Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
pembahasan


__ADS_3

Pagi ini terasa agak berbeda, Aish jadi merasa populer. Sepanjang jalan menuju kelasnya setelah keluar dari angkot, banyak pasang mata memandangnya. Ada yang suka ada juga yang tidak suka, biasalah pro dan kontra.


..."*Gila juga sih, ada cewek cantik disekolah kita ternyata sebenarnya ya"...


......"Dasar cewek aneh, pasti dia cuma caper aja kan?......


..."kalau dilihat-lihat sih sebenarnya dia cantik banget bro"...


......"Iya cantik, tapi katanya pawangnya ada tiga*"......


......"Dasar cewek centil, bisa-bisanya dia aja tuh nyari cowok kaya buat jadi temannya. Biar apa coba?"......


Bodo amat lah, Aish tetap berjalan dengan tenang menuju kelasnya. Saat asyik berjalan, tiba-tiba ada tangan yang merangkul pundaknya.


"Lo udah baikan Fal?" tanya Aish tanpa menoleh, tetap menunduk dan memegangi ujung tali dari tas punggungnya.


"Wih keren, bisa tahu kalau ini gue. Harum gue pasti ya?" tanya Falen pede.


"Iya, bau lo kan beda sama baunya Hendra apalagi Seno. Terus cuma lo yang suka tiba-tiba ngerangkul pundak gue. Bikin gue nggak bisa tumbuh tinggi aja" kata Aish.


"Tinggi badan itu karena gen, bukan karena kebanyakan dirangkul" kata Falen.


"Gue risih lama-lama denger ucapan anak-anak yang lain, kayak banyak hujatan gitu".


"Biarin aja sih, nggak usah didengerin. Jalan aja terus, lo seneng mereka benci, lo sedih mereka juga tetap benci. Jadi ya udah biarin aja".


"Benar sih lo bilang".


Setelah tiba dikelasnya, kemudian duduk manis ditempatnya, teman-teman sekelas Aish yang sudah datang mengerubungi tempat duduk Aish dan Falen.


"Sebenarnya lo kemana sih Aish, kenapa bisa hilang pas di sekolah?" tanya salah satu temannya.


Aish menoleh pada Falen, cowok itu mau angkat bicara.


"Sebenarnya kita dari perjalanan spiritual gitu. Ada portal menuju dunia lain di sekolah kita. Dan gue sama sahabat gue beruntung bisa pergi dan pulang dari sana dengan selamat" kata Falen sebenarnya jujur, tapi malah dianggap mengada-ada.


"Yang bener lo, kebanyakan nonton film horor kali" ucap temannya lagi.


"Bener, gue nggak bohong. Tanya Aish tuh kalau nggak percaya" kata Falen.


"Ish apaan sih Fal" jawab Aish.


"Ada apaan nih rame banget pagi-pagi" kata Seno masuk kelas dan meminta teman sekelasnya yang menduduki tempatnya untuk pindah.


"Kita penasaran sama kalian, katanya hilang di sekolah?" tanya temannya.


"Sudah deh, nggak usah bahas itu. Menyeramkan" kata Seno sambil membuka bukunya, membaca sajalah.


Tapi perkataannya malah membuat teman-temannya tambah penasaran. Hingga bel berbunyi, dan seperti biasanya Hendra selalu datang tepat waktu setelah bel terakhir berdering.


Merekapun mengikuti pelajaran dengan tenang..

__ADS_1


********


Bel istirahat berbunyi, kak Dewi sudah tidak sabar mengajak Falen sang pacar untuk makan bareng di kantin, baru saja bel, dia sudah nyamperin ke kelasnya Falen.


"Yuk ke kantin" kata Dewi mengajak Falen.


"Hari ini aku makan sama temanku yah, ada yang harus kita obrolin soalnya" rupanya Falen menolak


"Kamu dari kemarin nyuekin aku ngerasa nggak sih? Chatting nggak dibales, telpon juga cuma sebentar katanya sibuk. Sekarang malah nggak bisa, padahal cuma makan di kantin doang kan sayang?" kata Dewi.


"Tapi beneran ada yang harus aku sama mereka obrolin, penting" kata Falen.


"Yaudah sih Fal, kalo lo emang mau ke kantin nggak apa-apa" kata Aish.


"Terus lo mau ngebahas tanpa gue? nggak bisa dong"Falen masih bersikeras.


"Sekali ini plis, ngertiin kalau aku juga butuh teman-temanku. Lain kali aku pasti temani makan di kantin" kata Falen meyakinkan Dewi.


Dewi marah, pergi sambil menghentakkan kakinya keluar kelas Falen. Tapi saat melihat ke arah Aish, malah agak sedikit melotot. Membuat Aish menciut saja.


"Apa salahku?" batin Aish.


Setelah kepergian Dewi, Seno mengajak kawanannya menuju tempat favorit mereka. Taman di dekat perpustakaan.


"Yakin lo masih mau ngebahas ini sama kita Fal? pacar lo lagi marah tuh" kata Aish.


"Biarin, kita selesaikan dulu masalah kemarin" kata Falen.


"Jadi makan nggak nih? keburu bel masuk malah kelaperan gue nanti" kata Seno.


"Ayuklah kita come on" kata Aish sambil menenteng tas bekalnya.


Setelah sampai di taman dekat perpus, mereka menggelar tikar yang selalu Seno siapkan di kolong mejanya. Semacam piknik saat jam istirahat. Mereka sebut itu quality time.


Seno mulai mengeluarkan bekalnya yang selalu banyak. Stok aman untuk semua sahabatnya, Hendra yang biasanya membeli minuman dingin di kantin. Kali ini mereka komplit karena mereka akan makan sambil membahas perjalanan kemarin


"Lo ada ngerasa aneh setelah bisa keluar dari dunia itu?" tanya Hendra mengawali pembahasan.


"Nggak ada sih gue Alhamdulillah aman-aman aja" kata Aish sambil membuka kotak bekalnya dan menata rapi yang sudah mommy Seno siapkan.


"Kalian gimana?" tanya Aish.


"Gue juga aman, cuma mommy gue yang jadi lebih over protective. Supir gue sekarang nongkrong di mobil, nggak boleh ninggalin gue selama masih di sekolah" kata Seno.


"Gue juga aman, cuma kayaknya gue lebih ganteng aja, lebih berwibawa, kan gue jadi orang penting di dunia aneh itu" kata Falen.


"Kita lagi serius bego!" kata Hendra melempar bungkus susu kotak yang selalu ada di bekal Seno.


"Gue jadi bisa ngelihat makhluk gaib, apa cuma perasaan gue aja ya?" kata Hendra.


Ketiga temannya menatap melongo pada Hendra setelah dia mengatakan itu.

__ADS_1


Merasa hening, Hendra mendongakkan kepalanya, karena sebelumnya dia tengah memakan nasi goreng spesial buatan bunda Aish.


"Kenapa lo pada? Takut sama gue?" tanya Hendra.


"Serius lo Hen? jangan main-main deh" kata Seno.


"Iya beneran , dari kemarin siang sampek sekarang, gue kayak bisa ngelihat makhluk-makhluk aneh yang lo tahu sendiri kan bentukannya mereka seperti apa" kata Hendra enteng.


"Lo nggak takut?" tanya Aish.


"Nggak, gue biasa aja" jawab Hendra.


"Untung bukan gue yang kayak gitu. Bisa mati berdiri kalau setiap saat ngelihat gituan" kata Seno.


"Gue sih berusaha membiasakan diri mulai sekarang. Sampai saat ini masih bisa dikendalikan. Gue banyak baca artikel di mbah google tentang mata ketiga gitu, katanya selama kita cuek dan berusaha nggak perhatiin mereka, mereka juga nggak bakalan tahu kalau gue bisa lihat mereka, gitu sih" kata Hendra.


"Gue bener-bener minta maaf ya Hen, gara-gara gue lo jadi begini. Seandainya gue nggak iseng waktu itu kan nggak mungkin kejadian gini" kata Aish menunduk lesu.


"Nggak apa-apa sih Ai, gue baik-baik aja kok. Soalnya gue juga nggak pernah takut sama begituan. Jadi lo nyantai aja, nggak usah ngerasa bersalah gitu" kata Hendra.


"Gue jadi penasaran Hen, disekitar kita ada nggak penunggunya?" tanya Seno kepo.


"Dimana-mana pasti ada Sen" kata Hendra.


"Tapi gue pingin tahu, kasih tahu dong" Seno masih ngotot.


"Ada tuh deket pohon belakangnya Falen, kayak sesuatu tinggi banget, tapi dia diem aja daritadi nggak gerak-gerak. Sama ada juga di pintu perpus, yang ini cewek pakai baju seragam kayak kita tapi mukanya hancur. Tuh kan dia jadi lihat kesini, sudah deh nggak usah bahas ini lagi" kata Hendra.


"Ngeri gue dengernya" kata Falen mengusap tengkuknya yang tiba-tiba meremang.


"Gue bilang sudah diam. Nggak usah dibahas lagi. Memangnya lo mau ngobrolin apa sih Sen?" kata Hendra mengalihkan pembicaraan, karena sosok cewek yang dia bilang tadi sudah datang berdiri di dekatnya, tapi Hendra tetap berusaha cuek memakan nasi gorengnya.


"Gue mau bilang kalau sosok misterius yang nyuruh Aish masuk rumah lo itu gue" kata Seno.


"Terus yang mindahin gue ke teras klenteng itu juga lo?" tanya Aish.


"Iya, gue sama pengawal gue" kata Seno.


"Kok bisa?" tanya Aish.


"Sebenarnya waktu itu gue sudah sadar dan sudah jadi Senopati Arya. Terus gue lihat lo lagi mau ke rumah Mahendra, padahal Mahendra lagi ada di dalam klenteng. Jadi gue inisiatif masuk lewat pintu belakang rumahnya, terus gue nyuruh pengawal gue sembunyi" kata Seno.


"Terus gimana bisa gue pingsan? Lo mukul kepala gue pasti ya Sen? Jahat banget sih lo" kata Aish.


.


.


.


.

__ADS_1


klik like pliisssss ..


__ADS_2