.
Setelah siap, terasa ada sesuatu menghinggapi pundaknya. Ternyata cowok itu juga memberikan jaket, untuk menutupi baju Aish yang basah.
"Sudah, gue anterin ke kelas lo ya" kata cowok itu.
Aish menoleh, memastikan siapa yang menolongnya.
"Richard? makasih ya" kata Aish.
"Sama-sama. Ayo ke kelas lo, sudah bel daritadi. Pasti punggawa lo yang nggak guna itu sudah khawatir sama lo" katanya.
"Apaan sih, mereka tuh temen gue" kata Aish sambil berjalan ke arah pintu keluar.
"Iya, tapi semenjak kalian hilang, gosipnya kan mereka punggawa lo. Dan lo princessnya. Menggelikan" selorohnya.
Aish sedikit mendelik, "gue sih nggak ngerasa mereka punggawa gue, temen setia aja. Cuma mereka yang mau berteman sama gue diantara banyaknya murid di sekolah ini".
"Iya, iya. Sudah nggak usah nyolot. Hidung lo masih merah" jawabnya cuek.
Aish mendengus sebal, melanjutkan langkahnya menuju ke kelasnya sambil masih diikuti Richard.
Sampai di kelas, ternyata sudah ditutup, pertanda ada guru yang mengajar. Ragu untuk mengetuk pintu, Aish malah membiarkan tangannya terulur tanpa melakukan ketukan.
Richard tidak sabaran malah mengetuk pintu yang tertutup didepannya. Membuat Aish tersentak dan mendongak ke arah Richard yang tinggi, yang dilihat hanya diam menghadap lurus ke depannya, sebuah pintu.
Perlahan pintu terbuka, bu Siska membuka sambil membawa sebuah buku ditangannya.
"Aish, kamu kenapa basah semua?" tanya bu Siska kaget, membuat seisi kelas melihat ke arah Aish dengan penasaran.
.
.
.
.
.
__ADS_1
likenya jangan lupa...