
Malam ini Richard mendatangi sebuah rumah, seumur hidupnya, baru kali ini dia berinisiatif mendatangi rumah kakaknya. Kalau bukan karena Aishyah, dia pasti tidak akan pernah mau meskipun untuk sekedar mampir ke kediaman kakaknya.
Nyatanya kali ini dia datang, setelah mendapat kabar jika kakaknya juga sudah kembali. Tadi sepulang sekolah dia mendapati mamanya sudah ada di rumahnya.
Richard memarkirkan mobilnya di halaman luas di depan rumah kakaknya. Terlihat ada dua mobil terparkir rapi, pasti kakaknya sudah ada di dalam.
Dia ragu untuk mengetuk pintu atau tidak, tangannya masih melayang diudara saat seseorang menyapanya dari belakang.
"Hai, my lil brother. Ada angin apa sampai kamu mau menginjakkan kaki di rumah kakakmu ini?" tanya Willy yang ternyata datang dari belakang tubuhnya.
Richard melihat penampilan kakaknya yang menenteng kantong plastik sambil menggendong seorang balita perempuan yang lucu.
"Mungkin dia keponakan Aishyah" batin Richard melihat anak itu tajam, hingga membuat anak itu sedikit takut.
"Jangan melihatnya seperti itu, dia kan jadi takut padamu" protes kakaknya.
"Bisa kita bicara?" tanya Richard.
"Ayo masuk, kita bicara di dalam" kata kakaknya.
Richard mengekor pada kakaknya, baru pertama kali baginya menginjakkan kaki di rumah ini. Rumah kakaknya yang dibeli atas kerja kerasnya sendiri.
Rumah megah dua lantai, model minimalis dengan dominan warna putih dan abu-abu. Terlihat istrinya datang, menyambut suaminya yang terlihat baru datang. Dan dia terkejut saat melihat Richard datang.
"Hei, lihat siapa yang datang Livy. Ada uncle Richard yang mengunjungimu" kata Helda, istri Willy.
Richard hanya bergeming,menatap Helda tidak suka. Tidak ada yang Richard sukai dari keluarganya, kecuali saat nanti Aishyah menjadi bagian dari keluarganya. Pasti dia akan menyukainya.
"Duduklah, apa yang mau kamu sampaikan?" tanya Willy.
"Bisa kita bicara di luar saja? Ini sangat penting" kata Richard.
"Kakak jadi penasaran, sebenarnya saya masih sangat lelah. Baru tadi siang kami tiba dari Jepang" kata Willy.
"Cg, ini sangat penting. Gue harap kakak mau ikut, biar bawa mobil gue saja" kata Richard.
"Ya, baiklah. Kita berangkat sekarang" kata Willy yang juga penasaran, karena baru kali ini adik kecilnya mau berkunjung.
Richard dan Willy memutuskan untuk berbicara di cafe dekat rumah Willy. Yang penting Richard bisa leluasa untuk bicara dengan kakaknya tanpa gangguan dari Helda, istrinya.
Mereka duduk di halaman, karena nuansa cafe yang memberi tempat out door dengan gazebo sebagai tempat berteduhnya. Terasa sangat nyaman.
"Ada apa, Richard? Sepertinya sangat serius" tanya Willy.
"Kakak kenal dengan Khalifah Khadijah?" tanya Richard to the poin, dia tidak suka basa-basi.
Willy sedikit terkejut, matanya membalas tatapan tajam Richard padanya.
"Darimana kamu tahu tentang dia?" tanya Willy.
"Tinggal bilang, kenal atau tidak" kata Richard.
"Ya, kakak mengenalnya" kata Willy.
__ADS_1
"Dimana dia sekarang?" tanya Richard, dia hanya ingin tahu apakah kakaknya akan menjawab dengan jujur atau tidak kali ini.
"Kakak tidak tahu, sudah lama kakak tidak melihatnya" jawab Willy. Richard mendengus sebal, mana mungkin kakaknya tidak tahu keberadaan Alif.
"Jawab saja yang jujur kak, dimana dia sekarang" kata Richard.
"Kakak sudah jujur sama kamu, saya tidak tahu Richard" kata Willy.
"Gue nggak percaya sama lo, kak. Lantas, siapa anak perempuan yang tadi itu?" tanya Richard.
"Dia engmh, d-dia itu anak kakak. Anak angkat kakak" kata Willy terbata.
"Kak, gue mohon sama lo. Lo jujur sama gue, kenapa lo bunuh Khalifah?" tanya Richard.
Willy sangat terkejut, mana mungkin dia membunuh Khalifah. Perempuan itu yang memberi arti kehidupan baginya, mana mungkin dia akan melakukannya.
"Maksud kamu apa? Siapa yang membunuh siapa? Kamu jangan mengada-ada" kata Willy emosi.
"Kak, gue nggak pernah ikut campur urusan lo. Tapi untuk kali ini, please kak. Tolong jujur sama gue, kenapa lo nyuruh Tomi bunuh Khalifah?" tanya Richard mendesak Willy.
Willy semakin tidak mengerti, seingatnya Tomi sudah keluar dari pekerjaannya sebagai supir pribadi Willy sejak lama.
"Tomi membunuh Alif? mana mungkin?" tanya Willy kaget.
"Kak, Khalifah ditemukan tewas terbakar dan ditimbun dalam pasir di sebuah pantai. Tomi mengaku sebagai pembunuhnya, dan dia bersaksi jika dia melakukan itu saat menjadi supir dari keluarga lo".
"Gue mohon kak, kasih tahu gue, apa alasan sampai kakak menyuruh Tomi untuk membunuh kak Alif?" tanya Richard memelas.
"Kakak tahu siapa yang menyuruhnya melakukan itu?" tanya Richard serius.
"Saya tidak tahu, Richard. Darimana kamu bisa tahu tentang Alif?" tanya Willy yang penasaran, dia sangat merahasiakan keberadaan Alif dari keluarganya.
"Adiknya Alif itu teman gue, kak" kata Richard.
"Jadi, benar Alif sudah meninggal?" tanya Willy tidak percaya.
"Iya, dia ditemukan dalam keadaan mengenaskan. Saat ibunya mendengar berita kematiannya, ibunya terkena serangan jantung. Beliau juga meninggal setelahnya" kata Richard sambil menunduk.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun" ucap Willy.
Richard melihat kakaknya yang mengucap kata yang sama seperti yang Aish ucap saat mendengar kabar buruk.
"Kenapa memandang saya seperti itu?" tanya Willy.
"Kenapa kakak berucap seperti itu?" tanya Richard.
"Ya, tentu. Alif merubah cara pandang dalam hidup kakak. Dia berbeda, meski agak sedikit galak, tapi dia selalu memaafkan setiap kesalahan kakak. Dia membawa keyakinan yang menenangkan untuk hati kakak yang buram" kata Willy dengan mata berkaca-kaca, dia mengangkat kepalanya agar buliran bening tidak jatuh dari kelopak matanya.
"Jadi, kakak sekarang seorang muslim?" tanya Richard.
Willy mengeluarkan KTP nya, memperlihatkan jika dia mengikuti keyakinan Alif. Jadi, mana mungkin dia akan tega menyuruh orang untuk menghabisi nyawa Alif.
"Jadi, majikan yang mana yang Tomi katakan telah menyuruhnya untuk menghabisi Alif?" kata Richard lirih.
__ADS_1
"Bagaimana anak dari Alif ada pada kakak?" tanya Richard.
"Kakak sudah menikah dengan Alif, dia perempuan yang luar biasa. Salah kakak memaksanya melakukan hubungan seperti itu saat dia menolong kakak yang sedang mabuk waktu itu" kata Willy mulai terbuka untuk menceritakan tentang Alif.
"Alif memaafkan kesalahan saya, hanya dengan melakukan itu satu kali saja sudah membuatnya hamil. Kakak sangat bahagia karena akhirnya kakak bisa mendapatkan keturunan dari darah daging kakak sendiri, kamu tahu jika Helda tidak bisa memberikan anak untuk kakak" Willy sempat tersenyum saat mengingat awal kehamilan Alif.
"Tapi ayahnya sangat marah waktu kakak meminta Alif untuk menjadi istri. Bahkan ayahnya mengusir Alif yang sedang hamil. Kakak menyewa sebuah rumah kontrakan kecil untuknya waktu itu. Dan kakak juga mencukupi segala kebutuhannya".
"Beberapa lama setelah Alif pergi, kami mendengar kabar jika ayahnya meninggal. Alif sangat sedih waktu itu, dia selalu menyalahkan diri sendiri. Kakak bahkan selalu berada disampingnya sampai dia melahirkan anak kami, anak perempuan yang sangat cantik. Sama seperti bundanya" kata Willy membayangkan wajah cantik Alif.
"Semakin lama kakak mengenalnya, rasanya kakak semakin jatuh cinta padanya. Kakak ingin menikahinya setelah dia melahirkan, tapi terhalang perbedaan keyakinan. Kakak mulai goyah, saat dia menolak menikah dengan pria yang tidak seiman dengannya".
"Kakak mulai mempelajari keyakinannya, mencari ketenangan dalam hati. Sampai akhirnya kakak memutuskan untuk mengikuti keyakinannya agar kami bisa bersatu" kata Willy yang matanya sudah memerah, setetes air bening keluar dari kelopak matanya.
"Dia segalanya bagi kakak, tapi saat kakak mengajaknya pindah ke rumah, dia menolak, dia takut menyakiti hati Helda. Jadi dia memutuskan untuk tetap tinggal di kontrakan, dan sesekali kakak yang mengunjunginya".
"Beberapa bulan yang lalu kakak membawa Livy ke rumah, dan Alif sendirian disana. Itu terakhir kalinya kakak bertemu dengan Alif, karena sampai sekarang kakak belum bisa menemukannya. Kakak sudah berusaha mencarinya selama ini, Livy selalu menanyakan ibunya" kata Willy.
"Dia sudah meninggal" kata Richard.
"Bisa tolong antarkan kakak ke makamnya?" tanya Willy.
"Tentu, besok sore gue anterin lo" kata Richard.
"Sekarang permasalahannya, siapa dalang dari semua ini? Kenapa Tomi bersaksi jika majikannya yang menyuruhnya? Jika bukan lo, lantas siapa?" tanya Richard.
"Kakak pasti akan mengusut semua ini" kata Willy.
"Ya, bersihkan nama lo. Karena lo, hubungan gue diujung tanduk" kata Richard.
"Maksud kamu apa? Kamu punya hubungan spesial dengan adiknya Alif?" tanya Willy.
"Ya, dan Aish pikir kalau kakak penyebab kematian semua keluarganya. Dia marah padaku sekarang, kak" kata Richard yang juga curhat pada kakaknya kali ini.
"Kakak janji akan menyelesaikan semua ini secepatnya, kakak senang kalau kamu dekat dengan adiknya Alif. Kakak yakin dia anak yang baik" kata Willy yang langsung merestui hubungan Richard dengan Aish.
"Segera selesaikan masalah ini secepatnya, kak. Richard takut kehilangan Aishyah" kata Richard.
"Ya, kakak janji. Ini adalah janji seorang suami untuk istrinya, janji seorang kakak untuk adiknya, janji dari seorang pria" kata Willy mantap.
Richard sedikit terharu karena Willy menganggapnya sebagai seorang adik. Begini rasanya diperhatikan oleh seorang kakak. Rasanya seperti hati ini menghangat, perasaan yang belum Richard alami sebelumnya.
.
.
.
tekan like nya ya, boleh juga komentarnya, apalagi kalau ada vote nya...
Pasti saya akan sangat bersemangat untuk update episode selanjutnya...
🙏🙏🙏🙏🙏❤️❤️😊😊😊😊
__ADS_1